Di Bawah Tulisan “Jurnal Refleksi”

(Cerpen ini pernah dimuat oleh sebuah harian lokal, namun dipotong pada bagian endingnya, jadi saya menganggap cerita ini tak pernah dimuat harian tersebut… 😦 …. 🙂 )
***
Tak kuinginkan kau jadi robot, anakku. Menjalani instruksi tanpa pertimbangan. Nak, aku hanya ingin kau terbentuk sebagai manusia. Bukan robot, apalagi binatang. Sebab kutahu, kau manusia. Kau pun Imago Dei. Dibekali akal. Punya pikir, punya rasa. Namun…
Mestikah kau bermuka dua? Saat melihatku saja kau berlaku manis? Apakah mesti demikian? Apa hanya ketika aku menatapmu baru kau membuka bukumu, memegang pena dan pensil, merapikan dasimu, membuat klimis baju seragammu, menarik kaos kakimu yang sudah kekenduran? Selebihnya ketika kau tak kulihat, lakumu seperti yang tak pernah kutahu dan tak kukenal.
Tengoklah kejadian hari ini. Paginya, matahari sedang bersinar cerah. Demikian pula hatiku. Aku berdiri di depan sekolah menyambut kalian. Itu momen paling menyukakan bagiku. Hari yang kutunggu-tunggu dalam seminggu. Ketahuilah, biasa pada malam sebelumnya, aku kadang tak sabar menunggu pagi. Ingin segera bersiap-siap berdiri di gerbang menanti kalian, yang datang dengan wajah cerah dan ceria tawanya.
Akan tetapi, seperti hari-hari sebelumnya, yang kudapati selalu tak sesuai harapan. Banyak di antara kalian berpura-pura. Berlaku manis hanya ketika mendekati gerbang.
Contohnya, kau. Rokok yang kau isap pagi-pagi, kau matikan, injak, dan buang di tempat sampah dekat gerbang sekolah. Baju yang tadi kau biarkan berkibar kini kau masukan. Dasi yang mulanya kau ikat ala selebritis remaja ABG di sinetron TV kini kau kencangkan. Kaos kaki yang awalnya kau gulung kini kau tarik naik.
Karena apa? Hanya demi mengikuti tata tertib sekolah. Hanya supaya poinmu tak dikurangi, malah kalau bisa dapat tambahan dari wali kelas.
“Hmm… menyedihkan,” gumamku, berharap kau mendengar.
Namun kau hanya tersenyum. Senyam-senyum tak merasa bersalah. Kemudian berlalu. Begitulah sedemikian yang kubaca setiap kali aku berdiri di gerbang. Maka kali ini aku tak lagi berkomentar. Kutatap jauh saja kalian dari belakang. Hingga bunyi lonceng membuyarkan lamunanku tentang kalian, untuk segera menutup pintu pagar.
Seusai jam wali kelas, masih dengan perasaan miris aku melangkah masuk kelas kalian. Di ruang kelasmu, bersama yang lain kau berdiri menyalamiku. Sepanjang jam pelajaran berlangsung, kutahu kau memperhatikan. Matamu selalu mengarah padaku saat aku berbicara. Kau pun terlihat serius membolak-balik buku ketika kuminta kalian mencari informasi dari indeks buku yang dibaca. Kau mau bergabung dengan temanmu saat kuminta kalian berdiskusi. Namun kamu diam selama itu. Tak sepatah kata pun kau keluarkan untuk meramaikan diskusi kalian. Kau pun jarang bertanya. Entah kau mengerti semua paparanku, itu aku tak tahu. Sebab begitu kutanya, satu kata kau ucap, “Mengerti ibu”.
Saat tiba waktunya presentasi, kau kupanggil tampil ke depan. Mewakili kelompokmu memaparkan hasil diskusi.
Kau muncul malu-malu. Tanganmu kau usap-usapkan ke tengkuk. Laksana bocah kampung dipanggil pamannya yang baru datang dari kota dan sudah sekian lama tak ketemu. Di depan kelas, menghadap teman-temanmu kau malah membisu.
“Bicaralah, Nadus! Kau tak bisa diam begitu saja!” aku menatapmu dengan tenang. Tak mau terlihat aku terkesan memaksa. Sebab kuingin kau mengerti pesan mataku, aku percaya padamu, kamu bisa melakukannya, nak. Kau bisa berbicara.
Hingga dengan terbata-bata, malah terpatah-patah, suaramu kau keluarkan.
“Teman-teman… Se..se…selamat pagi semua.”
Seisi kelas memandangmu. Menanti lanjutan suaramu. Sebab akhirnya kau bisa buka suara.
“Saya… saya… berterimakasih untuk kesempatan… eh, waktu dan kesempatan yang diberikan pada saya…”
Ayo, lanjutkan! Seruku tanpa mesti kau dengar.
“Saya mau melaporkan ka… ka…kotong punya hasil diskusi. Ta…tadi di indeks kawan dong bilang pelajar itu sonde boleh merok…”
Astaga!
Selanjutnya tak butuh komando untuk mereka beramai-ramai tertawa, ngakak. Hampir semua temanmu terbahak. Bahkan ada yang sampai berteriak, menghentak-hentakan kedua kakinya ke lantai. Tawa mereka, puas sekali nampaknya.
Melihat laku mereka, aku terdiam. Menatap bergantian ke arahmu, lalu ke arah mereka. Tak ingin segera kutegur mereka. Biarkan mereka menyelesaikan sisa-sisa tawanya.
Tak kusangka kau maju selangkah, dua langkah. Lantas melempar pandang ke seisi kelas. Di matamu kulihat murka. Di mata mereka kulihat pancaran ketakutan. Tak pernah kulihat mereka sedemikian takutnya. Memang, sering kudapati kalian dimarahi guru, dengan tampang yang angker sekalipun, tapi wajah mereka tak sebegini rupa. Baru kutahu ternyata mereka lebih takut kepadamu daripada kepada guru-guru.
“Sudah. Ada anggota kelompok Nadus yang bisa menggantikan?”
Lantas padamu, kuisyaratkan kembali ke tempat dudukmu.
***
Bel sekolah berdentang, tanda dua jam pelajaran usai. Aku akan keluar kelas. Kalian dikomandai ketua kelas untuk berdiri, siap memberi salam. Kutahu semua kalian telah berdiri sementara aku mengisi jurnal mengajar di meja guru. Tapi kau, saat kuangkat muka, bertepatan baru bangkit. Aku tersentak. Gayamu seakan kita sedang bermain petak umpet — kedapatan terlihat, kau mati, kalah. Bila itu lelucon, nak, pastilah lelucon yang paling tidak lucu.
Tak punya kata untuk berkomentar. Hanya dalam hati aku bergeleng. Prihatin.
Ah, nak, tak kubutuhkan formalitas itu. Toh, apa artinya bagiku? Kebiasaan memberi salam itu hanya untuk menunjukan pada kalian bagaimana berlaku menjadi orang. Akan tiba saatnya kalian terjun keluar, ke tengah-tengah masyarakat. Toh, tak seterusnya kalian menghuni pondok ini. Tak selamanya aku menjaga tempat ini.
Sudah. Kutinggalkan saja kamu serta seisi kelasmu. Tak usah kalian beri penghormatan palsu itu! Dan tentang sikapmu hari ini, akan kita selesaikan nanti. Waktu istirahat I sebentar. Sekarang, kau, ikutlah belajar mata pelajaran sesi III dan IV. Jangan aku mengambil jam belajarmu. Lagian, di sesi III dan IV aku pun punya jam mengajar di kelas VII.B, adik kelasmu.
Aku melangkah ke luar kelas. Baru lima langkah aku keluar, entah ingin saja aku menoleh ke arah kalian. Tepat saja kau sedang sibuk menurunkan kaos kakimu lalu menarik keluar simpul baju seragammu. Ketika kau mengangkat kepala itulah kau tahu aku sementara mencermatimu. Buru-buru kau menaikan kaos kakimu. Cepat-cepat pula kau kencangkan dasimu. Serta-merta memasukan baju lalu mengencangkan ikat pinggang.
Ah, nak, kutahu aturan ini bukan prinsipal.
Namun…
Mestikah kau bermuka dua? Saat melihatku saja kau berlaku manis? Apakah mesti demikian?
Apakah kau mengikutinya karena terpaksa?
Bila aturan-aturan di sini begitu menyengat, bilanglah, nak! Bukankah sudah kuminta kamu menyediakan satu buku khusus untuk jurnal refleksi siswa. Katakanlah melalui wadah itu! Mungkin aku dapat mengerti.
Nak, semua ini bukan untuk membuatmu terkekang, laksana kuda yang diikat mulutnya untuk dikendalikan ke mana suka oleh tuannya. Tidak, nak. Ini hanya tempat pelatihan untuk bagaimana kau bisa mengendalikan diri di dunia nyata nantinya.
Sebab, mesti kau tahu sendiri, nak. Di kota ini, otak orang-orang kita tak perlu diragukan lagi. Mereka sama pintar dan hebatnya dengan Albert Einsten, Isaac Newton, Thomas Alfa Edison, James Watt, atau tokoh-tokoh lainnya yang pernah diungkapkan teman-temanmu ketika kumintakan kalian menyebutkan nama tokoh dari kalangan ilmuwan dan penemu. Namun coba kau tengok laku mereka! Bahkan seorang pemimpin dewan terhormat pun bisa buta etika dan maki-maki layak preman jalanan kampung. Mereka bisa pintar berteori tentang Alkitab, bahkan di warta gereja uang persembahan mereka terpampang berjuta-juta rupiah. Tapi mereka adalah maling, yang mencuri uangmu hingga kau sendiri pun tak bisa punya buku paket. Dan itulah yang membuatmu kenapa kau sendiri anak Indonesia kelas Ujian Akhir SMP namun tak bisa berbahasa Indonesia, bahkan dalam menulis pun masih kurang huruf.
***
Sudah lima menit lebih kau hanya menunduk bungkam. Mematung tak berkedip. Selama itu pun aku diam. Kuputuskan tak berceramah. Sebab itu mungkin hanya akan membuatmu sakit telinga. Kali ini biarlah kau yang berbicara. Kuingin mendengar suara yang keluar darimu. Namun, tiba-tiba kulihat dua titik air bening berjatuhan. Menetes jatuh membasahi celana sekolahmu.
Aku tidak kaget. Sebab banyak sudah laku teman-temanmu yang begitu di ruang konseling ini. Kubiarkan kau menyelesaikan sisa tangismu.
Waktu terus bergulir sedang aku dan kamu tak beringsut, selain kau kutemani menangis.
Lalu tiba-tiba kau sodorkan padaku sebuah buku.
“Ini bu,” katamu.
Kuterima buku tipis itu. Kubuka lembaran di dalamnya. Di bawah tulisan yang kau beri tanda kutip, berjudul “Jurnal Refleksi” hanya terdapat bekas titik-titik air. Aku mengangkat kepala menatapmu. Entah sejak kapan pergumulanmu dimulai.
“Terima kasih… Ib… ibu sudah mene… menemani saya menangis.” Lantas kau tersenyum. Aku terhenyak.
Bunyi bel, tanda istirahat telah berakhir. Kau pun beranjak keluar ruangan.

Kupang, Maret 2012

For my beloved students :
Grade IX @ SMP Swasta Kristen 1 Kupang
Juga buat semua siswa kelas IX Sekolah Lentera Harapan se-Indonesia
Selamat menempuh ujian. Sukses bagimu.

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s