Cerpen “Suara dari Kampung Selatan”

Timor Express, Minggu 15 Januari 2012

“Benar. Dari atas salah batu besar itu, kau bisa memandang Australia yang bergelimang cahaya lampu. Nanti malam, datanglah ke sana. Dan kau akan terkagum-kagum,” demikian pak RT menanggapi, saat kuutarakan maksudku berjalan-jalan menikmati alam pedesaan.

Baru kemarin kami menginjakkan kaki di kampung ini. Sebuah kampung di daerah paling selatan Indonesia. Kampung berbukit dengan banyak batu karang serta diharumi wangi cendana. Kedatangan kami dalam rangka melaksanakan tugas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Di sini kami mempraktikan ilmu yang telah dipelajari selama kuliah. Membagikannya kepada siswa-siswa sekolah dasar.

Malam itu, aku begitu ingin membuktikan omongan orang-orang kampung, bahwa di malam hari, dari salah satu puncak bukit, bisa kita melihat benua Australia. Akan melihat kelap kelip lampu seperti bintang-bintang berkedipan di langit. Kuputuskan, aku mau membuktikannya sendiri. Teman-teman tak kuberitahu. Tak mau aku ditemani siapapun. Aku memang begitu. Untuk menikmati keindahan alam, akan lebih baik sendiri tanpa ada orang lain di sekitar. Kenapa? Karena bila bersama seseorang, maka kau akan mengobrol dengannya, sehingga tidak sepenuhnya mengagumi keindahan dan keagungan ciptaan Tuhan tersebut.

Pukul 7 malam lewat, aku menyusuri jalan setapak yang diterangi benderangnya bulan purnama. Menuju sebuah bukit yang siang tadi ditunjukan seorang bocah padaku.

Aku berjalan sambil membayangkan bagaimana indahnya negeri itu dengan kelap kelip lampunya. Pun bagaimana keadaan sekelilingku. Pastilah sangat hening, dan mungkin hanya bunyi desiran angin, nyanyian jangkrik atau suara kepakan kelelawar beterbangan mencari makan. Oh, indahnya… juga agung. Aku pasti semakin mengagumi pencipta yang mengadakan alam semesta sedemikian indah dan teratur.

Di rumah paling selatan kampung, dadaku semakin berdebar. Ingin segera tiba di tempat tujuan, duduk diam memandang dari jauh negeri Kangguru itu. Menikmati alam pedesaaan yang tenang, hening dan damai. Tidak hiruk pikuk sebagaimana di kota.

Hingga, tempat yang kurindu sudah di depan mata. Kupilih posisi paling strategis. Posisi di mana aku bisa memandang dengan leluasa tanpa hambatan. Akupun menapaki sebuah batu karang dan duduk tepat di puncaknya. Kuarahkan mata pada segala yang di depanku. Sejauh mata memandang, kulihat bayang-bayang pepohonan menghampari permukaan tanah hingga ke tepi samudera Hindia. Benar saja, nun jauh di balik lautan biru gelap itu, kulihat titik-titik cahaya yang berkedip bagai bintang gemerlapan di langit malam. Dengan dilingkupi hawa dingin serta suara alam khas malam, lamat-lamat aku dibawa kembali kepada kedalaman diriku. Untuk merenungkan kebesaran Pencipta, dan kagum akan keagungan-Nya.

Belum lama aku mengheningkan diri, sayup-sayup kudengar suara orang bersenandung. Suara perempuan. Oh, aku tergeragap dari tempat dudukku. Terasa sangat dekat denganku. Tak lama, suara yang sama pula menyanyikan sebuah lagu. Kupasang telinga baik-baik, mengikuti lagu dan liriknya. Aku sadar, lagu itu, tak asing lagi di telingaku.

Lagu tersebut tak dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, pun tidak dalam bahasa daerah. Aku terpana. Di kampung udik sekecil ini, bisa-bisanya seorang menyanyikan lagu berbahasa Inggris dalam kesunyian malam? ‘How Great Thou Art’. Ah, begitu lancar ia menyanyikannya.

Dan sungguh, aku seperti sedang mendengar suara malaikat bernyanyi. Betapa merdu suaranya, sampai-sampai aku pikir aku sedang bermimpi.

Tuhan, seumur hidupku, aku sudah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, lebih-lebih dalam urusan menyanyi. Sudah beribu-ribu bahkan berjuta nyanyian aku dengar secara langsung maupun di kaset-kaset atau hasil download dari internet maupun yang disajikan lewat televisi namun tak ada satupun suara yang bisa disandingkan dengan yang kudengar malam ini. Atau mungkin untuk ukuran Indonesia, suaranya bahkan bisa menandingi suara Ruth Sahanaya yang kataya sampai tujuh oktaf itu.

Kuperhatikan sekelilingku, apa aku kini sedang berada di surga? Ah, tidak. Di sekitarku, keadaan serba remang lagi sunyi kecuali suara nyanyian itu. Mana mungkin surga ada secuil kegelapan begini? Ya, aku masih di sini, di planet Bumi. Tepatnya di sebuah kampung paling selatan Indonesia.

Didorong rasa penasaran yang amat sangat, ingin kutahu milik siapakah suara itu. Atau apa benar bahwa malaikat sedang datang menyatakan kebesaran yang Maha Kuasa? Kalau benar itu malaikat, bakal kukatakan padanya, “Bawalah aku terbang ke angkasa raya melintasi lembah dan samudera raya. Perlihatkanlah aku tempat-tempat terindah di dunia!”.

Rupanya suara itu ditiupkan angin dari bawah. Akupun turun, berjalan menelusuri sumber suara. Dan, astaga! Tepat di bawah karang yang kududuki, ada lubang yang menjorok masuk ke dalam. Ternyata itu sebuah gua semacam tempat berteduh bila kehujanan. Pintunya langsung menghadap ke lautan lepas. Di dalam sanapun, orang bisa memandang lepas bebas ke samudera Hindia yang membentang luas seolah ingin menjangkau langit itu. Aku seakan tak mau percaya. Ah, kenapa orang-orang kampung tadi tak memberitahukanku sebelumnya?

Kuberanikan diri menengok ke sana. Ada cahaya lampu minyak di dalam. Nyalanya remang. Juga sekelebat bayangan orang bergerak-gerak di situ. Dengan mengendap-endap, kuhampiri tempat itu. Biar tak ketahuan. Rasa takut yang mencoba menggeliat, kutepis. Seorang lelaki sejati bukan penakut. Dan, aku lelaki sejati.

Namun begitu, aku tak menunjukan diri. Tak mau aku mengganggunya. Kubiarkan ia menyelesaikan nyanyiannya. Kunikmati saja momen kairos ini. Biarkan ia nanti berhenti sendiri kalau sudah tiba saatnya untuk berhenti.

Hingga bermenit-menit, perempuan itu terus menggemakan suaranya. Suara indah. Memantul di antara dinding-dinding batu, menembus udara malam, menyeruak di antara pepohonan, dibawa angin hingga entah sampai ke mana.

Dapat kulihat, ranting-ranting pepohonan di sekitar bergoyang mengiringi nyanyiannya. Bulan di atas sana pun tersenyum bahagia mendengar suaranya.

Waktu selama itu, aku hanya berdiri di luar, menikmati suara merdu yang terus menggema di antara lorong gua. Belum selesai rasa heran dan takjubku, tiba-tiba kudengar suara lain yang mengiringi suara sang perempuan itu. Oh, anak kecil. Suara bocah itupun tak kalah merdunya. Bagai seorang ibu dengan anaknya, suara mereka terdengar menyayat hati. Ah, mungkin benar itu ibu dengan anaknya. Mereka yang saling menyayangi.

Ingin sekali aku masuk dan menemui mereka. Berkenalan dengan yang empunya suara. Namun bersamaan dengan itu, kulihat sekelabat bayangan bergerak dari arah perumahan. Seorang laki-laki berjalan cepat sambil menyulut rokoknya kemudian menghisapnya dalam-dalam. Sepertinya ia tak peduli dengan keadaan sekitar, sebab aku yang berdiri tak jauh darinya pun tak disadarinya. Ia berjalan lurus, seakan sudah tahu ke mana ia menuju. Ya, kulihat ia berjalan cepat menuju ke lorong gua. Ke tempat perempuan dan bocahnya yang masih asyik berkidung.

“Ayo, pulang. Cepat! Cepat pulang!” keluar suaranya yang tegas ketika tiba tepat di depan pintu gua.

Suara nyanyian dari dalam gua berhenti seketika. “Ah… sabar dulu. Kami belum selesai.” Terdengar elakan suara perempuan.

“Ayo, Jon. Kemari! Bapak gendong. Kita pulang ke rumah.” Lelaki itu sudah di dalam dan hanya terdengar suaranya dari tempatku mematung.

Tak lama, beriringanlah mereka dalam diam — kecuali sang bocah yang terus mengoceh tentang bintang di atas sana — menyusuri jalan setapak menuju perkampungan. Sang perempuan di depan, berjalan sambil melipat kedua tangannya di dada. Sedang sang bapak menggendong bocah di bahunya. Dialah yang sekali-sekali melayani ocehan bocahnya sementara perempuan tadi tak lagi bersuara, sedikitpun. Sunyi sesudahnya. Hanya ada suara alam khas malamlah yang kudengar.

Aku tak jadi melanjutkan rencanaku, memandang ke seberang lautan sambil merenung. Masih dengan benak penuh tanya, aku berjalan pulang. Tak bisa tidur jadinya malam itu. Mata sudah kupejamkan rapat-rapat, namun diri ini tak mau diajak tidur. Semalam suntuk, ragaku saja yang berbaring, sedang jiwaku berkelana ke mana-mana, menerobos lorong-lorong gelap, memasuki dunia antah berantah, hingga entah kemana lagi, hanya karena pertanyaan, siapa gerangan perempuan dan bocahnya, terus kenapa mesti bernyanyi di bukit, malam-malam pula?

Paginya, pagi-pagi sekali, pak RT datang. “Bagaimana pemandangan semalam? Sudah ke sana kan?” tanyanya dengan mata bersinar-sinar.

“Ya bagus pak, tapi bukan itu yang membuatku terkesan. Melainkan…”

“Melainkan apa?” ia menyela dengan cepat.

“Suara merdu seorang perempuan bersama anaknya.” Lantas kuceritakan padanya perihal aku mendengar nyanyian mereka, sebelum kemudian datang seorang lelaki membawa mereka pergi.

“Kamu membuntuti kemana mereka pergi?”

Aku menggeleng.

“Anak muda. Saya tak tahu siapa mereka. Saya sendiri baru mendengarnya pagi ini,” katanya lalu buru-buru pamit.

Di sekolah, aku mengobrol dengan ibu guru pembimbingku. Ketika aku ditanyakan bagaimana perasaanku di tempat baru, kuceritakan saja peristiwa semalam.

“Oh, itu si Lena. Ya, suaranya memang bagus. Amat sangat bagus malah. Sayang, ia depresi lalu gila,” katanya enteng, seolah aku tak terlalu membutuhkan tanggapannya. Lantas yang lainpun mendengar lalu mengerumuni. “Kenapa? Kenapa?” tanya mereka.

“Itu. Si Lena. Katanya semalam ia menyanyi lagi di lereng bukit, dilihat sama rekan kita ini,” sahut guru pembimbingku.

“Oh… Itu mah sudah biasa. Sering kok, ia menyanyi di situ. Sama putranya yang masih balita. Kasihan sih sebenarnya…” respons mereka bersamaan.

“Kenapa aku tak diberitahu sebelumnya sama orang-orang kampung? Aku bertanya-tanya sendiri jadinya?”

“Ya. Orang-orang sudah terbiasa mendengarnya. Lantaran dianggap biasa itulah, ketika saudara datang, mereka tak mengungkit-ungkitnya. Ya, memang tak ada yang istimewa, maka untuk apa diberitahu.”

Sepulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah tempat menumpang. Sudah kuputuskan, singgah sebentar ke rumah ibu Lena. Tentunya tujuanku ke sana bukan untuk memberi perubahan besar, misalnya menjadikannya artis rekaman atau artis youtube yang kini hangat dibicarakan. Tidak, kedatangaku, hanya untuk bertemu muka dengannya serta memberinya ucapan selamat walau kutahu ia gila. Tak apa. Paling tidak, bocah atau suaminya bangga beribu dan atau beristri perempuan bersuara emas.

Di depan rumah yang kutuju, kulihat banyak sekali bocah bermain di halaman. Ada yang bermain tari bambu sambil menyanyi do daka doo, siki doka, ada pula yang hanya duduk mengobrol di atas pohon maja. Seorang bocah perempuan, sejak kemunculanku, ia terus mengawasiku.

Kudekati salah seorang di antara mereka dan bertanya, apa ada ibu Lena di rumah? Dengan santai dan percaya diri, ia menjawab, “Bu Lena pergi bekerja di kota. Lama, mungkin sebulan lagi baru kembali.” Aku melongo. Mana yang benar di antara sekian informasi?

Kupandangi rumah bercat biru muda itu, berdiri kokoh namun kaku seperti pohon jati yang meranggas di musim kemarau.

Tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat saat itu di tempat begitu, aku hanya berdiri, memandangi keriangan bocah yang asyik bermain. Tiba-tiba, tanpa sepengetahuanku, di samping, telah berdiri gadis kecil yang sejak tadi mengawasiku.

“Hallo, pak guru?”

“Ya, hallo juga.” Aku kaget, kok bisa ia tahu aku guru?

“Bapak ini guru praktek di sekolah saya, kan? Saya siswa kelas 6. Katanya, bapak tidak mengajar di kelas kami.” Oh, pantas saja, batinku.

“Iya, benar,” sahutku. Lama ia memandangku yang kembali diam, kemudian, “Bapak ada perlu apa kemari?”

“Oh, saya ingin bertemu bu Lena. Apa benar dia ke kota?”

“Pak… Bapak guru…?” suaranya terbata-bata. Kupandangi ia dengan heran.

“Saya putrinya. Mama ada di rumah. Tapi dikunci dalam kamar.”

Apa?

“Iya. Tadi pagi-pagi sekali, pas aku mau berangkat sekolah, pak RT ke sini. Ia meminta pada bapak, agar mama tak dibolehkan keluar rumah ataupun berkeliaran malam-malam ke lereng bukit sana. Katanya mengganggu ketenteraman desa. Tambahan, sekarang sedang ada tamu mahasiswa PPL dari kota. Mesti dihargai, jangan diganggu karena mereka ingin menikmati alam pedesaan yang tenang, damai dan sentosa. Ya, untuk memastikan tetap aman, ketika mau keluar kerja, bapak mengunci mama dalam kamar.”

Tak sanggup aku mengeluarkan kata-kata untuk meresponi gadis kecil di hadapanku. Lidahku kelu, kerongkonganku tercekat.

Lama…

“Lalu mereka siapa? Mana adikmu yang semalam bersama mama? Terus, kenapa bocah itu bilang bu Lena ke kota?”

Lalu diarahkannya telunjuknya pada satu bocah yang sedang tertawa melihat temannya terjepit di antara batangan bambu.

“Mereka anak-anak tetangga. Tadi dibelikan permen sama pak RT untuk mengatakan demikian pada setiap tamu asing yang datang,” katanya tenang, setenang telaga bening.

Tiba-tiba terdengar suara tertahan dari dalam rumah. Spontan si gadis berlari masuk ke sana. Akupun menyusul. Di ruang tengah, ia membuka pintu salah satu kamar. “Ini kamar mama,” tunjuknya.

Nyaris aku tak mau percaya dengan apa yang terjadi. Pak RT membelakak kaget melihat aku muncul bersama putri bu Lena. Ia Geragapan. Lantas menatap kami bergantian. Telapak tangannya yang membekap mulut bu Lena perlahan-lahan mengendor. Sementara di tangan bu Lena, kulihat berlembar-lembar kertas penuh tulisan notasi angka dan balok, serta sebuah pensil yang nyaris tumpul tergeletak di atas meja.

“Mama menulis lagu-lagu yang dinyanyikannya. Katanya, supaya jangan sampai lupa,” ujar gadis kecil itu.

“Lihat ini. Dia melompat masuk jendela kamarku. Membekap mulutku yang ingin berbahagia,” kata bu Lena dengan pandangan matanya yang tajam, diarahkannya pada pak RT yang meringkuk bagai tikus betina kena jebak, tak bisa meliuk kiri meliuk kanan.

Dan tanpa mengacuhkan kami, bu Lena mengambil pensil, lembaran kertas, lalu menuliskan sesuatu. Lantas kemudian, ‘Kuberbahagia, yakin teguh….’ mengalun lembut dari mulutnya.

Amarasi-Kupang, 2010

How Great Thou Art: Lagu pemujaan terhadap Tuhan yang maha kuasa, lagu rakyat Swedia, ciptaan Carl Gustaf Boberg, tahun 1886
Tari bambu: permaianan tradisional anak NTT
Do daka do: nyanyian untuk mengiringi permainan tari bambu
Siki doka: permainan taplak –pemain melompat di atas petak-petak yang digambar di tanah
Kuberbahagia, (Blessed Assurance) ciptaan Fanny Crosby, tahun 1873

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s