The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci: Peduli Warisan Budaya Daerah sekalipun Berskala Global Campus

Oleh: Anaci Tnunay*

Suatu kali di awal masa kuliah tahun 2007, di The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya melihat Indonesian Heritage, yakni ensiklopedi yang memuat berbagai macam informasi mengenai seluk beluk negara dan bangsa Indonesia. Ensiklopedi terbitan Archipelago Press Singapura yang dalam edisi bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Warisan Indonesia ini dikemas dalam 10 jilid. Judul tiap jilidnya antara lain Sejarah Awal, Manusia dan Lingkungan, Sejarah Modern Awal, Tetumbuhan, Margasatwa, Arsitektur, Seni Rupa, Seni Pertunjukan, Agama dan Upacara, serta Bahasa dan Sastra. Tak hanya itu, pada bagian lain saya juga menemukan kumpulan tulisan dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia yang disusun Koentjoroningrat. Dari buku-buku itulah saya mengenal dan menganggumi keindahan kebudayan Indonesia, yang beragam dan unik, yang tersebar dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua.

203832881_ae4aea6bca

Sumber: uph

Buku-buku tersebut hanya memuat sedikit dari begitu banyaknya kebudayaan daerah di Indonesia, namun dapat membuat saya tak berhenti mengagumi kekreatifan orang-orang terdahulu. Mereka dapat menciptakan karya seni yang indah serta menetapkan aturan-aturan yang kemudian menjadi adat istiadat di daerah masing-masing, – tentunya ini di luar sumber daya alam yang telah tersedia. Tapi itulah kenyataannya, bahwa pada tiap daerah yang mana masih lagi terdiri dari berbagai suku, masing-masing mempunyai lagu, tarian, hasil seni rupa, kepercayan, bahasa, cerita rakyat dan adat istiadat yang berbeda. Dan ketika tiap kebudayaan daerah tersebut diperkenalkan, kita akan berdecak kagum bahwa betapa luar biasanya kebudayaan bangsa Indonesia. Berangkat dari sinilah timbul rasa bangga dalam diri saya sebagai bagian dari Indonesia.

Contoh pengalaman di atas, saya kira telah menggambarkan peran sebuah perpustakaan dalam pelestarian kebudayaan lokal. Sebagaimana yang diungkapkan Basuki (1993, hal. 11) bahwa perpustakaan memiliki fungsi kultural, yakni sebagai wahana pelestarian khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan bacaan, seminar, pameran atau penyelenggaraan kegiatan yang sesuai.

Dengan adanya bahan bacaan seperti buku-buku, ensiklopedi, koran, serta terbitan berseri (majalah, buletin, warta, jurnal, newsletter, warkat warta, risalah laporan tahunan, bulanan, mingguan) mengenai sejarah dan kebudayaan daerah di Indonesia ataupun penyelenggaraan kegiatan yang sesuai, para pengguna perpustakaan dapat mengenal lebih dekat tentang warisan kebudayaan daerahnya sendiri dan atau kebudayaan daerah lain dalam kawasan nusantara. Hingga pada gilirannya, mampu menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap kebudayan daerah sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia.

Dalam menyediakan bahan bacaan ataupun menyelenggarakan kegiatan berkaitan dengan kebudayan daerah, tidak hanya oleh perpustakaan nasional atau perpustakaan umum atau perpustakaan daerah, melainkan semua jenis perpustakaan termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Sebab selain perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian dari perpustakaan, yang perannya adalah ikut menentukan dan mempengaruhi tercapainya tujuan kultural perpustakaan, para pengguna perpustakaan perguruan tinggi juga adalah orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang budaya berbeda, apalagi jika perguruan tinggi tersebut adalah perguruan tinggi berskala global campus.

Justru perguruan tinggi seperti inilah yang dituntut tetap ikut berkontrubusi dalam pelestarian kebudayaan daerah Indonesia. Misalnya selain menyediakan bahan bacaan dalam bentuk karya cetak, perlu juga mengadakan seminar, pameran atau kegiatan-kegiatan tertentu berkaitan dengan kebudayaan daerah di Indonesia.

Mengapa demikian?

Sebab, perguruan tinggi berskala global campus adalah perguruan tinggi yang dalam proses pelaksanaan pendidikannya, lebih banyak berkenaan dengan segala hal berbau global. Dikuatirkan mahasiswa sebagai generasi muda akan mengabaikan segala hal berbau lokal. Mungkin masih lebih baik dikatakan mengabaikan. Bagaimana jadinya kalau sampai mahasiswa membenci bahkan memandang remeh budaya-budaya lokal di Indonesia, dan malah sebaliknya mengagungkan globalisasi yang adalah cita-cita perguruan tinggi tempat mereka belajar?

Mencegah jangan sampai kemungkinan itu terjadi, budaya global dan budaya lokal mestilah berjalan seimbang. Memang sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi mutlak membuka diri terhadap perubahan dunia dan dituntut berpikir global. Kendati demikian perguruan tinggi tidak boleh melepaskan diri dari akar kebudayaan lokal.

Mengutip berita dari website UGM (2010), Dr. Wening Udasmoro, MHum, DEA., dalam seminar yang bertajuk Membangun Sinergi Lokal Global dengan Berpijak pada Warisan Budaya di Jogjakarta mengatakan “Lokalitas dan globalitas, keduanya berguna untuk menjawab kebutuhan manusia”.

Meresponi pandangan tersebut, maka dalam tugasnya menunjang cita-cita dan visi perguruan tinggi, perpustakaan tersebut tidak boleh hanya menyediakan bahan bacaan mengenai kebudayaan masyarakat luar negeri atau teknologi industri dunia global, menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri, mengadakan Inter Library Loan, memiliki langganan online database dari berbagai disiplin ilmu, menggunakan security system yang canggih, menyediakan fasilitas belajar yang lengkap dan selalu berfungsi optimal, memberi pelayanan sirkulasi peminjaman buku dengan sistem komputerisasi, menggunakan katalog dalam pencarian buku. Namun perpustakaan juga harus tetap melaksanakan fungsi kulturalnya.

Seperti halnya yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH, selain menyediakan bahan bacaan tentang kebudayaan daerah Indonesia, juga menekankan kebudayaan lokal dalam tema Perpustakaan dan Kebudayaan pada Library Annual Event (LIBANEV) tahun 2011. Penekanan ini terlihat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Penyelenggaraan kegiatan tersebut di antaranya pameran batik Banten, seminar batik Indonesia dan batik Banten, kompetesi menulis kreatif tentang Peran Perpustakaan dalam Preservasi Kebudayaan Lokal khusus untuk mahasiswa UPH. Khusus penyelenggaraan kompetisi menulis kreatif inipun telah turut membuat para peserta yang berpartisipasi mau tak mau harus mempelajari tentang kebudayaan lokal. Proses ini secara tidak langsung telah memberi pengaruh kepada mahasiswa untuk mengenal kebudayaan lokal.

Penyelanggaraan kegiatan tersebut patut disambut gembira. Namun alangkah baik bila dalam upaya mewujudkan fungsi kulturalnya, perpustakaan perguruan tinggi semacam Johanes Oentoro Library-UPH tidak hanya terbatas pada buku non-fiksi atau ensiklopedi atau terbitan berseri kebudayaan daerah saja. Masih ada banyak bahan bacaan lain yang berguna misalnya karya-karya sastra klasik Indonesia. Hal ini patut dipertimbangkan sebab biasanya lembaga pendidikan berskala global, seperti yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH malah lebih banyak menyediakan karya sastra klasik luar negeri dibanding karya sastra klasik dalam negeri. Padahal dari karya sastra tersebut, mahasiswa sebagai pembaca setidaknya dapat mengenal budaya daerah yang diambil sebagai latar dalam cerita.

Memang tak dipungkiri bahwa koleksi perpustakaan harus mencerminkan ‘isi’ perguruan tinggi (Naibaho, 2011, np). Sehingga dalam hal ini, The Johannes Oentoro Library lebih banyak menyediakan karya sastra asing daripada karya sastra klasik dalam negeri sebab fakultas yang dimilikinya di sini adalah sastra Inggris dan bukannya sastra Indonesia. Namun bukan berarti karya sastra klasik Indonesia tidak terlalu diperlukan. Mengingat perpustakaan juga memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi, para pengguna dapat memanfaatkannya untuk membaca karya sastra sebagai ‘hiburan’.

Pengadaan bahan koleksi seperti itu, diharapkan para mahasiswa dapat mengenal lebih dekat kebudayaaan lokal di Indonesia, diikuti timbulnya rasa kagum dan bangga akan keberagaman, keunikan dan keindahannya. Sehingga pada gilirannya akan meningkat rasa cinta dan rasa penghargaan mahasiswa terhadap kebudayaan lokal tersebut.

Memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan lokal penting. Sebab keberagaman dan keunikan kebudayaan lokal inilah ciri khas kebudayaan Indonesia, yang kerapkali disebut berkontrubusi terhadap identitas bangsa. Berperan sebagai identitas bangsa, kebudayaan lokal membawa Indonesia terlihat unik serta mampu menunjukkan kepada dunia akan eksistensi bangsa Indonesia. Dalam hal ini, yang lebih diharapkan adalah mahasiswa sebagai tonggak kepemimpinan bangsa. Mereka perlu memiliki pijakan yang kuat untuk tampil dan mempertahankan keunikan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dengan menjalankan hal-hal seperti yang telah dipaparkan di atas, maka upaya The Johannes Oentoro Library-UPH dalam menunjukan kepedulian terhadap warisan kebudayaan lokal Indonesia akan terlihat lebih stabil dan konsisten. Tidak hanya sekedar melengkapi koleksi periodikal perpustakaan atau kegiatannya yang hanya terwujud di Library Annual Event tahun 2011.

Mahasiswa sebagai bagian dari Universitas Pelita Harapan, yang dalam visi-misinya menuju global campus tidak serta merta menaruh ambisi sepenuhnya kepada globalisasi lantas mengabaikan dan memandang remeh budaya lokal. Biarlah dengan berpijak pada akar budaya bangsa Indonesia, mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan mengenal dan menghargai identitas bangsanya. Sehingga dalam praktiknya di dunia kerja, ia tak kehilangan identitas melainkan dapat secara tegas menunjukan eksistensi bangsa Indonesia di tengah menderasnya arus globalisasi.

Referensi

Basuki, S. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas terbuka, Depdikbud.

Grehenson, G. (2010). Identitas Budaya Lokal Semakin Menguat. Portal Universitas Gajah Mada: Fakultas Ilmu Budaya. Diambil 17 Maret 2011 dari http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=2549

Koentjoroningrat (Red). (1995). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Naibaho, K. (2011). Perpustakaan sebagai Salah Satu Indikator Utama dalam Mendukung Universitas Bertaraf Internasional. Artikel blog staf Universitas Indonesia. Diambil 16 Maret 2011 dari https://staff.blog.ui.ac.id/clara/

Soebadyo., Ave, J., Setyawati (Red). (2002). Indonesian Heritage (Edisi bahasa Indonesia, volume 1-10). Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International, Inc.

Catatan:

*Pemenang ke-3 Kompetisi Library Annual Event (LIBANEV) UPH Karawaci 2011

*****

Library Annual Event (LibAnEv UPH) 2011_The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci

The winners of library annual event 2011 competitions

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s