Cerpen “Apa Aku Bukan Manusia?”*

* Cerpen ini terpilih sebagai salah satu pemenang favorit LMCR ROHTO-LIP ICE SELSUN GOLDEN 2010 Kategori C, di Centul City, Jakarta

Suatu hari kala matahari belum meninggi, aku yang saat itu belum usia sekolah, berjongkok di halaman belakang, di dekat kandang babi.

Aku mengamati babi betina yang sedang lahap menikmati makanannya. Makanan encer yang ditaruhkan ibu dalam baki. Ada jagung yang sudah berkutu, sisa-sisa sayuran, air cucian beras juga ikan, serta sisa makanan basi lain.

Babi betina itu sendiri dalam kandangnya, terpisah dari anak-anaknya yang sudah besar di kandang lain.

Entah darimana dan bagaimana, tiba-tiba terbersit dalam benakku sesuatu. Lantas aku meraba keningku, tanganku dan berbisik pada diriku sendiri, “Akhhh, untung saja aku tidak terlahir sebagai babi. Aku beruntung jadi manusia.”

Aku bukan babi yang makan di baki yang tak pernah dicuci. Aku juga tak harus dimandikan di genangan air yang keruh. Makanan yang aku makan tak harus menumpuk dengan tahiku sendiri.

Dalam pikiran kanak-kanakku, aku begitu bangga aku bukan babi. Babi itu tak bisa bicara. Ia hanya mengeluarkan suara “nguik… nguikk….” ketika kelaparan atau membaui sesuatu yang bisa masuk ke perutnya.

Tidak seperti anjing yang walau sama-sama binatang, ia sedikit-sedikit dapat disuruh membantu tuannya menjaga rumah, atau membersihkan lantai rumah dari tahi kuning encer bayi, atau disuruh menggigit betis musuh tuannya, babi hanya tinggal dalam kandang (akh… tapi bagiku sama saja. Mereka tetap saja binatang, sedang aku… aku anak manusia. Aku lebih dari mereka).

Kalau tidak di kandang yang kira-kira 2,5 x 2.0 meter persegi, babi itu akan diikat di sebuah pohon. Mondar-mandir saja di situ. Dan hanya bisa memandang ke luar dari celah-celah papan yang tersusun kuat atau menatap nanar makhluk-makhluk yang bebas lewat.

Babi di kandang atau yang terikat, tidak melakukan apa-apa selain menguik, makan, tidur, berak, kencing dan mondar-mandir di kotak sempitnya. Menguik lagi, makan lagi dan tidur lagi.

Babi tak ke sekolah. Ia tak bisa belajar, karena tak bisa bicara, atau baca tulis.

Aku tersenyum. Kupikir diriku, seorang yang beruntung. Aku anak manusia. Kalau umurku pas, aku bisa ke sekolah. Aku akan belajar di sana.

Tentang babi punya kami ini, biasanya dikasih makan banyak-banyak. Minum juga banyak. Karena kata ibu, kalau ia banyak makan dan minum, ia akan terlihat gemuk sehat. Badannya berlemak-lemak, perutnya menggantung bulat di bawah punggungnya. Dan kalau sudah begitu, saat dijual nanti, harganya tidak akan murah. Kami berdua akan punya banyak uang. Bisa untuk beli makanan enak, baju baru, dan pesiar-pesiar keliling kota.

Suatu hari, kala matahari dalam perjalanannya menuju siang, seorang lelaki tinggi besar dengan bola mata berwarna merah datang ke rumah. Ia mengenalkan dirinya sebagai om Rufus. Datangmencari babi. “Mau beli,” katanya.

Aku yang sedang berkubang dengan debu merah di halaman berhenti, lalu beranjak memanggil ibu di dapur. Rupanya, ibu sedang di halaman belakang, mengurus babi betina itu. Si pembeli babi pun ke sana. Dengan ibu, terjadi tawar menawar harga babi.

Tetapi entah karena babi, entah karena ibu atau aku, beberapa hari berikutnya, kulihat om Rufus selalu mendatangi rumah kami. Bahkan bermalam satu dua hari. Sampai… akhirnya beberapa minggu setelah tawar menawar babi itu, ia terus bermalam di rumah. Dan tanyaku ini barulah terjawab setelah ibu memintaku dengan kata-katanya yang manis-manis air gula, jangan panggil dia om lagi. “Panggil saja bapak,” pintanya.

“Iya, Feti?” Ibu seperti mendesak melihat aku tak bereaksi.

“Ya!” aku mengangguk pelan.

“Bilang apa?” lagi-lagi ibu belum puas.

“Bapak,” sahutku pelan. Ibu tersenyum.

Hari-hari pun berlalu.

Aku yang semula bermimpi untuk ke sekolah melihat anak-anak seusiaku berlarian gembira ke dan dari sekolah, kini sirna sudah. Karena ketika maksud itu kuutarakan, bapak malah menentang.

“Kamu, Fet. Anakku. Tak usah sekolah! Kamu kan perempuan, nanti juga kerjanya di dapur,” tanggapnya cepat tanpa menoleh. Ia sedang menyalakan rokoknya.

“Tapi aku ingin seperti mereka!” protesku setengah merengek.

“Mereka siapa?” kulihat ia mengerutkan dahi.

“Teman-teman sebayaku yang ke sekolah itu.”

“Ah..! Biarkan. Perempuan, balik-baliknya duduk di depan tungku, berteman dengan abu dapur,” katanya sambil menepis tangan kirinya.

“Fet!” Setelah berdiam beberapa saat, “kamu itu, sekarang, yang penting, makan cukup biar sehat! Jaga tubuhmu, biar terawat. Kalau kamu sudah cantik, siapa sih laki-laki yang tak bakalan melirik kamu? Nona manis cantik begini?” Ia tersenyum. Senyum yang dipaksakan.

“Kamu jangan sembarang keluar rumah di siang bolong. Nanti rusak kulitmu. Hitam gosong kayak pantat periuk. Kalau sudah begitu, siapa yang mau sama kamu. Jangan juga keluar malam, bisa kena angin jahat.

Kalau kamu mau keluar, harus minta izin dulu sama bapak, biar bapak yang memastikan, cocok tidak untuk kulitmu,” lanjutnya.

Aku hanya memandang bapak. Diam. Membisu. Seperti tak punya mulut untuk bicara.
Sedang ibu tak berkutik. Toh, sekarang, bapak bilang aku anaknya.

Ya! Begitulah!

Ketika usia sekolah, aku tak bersekolah. Ketika anak-anak seusiaku berlarian dan berseru-seru nyaring di depan rumah -memanggil temannya berangkat ke sekolah,- aku hanya bisa memandang dari balik jendela. Menatap jauh mereka sambil menahan air liurku agar tak sampai jatuh.

Ketika mereka payah mengelana hati, memutar otak, aku malah tenang-tenang saja di rumah. Aku tak perlu pusing seperti mereka karena aktivitasku tak rumit dan sudah kukuasai. Pagi-pagi aku bangun, mandi, lalu sarapan. Kemudian keluar sebentar ke halaman untuk dikenai cahaya matahari sebelum matahari meninggi. Kata bapak itu vitamin D. Bagus untuk tulang.

Ya, kegiatan keseharianku tiada lain selain makan, luluran dengan serbuk kunyit, mencuci rambut dengan parutan kelapa dicampur lendir lidah buaya, mandi, berjemur, tidur, makan, tidur, makan, tidur.

Beranjak remaja, makin intens perawatan tubuhku. Bahkan dua minggu sekali, datang seorang mbak jamu, dengan aneka ramuannya.

Pertama kali saat mbak itu muncul tepat di depan pintu -ia muncul tanpa dipanggil,- kami bingung, ada apa? “Kami tidak memesan,” kata ibu. Tapi si Mbak berkeras, seorang bapak berbola mata merah yang dijumpainya di jalanan tadi yang memintanya ke sini.

“Bapak itu sudah bayar kok, bu!” balasnya dengan logat Jawa yang amat lembut. Dan sejak itu, jadwalku selalu teratur untuk minum jamu.

Sekali waktu, ibu bilang, Feti tak bisa membaca, dia perlu diajari membaca, bapak malah punya pendapat lain. Ia menyahut, “Walah…! Tak penting. Perempuan itu, yang penting cantik. Sudah cukup. Sekarang, kau lihat, di kampung ini, gadis mana yang paling cantik? Tidakkah kamu dengar, orang-orang pada memuji-muji Feti karena kecantikannya? Bahkan saya lebih dihormati di setiap pertemuan sejak aroma kecantikan Feti merebak ke kampung-kampung sebelah,” dan bapak membesarkan bola matanya. Ia begitu bangga.

Kadang ibu iba melihatku. Saat bapak ke luar mencari babi, ibu mengambil batu putih, menyerutnya sampai runcing lalu dipakai sebagai kapur tulis. Ia juga mencopot tripleks usang dari bawah ranjang. Alas kasur itu digunakan sebagai papan tulis. Ibu mengajariku alfabet. Aku belajar sedikit-sedikit. Usiaku sudah belasan tahun dan cukup kesulitan memahami.

“Paling tidak, kamu bisa baca-tulis, Fet,” begitu kata ibu.

Walau begitu, aku tetap kesulitan mengeja alfabet. Kalau operasi hitung berupa penjumlahan dan pengurangan, aku bisa. Itupun karena sore hari, aku sering diminta bapak membelikannya rokok di kios seberang jalan. Jadi aku sedikit-sedikit bisa menghitung berapa rupiah yang dikasih bapak, berapa harga rokok dan berapa kembaliannya.
…..
Jarum jam di jam dinding terus berputar. Hari, minggu, bulan dan tahun berganti. Teman-teman sebayaku sudah memakai seragam putih-abu ke sekolah. Sedang aku belum juga lancar membaca. Dapat kulihat, anak-anak seusiaku begitu bebasnya. Beramai-ramai mereka berkunjung ke rumah temannya, belajar dan bergembira ria di sana.

Memang, kulit mereka tidak sebersih dan seterang kulitku, tapi mereka begitu bahagia. Dan merekapun bisa pacaran. Pacar mereka pagi-pagi menjemput untuk ke sekolah, lalu pulangnya diantar. Padahal apa? Kulit mereka berwarna gelap, juga terbakar matahari. Rambut mereka kasar, juga tebal seperti ijuk. Telapak tangan mereka tebal dan kasar mendekati telapak kaki kakek tetangga sebelah yang tak pernah kenal alas kaki –duri yang runcing sekalipun tumpul seketika bila terinjak olehnya.

Sampai suatu waktu di musim kemarau, menjelang pengumuman kelulusan SMA untuk anak-anak seumuranku, aku disuruh bapak mandi tiga kali sehari, pagi, siang, sore. Mbak jamu datang setiap hari kecuali hari minggu.

Kamarku dipel mama setiap pagi dan sore. Kata bapak, supaya aku terhindar dari debu.
Aku tidak diperbolehkan mendekati dapur, apalagi sibuk hingga berpeluh di sana.

“Awas kesenggol pantat periuk! Kukumu juga jangan sampai kotor! Biarkan ibu yang ambil kalau kau butuh.”

“Bapak, toh. Feti juga akan berurusan dengan dapur. Bergulat dengan pantat periuk, dengan abu, duduk di depan tungku. Bukankah itu yang bapak bilang, perempuan itu kerjanya ya begitu?” ibu mencoba berargumen.

“Iya. Aku tahu, tapi itu kan nanti. Setelah dia bersuami. Sekarang ini, kita fokus untuk kecantikan dia.”

“Sama saja, pak. Kalau cantik tapi tak bisa baca tak bisa kerja, siapa yang mau.”

“Akh…, kau perempuan. Kau tidak tahu laki-laki. Bagi kami, perempuan itu yang penting cantik dan molek. Dan Feti, bukankah dia amat sangat cantik? Kecantikannya sudah tersohor ke mana-mana. Ini sudah lebih dari cukup.”

“Siapa bilang?”

“Saya. Kenapa?” balas bapak sengit.

“Buktinya, sampai sekarang belum ada pemuda yang mau bertandang ke sini, mengajak ngobrol Feti, atau sekedar berkenalan.”

“Ya, belum saatnya. Kau lihat saja nanti. Tinggal beberapa hari lagi, pengumuman kelulusan SMA. Kau akan menonton dengan mata kepalamu sendiri, akan banyak pemuda yang berebutan datang melamar Feti. Dan…. kita tinggal melihat siapa yang berani memasang harga tertinggi,” matanya menerawang jauh, kemudian tersenyum.

“Hah..? Harga tertinggi? Harga apa?”

“Ya, belislah(1). Apa lagi.”

Ibu memegang kepalanya. Ia oleng. Jatuh tak sadarkan diri.
…..
Saat hari pengumuman kelulusan SMA, aku kurang tahu apa artinya itu, tapi kudengar orang berbicara dari mulut ke mulut, lulus 100 persen, lulus 100 persen.

Dan sejak hari itu, bapak menghentikan kegiatan perdagangan babi. Ia standby selalu di rumah. Dari pagi hingga sore, ia tidur-tiduran saja di atas balai-balai di beranda samping. Malamnya, ia bangun hanya untuk makan kemudian berbaring lagi. Ketika ditanya ibu, kenapa tak pergi cari babi? Ia menjawab ogah-ogahan, pelanggannya yang akan datang.

“Tapi… kok sudah seminggu tak datang-datang?” tanya ibu seraya meniriskan piring-piring yang baru selesai dicuci. “Apa bapak sakit?” lanjutnya.

“Sakit apa? Tidak. Orang baik-baik begini dibilang sakit,” bapak menjawab dengan nada tersinggung.

“Tapi, masa satu minggu tidur-tiduran saja begini?” ibu bertanya bingung.

“Yah… besok saya kerja lagi.”

Esoknya, bapak tetap tak pergi kerja. Melihat tindak tanduk yang aneh itu, ibu mengerutkan keningnya. Tak mengerti.

Seminggu pun berlalu. Dua minggu berlalu lagi. Hingga tiga minggu pun akhirnya berlalu juga.

Menjelang sebulan setelah hari pengumuman kelulusan SMA, bapak mendadak jadi aneh sungguhan. Pagi-pagi buta, ia masuk kamarku. Membangunkan aku yang masih menikmati kehangatan selimut. Dengan tangannya yang besar, ia mencengkeram kedua lenganku, lalu menariknya keras.

Aku terjengkang dari tempat tidur.

“Cepat bangun! Kerja sana! Perempuan, pagi-pagi begini, sudah harus bangun. Tempatnya di dapur. Bukan di tempat tidur,” bentak bapak.

Aku mencoba mencerna kata-katanya. Menganalisa situasi. Apa maksud bapak pagi-pagi ini?

“Ayo… keluar! Kerja! Bukan tidur! Makan, tidur. Makan, tidur, kayak babi mai(2)”

Lho? Bapak? Bukankah dulu sekali, kau yang melarangku bekerja? Bapak juga bilang aku tak perlu sekolah? Katanya untuk menjaga dan merawat tubuhku agar terlihat cantik dan molek dan anggun dan apalagi biar banyak lelaki memperebutkanku?

Kini, tidak hanya bola matanya saja yang merah, tapi bagian mata yang seharusnya berwarna putih, pun terlihat merah, mungkin kebanyakan berurusan dengan babi dan mata itu teraliri darahnya.

“Hoeh…. Jangan bengong. Kubilang apa, Keluaaarr!”

Kulihat ibu muncul dari balik pintu. Ia menatapku. Di matanya ada tersirat sesuatu. Tetapi seketika itu juga kudengar bapak menggeram, hingga aku pun berpaling lagi pada bapak.

“Heh… dengar! Aku sudah banyak rugi. Berkorban beratus-ratus ribu bahkan sampai jutaan untuk membuatmu cantik. Tapi sekarang lihat… lihat…! Tak ada keuntunganku sedikit juga. Tak ada laki-laki yang datang ke sini. Untuk melamarmu. Mengganti kerugianku selama ini, atau untuk memberiku sedikit keuntungan. Masih lebih bagus mengeluarkan uang untuk memelihara babi, memberi untung. Kamu? Apa? Apa yang kudapat darimu?”

Hah…? Aku terperangah. Dadaku seperti disayat-sayat. Perih dan pedih. Hatiku jadi begitu sakit. Sakit. Sakit sekalii…

Ibu datang. Memelukku. Ia terisak, tapi aku tidak. Kukatakan pada diriku, aku tak akan begitu di depan bapak.

“Ayo sana! Keluar! Kerja sana! Cari uang! Ganti kerugianku!” bapak berteriak berang.

Baiklah bapak. Aku akan keluar untuk bekerja. Dan karena aku tak terlatih berpikir, tak pintar baca-tulis, juga tak tahu bagaimana bekerja, maka di luar sana, aku hanya akan ikut suruhan orang. Orang suruh aku makan tahi mereka, aku makan. Orang bilang apa, aku ikut, walau itu harus menumpahkan darah manusia dan mencoreng nama baik negeri.

Bapak! Dulu aku babi, maka sekarang aku anjing. Begitukah…? Lalu, kapan aku ini manusia? Atau… apa aku bukan manusia?

Kupang, Agustus 2009

Catatan:
1. Belis = istilah yang digunakan orang NTT untuk mas kawin/mahar
2. Mai = betina

 

 

Iklan

One comment on “Cerpen “Apa Aku Bukan Manusia?”*

  1. Ray Kapioru berkata:

    wow! panjang sekali, sampai bingung mau baca yang mana

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s