Badai

4658_1064087644716_1641220_n

Ilustrasi ketakutan_kamar 601 UPH TC tahun 2008/2009 (:))

Semuanya kacau dalam sekejap. Serba berantakan. Tempat tidur bergoyang. Meja dan kursi dalam ruangan pun seperti digoyang-goyang. Daun pintu terbanting keras. Tirai pintu belakang seakan mau copot dari kaitannya. Buku-buku di atas meja beterbangan. Barang-barang dalam kamar sudah berpindah posisi.

Dengan segera aku turun dari tempat tidurku. Tidak sempat menyelesaikan sepotong mimpi indahku. Kuperhatikan sekelilingku. Aku masih di kamar asrama, bukan di puncak gunung penuh rerumputan hijau seperti dalam mimpiku barusan.

Teman-teman sekamar tak ada seorangpun yang berbaring diam menikmati hari minggu, ataupun duduk diam. Yailah badai lagi mengamuk begini masa mau duduk diam dan berleha-leha. Mimipi kale…ye…

Teman-temanku sibuk dengan bagiannya masing-masing. Anggi yang mengangkat jemuran sambil berseru-seru nyaring, “Badai…badai… teman-teman! Badai…”

Ika menyusun ember-ember plastik yang kosong menjadi satu undakan tinggi. Si tinggi Alin menarik tirai menutup jendela dan pintu. Masta yang nampaknya baru bangun dari tidurnya berjalan tergopoh-gopoh mematikan lampu. Dalam sekejap, ruangan menjadi suram. Ana yang kalem membantu Anggi mempersiapkan tempat untuk menyimpan jemuran yang sudah kering dan memisahkan yang basah.

Yang tak ada dalam ruangan ini, Puput dak Cicik. Mungkin sedang pesiar menikmati hari minggu bersama teman-teman mereka.

Di luar, bunyi gelegar guntur terdengar memekakaln telinga. Oh… halilintar memperdengarkan kemegahan suaranya.

Aku berjalan ke arah pintu belakang, menuju balkon yang langsung menghadap jalanan umum. Mencoba mengintip dari balik tirai seperti apa badai itu kalau mengamuk di tempat ini? Memang kalau mau jujur, selama aku di Kupang, yang aku tahu, kejadian seperti ini kami sebut angin ribut, tak pernah ada kata badai dalam kamus bahasa rumahku -kata badai hanya kubaca di buku. Makanya di sini saat Anggi menyebut kata badai, aku ingin melihat dari dekat dan kalau perlu ingin merasakannya walau mungkin berbahaya.

Wah… di balkon, ember-ember yang sudah disusun Ika tadi terlempar jauh diterjang angin putting beliung. Tapi untungnya balkon ini tingginya satu setengah meter sehingga barang-barang tersebut hanya terlempar ke sudut dinding dan diam di situ. Tak berkutik. Tak ketinggalan pula batang sapu dan kain pel-pelan serta peralatan mandi lainnya yang tak sempat dimasukan ke dalam.

Kualihkan pandangan ke arah jalanan. Mobil-mobil mendadak berhenti tak melanjutkan perjalanan. Pohon-pohon tinggi meliuk-liuk diterpa angin. Tak ada satu pohonpun yang berdiri tegak, semuanya miring ke arah barat.
Sungguh pemandangan pertama yang kulihat selama berada di sini. Badai yang kulihat dan kualami.

Tak seorangpun bisa menjenguk keluar. Semuanya mengurung diri di kamar, menanti berhentinya badai.

Pada saat yang sama, dari arah pantry tercium bau gosong. Mungkin orang yang sedang memasak meninggalkan tempat itu untuk mengmbil jemurannya di luar.

Aku segera menuju ke sana. Kompor masih menyala. Dengan sigat kumatikan kompornya lalu kuangkat wadah yang gosong itu, berisi telur yang sudah menghitam seluruhnya.

Teman-teman dari kamar lain terlihat mulai keluar dari kamar mereka dan berlarian ke arah jendela yang berhadapan dengan lift. Melihat semua makhluk hijau yang bertarung di luar.

Aku kembali ke kamar.

Tak lama, badai pun reda. Masta segera menjenguk ke luar dari balkon. Dia masuk seraya berkata, “Hai…teman-teman. Pohon-pohon pada lemas diterpa angin.”

Aku yang baru saja bergerak menaiki tangga tempat tidur, berhenti lalu menoleh ke arahnya. Tak kuduga kata-kata yang keluar dari mulut Masta. Aku hanya diam sambil bertanya dalam hati, “Apa benar itu yang baru saja kudengar itu ucapan Masta? Aku seperti tak mau percaya.”

Aku turun. Melihat di kejauhan di sana. Benar apa yang dibilang Masta. Pohon-pohon pada lemas diterpa angin, seolah-olah baru saja selesai bertarung di medan laga.

“Masta! Aku mendapat sengatan dari kata-katamu. Indah dan tak kuduga. Kau memang berbakat… Huahaha….haa….keep it doing, Ta,” ujarku.
“Hehhee……” responnya sumringah.

Just for members of 601 ( TA 2008/2009)

#Suatu hari minggu di awal tahun 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s