Ibu Guru ketika Hari Ulang Tahun Mateos

Timor Express, Minggu 12 Februari 2012

Sabtu siang. Panas begitu terik. Di dalam rumah orang tak bisa bernapas. Seorang perempuan muda berkacamata minus muncul dari dalam. Di tangannya sebuah buku. Ia baru saja mau duduk membaca.

“Selamat siang, bu.” Seseorang baru saja mendorong pintu pagar depan.

Perempuan muda itu mengangkat kepala. Dilihatnya seorang lelaki tua. Badan setengah membungkuk.

“Oh, ya… s’lamat siang, pak. Mari, mari silakan masuk. Perlu siapa pak?”

“Saya perlu dengan ibu Noviani,”

“Oh ya, saya sendiri, pak. Ada apa?”

Lelaki itu melepas sandal jepitnya. Melangkah masuk.

“Eh, aah… saya orang tua dari Mateos, siswa SMP Mentari. Dia bilang, ibu wali kelasnya.”

Ia pun mengulurkan tangan. Seiring tangannya diulurkan, tubuhnya pun condong ke depan.

Gelagat itu membuat wajah perempuan muda pucat. Segera ia menarik badannya ke belakang. Namun entah. Lelaki itu terus mendekatkan dirinya pada perempuan muda.

Dalam benak perempuan muda, masih terngiang-ngiang perkataan Ina, kawannya yang orang asli daerah sini.

Kau tak bisa menolak. Itu budaya kami. Nanti kau dikira tak menghormati mereka. Mereka pasti tersinggung.

Sedang kini ia sendiri merasa risih. Tak mau ia ‘dizalimi’ seorang lelaki tua di umurnya yang masih belia, pikirnya.

Pula hal lain di benaknya, menari-nari wajah murung kekasihnya. Saat pertama kali ia menceritakan budaya daerah yang baru diinjaknya beberapa bulan ini pada kekasihnya, tak segera terdengar tanggapan. Lewat ponselnya, hanya terdengar desahan napas kekasihnya. Kekasihnya mungkin masih berpikir 1001 kali untuk menanggapi.

Walaupun kemudian ia bilang memaklumi, kekasihnya tetap melarang meresponi ciuman hidung dari lelaki lain.

“Ok. Tapi, kamu kan bisa mengelak. Berpura-puralah sedang mengerjakan sesuatu. Apa saja kek, yang penting ujung hidungmu tak boleh disentuh ujung hidung lelaki lain hingga tiba waktunya kita berdua,” warna suara kekasihnya terdengar memelas.

Kau tak bisa menolak. Itu budaya kami. Nanti kau dikira tak menghargai mereka. Mereka pasti tersinggung. Kembali terngiang suara kawannya.

Argh… sudah terjadi. Dua pucuk hidung itu telah bersentuhan. Antara seorang perempuan belia dan seorang lelaki usur.

Tanah tempatnya berpijak terasa seakan berputar. Kepalanya pusing. Ia mual. Ingin muntah. Jijik dengan dirinya sendiri. Ia merasa dirinya sudah kotor kini. Betapa bengis ia memandang dirinya sekarang. Ia benci terlempar ke daerah ini. Daerah aneh. Sudah jumlah mataharinya dua yang membuat gosong kulit, bocah-bocahnya susah diajar, budayanya ‘cabul’ lagi. Katanya beretika tinggi, kok boleh berlaku tak patut di tempat umum?

Segera dijatuhkan dirinya di kursi. Ia tak mendengar, apalagi memahami maksud kedatangan tamunya yang diungkapkan lewat kalimat-kalimat panjang.

Sesudah tamu itu pulang, cepat-cepat ia menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya dari air keran. Ingin dibersihkannya bekas ciuman hidung tadi. Mengusapnya dengan sabun muka. Busa-busa pun melayang memenuhi ruang kamar mandi.

Tak puas. Karena berpikir hidung sudah tercemar, maka seluruh anggota tubuhnya pun ikut tercemar. Seperti yang sering ia dengar di seminar-seminar atau khotbah, satu orang berdosa maka semua orang ikut berdosa. Akhirnya ia menadahkan seluruh badannya di bawah kucuran air keran. Dari kepala hingga air itu terus mengalir membasahi seluruh badannya. Rambut diusapkan shampo. Seluruh badan dituangkan sabun cair dan digosok-gosoknya dengan spons. Hingga yakin semua anggota tubuhnya telah disabuni, barulah ia berbilas di bawah kucuran air keran. Dipandanginya bak mandi di sisinya. Ingin sekali berendam air hangat. Mungkin dapat mematikan kuman-kuman yang tak mempan oleh sabun. Tapi kemudian dipikirnya, itu seakan-akan turut mencemari bak mandi, maka niatnya diurungkan.

Berpikir. Menimbang. Berpikir. Menimbang. Akhirnya, ia mengeringkan badan dan beranjak keluar kamar mandi.

Malamnya, perempuan itu tak bisa tidur. Ia sulit memejamkan mata. Masih terbayang olehnya pucuk hidung lelaki tua siang tadi. Ah, tak suka ia hidungnya yang kecil–biarpun pesek–ditempeli yang tinggi besar dan hitam legam. Belum lagi mungkin titik-titik keringat yang merembes keluar dari pori hidungnya. Ah, ia meraba-raba lagi hidungnya. Ingin memastikan kalau sebenarnya tak ada apa-apa di sana.

Pikirannya sesak oleh rasa bersalah. Amat sangat malah. Kamar tidurnya terasa sempit. Sesempit ruang kamar mandi. Tak leluasa ia menarik dan menghembuskan nafas. Hatinya galau. Ia merasa sumpek dalam kamar tidurnya sendiri. Kenikmatan damainya telah direnggut. Entah oleh apa.

Ingin diputarnya kembali waktu. Tak apalah hari ini saja. Dimulai dari hari pagi sebelum lelaki tua tadi menyalaminya.

Ok, begini adegannya kalau waktu berkenan diajak kerja sama. Ia hanya ingin menyalami dengan ucapan selamat siang. Cukup di situ. Mempersilakannya duduk. Kemudian ia sendiri segera masuk ke dalam.

Ah, seandainya bisa. Ia mendesah.

Apakah akan selalu terjadi begini? Oh Tuhan, tak tahan aku lagi di sini. Sejak dulu, pertama kali tiba, memang aku sudah tak suka tempat ini. Ditambah lagi kejadian siang tadi, komplit sudah. Aku mau pulang. Ingin segera tinggalkan tempat ini. Bawalah aku ke mana saja asal jangan di sini. Tangisnya dalam hati.

Ia berancang-ancang kiranya datang perintah dari Jakarta, ia dipanggil kembali ke sana. Toh, tak ada lagi hatinya di sini. Semua yang telah ia kerjakan selama di sini tampak sia-sia. Mateos, anak dari orang tua tadi yang menyalaminya, walaupun namanya begitu manis, sikapnya sangatlah amat sangar. Di antara semua mereka yang bengal di sekolah, dialah nomor satunya. Bukannya datang ke sekolah membawa buku, malah sering kedapatan membawa rokok dan kartu. Padahal sudah diberitahu, sudah dilarang, berulang-ulang, tak boleh, tetap saja. Tak hanya itu, ia sering sekali terlambat masuk sekolah. Pun selalu saja dalam seminggu pasti absen. Itupun di sekolah, pasti selalu ada laporan, Mateos mengusili temannya. Ketika ditanya, ia akan bilang, temannya yang memulai, sehingga ia punya alasan memukuli anak itu. Sudah berkali-kali ia berurusan di ruang konseling, masih saja.

Ah, sudah, tak mau ia mengungkit masalah-masalah di sekolah lagi. Anak-anak di kota ini rata-rata begitu perangainya. Ingin segera ia pindah ke tempat lain, jangan di sini. Di tempat lain, seperti yang dialami ketika masa-masa praktikumnya dulu, jarang bahkan tak pernah ia marah-marah seperti halnya di sini, yang akan membuat mukanya cepat tua. Stress jiwa batinnya.

***

Senin pagi. Udara cerah. Seorang guru, ibu guru berkacamata minus, berdiri di depan sebuah gerbang gedung sekolah. Senyum disungging seraya menyodorkan tangannya menyambut siswa-siswi yang mulai berdatangan.

Di gerbang itu sekarang, barulah dengan saksama diperhatikannya. Setiap orang tua yang mengantar pasti mencium hidung anaknya. Begitu juga opa-opa yang mengantar cucunya. Dalam hati ia mengutuki diri, kenapa sekarang baru diamatinya. Padahal sudah sejak tahun ajaran ini dibuka, setiap Senin dialah yang berdiri di situ menyambut siswa.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. Di atas motor butut itu, ada Mateos beserta bapaknya, lelaki tua yang telah membuat dua harinya ini seperti mati. Ibu guru muda itu mendadak saja berkeringat dingin. Kakinya gemetaran. Takut ia ‘dizalimi’ lagi di tempat begini. Tidak! Ia cepat-cepat mau beranjak masuk ke ruang kelasnya.

“Ibu guru, selamat pagi.”

Suara bapak itu menahannya.

Ibu guru itu berpaling. Dilihatnya wajah Mateos berbeda. Diam. Bukan Mateos kalau biarpun masih pagi baru tiba di gerbang sekolah sudah teriak-teriak, entah pada teman entah pada angin.

Bapak itu maju. Mengulurkan tangannya.

Ibu guru bergetar. Takut ia. Tapi tidak, bapak itu hanya menjabat tangannya.

“Bu, kenapa semalam tidak datang?” nadanya terdengar kecewa.

“Datang ke mana, pak?”

“Ke rumah. Kita ada syukuran kecil-kecilan. Kemarin ‘kan Mateos berulang tahun. Ia yang meminta saya datang mengundang ibu hari Sabtu kemarin.”

“Oh itu?” Mana ia bisa menyimak dalam keadaan shock hari Sabtu itu?

“Padahal Mateos sangat mengharapkan kehadiran ibu. Ia sudah menyiapkan sebuah puisi untuk ibu. Bahkan kue ulang tahunnya, ia menabung sendiri uang jajannya untuk membeli. Potongan pertama, katanya mau dikasih ke ibu. Tapi karena ibu tidak datang, kue itu tak jadi dipotong.”

Bu guru terdiam. Mulut mengatup.

“Bu, mungkin ia kurang menunjukan sikap baik di sekolah. Tapi bu, bagi kami, ia sudah cukup menunjukan perubahan,” lirih suara bapak itu.

Ibu guru menarik napas diam. Ah, biasa. Sudah sering ia disakiti anak-anak muridnya sendiri. Mereka mengatakan telah melakukan hal baik, padahal itu bohong belaka. Ia tak mau lagi dikibuli bocah-bocah tengil dekil.

“Oh ya, bu. Ini dari mamanya Mateos,” katanya seraya menyodorkan sebuah bungkusan. Berat dan hangat terasa.

“Buat ibu, juga guru-guru yang lain.” Lalu ia pamit pulang.

Pada seorang siswa, bungkusan itu diserahkan untuk dibawa ke Teachers Lounge. Ia sendiri mesti menyambut siswa yang sudah banyak bergerombol di depan gerbang, yang tadi sempat terhenti oleh percakapannya dengan bapak Mateos.

Di kelas, selama devotion Mateos tampak diam. Biasanya ia selalu berceloteh.

Selesai tatap muka sebentar dengan anak-anak walinya, bu guru bersiap keluar karena ia sendiri mau mengajar di kelas lain.

“Bu guru.”

Sebuah seruan datar menghentikan langkahnya keluar.

“Bu, saya ingin merayakan ulang tahun saya bersama teman-teman sekelas. Ini kue ulang tahun saya. Saya mau potongan pertama diambil ibu.”

Bu guru kaget. Merasa bersalah, tak lebih dahulu mengucapkan selamat ulang tahun. Memang, kejadian dua hari lalu seperti merusak rasionya. Tak bisa berpikir baik.

Seisi kelas senyap. Tiba-tiba suara seorang siswa perempuan memulai, “S’lamat ulang tahun….s’lamat ulang tahun….” lalu bernyanyilah beramai-ramai seisi kelas itu mengucapkan selamat ulang tahun buat Mateos.

Sedang ibu guru, ia bernyanyi tanpa suara.

***

“Bu, tadi saya menyita sesuatu dari kelas 8,” lapor guru Matematika saat ia melangkah masuk ke Teachers Lounge.

“Hmm… apa itu, pak?”

“Catatan Bahasa Indonesia Mateos. Soalnya tadi ketika saya menerangkan dia malah nulis-nulis terus, tak pernah memperhatikan ke depan.” Ah, guru itu. Dia tak mengetahui persoalan hari ini.

“Boleh saya lihat, pak?”

“Oh, silakan. Silakan.”

“Wah, asyik, ada bubur kacang ijo,” terdengar seruan senang seorang ibu guru yang lain.

Ibu guru itu berpaling, “Oh itu, dari mamanya Mateos. Kemarin Mateos berulang tahun,” lalu kembali beralih pada buku yang baru diterimanya.

Dibukanya lembar per lembar. Pada dua halaman terakhir, menonjol tulisan besar-besar bertinta biru.

Mulutku hanya ingin bersuara,

“Cintailah kami. Sebab kami mencintai kalian.

Tak tampak memang, tapi ketahuilah, kami sedang di tangga merangkak ke sana.

Jangan buang kami, ataupun pergi tinggalkan kami dalam amarah,” pada mereka di sekolah yang dikirimkan Ratu Angin ‘tuk mengademkan gerah kepalaku, meniupkan setitik percikan air untuk hatiku yang tandus, setandus bumiku di tengah kemarau.

Naikoten-Kupang, Februari 2012

Dengan Cinta, untuk:
Para Penenun @ Sekolah Lentera Harapan Kupang
Mari BANGKIT dan tetap SEMANGAT menenun!! J

Catatan tambahan untuk postingan baru ini:
=Kupersembahkan juga dengan cinta kepada seseorang, dari siapa ilham cerpen ini bermula, yang semalam, 12 Februari tak lagi kita temukan dia…:(
Salam sayang dari kami warga SMP Lentera Harapan Kupang untukmu, Ima….:)=

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

2 comments on “Ibu Guru ketika Hari Ulang Tahun Mateos

  1. Glorya Ly berkata:

    keren buuuu..
    mantap (y)

    Suka

  2. […] (2) Cerpen Anaci Tnunay, Timor Ekspress Minggu, 12 Februari 2012 […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s