Puisi

Pengorbanan: Adakah Kepedihan seperti yang Kurasakan?

by George Herbert

jesus-suffering-org-arty
Sumber gambar: thejaggedworddotcom

Oh, kalian semua, yang sedang lewat, yang memiliki mata dan
pikiran yang tajam
Akan hal-hal dunia ini, tapi bagiku kalian buta;
Bagiku, yang menatap yang aku ingin kau temukan:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Para pemimpin rakyatku yang mengajukan tuntutan
Melawan pencipta mereka; mereka menghendaki aku mati
Tiada lain yang mereka kehendaki, kecuali aku memberi
mereka roti
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Tanpa diriku setiap mereka, yang kini berani,
Padahal dulu sebagai budak di mesir.
Mereka pakai kuasa terhadap diriku, yang aku beri:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Muridku sendiri, yang bertugas membawa perbekalan,
Walau dia punya segala yang kupunya, juga tidak tahan
Untuk menjualku pula, dan mengiringku ke tiang salib:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Untuk tiga puluh keping perak dia pikirkan kematianku,
Siapa yang relakan tiga ratus harga wewangian,
Tiada setengah dari manisnya pengorbananku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Itu sebabnya jiwaku hancur, dan lubuk hatiku
yang terdalam
Menetesekan darah (hanya itulah butiran yang menetes)
untuk setiap kata yang kuucapkan:
Biarlah cawan ini lalu daripadaku, tetapi janganlah seperti yang
kukehendaki, melainkan seperti yang kau kehendaki:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Tetesan-tetesan ini ditempa dengan air mata orang berdosa
Balsam diberi untuk kedua belah bumi semesta:
Sembuhkan segala luka, bukan lukaku; semuanya, tapi
bukan takutku saja
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Murid-muridku tertidur; tidak kudapatkan
Mereka berjaga-jaga satu jam saja; kantuk yang
mereka alami
Tak menenangkanku, dan ajaranku pun pudar:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Bangun, bangun, mereka datang. Lihat bagaimana mereka
bergegas!
Ah! begitu tergesa-gesanya mereka untuk pekerjaan yang
sia-sia!
Bayangkan, dengan lentera mereka mencari matahari!
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dengan suluh dan senjata mereka mencari aku, sekaan-
akan aku ini penyamun,
Aku adalah Jalan dan Kebenaran, sang kelepasan sejati;
Kelepasan yang nyata bagi mereka yang menjadi sumber
kepedihanku yang terdalam:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Yudas, engkau menyerahkan dengan ciuman?
Adakah kau temukan kematian pada bibirku? sedangkan
Kehidupan terlewat darimu, persis di pintu gerbang
kehidupan dan berkat?
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Lihat, mereka pegangi diriku, bukan dengan tangan iman,
Tetapi dengan murka: namun atas perintah mereka,
Aku menderita karena diikat, yang menjadikan ikatan mereka terbuka:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Semua muridku melarikan diri, takut menjadi penghalang
Antara aku dan sahabat-sahabatku. Mereka tinggalkan
Sang bintang,
Yang membawa orang-orang majus dari jauh.
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Maka dari satu penguasa ke penguasa
Mereka membawa aku; memaksa tanpa terdengar
Yang kuajarkan: komentar untuk ujian mengejutkan lara.
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Para imam dan penguasa semua jadi saksi palsu
Untuk melawan dia, yang mencari hidup.
Tetapi yang adalah domba yang pasrah dan siap untuk
Dikorbankan bagi minggu paskah:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Maka mereka menuduh aku sebagai penghujat besar,
Bahwa aku telah mengatakan hal yang salah tentang
Sang Ilahi,
Padahal tak pernah terpikir suatu kecurangan terhadap Dia:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Ada yang berucap, dalam tiga hari akan kuhancurkan
Bait suci dan membangunnya bak semula lagi.
Mengapa tidak? Dia yang membentuk dunia dapat berbuat lebih:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Maka mereka sepakat menghukum aku dalam tarikan
nafas yang sama,
Yang aku berikan kepada mereka setiap hari,
sampai ajal tiba.
Demikianlah Adam kuhembuskan nafas pertama:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka mengikat, dan membawa aku kepada Herodes: dia
Kirim aku kepada Pilatus. Ini membuat mereka berdamai;
Namun persahabatan mereka adalah untuk melawanku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Herodes dan seluruh pasukan melihatku jelas,
Siapakah yang ajarkan semua tangan untuk berperang,
Jemariku bertikai tangkas,
Hanya akulah Tuhan semesta alam dan yang berkuasa:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Herodes duduk di kursi pengadilan, sedang aku berdiri;
Ia memeriksa aku dengan teliti:
Aku taat padanya, aku yang memerintah segala sesuatu:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Orang Yahudi menuduhku dengan penuh kebencian;
Membalas kelembutanku dengan kedengkian
Dan bertikai dengan satu-satunya kebahagian mereka:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Tak ‘ku jawab apapun, selain kesabaran bukti tak bersalah
Jika saja hati yang membatu akan lumer akan kasih
yang lembut
Namun siapa menukarkan rajawali dengan seekor merpati?
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dengar, bagaimana mereka masih berteriak lantang,
Salibkan: dia tak layak hidup, teriak mereka,
Dia yang tiada dapat hidup kurang dari kekekalan:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Pilatus, seorang dari bangsa lain, mengundurkan diri; tetapi
mereka,
Bangsaku sendiri, berteriak, enyahkan, enyahkan dia,
Dengan keriuhan yang mencekam hari itu:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Namun mereka tetap berteriak, menjerit, dan menutup
telinga mereka,
Menaruh nyawaku di antara dosa dan ketakutan mereka,
Dan itu sebabnya mereka mau darahku ditanggungkan atas diri mereka:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Lihat, betapa kedengkian merusakkan segalanya. Kata-kata
ini yang dengan benar
Dipakai, dan diidamkan, adalah terang dunia:
Namun madu adalah empedu mereka, cahaya gemerlap
adalah malam mereka:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka memilih seorang pembunuh, dan semua setuju
Untuk melakukan kebaikan kepada orang itu:
Sebab yang tertutama bagi mereka adalah membunuh aku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dan dia adalah seorang pembunuh dan pemberontak:
Namun aku raja damai; damai yang melampaui
Segala pemahaman; hanya jelas di sorga
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Ah! kaisarlah yang menjadi raja mereka satu-satunya,
bukan aku:
Dia pecahkan batu karang, saat mereka kehausan;
Namun bukan hati mereka, seperti yang aku lakukan
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Ah! Betapa mereka cambuki diriku! Namun kelembutanku
Gandakan tiap cambukan: dan kepahitannya
Menghunjam dukaku ke dalam misteri:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka menampar dan memukulnya dengan semena-mena,
Memukul dia yang meraih bumi dan langit dengan
kepalan tangannya,
Dia tak pernah luput menghajar seorang hukuman:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Lihat, mereka meludahi aku dengan penuh penghinaan,
Sedangkan aku dengan ludahku sembuhkan mata
orang buta,
Dan meninggalkan kebutaan bagi musuh-musuhku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Wajahku mereka selubungi, walau terpancar sinar ilahi.
Bagai wajah musa yang berselubung, begitu pula wajahku,
Agar jangan sampai jiwa mereka yang gelap pekat itu
ikut bercahaya:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Para hamba dan sahaya mencemooh aku; olok-olok mereka:
Kini nubuatlah siapa yang memukulmu, adalah nyanyian mereka.
Itu sebabnya kepadaku mereka menyangkal semua rasa iba:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dan kini aku diserahkan kepada kematian,
Yang mana setiap orang menjalaninya dengan nafas
yang penghabisan,
Dia yang di hadapanku akan menderita sekali:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Jangan menangis, kawan, sebab akupun merintih
Saat semua airmataku berupa darah, saat engkau tertidur pulas:
Simpanlah airmatamu untuk kebaikanmu sendiri:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Para tentara membawa aku ke ruang sidang;
Di sana mereka mengejek aku, mereka hina aku
bukan kepalang:
Padahal aku bisa memanggil 12 legiun malaikat untuk
membelaku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Lalu mereka mengenakan jubah ungu kepadaku;
Yang menyingkapkan darahku sebagai jalan satu-satunya
Dan tulus untuk memperbaiki kerusakan manusia:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Maka pada kepalaku terpasang mahkota duri:
Untuk inilah semua anggur yang dihasilkan oleh Sion,
Walau anggurku ditanam dan diari di sana:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Maka kutukan terhadap bumi saat kejatuhan Adam duduk
Di atas kepalaku: supaya dapat kuhapus semuanya itu
Mulai dari bumi hingga ke alisku, dan menanggung
perbudakan tersebut:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dengan sebatang buluh yang sebelumnya mereka berikan,
Mereka hantam kepalaku, batu karang yang menyimpan
Semua berkat sorgawi senantiasa:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka berlutut kepadaku, dan berseru, salam ya raja:
Apa pun ejekan dan kekejaman yang dilampiaskan,
Aku adalah alas, tempayan, tempat mereka melontarkan semuanya:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Namun karena tongkat kerajaan manusia serapuh buluh,
Dan mahkota mereka penuh duri, pakaian kebesaran mereka berlumuran darah;
Aku, sang kebenaran, mengubah perbuatan mereka
menjadi kebenaran:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Para prajurit meludahi wajah itu,
Wajah yang dirindukan para malaikat untuk
mendapatkan anugerah,
Dan yang dicari oleh para nabi, namun tak menemukannya:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka menyeretku ke tengah kerumunan,
Mereka berteriak salibkan Dia, berteriak sekuat tenaga.
Allah menahan damai-Nya, dan manusia berteriak
kesetanan:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka menyeretku masuk sekali lagi, dan kemudian
Dikenakannya pakaianku lagi;ditariknya lagi aku keluar.
Sang iblis menghampiri, ia dipermainkan di tengah-tengah manusia.
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dan setelah letih mempermainkanku, dengan senang hati
mereka
Melampiskan seluruh dendam mereka, memperhitungkan
hidupku sebagai kerugian mereka,
Mereka membawaku kepada kayu salib yang
memedihkan hati:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

O, kalian semua yang berlalu, lihat dan pandanglah,
Manusia mencuri buah, namun, aku harus naik
ke pohon itu;
Pohon kehidupan bagi semua, kecuali bagi aku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Di sini aku tergantung, dibebankan dosa seluruh dunia,
Semakin besar dunia, untuk itu ‘ku datang
Dengan kata-kata, hanya melalui derita ini aku menangkan:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Duka seperti itu, andai manusia berdosa bisa
merasakannya,
Atau ikut ambil bagian di dalamnya, dia tak akan
berhenti berlutut.
Sampai segalanya luluh, walau dia setegar baja:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Tetapi, Allahku, Allahku! Mengapa Engkau meninggalkan aku,
Putra, yang kepada-Nya Engkau berkenan?
Allahku, Allahku-
Tak pernah ada kepedihan seperti yang kurasakan.

Kehinaan mencabik-cabik jiwaku, tubuhku ditorehi
banyak luka;
Paku-paku tajam menembus tubuh ini, namun kutukan
lebih tajam menghunjam:
Kehinaan berdiri bebas, sedangkan diriku terbelenggu
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Sembuhkan dirimu sendiri, hai tabib; turunlah.
Ah! itu telah kulakukan, saat kulepaskan mahkotaku
Dan kutinggalkan senyum bapaku hanya untukmu, untuk
merasakan murkanya:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Dalam keengganan untuk menyembuhkan diriku sendiri,
Tersimpanlah keselamatan, yang kini kautolak;
Dalam kesakitanku tinggal kedamaianmu:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Di antara dua perampok aku hembuskan nafas terakhir,
Tak ubahnya dengan penyamun yang menderita
karena hukuman.
Apa yang kucuri darimu? maut.
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Aku adalah raja, namaku dijunjung tinggi;
Namun oleh rakyatku aku dihukum mati
Dengan kematian hina di tengah-tengah kumpulan hina:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Mereka membagi-bagi pakaianku, dan membuang undi
atas jubahku, contoh kasih, yang pernah
menyembuhkan mereka
Yang mencari pertolongan, dan yang tak pernah
mencari musuh:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Tidak, setelah aku mati kebencian mereka tak jua reda:
Karena tak lama kemudian mereka akan menikam
lambungku, aku tahu benar itu;
Saat dosa datang, sakramen-sakramen pun tercurah:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Namun kini aku mati; kini semua genaplah.
Deritaku adalah kebahagian manusia: dan sekarang
kutundukan kepalaku.
Biarlah saat aku mati, orang lain memberikan kesaksian
bahwa,
Tak pernah ada kepedihan seperti yang kurasakan.

Iklan
Esai, Lomba

The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci: Peduli Warisan Budaya Daerah sekalipun Berskala Global Campus

johannes-oentoro-library-uph-3-large
Sumber: http://noesis.co.id

Oleh: Anaci Tnunay*

Suatu kali di awal masa kuliah tahun 2007, di The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya melihat Indonesian Heritage, yakni ensiklopedi yang memuat berbagai macam informasi mengenai seluk beluk negara dan bangsa Indonesia. Ensiklopedi terbitan Archipelago Press Singapura yang dalam edisi bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Warisan Indonesia ini dikemas dalam 10 jilid. Judul tiap jilidnya antara lain Sejarah Awal, Manusia dan Lingkungan, Sejarah Modern Awal, Tetumbuhan, Margasatwa, Arsitektur, Seni Rupa, Seni Pertunjukan, Agama dan Upacara, serta Bahasa dan Sastra. Tak hanya itu, pada bagian lain saya juga menemukan kumpulan tulisan dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia yang disusun Koentjoroningrat. Dari buku-buku itulah saya mengenal dan menganggumi keindahan kebudayan Indonesia, yang beragam dan unik, yang tersebar dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua.

203832881_ae4aea6bca
Sumber: uph

Buku-buku tersebut hanya memuat sedikit dari begitu banyaknya kebudayaan daerah di Indonesia, namun dapat membuat saya tak berhenti mengagumi kekreatifan orang-orang terdahulu. Mereka dapat menciptakan karya seni yang indah serta menetapkan aturan-aturan yang kemudian menjadi adat istiadat di daerah masing-masing, – tentunya ini di luar sumber daya alam yang telah tersedia. Tapi itulah kenyataannya, bahwa pada tiap daerah yang mana masih lagi terdiri dari berbagai suku, masing-masing mempunyai lagu, tarian, hasil seni rupa, kepercayan, bahasa, cerita rakyat dan adat istiadat yang berbeda. Dan ketika tiap kebudayaan daerah tersebut diperkenalkan, kita akan berdecak kagum bahwa betapa luar biasanya kebudayaan bangsa Indonesia. Berangkat dari sinilah timbul rasa bangga dalam diri saya sebagai bagian dari Indonesia.

Contoh pengalaman di atas, saya kira telah menggambarkan peran sebuah perpustakaan dalam pelestarian kebudayaan lokal. Sebagaimana yang diungkapkan Basuki (1993, hal. 11) bahwa perpustakaan memiliki fungsi kultural, yakni sebagai wahana pelestarian khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan bacaan, seminar, pameran atau penyelenggaraan kegiatan yang sesuai.

Dengan adanya bahan bacaan seperti buku-buku, ensiklopedi, koran, serta terbitan berseri (majalah, buletin, warta, jurnal, newsletter, warkat warta, risalah laporan tahunan, bulanan, mingguan) mengenai sejarah dan kebudayaan daerah di Indonesia ataupun penyelenggaraan kegiatan yang sesuai, para pengguna perpustakaan dapat mengenal lebih dekat tentang warisan kebudayaan daerahnya sendiri dan atau kebudayaan daerah lain dalam kawasan nusantara. Hingga pada gilirannya, mampu menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap kebudayan daerah sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia.

perpus-fk
Sumber: library.uph.edu

Dalam menyediakan bahan bacaan ataupun menyelenggarakan kegiatan berkaitan dengan kebudayan daerah, tidak hanya oleh perpustakaan nasional atau perpustakaan umum atau perpustakaan daerah, melainkan semua jenis perpustakaan termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Sebab selain perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian dari perpustakaan, yang perannya adalah ikut menentukan dan mempengaruhi tercapainya tujuan kultural perpustakaan, para pengguna perpustakaan perguruan tinggi juga adalah orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang budaya berbeda, apalagi jika perguruan tinggi tersebut adalah perguruan tinggi berskala global campus.

Justru perguruan tinggi seperti inilah yang dituntut tetap ikut berkontrubusi dalam pelestarian kebudayaan daerah Indonesia. Misalnya selain menyediakan bahan bacaan dalam bentuk karya cetak, perlu juga mengadakan seminar, pameran atau kegiatan-kegiatan tertentu berkaitan dengan kebudayaan daerah di Indonesia.

Mengapa demikian?

Sebab, perguruan tinggi berskala global campus adalah perguruan tinggi yang dalam proses pelaksanaan pendidikannya, lebih banyak berkenaan dengan segala hal berbau global. Dikuatirkan mahasiswa sebagai generasi muda akan mengabaikan segala hal berbau lokal. Mungkin masih lebih baik dikatakan mengabaikan. Bagaimana jadinya kalau sampai mahasiswa membenci bahkan memandang remeh budaya-budaya lokal di Indonesia, dan malah sebaliknya mengagungkan globalisasi yang adalah cita-cita perguruan tinggi tempat mereka belajar?

Mencegah jangan sampai kemungkinan itu terjadi, budaya global dan budaya lokal mestilah berjalan seimbang. Memang sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi mutlak membuka diri terhadap perubahan dunia dan dituntut berpikir global. Kendati demikian perguruan tinggi tidak boleh melepaskan diri dari akar kebudayaan lokal.

Mengutip berita dari website UGM (2010), Dr. Wening Udasmoro, MHum, DEA., dalam seminar yang bertajuk Membangun Sinergi Lokal Global dengan Berpijak pada Warisan Budaya di Jogjakarta mengatakan “Lokalitas dan globalitas, keduanya berguna untuk menjawab kebutuhan manusia”.

Meresponi pandangan tersebut, maka dalam tugasnya menunjang cita-cita dan visi perguruan tinggi, perpustakaan tersebut tidak boleh hanya menyediakan bahan bacaan mengenai kebudayaan masyarakat luar negeri atau teknologi industri dunia global, menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri, mengadakan Inter Library Loan, memiliki langganan online database dari berbagai disiplin ilmu, menggunakan security system yang canggih, menyediakan fasilitas belajar yang lengkap dan selalu berfungsi optimal, memberi pelayanan sirkulasi peminjaman buku dengan sistem komputerisasi, menggunakan katalog dalam pencarian buku. Namun perpustakaan juga harus tetap melaksanakan fungsi kulturalnya.

Seperti halnya yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH, selain menyediakan bahan bacaan tentang kebudayaan daerah Indonesia, juga menekankan kebudayaan lokal dalam tema Perpustakaan dan Kebudayaan pada Library Annual Event (LIBANEV) tahun 2011. Penekanan ini terlihat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

dscn1900
Sumber: library.uph.edu
5656601731_a79a38c7e3
Sumber:The Johannes Oentoro Library

Penyelenggaraan kegiatan tersebut di antaranya pameran batik Banten, seminar batik Indonesia dan batik Banten, kompetesi menulis kreatif tentang Peran Perpustakaan dalam Preservasi Kebudayaan Lokal khusus untuk mahasiswa UPH. Khusus penyelenggaraan kompetisi menulis kreatif inipun telah turut membuat para peserta yang berpartisipasi mau tak mau harus mempelajari tentang kebudayaan lokal. Proses ini secara tidak langsung telah memberi pengaruh kepada mahasiswa untuk mengenal kebudayaan lokal.

Penyelanggaraan kegiatan tersebut patut disambut gembira. Namun alangkah baik bila dalam upaya mewujudkan fungsi kulturalnya, perpustakaan perguruan tinggi semacam Johanes Oentoro Library-UPH tidak hanya terbatas pada buku non-fiksi atau ensiklopedi atau terbitan berseri kebudayaan daerah saja. Masih ada banyak bahan bacaan lain yang berguna misalnya karya-karya sastra klasik Indonesia. Hal ini patut dipertimbangkan sebab biasanya lembaga pendidikan berskala global, seperti yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH malah lebih banyak menyediakan karya sastra klasik luar negeri dibanding karya sastra klasik dalam negeri. Padahal dari karya sastra tersebut, mahasiswa sebagai pembaca setidaknya dapat mengenal budaya daerah yang diambil sebagai latar dalam cerita.

Memang tak dipungkiri bahwa koleksi perpustakaan harus mencerminkan ‘isi’ perguruan tinggi (Naibaho, 2011, np). Sehingga dalam hal ini, The Johannes Oentoro Library lebih banyak menyediakan karya sastra asing daripada karya sastra klasik dalam negeri sebab fakultas yang dimilikinya di sini adalah sastra Inggris dan bukannya sastra Indonesia. Namun bukan berarti karya sastra klasik Indonesia tidak terlalu diperlukan. Mengingat perpustakaan juga memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi, para pengguna dapat memanfaatkannya untuk membaca karya sastra sebagai ‘hiburan’.

Pengadaan bahan koleksi seperti itu, diharapkan para mahasiswa dapat mengenal lebih dekat kebudayaaan lokal di Indonesia, diikuti timbulnya rasa kagum dan bangga akan keberagaman, keunikan dan keindahannya. Sehingga pada gilirannya akan meningkat rasa cinta dan rasa penghargaan mahasiswa terhadap kebudayaan lokal tersebut.

Memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan lokal penting. Sebab keberagaman dan keunikan kebudayaan lokal inilah ciri khas kebudayaan Indonesia, yang kerapkali disebut berkontrubusi terhadap identitas bangsa. Berperan sebagai identitas bangsa, kebudayaan lokal membawa Indonesia terlihat unik serta mampu menunjukkan kepada dunia akan eksistensi bangsa Indonesia. Dalam hal ini, yang lebih diharapkan adalah mahasiswa sebagai tonggak kepemimpinan bangsa. Mereka perlu memiliki pijakan yang kuat untuk tampil dan mempertahankan keunikan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dengan menjalankan hal-hal seperti yang telah dipaparkan di atas, maka upaya The Johannes Oentoro Library-UPH dalam menunjukan kepedulian terhadap warisan kebudayaan lokal Indonesia akan terlihat lebih stabil dan konsisten. Tidak hanya sekedar melengkapi koleksi periodikal perpustakaan atau kegiatannya yang hanya terwujud di Library Annual Event tahun 2011.

Mahasiswa sebagai bagian dari Universitas Pelita Harapan, yang dalam visi-misinya menuju global campus tidak serta merta menaruh ambisi sepenuhnya kepada globalisasi lantas mengabaikan dan memandang remeh budaya lokal. Biarlah dengan berpijak pada akar budaya bangsa Indonesia, mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan mengenal dan menghargai identitas bangsanya. Sehingga dalam praktiknya di dunia kerja, ia tak kehilangan identitas melainkan dapat secara tegas menunjukan eksistensi bangsa Indonesia di tengah menderasnya arus globalisasi.

Referensi

Basuki, S. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas terbuka, Depdikbud.

Grehenson, G. (2010). Identitas Budaya Lokal Semakin Menguat. Portal Universitas Gajah Mada: Fakultas Ilmu Budaya. Diambil 17 Maret 2011 dari http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=2549

Koentjoroningrat (Red). (1995). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Naibaho, K. (2011). Perpustakaan sebagai Salah Satu Indikator Utama dalam Mendukung Universitas Bertaraf Internasional. Artikel blog staf Universitas Indonesia. Diambil 16 Maret 2011 dari https://staff.blog.ui.ac.id/clara/

Soebadyo., Ave, J., Setyawati (Red). (2002). Indonesian Heritage (Edisi bahasa Indonesia, volume 1-10). Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International, Inc.

Catatan:

*Pemenang ke-3 Kompetisi Library Annual Event (LIBANEV) UPH Karawaci 2011

*****

Library Annual Event (LibAnEv UPH) 2011_The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci

5660640542_b315f2f9ac
Sumber: JO Library UPH
5660590354_936f873ec2
Sumber: JO Library UPH

The winners of library annual event 2011 competitions