Apa itu…?

Morning Contemplation

Sumber: freeimages

Bukankah kita semua mempunyai Roh Tuhan? Semua yang dipanggil dan dipilih Allah adalah kemauan Allah sendiri. Manakah yang dipilihnya untuk menyatakan pekerjaan-Nya?

Manusia pada naturnya adalah sebuah materi yang tersusun dari unsur/senyawa dan Allah memberikan Roh-Nya pada susunan senyawa tersebut. Ketika seorang anak manusia berpikir bahwa dia hanyalah alat yang dipakai Tuhan, jelas dia tidak bekerja untuk dirinya sendiri tetapi mengerjakan sesuatu yang berarti buat orang lain. Hanya dengan hikmatlah orang dapat mengerti apa hikmat itu. Banyak orang mencari hikmat, tetapi tidak sadar bahwa hikmat itu ada dalam diri mereka. Hanya dengan hikmat orang dapat memandang dunia.

Orang yang berhikmat tentu menjadi bijaksana. Ia akan benar-benar tahu siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya. Dia tidak akan pernah menganggap diri lebih penting dan hebat dari orang lain. Memang dalam diri setiap manusia ada natur dosa, hal itu tak akan terlepas dari keberadaan manusia, namun dia bergumul untuk hal-hal tersebut. Dia tidak akan meremehkan orang yang tidak dipilih Tuhan.

Orang berhikamat, bijaksana pasti. Dia berbuat baik dengan motif bukan sekedar tempelan, tambalan pada dirinya untuk dilihat di luar sangat baik tapi ketika ditimpa suatu tekanan bisa terkupas dan topengnya akan terkuak.

Ia juga berbuat baik bukan sebagai usaha untuk masuk surga, tetapi sebagai kesadaran bahwa ia telah diselamatkan dan tanggung jawab dia adalah untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam dan melalui hidupnya. Dia tahu bahwa perbuatan baik tak akan menolong dirinya, perbuatan baiknya tak akan mampu menyelamatkan jiwanya.

Orang yang mengenal Tuhan, ketika berbuat, ia bertanggungjawab. Ia seperti tanaman yang terus bertumbuh, terus bertunas. Tanaman berada di tanah, di air. Ada matahari, ada angin yang mendorong untuk terus bertumbuh. Tanpa semua itu ia tidak jadi apa-apa dan tak bisa memberi manfaat bagi orang lain. Ketika mengasihi tetapi sering juga membenci sesama, apa sebenarnya ia sudah berhikamat?

Orang bijaksana tidak melakukan sesuatu dengan licik. Jangan pernah anggap dirimu bijak jika kau merasa cerdik! Orang bijaksana sudah pasti cerdik, namun orang cerdik belum tentu bijaksana.

Siapa bilang Allah itu tidak kelihatan? Ketika kau melihat dirimu, melihat orang lain, bukankah pada saat itulah kau melihat Allah? Di saat itulah kau melihat pantulan-Nya. Kaupun mesti tahu, bahwa ketika melihat alam semesta, keindahannya, kecantikannya, kemegahannya, dan keajaibannya, itu semua karya Allah.

Allah yang kemudian mewujud dalam Kristus. Kristus yang adalah Allah sekaligus manusia Keduanya tidak bercampur, tidak bertempel, dan tidak lainnya.

Saya pikir, saya berkata seperti ini bukan berarti saya bijaksana secara sempurna. Saya masih punya banyak kekurangan. Namun dalam kekurangan, saya sedang bergumul, untuk memperbaikinya ke arah yang lebih baik. Dalam memperbaikinya saya tidak akan langsung jadi seperti yang lazim diinginkan manusia. Seumpama menyalakan tombol, lalu kemudian lampu yang diingikan langsung sedetik menyala. Tidak. Jelas masih ada tahapan, melalui proses ini dan itu. Kadang masih melakukan hal salah yang sama, namun bukan berarti menyerah. Tidak. Saya hidup untuk satu tujuan. Saya harus melakukan hal itu. Mengenal Allah dan memuliakan-Nya karena di situlah saya mengenal siapa diri saya, dan untuk apa saya ada sekarang di planet bumi ini.

Orang-orang yang mendapat kesempatan belajar, mereka yang berpendidikan, yang pernah membaca buku atau internet atau seminar, mereka mengetahui bahwa setiap orang unik dan punya tujuan ada di bumi. Tetapi bayangkan, mereka yang di luar sana yang hanya sibuk bekerja di jalanan, mengetahui bahkan mendengar sekilas saja tidak pernah hingga mereka meninggalkan planet ini dalam keadaan buta. Mereka berkata, kami hanya bekerja untuk sesuap nasi. Setelah itu kami akan duduk santai, menikmati hari-hari kami dengan tanpa berpikir keras, tanpa melelahkan pikiran kami karena sudah cukup fisik kami kelelahan. Kami akan beristirahat, bersiap untuk pekerjaan besok.

Saya ingin bertanya, apakah hidup seperti ini, bekerja untuk kemudian bekerja lagi? Setiap manusia seperti ini baik dari yang lelah memikirkan formula-formula sampai yang bekerja menyediakan makanan untuk pemikir formula. Baik dari yang menyantap makanan dari berbagai pilihan sampai yang yang cukup makan sekali sehari dengan hanya satu menu.

Manusia bekerja untuk besok bekerja lagi. Namun apakah itu semua yang dilakukannya sama maknanya? Apakah sama antara mereka yang tahu mereka bekerja karena itu merupakan panggilan dan tanggungjawabnya, dengan yang bekerja untuk memenuhi keegoannya? Baiklah saya bilang, walaupun hasil fisiknya yang terlihat sama namun nilai dan maknanya tentu sangat jauh berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s