Kebenaran Tidak Memihak*

*Doa seorang bocah untuk semua insan di muka bumi

Sang maha tahu. Kau penguasa jagat raya. Kau yang bertakhta dalam keagungan-Mu. Kau satu-satunya yang kudus.

Kami hanya manusia yang banyak cemarnya. Jikalau yang kami percayai sebagai kebenaran sekarang ini adalah adalah salah, jikalau kebenaran sejati adalah memang tidak mungkin benar-benar kami ketahui, dan kendatipun kami ngotot bahwa kebenaran sejati adalah kebenaran yang kami yakini, maafkanlah kami.

Jikalau kami tetap bersikukuh bahwa yang benar-benar-benar adalah kebenaran yang kami punya serta kami mengatakan bahwa kebenaran yang orang lain yakini sebagai kebenaran bukanlah kebenaran, toh, itulah kami. Kami hanya manusia. Kami terbatas pemikirannya. Kami tidak tahu. Kami hanya makhluk kecil di tengah-tengah bola bumi yang merupakan satu titik kecil di alam semesta yang kami pelajari dan kami bilang itulah alam semesta.

Kau yang maha tahu. Kau penguasa jagad raya. Kau penguasa alam semesta. Alam semesta yang mungkin lebih besar dan luas melampaui apa yang pernah kami tahu, tolong. Tolong kami. Jangan hukum kami. Berkatilah semua insan di muka bumi ini tanpa kecuali. Laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar, tua dan muda, yang masing-masing ngotot dan bersihkukuh akan keyakinannya. Semuanya, semuanya,  tolong. Tolong. Tolong kami.

Kami hidup dan dibesarkan dalam sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa keyakinan kami adalah yang paling benar, bahwa kebenaran yang kami agungkan adalah yang kebenaran sejati, yang adalah benar-benar-benar. Dan itu tak bisa digoyahkan oleh apapun juga.

Semua perkataan dan keyakinan yang bertentangan dengan yang kami percayai adalah salah. Itu adalah filsafat kosong,  sebut kami. Tak boleh dipercayai, karena itu semua tak bermakna dan hanya bualan belaka. Pokoknya tak ada yang benar selain yang kami yakini. Dan kami harus berusaha membawa dan mempengaruhi orang-orang sebanyak mungkin untuk masuk dan turut berbagian dalam lingkungan kami. Karena itulah pesan yang kami terima dan mesti kami pertanggungjawabkan. Orang yang berbahagia menurut kepercayaan kami adalah mereka yang membawa semakin banyak orang untuk percaya dan menerima apa yang kami yakini sebagai kebenaran yang memang benar.

Oh… Kau  maha tahu. Kau penguasa segalanya. Sungguh, aku sendiri pun seorang buta dan tak tahu apa-apa.

Lalu apa jadinya bila orang tak menerima kebenaran kami? Kami menyebut mereka bebal. Kami menyebut mereka orang yang hina, kami menyebut mereka orang yang bludek. Kami menyebut mereka kafir, tak bertuhan. Kami menghakimi mereka bahwa ketika mereka mati nanti, mereka takkan mendapat tempat yang indah  melainkan mendapat tempat yang mengerikan, penuh ratap tangis dan gertak gigi.

Kami hanya manusia yang lemah yang tak tahu apa-apa, tetapi kami begitu yakinnya akan kepercayaan kami bahwa siapa yang percaya dan menerima kebenaran kami, bagaimanapun kehidupannya di bumi ini, kalau dia mati, dia sudah pasti mendapat tempat yang amat sangat baik, yang indah tiada taranya. Itu sudah pasti, kata kami. Tidak mungkin tidak. Kami harus percaya karena itu yang dikatakan dalam kebenaran kami.

Kau penguasa alam semesta. Jika orang-orang belum percaya dan menerima kebenaran yang kami yakini, bahwa itulah kebenaran sejati, toh semua mereka adalah kami juga, kami manusia. Sayangilah kami. Sayangilah juga mereka. Karena kami semua satu.

Saat seseorang lahir di permukaan bumi ini, indranya  sudah ditanamkan dan diyakinkan oleh lingkungannya bahwa inilah yang benar dan itu salah. Berangkat dari situlah dia akan terus mengingat dan meyakini apa yang pertama kali dia dengar, sehingga tidak mudah menerima dan mengakui kebenaran yang diberikan orang lain padanya.

Kau sang maha tahu, Kau penguasa jagad raya dan segala isinya.

Jika yang kami anut dan yakini itu salah, serta mereka yang adalah bagian diri kami  itu juga salah, maafkanlah kami. Ampunilah kami. Justru karena ketidaktahuan kami, Kaulah yang harus ‘berbangga’ bahwa Kaulah sang maha tahu yang tahu segala-galanya dan tiada seorang manusia pun yang mampu menyingkapkan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Kau, Sang maha tahu. Aku mengungkapkannya pada-Mu seperti ini karena aku orang lemah. Aku tak tahu apa-apa.

Begitupun, mengikuti batas-batas yang dibuat alam dan orang-orang, seorang seperti aku juga tak mau meninggalkan tradisi keluarga serta orang di dekatku. Karena batas-batas itulah, aku akan dihujat sebagai pengkhianat karena mempertanyakan dan menyuarakan isi hatiku.

Kau tahu, aku akan dikucilkan, aku akan disingkirkan sebagai orang yang melawan kehendak dan norma satu institusi.

Kau, Kau pencipta dan pemilik semesta. Kau sang maha tahu. Sebagai manusia yang ingin hidupnya bermakna dan memberi makna, aku ingin punya landasan selama aku menumpang hidup di muka bumi ini. Dan tentunya, tiada landasan yang kuat selain semua yang telah diberikan padaku sejak aku masa kanak-kanak, remaja hingga masa sekarang ini. Dengan semua penyerapan yang kutahu masih kurang ini, aku dikuatakan untuk terus hidup dengan memberikan makna. Dan bila aku keluar atau masih terombang-ambing akan tiang penyangga yang menopang aku, bagaimana aku hidup? Apa yang menjadi landasanku serta apa yang harus kuperjuangkan? Untuk apa aku mesti berusaha sekuat tenaga? Demi apa aku bekerja keras? Demi apa dan siapa, sampai aku mesti berkorban dan menahan derita padahal aku hanya menumpang sebentar saja di muka bumi?

Kau pemilik segala. Kau sang maha tahu.

Kami ini manusia yang tidak tahu apa-apa. Tolong kami. Satukan kami. Biarkan kami hidup berdampingan dengan damai. Biarkan kami saling menyayangi. Jangan Kau buat kami saling memusuhi oleh karena perdebatan yang tak akan pernah henti ini. Jangan biarkan kami saling menyakiti. Jangan biarkan kami saling memusnahkan, oleh karena ketidaktahuan ini.

Mengapa orang-orang yang adalah bagian diri kami juga, berusaha keras memusnahkan orang lain yang tidak meyakini kebenaran yang mereka yakini? Karena menurut yang mereka yakini, barang siapa yang tidak meyakini apa yang mereka yakini, harus dimusnahkan dari muka bumi ini. Maka itulah, mereka mengerjakannya. Mereka mencintai pekerjaan itu. Bagi mereka, itu pekerjaan paling mulia. Mulia karena memperjuangkan yang benar. Mereka bilang, kerjakan dengan tulus! Karena itulah yang terbaik dan terpuji!

Ya.. ketika mereka mengerjakannya, mereka benar-benar mendedikasikan hidup mereka untuk itu. Mereka punya hati dan niat yang tulus untuk itu, sama seperti seseorang yang tahu panggilan pelayanannya dalam keyakinan yang kami anut.

Ya..siapa bilang mereka adalah orang jahat? Siapa bilang. Mereka bukan orang jahat, kataku. Mereka adalah manusia seperti kami juga. Kami yang ketika tahu bahwa yang ini yang benar, ya harus diperjuangkan. Perjuangkan sampai titik darah penghabisan! Itu semboyan setiap insan di muka bumi dalam memperjuangkan kebenaran.

Ya..Mereka orang-orang yang sama seperti kami. Hanya saja yang mereka terima berbeda dari kami. Padahal kami sama, kami hanya manusia. Manusia yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa tapi berlagak tahu.

Oh. Kau sang maha tahu. Kau penguasa alam semesta.

Maafkan kami, ampuni kami. Sayangi kami, cintailah kami. Kami semuanya. Semua orang yang ada di muka bumi ini. Semuanya. Tanpa kecuali.

Amin.

#Anak dari Sang Pemilik Kehidupan Alam Abadi

Lippo Karawaci, Senin, 15 Maret 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s