Cerpen “Sarapan Air Asin”

Cerpen ini sebagai salah satu pemenang favorit LMCR ROHTO-LIP ICE SELSUN GOLDEN 2011 Kategori C

water-glass

Sumber ilustrasi: MightyTykes

“Jangan berlutut di bawah kakiku! Akulah yang harus berlutut dan mencium tumitmu!”
“Tidak nak! Akulah yang harus berlutut di hadapanmu. Oh Tuhan, tak sia-sia anakku sarapan air asin setiap pagi. Sekarang, biarkan aku pergi dalam damai sejahtera.” Lelaki dengan kepala penuh uban itu bersujud di hadapan anak perempuannya.
“Oh, tidak bapak. Bangunlah. Biarlah kuminyaki kakimu dengan minyak cendana yang wangi. Biarkan aku menyekanya dengan rambutku!” Air mata perempuan muda itu bercucuran dari markasnya. Ia menunduk, berupaya mengangkat orang tua itu bangkit berdiri.
Tak lama kemudian, lelaki bertubuh ringkih itu tak lagi bergerak. Begitu ringan dan dingin badannya. Ah, sang bapak dengan senyum bahagia menutup matanya tepat ana feto mese-nya datang dari pulau seberang, mengabarkan ia telah menyelesaikan pendidikannya, juga bahwa hasil karyanyapun telah dibacakan badan internasional di Belanda sebagai karya sastra terbaik.
***
Dalam balutan siraman matahari sore yang akan menghilang sebentar lagi, seorang perempuan muda berdiri mematung di samping sebuah batu nisan. Batu nisan yang masih basah tanahnya. Ia pun menggali lubang kecil di sisi batu nisan itu, kemudian menaruh beberapa lembar kertas penuh tulisan di dalamnya.
***
Setiap pagi, sebelum aku berangkat ke sekolah, telah kau sediakan segelas air di atas meja tua yang nyaris lapuk. Air untuk kuminum sebagai sarapan. Air itu berasa asin. Seperti asin garam. Ketika aku bertanya, kenapa air itu berasa asin selalu setiap pagi? Kau menjawab, rasa asin itu memberi energi. Energi yang melampaui sepiring bubur hangat dan segelas susu.
“Nak, cobalah pergi ke laut, cucukkanlah jarimu ke dalam airnya, dan kecaplah bagaimana rasanya? Rasa apalagi kalau bukan asin? Laut itu luas. Laut itu berenergi. Jikalau laut mengamuk bumi tenggelam. Gunung tertinggi di dunia yang melebihi Mutis di TTS sanapun pasti lenyap ditelan laut. Itulah bagaimana dahsyatnya rasa asin itu.”
Kau mengatakan itu berulangkali, setiap pagi ketika kau menyajikannya dan aku mengangguk sebelum kemudian air asin itu melewati kerongkonganku dengan mulus.
Di sekolah, aku bahkan lebih kuat dari yang lain. Ketika kami bermain kasti saat istirahat, akulah yang paling akhir lelah. Ketika ada lomba lari, akulah sang juara.
Di kelas, menjelang pulang sekolah, lihatlah seisi kelas, mata mereka merah, dan sudah berpuluh-puluh kali menguap, lebar-lebar lagi, dan tengoklah siapa yang masih terang matanya, juga cerah dan antusias bertanya serta menjawab pertanyaan guru kalau bukan aku?
Ketika pelaksanaan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia17 Agustus ataupun hari pendidikan nasional 2 Mei, semua teman-temanku membawa bekal ketupat, atau kotak berisi makanan dari rumah, yang disiapkan pagi-pagi sekali oleh ibu mereka, di hari itupun, pagi-pagi sekali kau sudah bangun sebelum aku, menyiapkan segelas air asin untuk kuminum. Aku tak perlu repot-repot membawa beban dua sampai tiga kilogram makanan ke tempat dilaksanakannya upacara, karena kau telah membekaliku dengan segelas air asin. Hingga sore hari selesai semua acara termasuk aneka perlombaan, aku masih kuat dan sanggup berjalan kaki pulang ke rumah.
Di sekolah, di suatu hari yang berpagi cerah, orang-orang dinas kesehatan datang berkunjung. Mereka memberi ceramah. Ceramah tentang kebersihan dan makanan bergizi. Kami diminta harus sarapan bubur hangat atau roti bakar serta dilengkapi segelas susu hangat. Selain itu, setiap makanan kami mesti diberi garam beryodium. Garam yodium. Bukan garam lokal olahan orang-orang di pinggiran teluk Kupang yang tak diperhatikan kebersihannya. Tanpa itu, katanya kami akan lemah dan lemas di sekolah. Otak kami jadi tumpul dan tak mampu berpikir. Kami tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Selesai ceramah itu, kami diminta mengeluarkan perangkat makan yang dijanjikan bapak ibu guru sehari sebelumnya. Piring, sendok dan cangkir. Kami akan mendapat PMTAS. Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah. Menurut pemantauan mereka, rata-rata kami kekurangan gizi. Maka itu kami tidak secerdas anak-anak di kota yang selalu ikut olimpiade sains.
“Apa kalian tadi pagi sudah sarapan?” tanya seorang ibu petugas kesehatan.
Beberapa dari kami menjawab beramai-ramai, “Sudah, bu.”
“Bagus.” Lalu ia menatapku yang duduk di kursi paling depan, “Ehmm, kamu. Ya, siapa namamu?”
“Yani bu?”
“Ya, Yani. Tadi pagi sarapan apa?”
Spontan aku menjawab, “Sarapan air asin.”
Mendadak, bertepatan dengan keluarnya kata terakhir, seisi ruangan tertawa. Tertawa terbahak-bahak, terkekeh-kekeh, terkikik-kikik, terpingkal-pingkal, sampai mengalir deras air mata mereka.
Aku hanya diam tak berani memandang seisi kelas, pun ibu-ibu pelayan PMTAS. Aku tahu akulah yang ditertawakan, tapi aku tak mengerti kenapa mereka menertawakan seseorang yang meminum segelas air asin sebagai sarapannya?
Siang itu, aku pulang ke rumah dengan membawa dua PR untukmu. Satu, hanya karena aku sarapan air asin, aku jadi bahan tertawaan. Dua, aku minta agar aku jangan lagi disediakan segelas air asin tiap pagi melainkan bubur hangat dengan segelas susu.
Kusampaikan PR-ku padamu malam itu juga. Dan terakhir, untuk meyakinkan lagi, “Bapak, mungkin dengan begitu, aku bisa ikut olimpiade.”
Kunantikan reaksimu.
“Kenapa kau merengek minta sarapan murahan itu?” kau malah bertanya. Terpancar kemarahan dari matamu.
“Bapak! Di sekolah, aku sudah pintar dan selalu dapat juara. Tapi aku tak pernah ikut olimpiade. Ya, memang, pak. Walau juara sekolah, aku jelas kalah dibanding anak-anak kota yang makanannya bergizi, sehingga aku ikutpun percuma.” Aku meraung. Air mataku jatuh dan rupa wajahku mulai buruk.
“Siapa bilang kamu kalah dibanding mereka? Guru-gurumu saja yang kolot. Mereka pengecut tak mengikutkan kamu.”
“Itu kata orang-orang dinas kesehatan. Pak, kalau besok masih ada air asin, aku tak mau sarapan.”
Esok paginya, di atas meja, masih ada segelas air asin seperti biasa. Aku hanya memandang sambil lalu menuju pintu untuk ke sekolah. Kau tak memaksa dan kutahu kau hanya mengantarku dengan pandanganmu yang tak kumengerti maknanya.
Di kelas pagi-pagi sekali, saat mau memulai pelajaran pertama, tiba-tiba, seorang siswa berdiri dan memanggil, “Yani!”
Kepala seisi kelas tegak dan sontak menoleh padaku.
“Tadi pagi sarapan apa?” ia meneruskan.
Belum lagi aku mau menyanggah, seisi kelas tertawa berbarengan. Tertawa terbahak-bahak, terkekeh-kekeh, terkikik-kikik, terpingkal-pingkal, sampai mengalir deras air mata mereka.
Hanya seorang yang tidak tertawa. Ibu guru. Aneh! Padahal kemarin, ia ikut pula tertawa. Keras-keras lagi. Sampai ia mesti mengeluarkan sapu tangan berbau harum untuk mengelap air matanya yang menderas bagai air terjun di Oenesu.
Aku pulang dan kuadukan lagi kejadian di sekolah itu kepadamu.
Kau berkata, “Nak. Tentang sarapanmu, aku tak tahu, apakah masih ada orang yang nanti memberikan air asin padamu sebagai sarapan? Tapi aku puas, setidaknya selama sekolahmu, aku sudah membekalimu dan menguatkanmu dengan segelas air asin untuk sarapan. Aku bangga akan pemberianku padamu. Lihat saja, nilai-nilaimu di sekolah tak pernah mengecewakan aku, malahan kaulah bintang sekolah. Nak. Ingatlah untuk selalu sarapan air asin, karena air asin selalu memberi energi yang lebih, bukan hanya pada tubuh, tapi juga pada hati dan jiwamu. Itu yang menguatkanmu dan membuatmu tegar.”
Meski dengan berat hati, mesti kuminum segelas air asin itu sebagai sarapanku tiap pagi sebelum ke sekolah. Walau begitu, aku masih harus bisa bertahan dengan deraan, ejekan, hinaan, ledekan dari teman-temanku di sekolah.
Deraan ini berakhir atau setidaknya berhenti, ketika aku mesti meninggalkanmu, menuju pelabuhan demi ku melihat dunia. Aku akan masuk universitas.
Aku tak lagi meminum segelas air asin tiap pagi, namun asinnya masih terasa di lidahku setiap kali aku menyantap roti lapis dan minum susu kocok, pagi hari di kantin kampusku. Hingga suatu hari, saat aku pulang dengan tak mengabarkanmu lebih dahulu, tak sengaja kudapati engkau. Di dalam kamarmu yang sempit itu, kau menangis. Sebuah gelas ada di hadapanmu. Kau curahkan tumpahan air matamu ke dalamnya.
“Bapak! Anak perempuanmu pulang!” Aku bersikap seolah-olah tak pernah mengintip apa yang baru saja kau lakukan.
“Hah…? Ana feto mese-ku sudah kembali.”
Sambil berseru kau menghambur keluar kamar. Di tanganmu ada gelas berisi cairan itu.
“Sudah lama kau tak minum air asin, anakku. Pasti kau sudah sangat merindukannya. Sini, minumlah! Sayang, ini tak banyak walau sudah kusiapkan bertahun-tahun sejak kepergianmu,” katamu seperti seorang bocah yang tak merasa berdosa.
Kini aku tahu, itu gelas yang selama ini kau pakai menampung air asin, yang katamu memberi energi lebih. Dan air asin itu air matamu, yang setia kau cucurkan. Aku meminumnya sebelum kemudian kuceritakan kisahku.
***
“Oh tidak, bapakku…!
Aku tak pernah tahu. Seandainya aku tahu dari awal, mungkin selama ini setiap kali orang tertawa terbahak-bahak, terkekeh-kekeh, terkikik-kikik, terpingkal-pingkal sampai keluar deras air mata mereka, mungkin aku boleh memintakan pada mereka untuk ditadahkan untukku, biar kujadikan sarapan sebelum sekolah. Sehingga kau tidak banyak mengerahkan tenaga, tidak capek mengajak kepalamu, hatimu, jiwamu demi menguras air mata, dan tubuhmu pun tidak selayu yang kulihat sekarang.”

* Ana feto mese: anak perempuan satu-satunya
** TTS: Timor Tengah Selatan-NTT

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

One comment on “Cerpen “Sarapan Air Asin”

  1. Anaci Tnunay berkata:

    Thanks God. Baru kutahu bahwa akupun ada di di dalamnya. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s