Ceramah Fakta Ketidakadilan

Jurnal Sastra Santarang dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora NTT,  Edisi 5 September 2012

Aku melihatnya lagi kini. Bapak dari keluarga pencipta cerita baru. Setelah sekian lama sibuk dengan urusan politiknya di dunia antah berantah, dia muncul kembali. Sekarang ia di depanku. Entah dari mana datangnya, malah hari ini ia akan memberi ceramah di kampusku yang dalam sepekan ini menyelenggarakan acara penyambutan mahasiswa baru. Di antara beberapa seminar, beliau akan tampil sebagai salah seorang pembicara di fakultas kami, fakultas pendidikan. Dalam rangkaian kegiatan itu, dipentaskan pula berbagai acara kesenian. Ada teater, tari-tarian, puisi, juga nyanyian. Bagiku yang paling mengesankan adalah ketika seorang mahasiswimembawakansebuah lagu seriosa.

Aku terhenyak di tempat dudukku mendengar suaranya. Suara indah yang dikaruniakan Tuhan. Membuat bulu romaku serentak berdiri seperti barisan tentara siap maju berperang.

Selesai nyanyian, bapak yang kumaksud maju ke podium untuk memberi ceramah. Ceramah tentang fakta-fakta ketidakadilan di negeri ini. Lantas dikaitkannya dengan wajah muram pendidikan negeri ini. Ucapan pembuka dengan suara yang berwibawa disambut riuh tepuk tangan para hadirin.

Tanpa sadar, aku terisak sendiri di kursiku di bagian center ruangan. Seperti sebuah kebetulan yang disodorkan untukku yang baru saja menyandang gelar baru, mahasiswa.  Melihat bapak itu kemudian mendengar langsung suara seorang gadis beryanyi. Ini mengingatkanku tentang mama. Mama yang jauh di seberang lautan, di luar pulau, yang kini tinggal bersama saudara laki-lakinya, pamanku.

Seperti suara perempuan muda yang menyanyi itu, mama juga seorang yang memang punya bakat dalam dunia tarik suara. Bila ia menyanyi, suaranya yang merdu nan indah mengagumkan itu akan membuat  angin yang sedang bertiup pun berhenti. Awan putih yang bergerak seiring arah angin, karena angin berhenti berhembus, awan-awan pun berhenti berarak. Burung-burung yang sedang berkicau di pucuk pepohonan pun mendadak berhenti melagu. Mereka bertengger di dahan yang rendah supaya bisa mendengar dengan saksama. Dunia sekeliling tiba-tiba menjadi kaku beku. Dunia seakan mati berdiri.

Bila mama menyanyi di dalam rumah mungil kami, orang-orang yang lalu lalang di jalanan depan rumah, meski sedang terburu-buru, akan dengan tiba-tiba menghentikan langkah, memalingkan muka ke arah rumah kami yang kecil. Mereka akan memasang baik-baik telinga, aura mereka memperlihatkan rasa ingin tahu yang tinggi sangat,  suara siapakah itu? Ketika mereka tahu itu suara mama, mereka terpana. Mulut mereka menganga lebar. Lalat yang terbang masuk pun, mereka tak mungkin menyadarinya. Mereka semua mengagumi suara merdu mama. Amat sangat mengaguminya. Semuanya, manusia, juga seisi alam.

Setiap hari Minggu, mama menyanyi di gereja. Ia aktif sebagai anggota vocal group dan paduan suara. Saat ada acara lomba PESPERAWI*, ia selalu jadi bintangnya. Dengan grupnya, mereka bahkan sampai menyeberang lautan untuk menyanyi di luar pulau, bahkan hingga ke negeri Kincir Angin, Belanda. Sering kata orang, berkat  adanya mama mereka selalu keluar sebagai juara pertama. Selama ada mama, tak pernah mereka juara dua atau selebihnya.

Suara merdu mama memang dikenal di mana-mana. Mama juga sering dipanggil mengisi acara kondangan. Entah itu acara pernikahan, atau acara syukuran ulang tahun, atau syukuran wisuda bahkan juga acara duka. Tampil di acara-acara seperti itu, tak jarang ia diberi upah. Cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga yang cuma dua orang, aku dan mama.

Momen-momen indah itu, usiaku lima tahunan. Saat-saat aku baru mencoba untuk tahu bahwa aku ada di dunia dan tinggal bersama mama. Waktu itu, hidup kami baik-baik saja. Sangat baik malah. Amat bahagia.

Saat-saat itu juga, sering beberapa orang laki-laki tua datang ke rumah. Dengan mama, biasanya mereka mengobrol lama di ruang tamu. Walau begitu, mama tak pernah mau menerima tamu kalau sudah mendekati larut malam. Kata mama, orang-orang itu menginginkan mama sebagai istrinya, dan aku sebagai anak. Namun mama tak pernah mau menerima tawaran seorang pun. Ia berkata pada mereka, ia sudah punya aku. Ia mau merawatku sebaik mungkin. Katanya ia sangat mencintaiku yang hadir di dunia selang beberapa hari sesudah bapak meninggal ketika sedang melaut — demikianlah nama ‘Leni’ yang semula mereka siapkan untukku diganti menjadi ‘Elise’ sebagai ganti nama bapak ‘Elisa’. Mama juga menegaskan, ia hanya milik bapak dan bapak adalah miliknya.

“Mamamu ini, Elise. Hatinya, jiwanya, tubuhnya, hanya milik seorang, bapakmu. Hanya satu, dan tak akan pernah ada lagi yang lain.”

Aku sebenarnya tak cukup dewasa untuk mencerna kata-katanya, namun kusimpan saja di kepala.

Mamaku, lantaran suaranya yang indah itu, para tetangga selalu berlaku baik padaku. Aku begitu diperhatikan, dihargai dan disayangi oleh setiap orang, dari yang muda hingga yang tua. Ketika aku baru saja muncul di tempat berkumpulnya bocah-bocah seumuranku untuk bermain, namaku selalu dipanggil segera bergabung. Aku langsung disapa ramah oleh ibu mereka yang berkumpul di bawah pohon. Mereka kemudian menanyakan kabar mama. “Sedang bikin apa mama di rumah? Kalau pulang, titip salam buat mama, ya?” Begitu kata-kata yang sudah aku hafal di luar kepala.

Biasanya di rumah, malam-malam menjelang tidur, aku dan mama selalu bernyanyi bersama. Suara kami memecah keheningan malam. Kami menyanyi bermacam-macam lagu, dari lagu anak, lagu sekolah minggu, lagu-lagu dari kaset, lagu daerah, juga lagu-lagu yang dinyanyikan orang-orang cantik di tivi yang kami tonton di rumah tetangga, seorang guru SD.

Suara mama yang merdu itu kadang membuatku berhenti bernyanyi lantas mengambil sikap diam. Aku hanya akan menatap mata mama sambil memasang telinga dengan saksama untuk mendengar suara indahnya. Dan mama sadar akan hal itu. Dia terus bernyanyi sambil matanya menatapku lembut, selembuat suaranya.

Semua itu begitu indah… betapa bahagianya diriku masa-masa itu. Tapi sayang… keindahan dan kebahagian itu tak pernah abadi. Kegelapan, kebejatan, keserakahan, keangkuhan datang… dan merebutnya dariku. Satu peristiwa terjadi. Mama tak lagi menyanyi sejak itu. Peristiwa yang akan selalu menjadi cerita hidupku.

Begini kisahnya:

Suatu malam. Sudah agak larut. Aku yang sudah lama pulas, tiba-tiba mendengar keributan kecil di sekitarku lantas terbangun. Mama yang biasanya ketika aku terjaga selalu ia di sampingku, kini tak ada.

Betapa kagetnya aku ketika merangkak menuju tepi ranjang dan melongok ke bawah. Di sana, di lantai semen dekat pinggiran ranjang, kulihat mama sedang bergumul dengan seorang laki-laki. Sepertinya mereka memperebutkan sesuatu. Akan tetapi, jelas tenaga mama jauh lebih kecil dari lelaki itu. Mama digulingkannya di lantai dan ditindihnya. Dan yang kusesali – hingga kini – kenapa mama tak berteriak saja atau sedapat mungkin ia bersuara keras sehingga bisa membangunkan tetangga. Ia malah hanya bertahan dan berusaha melepaskan diri dalam diam. Hanya erangan kecil yang dikeluarkan dari mulutnya.

Dalam setengah sadarku, sempat terbersit di kepalaku dari mana lelaki itu bisa masuk ke kamar kami? Kutengok ke arah jendela, dan ternyata dugaanku mendekati benar karena daun jendela itu setengah terbuka.

Aku tak tahu apa yang mau dilakukan orang itu. Entah mau merampas harta berharga apa yang dari kami, entah mau memerkosa. Tak berselang lama pergumulan itu, tiba-tiba  orang itu terkapar diam di lantai.

Dan kucatat kenyataan ini, bahwa sementara lelaki itu mengerang-erang kesakitan dan memegang bagian bawah perutnya, di tangan kanan mama, ada dipegangnya gunting pakaian yang telah ternoda oleh merah darah. Aku segera tahu, mamaku telah menikam lelaki itu dengan gunting pakaian. Darah segar keluar dari tengah badan lelaki itu. Menggenang di lantai semen, juga bercipratan di kaki ranjang.

Tak lama dalam erangannya, napasnya habis. Laki-laki itu tak berkutit lagi. Ia diam seketika seperti ayam potong yang digorok lehernya, yang kehabisan darah lalu mati. Kejadian naas itu tepat di kamar tidur kami. Aku benar-benar menyaksikannya. Melihat darah terus mengalir, aku menjerit ketakutan. Histeris. Keras-sekeras-kerasnya. Mama pun menangis. Aku tak mengerti apa arti tangisnya. Hanya ia sendiri yang tahu.

Apakah kau tahu? Orang laki-laki itu yang terbunuh itu, rupanya ia adalah putra sulung seorang yang kaya raya di daerah kami. Bertepatan saat itu, bapak yang kaya raya itu mengampanyekan diri sebagai calon dewan terhormat negeri. Namanya sudah mulai dikenal orang-orang seantero negeri, apalagi propinsi. Apalagi disebut-sebut sebagai yang termuda di antara calon lainnya.

Tak mau namanya tercoreng di mata masyarakat, entah dengan berapa goni uang yang harus dia keluarkan, mama diadili dengan alasan melakukan tindak pidana. Mama dituduh membunuh orang tak bersalah, serta telah melakukan pencemaran nama baik.

Sedang kami, mana punya lembaran kertas bernilai untuk menyaingi. Mama hanya bisa bersuara dengan mulut bahwa bukan dia yang bersalah, bahwa putra bapak bos itulah yangtelah memasuki rumahnya dengan tidak hormat.

Aku yang masih TK itu hanya diam menunggu di rumah. Menunggu mama yang sedang mengikuti proses yang disebut orang-orang sebagai proses peradilan. Keputusan terakhir yang kudengar bahwa mama akan masuk  dan tidur di bui hingga 10 tahun. Kata orang, dua pelanggaran yakni pembunuhan dan pencemaran nama baik itulah yang menyeretnya meringkuk di penjara untuk waktu selama itu.

Semenjak mama pergi untuk tidur bersama kutu busuk yang menggigit belakang, bersama juga dengan nyamuk-nyamuk yang berlagu nyaring di daerah sekitar telinganya, aku menumpang di rumah paman, satu-satunya saudara mama yang masih ada setelah wabah demam berdarah menyerang tempat tinggal mereka sewaktu masih kanak-kanak dan merenggut nyawa saudara-saudara mama yang lain.

Setiap hari aku bertanya tentang mama pada tante, istri paman, “Kapan mama pulang? Kapan ia kembali?”

Tante hanya berkata, “Nanti. Beberapa hari lagi. Kamu sabar saja…” demikianlah begitu terus jawabannya.

Sabar, katanya. Sabar, sabar…  entah sampai kapan?

Hari-hariku di sekolah terasa bagai neraka. Sering ketika melewati segorombolan  murid, mereka akan berbisik-bisik, “Sttt.. sttt… itu anak si Blandina, yang sekarang ada di bui karena membunuh.”

Kemudian mereka meledekku dengan sebutan, “Hai.. hai… Elise, anak si orang napi. Elise, anak si orang bui.”

Setahun, dua tahun berjalan, dan tidak hilang-hilang juga semua ocehan dan ledekan bocah-bocah itu. Suatu hari sepulang sekolah, tiba-tiba kudapati mama sudah di rumah. Padahal aku tahu, 10 tahun belum sampai. Aku merasa senang mulanya. Akan tetapi kok mama sendiri tak mau bicara lagi denganku.

Ia menghabiskan hari-harinya hanya dengan duduk di pojok ruang tengah. Aku tak disapanya lagi. Aku tidak diperlakukan seperti dulu lagi. Mama juga tak lagi menyanyi untukku.

Ketika aku memanggil, “Mama…mama…” Ia malah bicara hal lain, yang tak kumengerti. Begitu berbeda, oh… begitu berbeda. Ia tak mau mandi dan berganti pakaian. Rambutnya kusut dan acak-acakan. Aku sendiri malah dibiarkannya dekil. Tantelah yang lantas mengurusku untuk ke sekolah.

Kini di sekolah, aku tidak lagi dipanggal Elise anak si orang bui. Mereka ternyata mengetahui segala sesuatu lebih dahulu dariku.  Aku kini, dipanggil Elise, anak si orang gila.

Ketika mendengar itu untuk pertama kali, aku tersentak. Tak sadar aku berdiri kaku di tempat. Lantas bergerak membalik badan, memacu kaki menuju rumah. Dalam perjalananku aku tersedu-sedu,  ternyata mamaku kini gila? Benarkah?

Setibanya di rumah, aku bersimpuh di kaki mama yang duduk di kursi dan menatap kosong pada dinding. Aku menangis di bawah kakinya. Oh, jadi mamaku gila sekarang? Mungkin inilah kenapa mama membiarkanku begini? Mungkin inilah kenapa mama tidak menjawab ketika kupanggil ‘mama’… ‘mama’?

Sejak saat itu, hanya raganya yang kulihat setiap bangun pagi dan sepulang sekolah. Kutahu mamaku masih bisa bernapas dan ia ada di rumah. Hingga ketika dengan berat hati aku harus meninggalkan mama untuk masuk universitas, ia belum juga pulih untuk menyadari talentanya dan menggunakannya seperti dulu lagi. Ia tenggelam bersama talentanya, jauh ke alam bawah sana. Masa hukuman penjara telah lewat, tetapi mama masih tetap terpenjara, entah sampai kapan.

“Kalianlah transformer itu!” aku terkoneksi seketika ke masa sekarang mendengar seruan lantang bapak tua itu. Bapak yang putranya datang malam-malam ke rumahku lantas menciptakan cerita untukku dan mamaku. Namun saat ini di sini, kata-katanya disambut riuh oleh sorakan setuju para hadirin, bahkan ada yang bersuit. Bapak tua berbadan besar itu makin sumringah saja diagungkan begitu  oleh hadirin. Lagi, nampak olehku, seorang wanita cantik yang juga berbadan besar dengan kalung emasnya yang menjuntai sampai ke perut berdiri dari kursi paling depan. Ia melemparkan senyum terbaiknya ke arah kami ketika oleh bapak itu, diperkenalkan sebagai istrinya tersayang.

*Pesperawi : Pesta Perayaan Gerejawi

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s