Bocah di Antara Hiruk Pikuk Pesta

*Timor Ekspres Minggu, 07 Oktober 2012

Seminggu sudah aku insomnia. Malam waktunya tidur malah tak bisa tidur. Entah sudah berapa pesta diadakan di sekitar kompleks perumahan sebulan ini. Suara tape dengan salonberundak-undak menembus lorong-lorong udara hingga kedengarannya seperti tak ada sekat-sekat menahan. Dentuman bas irama disco seakan mengocok-ocok dada. Galaunya terdengar sejengakal saja di telinga. Mau pekak rasanya. Belum lagi suara kenderaan lalu lalang di sekitar tempat pesta. Bunyi sepeda motornya meraung-raung seperti anjing kelaparan berebutan sisa tulang ikan. Sudah begitu hiruk pikuknya, masih pula mengudara teriakan orang-orang mabuk. Hufh.… Lengkaplah sudah penderitaanku.

Sudah kucoba berbagai cara biar bisa lelap. Namun tetap saja tak dapat. Menutup telinga dengan bantal, bahkan mengambil headphone untuk mendengar lagu-lagu kesukaanku pun tak mempan. Suara tape datang layaknya badai tsunami yang menyapu bersih lagu yang kudengarkan. Kegelisahan itu berlangsung sepanjang malam.

Akibatnya di sekolah, kerjaku terganggu. Walau mengantuk, sebagai petugas penerimaan Pendaftaran Siswa Baru (PSB), aku tetap harus kuat menahan diri tidak tertidur. Sangat tak etis guru kedapatan tertidur oleh calon siswa atau orang tuanya yang datang mendaftar. Bisa-bisa mereka kecewa lantas membatalkan niat mendaftar di sekolah yang awalnya didambakan.

***

Hari ini hari terakhir pendaftaran siswa baru di SMP tempatku mengajar. Dan saat ini, waktu sudah pukul 02 lewat. Setengah jam lagi jam operasional sekolah tutup.  Siapapun yang baru datang sekarang, harus dengan berat hati kami tolak. Kuota telah penuh. Bahkan empat pendaftar terakhir ditempatkan sebagai cadangan. Kami istilahkan sebagai waiting list.

Usai berbenah-benah, aku siap beranjak dari meja kerja yang selama seminggu lebih ini kupakai melayani para pendaftar. Ingin segera aku keluar dari siksaan ruangan ini. Pergi ke laboratorium  komputer. Mesti membuat laporan pendaftaran untuk kuserahkan kepada kepala sekolah hari ini juga. Sekaligus  bisa mendinginkan kepala dan hati pikiranku, sebab di sana satu-satunya ruang yang ada fasilitas Air Conditioner. Di sini tak tahan lagi aku akan hawanya. Panas menggerahkan. Bukannya tak ada kipas angin. Tetapi, jika dihidupkan, maka bersiap-siaplah kau berkejaran dengan lembaran-lembaran kertas yang ada di meja pendaftaran.

Tanpa masih perlu melihat-lihat adakah orang yang baru datang, segera aku melangkah keluar ruangan.  Sinar matahari dengan sigap langsung menyongsongku. Gigitannya langsung membuat kulit memerah. Memaksaku lebih baik berlari daripada berjalan ala pengantin. Di tempat yang dijuluki kota karang ini, terkena panas matahari rasanya seperti tubuh kita disangrai, dengan udara sebagai wajannya.

Sial, baru saja memegang kenop pintu laboratorium, kudengar seseorang memanggil.

“Ibu Dora, ada pendaftar baru.” Itu suara seorang rekan guru.

Hah…? Waktu sudah mepet begini, masih ada saja yang baru mau mendaftar. Bukankah sudah hampir dua minggu pendaftaran dibuka? Ke mana saja orang-orang ini. Malah, harusnya hari kemarin sudah ditutup pendaftarannya, mengingat segala sesuatu yang berkaitan dengan tes masuk dan laporannya sudah harus diselesaikan hari ini. Tapi karena beberapa pertimbangan, serta melalui rapat guru yang cukup sengit, kami menerima saja beberapa pendaftar terakhir dengan catatan dimasukan dalam daftar waiting list. Mungkin dalam perkembangannya, apabila siswa yang sudah diterima yang tidak kembali ke sekolah, maka peserta dalam waiting list tersebut diterima. Tentunya mereka pun harus melalui proses penerimaan masuk, tes akademik dan psikotes, serta sesi wawancara. Ini bukan tes seleksi masuk. Tetapi, tes ini diadakan  demi mengenal siswa lebih dahulu, baik kemampuan akademik dan psikologinya maupun latar belakang siswa. Gunanya, ke depan nanti, guru lebih dekat dengan siswa-siswinya, serta mampu mendidik mereka dengan benar dan tepat.

“Mana mereka?” tanyaku.

“Masih di depan,”  sahut rekan guru tersebut seraya mengarahkan wajahnya pada bangku tunggu di depan.

Ok, persilahkan mereka masuk.”

Tak lama setibanya aku di ruang pendaftaran,  melangkah masuklah seorang pria setengah baya. Kutaksir umurnya 30. Di belakangnya, mengekor seorang bocah laki-laki dengan map hijau kumal di tangan kirinya.

Secepat kilat perhatianku tertuju kepada sang bocah. Wajahnya kusam. Rambut keritingnya kering berdebu senampak dengan kulitnya yang gelap. Ingus mengering di bawah dua lubang hidung. Pakaiannya sudah ok, hanya saja tak beralas kaki. Kupikir ia menanggalkannya di luar, maka, “Tidak apa-apa nak, sandalnya dibawa masuk saja.”

“Oh, dia tidak membawa sandal, ibu guru,” sambar pria yang mungkin adalah bapak sang bocah.

“Oh ya, maaf. Ah… Siapa nama kamu, nak?”

“Gobar, bu.” lagi-lagi bapak itulah yang menyahut.

“Gobar? Ok. Apa bapak ini ayahnya Gobar?”

“Ya, saya bapaknya,” jawabnya penuh percaya diri.

“Maaf, kalau boleh tahu, kenapa hari ini baru mendaftarkan Gobar? Pendaftaran sudah kita tutup sebenarnya, pak.”

“Iya, ini bu. Ah… Wah… Saya sibuk, bu,” begitu tanggapannya.

Bapak ini dengan santai duduk di kursi tepat depanku. Sementara anak yang didaftarakan malah bergeming di sampingnya. Map hijau dipeluknya erat-erat seakan takut diterbangkan angin kencang dari luar.

“Apa? Ahm…Maaf, sibuk apa, bapak?” Kupandangai lekat-lekat muka bapak ini. Ingin menyelidiki sesibuk apakah bapak berambut kusut yang lebih nampak sebagai pengangguran ini.

“Hmm bu, urusan pesta,” tuturnya sambil nyengir-nyengir kuda.

Aku terperanjat mendengarnya.

“Maklum, bu guru. Dalam bulan ini banyak sekali pesta, bu,” lanjutnya. “Sekarang saja, sebenarnya belum semuanya selesai,” terangnya dengan raut muka bangga serta gigi yang tak mau ditutup, terus menyunggingkan senyum kudanya.

Risih aku mendengar paparannya. Rasanya ingin kubungkam mulutnya segera, mengatupkan kembali giginya dan mengunci mulutnya.

Bapak apaan ini tak mengerti juga kalau anaknya mau sekolah. Di mana ditaruh otaknya? Wong, anak mau sekolah, kok malah sibuk mengurus pesta ,” gumamku jengkel bercampur prihatin.

Tahu aku tak menanggapi, ia pun meneruskan…

“Ya, tahu kan ibu, kalau kita tidak datang, jadi tersinggung mereka. Dikiranya kita marah walau sebenarnya tidak.”

“Iya, pak. Tapi Gobar kan mau sekolah. Masak dilupakan? Malah mengurusi pesta?”

“Nah itu dia bu, saya lupa. Waduh…Bodoh saya memang …” katanya sembari memukul dahi berkali-kali.

“Ya sudah, pak. Saat ini saya belum bisa memastikan apa Gobar bisa diterima atau tidak di sekolah ini. Untuk sementara saya hanya mencatat nomor handphone bapak dulu. Mungkin kalau ia diterima, pihak sekolah akan menghubungi nomor tersebut. Kalau sudah demikian, maka Gobar harus siap ikut tes masuk,” kataku tegas, dengan nada bicara seorang guru.

“Baik bu, tapi ada peluang diterima kan, bu?” tanyanya lagi seakan belum puas dengan penjelasanku.

“Belum tahu pasti. Ya, kita berharap ia bisa diterima.”

Sudah kucoba menghaluskan nada bicara walau dalam hati sebenarnya sangat dongkol. Tak hanya itu, hatiku pun teriris melihat bocah malang ini, korban kesenangan orang tuanya yang hanya suka berpesta.

Kulirik bocah itu lagi. Ia layaknya seorang pesakitan tak beruang di ruang pengadilan, hanya bisa menunuggu putusan hakim. Di depanku, sorot matanya sayu menatap penuh harap. Sejak tadi ia hanya diam. Tak sepatah kata pun kudengar dari mulutnya selain saat ia menyebutkan namanya.

“Baiklah bu, ini nomor handphone saya.” Lantas dibacakan nomornya. Tiba-tiba handphone yang di tangannya berdering.

“Oh…permisi, saya menerima telepon sebentar ya, bu,” katanya tergesa-gesa seraya bangkit berdiri lantas beranjak keluar ruangan.

Baru mau aku mengajak Gobar duduk, datanglah ayahnya.

“Apa sudah selesai urusannya, bu? Kalau sudah selesai, apa kami boleh minta diri? Lihat saja, bu, sekarang saja saya sudah dipangggil lagi untuk mengurus pesta. Mau mengangkut sound system dari tempat mempelai wanita untuk dibawa ke rumah mempelai prianya,” betapa terburu-buru ucapannya seakan dikejar waktu.

Alah…sok sibuk. Menyibuki hal-hal tak penting. Begitulah kira-kira yang kupikirkan detik itu. Hampir saja aku umpatkan di hadapannya.

Terus terang, aku tak sanggup mengeluarkan suara menyahuti pamitannya. Dan mereka pun pulang tanpa kuiyakan.

***

Laporan PSB pun selesai akhirnya. Sudah kuserahkan malah hasilnya pada kepala sekolah. Pulang tanpa beban tugas di kepala.

Di rumah, baru saja menghempaskan diri di kursi ruang tengah, keluarlah Ita, adikku dari kamarnya.

“Kak, barusan pak Romli datang. Katanya kita mesti ikut ke pesta nikah keponakannya.”

“Hah.. Kapan? Mana undangannya?” sambarku.

Lho..? Katanya sudah dikasih ke kakak beberapa hari lalu,” seru Ita keheranan.

“Oh iya!”

Saking banyaknya undangan yang datang, aku jadi lupa mana yang dari sanak tetangga sebelah rumah itu. Kartu-kartu undangan yang disampaikan terabaikan saja di laci ruang tengah. Tak sempat kami hadiri. Padahal di muka undangan tertulis, ‘Kepada Bapak Erman Sekeluarga’. Wong, siapa yang mau hadir? Ayah ibu di luar kota. Di rumah hanya aku dan Ita. Dua minggu penuh ini kerjaku di sekolah baru berakhir menjelang maghrib, tiba di rumah sudah tak sanggup lagi keluar apalagi harus mempersiapkan agenda dan keperluan kegiatan besok. Sedang Ita yang masih SMP tak mungkin keluar sendirian malam-malam ke tempat pesta. Tapi, ok-lah, karena besok hari Sabtu, sekolah libur, maka perlu kusempatkan menghargai walau hanya satu undangan.

***

Di tempat resepsi pesta nikah, acara baru dimulai pukul 08. malam lewat. Hingga di sesi yang disebut sebagai acara bebas, aku yakin aku melihat sosok seseorang. Dan keterkejutanku tak terukur, mengetahui betapa aktifnya pria yang kulihat siang tadi di sekolah. Mengenakan pakaian yang lebih bagus daripada sewaktu ke sekolah, ia bergonta-ganti pasangan dansa setiap lagu diganti operator musik. Ia pun tak mau duduk diam bila tape mulai mendentumkan irama disko.

Sekejap pula, kuedarkan pandangan, mencari-cari di mana gerangan bocah malang, si Gobar? Apa ia pun ada di tempat ini? Dan astaga..! Apa itu dia? Sabar! Aku melirik jam tanganku, sekarang pukul 11 malam. Coba….

Tak jauh dari tempatku duduk, di pojok tenda pesta, dekat bagian menuju tempat orang mengambil makan, duduk terkantuk-kantuk seorang bocah laki-laki. Kedua kakinya ditekukan di perut kursi plastik. Ia bergelung sarung, namun tidak menutupi kepalanya. Karena itulah aku bisa mengenal rupanya. Pelan-pelan tanpa menimbulkan kecurigaan aku mendekat.

“Halo, Gobar?” dengan perlahan kusapa dia.

Ia tersentak kaget mendengar suaraku. Namun tetap saja tak beringsut dari duduknya. Hanya bola matanya dengan berat-berat berusaha menyelisikku. Jelas ia sangat mengantuk.

“Gobar sudah mengantuk? Kenapa tak pulang saja? Sudah usai kan pestanya?”

“Masih tunggu bapak sama ibu,” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya.

“Di rumah apa tak ada orang?”

“Iya, cuma kami bertiga. Dan semuanya di sini!”

“Biasanya kamu menunggu sampai kapan?”

“Sampai pagi,” jawaban pendek itu membuatku geram.

Entah, setan jenis apa yang tiba-tiba merasukiku. Tanpa banyak pikir, aku segera masuk ke tengah arena. Berniat meminta bapak itu untuk segera membawa pulang putranya, dia calon siswaku.

“Eh, ibu guru juga hadir di sini rupanya,” seru orang yang mau kutuju. “Mari, mari bu. Mari kita berdansa bu,” ia lantas melepaskan pasangannya dan berjalan menuju arahku.

“Tidak. Saya hanya mau memberitahu Gobar sudah mengantuk. Segera ajaklah dia pulang. Saya harap ia bersiap diri untuk ikut tes nanti hari Senin,” tegasku.

“Oh…itu tenang saja, bu. Mari…mari… mari berdansa, ibu guru,” tanpa izin lagi ia menarik tanganku. Tiba-tiba…

“Heh..eh… Siapa kamu, nona? Kok bisa saja kamu memberhentikan orang dari pasangan dansanya? Hah?”

Pipiku panas mendadak. Tiba-tiba saja rambutku dijambak keras. Lantas didorongnya aku keluar, ke arah deretan bangku-bangku tamu. Sempat sebagian jiwaku hilang beberapa detik. Saat pulih kesadaranku,  baru aku tahu, perempuan yang menjambakku—yang kini ditahan beberapa orang—tengah berdiri di samping pasangan dansa bapak Gobar.

Kupang, Juli 2011

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s