Refleksi

Pokok yang Benar

Ketika aku bangun pagi, segera aku bersiap untuk keluar rumah. Dengan tergesa-gesa aku menuju garasi. Kuhidupkan mesin lalu tak lama kemudian mobilku meleset di jalan raya yang sudah mulai ramai. Dalam perjalanan itu, aku berpikir, sebenarnya apa yang kulakukan sekarang? Kemarin sore aku dari sana, pulang dan beristirahat.

Pagi ini tanpa menikmati terbitnya matahari, keindahan dan keagungan ciptaan Sang Pencipta, tanpa sempat menganggumi keindahan rumahku yang kudirikann karena kurasan keringatku yang tidak sedikit, aku segera kembali ke kantor, dan sepanjang hari itu aku terkurung dalam ruangan sempit itu. Aku hanya berharap kapan tanggal pembagian gaji. Aku akan menerimanya dan segera kubelanjakan untuk segala macam aksesori juga perlengkapan rumah serta barang pecah belah. Lalu…untuk apa? Lagipula aku juga belum berpikir untuk, ya,manusia muda; Lalu untuk apa semua ini?
Ah, mungkin aku hanya sepotong kayu kering yang tidak punya pokoknya. Sebentar lagi aku akan rapuh, beberapa pencari kayu akan datang, mengambilku, menjualku, aku dijadikan kayu bakar. Aku akan lenyap, aku hanya akan menjadi abu, tak menyisakan apa-apa.
“Tidak…tidak….!” teriakku. “Aku tidak seperti itu. Aku mempunyai pokok. Aku bisa bertumbuh. Aku dapat berbuah.”
“Kenapa kau begitu yakin? ” dia bertanya padaku.
“Karena Yesus adalah pokok anggur yang benar. Kamu perlu tahu, yang baik belum tentu benar. Yesus memang benar. Dan aku berada dalamNYA” dengan yakin, kujawab pertanyaannya.

Lippo Karawaci, 25 Juni 2009

Iklan
Refleksi

Perenungan di Minggu siang

Dari jendela ini, kududuk dan menatap keluar. Menembusi partikel-partikel udara yang berkelimpahan di bawah teriknya matahari yang panas. Panas matahari membuatku mengenang tentang Kupang.

Kupang kota karang, tanah Flobamora yang disebut sebagai padang stepa dan sabana. Aku rindu. Aku ingin datang sekedar melihatmu dari dekat, menyentuhmu, dan berada dalam lingkupan udara panasmu.

Kalau ada dalam rencana-Nya, aku akan datang tiga minggu lamanya. Aku akan datang. Menengokmu sebentar. Aku ingin belajar lebih dalam lagi tentangmu. Aku tahu, sebagai manusia kecil yang masih dalam keadaan tertatih-tatih, aku masih buta tentangmu, tentang manusianya, karakter-karakternya, tentang setiap budaya yang ada padamu, dan banyak yang lain.

Maafkan aku, Tanah Flobamora tercinta.
Dahulu…aku sungguh tak mengerti. Kenapa saat aku pertama menghirup udara, harus kuhirup di tanahmu. Aku pernah berpikir kalau bisa saat aku menghirup udara pertama kali, jangan di Indonesia, tapi kalau bisa di Australia. Bukankah letak tempat itu hanya di seberang laut yang tak seberapa luas itu? Coba saja aku dioperkan ke satu pulau itu, tanpa harus di tanah Timor yang gersang ini.

Tapi…
Siapa yang bisa? Bukankah aku tak bisa memilih tempat di mana dan seperti apa aku lahir?

Dari sana…

Aku sudah direncanakan pertama kali menghirup udara yang di permukaan bumi harus di tanah Flobamora, tepatnya di harum tanan dan atmosfer selatan Amarasi.

Bukankah aku mestinya bangga, akan Nusa Flobamora yang populer di dunia karena wangi cendananya, akan Kerajaan Amarasi yang terkenal karena sapi paronnya?

Ya, mestinya.

Namun sekarang
Di manakah tercium wangi cendana itu?
Cendana…cendana…
Dapatkah kau bangkit lagi mengharumkan Nusa Flobamora?
Sedang…sapi paron
Apakah kau akan tetap ada mengingat mereka yang ditugaskan Tuhan kini semakin tak peduli?

Aku, di sini sedang mengisi hari-hariku dengan belajar
Kelak aku ‘kan datang padamu, berbekal apa yang kudapat
Walau sedikit, tapi aku punya
Walau sedikit, tapi ‘kan kuberikan padamu.

Lippo Karawaci, 14 Juni 2009

tulisan anice

Aku Mau….

Aku mau menulis hari ini*. Hanya, apa baiknya yang mau ditulis?

Ok, tentang ini.

Semangat datang saat aku berada di tengah-tengah manusia yang hiruk pikuk, yang sibuk membicarakan ini itu, yang tegang menanti-nanti tentang sesuatu. Saat aku duduk diam sendiri, malah itu adalah suatu kenikmatan tersendiri.

Aku terbuai dalam kenyamanan ini.

Ingin aku keluar, tapi kemanusianku menahanku untuk tetap berada dalam kenyamanan ini. Lalu, apa yang kudapatkan?

Sesuatu tiba-tiba bergejolak dalam diriku. Seperti pemantik api yang baru saja dinyalakan. Baru aku tahu, yang kudapatkan tidak berbeda jauh dengan mereka yang tidak memikirkan hal ini sama sekali.

Oh, manusia. Akan jadi beginikah hidupku?

Hidupku yang hanya seperti uap yang ada sebentar lalu lenyap. Apa yang kulakukan dengan hidupku yang pendek ini?

Ingin kuwariskan pada bumi ini sesuatu. Apakah sesuatu itu? Sesuatu yang aku pikir aku dapat memberikannya. Aku hanya punya sedikit. Sungguh. Sedikit sekali. Tapi aku mau memberikannya.

Oh, Lord, help me be what You want me to be…

                                                                                                                     *Lippo Karawaci, 13 Juni 2009

Refleksi

Apa itu…?

Morning Contemplation
Sumber: freeimages

Bukankah kita semua mempunyai Roh Tuhan? Semua yang dipanggil dan dipilih Allah adalah kemauan Allah sendiri. Manakah yang dipilihnya untuk menyatakan pekerjaan-Nya?

Manusia pada naturnya adalah sebuah materi yang tersusun dari unsur/senyawa dan Allah memberikan Roh-Nya pada susunan senyawa tersebut. Ketika seorang anak manusia berpikir bahwa dia hanyalah alat yang dipakai Tuhan, jelas dia tidak bekerja untuk dirinya sendiri tetapi mengerjakan sesuatu yang berarti buat orang lain. Hanya dengan hikmatlah orang dapat mengerti apa hikmat itu. Banyak orang mencari hikmat, tetapi tidak sadar bahwa hikmat itu ada dalam diri mereka. Hanya dengan hikmat orang dapat memandang dunia.

Orang yang berhikmat tentu menjadi bijaksana. Ia akan benar-benar tahu siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya. Dia tidak akan pernah menganggap diri lebih penting dan hebat dari orang lain. Memang dalam diri setiap manusia ada natur dosa, hal itu tak akan terlepas dari keberadaan manusia, namun dia bergumul untuk hal-hal tersebut. Dia tidak akan meremehkan orang yang tidak dipilih Tuhan.

Orang berhikamat, bijaksana pasti. Dia berbuat baik dengan motif bukan sekedar tempelan, tambalan pada dirinya untuk dilihat di luar sangat baik tapi ketika ditimpa suatu tekanan bisa terkupas dan topengnya akan terkuak.

Ia juga berbuat baik bukan sebagai usaha untuk masuk surga, tetapi sebagai kesadaran bahwa ia telah diselamatkan dan tanggung jawab dia adalah untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam dan melalui hidupnya. Dia tahu bahwa perbuatan baik tak akan menolong dirinya, perbuatan baiknya tak akan mampu menyelamatkan jiwanya.

Orang yang mengenal Tuhan, ketika berbuat, ia bertanggungjawab. Ia seperti tanaman yang terus bertumbuh, terus bertunas. Tanaman berada di tanah, di air. Ada matahari, ada angin yang mendorong untuk terus bertumbuh. Tanpa semua itu ia tidak jadi apa-apa dan tak bisa memberi manfaat bagi orang lain. Ketika mengasihi tetapi sering juga membenci sesama, apa sebenarnya ia sudah berhikamat?

Orang bijaksana tidak melakukan sesuatu dengan licik. Jangan pernah anggap dirimu bijak jika kau merasa cerdik! Orang bijaksana sudah pasti cerdik, namun orang cerdik belum tentu bijaksana.

Siapa bilang Allah itu tidak kelihatan? Ketika kau melihat dirimu, melihat orang lain, bukankah pada saat itulah kau melihat Allah? Di saat itulah kau melihat pantulan-Nya. Kaupun mesti tahu, bahwa ketika melihat alam semesta, keindahannya, kecantikannya, kemegahannya, dan keajaibannya, itu semua karya Allah.

Allah yang kemudian mewujud dalam Kristus. Kristus yang adalah Allah sekaligus manusia Keduanya tidak bercampur, tidak bertempel, dan tidak lainnya.

Saya pikir, saya berkata seperti ini bukan berarti saya bijaksana secara sempurna. Saya masih punya banyak kekurangan. Namun dalam kekurangan, saya sedang bergumul, untuk memperbaikinya ke arah yang lebih baik. Dalam memperbaikinya saya tidak akan langsung jadi seperti yang lazim diinginkan manusia. Seumpama menyalakan tombol, lalu kemudian lampu yang diingikan langsung sedetik menyala. Tidak. Jelas masih ada tahapan, melalui proses ini dan itu. Kadang masih melakukan hal salah yang sama, namun bukan berarti menyerah. Tidak. Saya hidup untuk satu tujuan. Saya harus melakukan hal itu. Mengenal Allah dan memuliakan-Nya karena di situlah saya mengenal siapa diri saya, dan untuk apa saya ada sekarang di planet bumi ini.

Orang-orang yang mendapat kesempatan belajar, mereka yang berpendidikan, yang pernah membaca buku atau internet atau seminar, mereka mengetahui bahwa setiap orang unik dan punya tujuan ada di bumi. Tetapi bayangkan, mereka yang di luar sana yang hanya sibuk bekerja di jalanan, mengetahui bahkan mendengar sekilas saja tidak pernah hingga mereka meninggalkan planet ini dalam keadaan buta. Mereka berkata, kami hanya bekerja untuk sesuap nasi. Setelah itu kami akan duduk santai, menikmati hari-hari kami dengan tanpa berpikir keras, tanpa melelahkan pikiran kami karena sudah cukup fisik kami kelelahan. Kami akan beristirahat, bersiap untuk pekerjaan besok.

Saya ingin bertanya, apakah hidup seperti ini, bekerja untuk kemudian bekerja lagi? Setiap manusia seperti ini baik dari yang lelah memikirkan formula-formula sampai yang bekerja menyediakan makanan untuk pemikir formula. Baik dari yang menyantap makanan dari berbagai pilihan sampai yang yang cukup makan sekali sehari dengan hanya satu menu.

Manusia bekerja untuk besok bekerja lagi. Namun apakah itu semua yang dilakukannya sama maknanya? Apakah sama antara mereka yang tahu mereka bekerja karena itu merupakan panggilan dan tanggungjawabnya, dengan yang bekerja untuk memenuhi keegoannya? Baiklah saya bilang, walaupun hasil fisiknya yang terlihat sama namun nilai dan maknanya tentu sangat jauh berbeda.

tulisan anice

Tulisan 1

Aku heran kenapa aku bisa berada
di ruangan dingin ini?
gelap, sunyi,,,tak kudapati seorangpun disana..
aku sendiri.
dengan sisa-sisa kekuataku, aku bangkit.
melangkah maju,,perlahan-lahan…terus…terus…kataku
namun, tak mendapati apa-apa
aku berhenti.
baru terpikir, ah..kemanakah aku melangkah?
dan
akupun duduk,
lantai beralas tanah dingin
kutenangkan hati,
pikiranku kufokuskan pada satu hal,
mencari terang.
aku bangkit dengan semangat baru yang
entah kudapatkan dari mana,
aku semakin kuat
merangkak,,
merangkak
terus merangkak…
ke arah itu,
Kristus.

Refleksi

Bae Sonde Bae Tana Timor Lebe Bae?

images
Sumber: youtube

Bae sonde bae, tanah Timor lebe bae“.

Penggalan lirik dari lagu ‘Bolelebo’ yang biasa beta nyanyikan waktu kecil. Bahkan sekarang kalau lagi ingat atau sempat.

Walau Pulau Timor lebih dikenal dengan tempat yang dibentangi padang sabana, batu-batu karang, dan rumput-rumput kering, Timor adalah tanah tempat beta lahir.

Beta sayang tana Timor, beta sayang nona-nyong Timor, yang lugu tapi bagaya minta ampun, yang bekerja untuk dapat makan serumah sehari, lalu besok mau makan apa baru mau pikir lagi.

Kenapa selalu kita disinggung hanya pada akibat yang bukan plus? Kenapa kita hanya diingat untuk hal yang buruk? Ada banyak pencapaian oleh orang-orang kita, tapi itu seolah tak pernah ada.

Apakah tanah gersang membuat kita gersang juga melihat dunia?

Apakah lagu “BSBTTLB” adalah penghibur kita untuk tetap tenang memandang tanah Timor?

Apakah lagu ini sudah tertanam dalam-dalam di setiap hati dan kepala kita?

“Aih….. Sudah… Kenapa pikir yang berat-berat? Kenapa susah-susah…?

Ko tanah Timor su lebe bae ju, mau beke apa lae?

Su punya rumah, su dapat makan. Asal tau sa, di tanah Timor sini sonde ada pengemis ke di Jawa sana, bagus to…?”

Ampun ee… Belom. Belom. Tana Timor belom lebe bae.

Orang Timor mesti berusaha kerja lebe bae dari kemaren-kemaren.

Ah…ini sedikit yang beta tulis di sini. Ini yang sekarang lagi bergeliat di dalam be pung hati…di be pu kepala.

Kecil dan sedikit, tapi beta punya. Rasanya beta ke mo menangis.