Cerpen

Pawai Menabur Tangis

* Dalam Jurnal Sastra Santarang-Komunitas Sastra Dusun Flobamora ed. November 2012

Siang itu panas terik membakar badan. Jalan-jalan raya berwarna putih berdebu. Sedang di sampingnya debu tanah merah seperti tepung kering merah bata. Beberapa hari terakhir ini terlihat beberapa bocah berjumlah 12 menyusuri jalanan kota. Mereka menceceri jalanan dengan air mata kurasan mereka. Berharap datangnya banjir air mata hingga bisa memekarkan kembali tanaman dan tumbuhan yang sudah kering dan layu.

Sebab dua minggu lalu, seorang perempuan tua berkerudung hitam mendatangi tempat bermain mereka. Di tempat itu biasanya mereka berkumpul untuk bermain siki doka, gala asing, atau tari bambu*. Ketika perempuan tua itu muncul, bertepatan mereka sedang berkelahi. Saling mengolok-olok suku. Hingga keluar dari mulut mungil mereka ucapan kata-kata tidak senonoh tentang suku lawannya.

Lama perempuan tua itu mengamati mereka sebelum kemudian ia bertanya, “Tahu tidak, kalian tinggal di mana?”

Karena terkejut didatangi tiba-tiba seorang asing, mereka pun berhenti saling mengejek. Yang baru saja memoncongkan mulutnya hendak mengatai teman, tiba-tiba mendongkkan kepala dan mengendurkannya. Yang baru setengah mengangkat lengan hendak meninju teman, perlahan-perlahan menurunkan kembali ke posisi semula. Yang baru memungut batu hendak melempar kepala teman, pelan-pelan melepaskan kembali batu kerikil hingga terpelanting jauh ke belakang.

Mereka semua kaget karena kahadiran seorang perempuan tua asing yang tiba-tiba.

“Ini daerah apa namanya?”

Neka Mese*,” jawab mereka beramai-ramai.

“Oh, ya, letaknya di propinsi apa ini?”

“NTT,” seumpama mereka dilemparkan pertanyaan oleh guru di sekolah, bocah-bocah itu berlomba menjawab. Antusias tinggi.

“Hmm, Neka Mese bukannya sama arti dengan  A ate*?”

“Iya, nek,” sahut seorang bocah lelaki berwajah bulat berambut keriting.

“Juga dengan Haingi ati*?

“Iya.” Pelan-pelan karena heran, bocah lelaki barambut lurus bermancung tinggi memberi sahutan.

“Begitu juga Dalek esa*?”

“Oh, iya, nek,” sambil tersenyum bangga, bocah berkulit putih berambut lurus itu menyahut dengan cepat.

“Juga dengan Taramitu tominuku*?”

“Iya, benar, nek,” sahut seorang gadis kecil dengan rambut keritingnya yang sangat kering, sambil tersenyum malu-malu.

“Sama dengan Heade*?

“Ya, begitu,” meluncur cepat tanggapan dari seorang gadis kecil berambut hitam lurus sembari menatap teman-temannya.

“Bahasa-bahasa semua ini asalnya dari mana?”

“NTT,” seperti tadi, mereka semua semangat berlomba menyumbang suara.

“Ya, kalau begitu… artinya apa?”

“Satu hati, sehati” teriak mereka beramai-ramai.

Detik berikutnya berderailah tawa mereka, membaur dengan sapuan udara kering yang hawanya panas menggerahkan.

Sambil mengipasi tubuhnya dengan sekerat kulit binatang, perempuan tua itu mendengus, “Waduh… panasnya.”

Lalu kembali ia beralih kepada bocah-bocah yang masih tetap berdiri melongo menatapnya.

“Ok, NTT termasuk negara mana?”

“Indonesia.”

“Ok, Indonesia dikenal dua musim, iya kan?”

“Ya, musim kemarau dan musim hujan.”

“Ya, musim hujan mulai bulan apa dan berakhir bulan apa?”

“Oktober hingga April.”

“Nah, sekarang bulan apa?”

“November.”

“Ya, benar November. Sudah akhir bulan lagi. Kok sekarang tidak hujan? Buktinya panas menyengat begini. Terik. Gerah. Pohon-pohon sudah lama kering, bunga-bunga dan tanaman pada layu. Bahkan airnya saja susah. Bagaimana?”

Anak-anak nampak bingung. Satu-satu mulai saling bertatapan.

You’re special children,” ujar nenek itu seraya tersenyum.

Sedang anak-anak yang masih belum pulih dari keheranan, makin bertambah pulalah rasa heran mereka akan ungkapan bahasa asing dengan ucapan huruf  “r” yang sengaja dibuat-buat hingga terdengar seperti nada manja seorang bocah.

“Oh wow… You can speak English too, and you say ‘one heart’ in many languages, what do you want from us?” melangkah maju seorang bocah lelaki bermata biru, kulitnya jauh lebih terang dibanding teman-teman sepermainannya. Sedari tadi, ia hanya duduk-duduk di atas ayunan sambil tersenyum mengawasi sebayanya yang saling berolok-olok suku.

Of course I can. But I’m not  coming to show that I can speak many languages.

“Aku tak datang padamu untuk menunjukkan bahwa aku bisa banyak bahasa, melainkan karena kulihat kalian anak-anak istimewa,” sekaligus mengulang, ia berkata sambil melempar pandang pada semua anak di situ, tak ada seorang pun luput dari tatapan matanya yang tajam.

“Kalau kalian ikut prihatin pada tanah kalian, saya anjurkan kalian untuk berbuat sesuatu. Mau tidak kalian?” lanjutnya.

Tak ada seorang pun dari mereka yang menjawab. Hingga majulah seseorang. Dialah yang tertua di antara mereka. Umurnya kira-kira 12.

“Berbuat apa, nek?” tanyanya dengan tangan yang masih memegang batangan bambu permainannya.

“Kalau kau mau. Kutunjuk kau menjadi pemimpin rombongan ini. Lalu ikutilah apa yang akan kukatakan padamu.”

Lelaki jangkung itu sekejap menoleh kepada teman-temannya yang berdiri melongo di belakang, mungkin menunggu instruksi apa yang akan dikeluarkan dari mulutnya.

“Jangan bimbang, wahai pemuda! Kalian memang anak-anak istimewa. Kepada kalianlah aku diminta sang Ibu datang ke sini.”

Maka terjadilah apa yang tampak sekarang. Rombongan anak-anak itu kemudian bergerak, menebarkan air mata mereka, yang dikuras dari mata cekungnya di sepanjang jalanan kota. Mereka bergerak keliling kota. Jalan-jalan besar mereka lalui. Lorong-lorong gang yang gelap pun mereka terobos. Kadang menemui jalan buntu, dan mereka akan mencari jalan keluar.

Sepanjang perjalanan, mereka hanya berjalan di atas trotoar. Mereka berjalan sambil menangis, meraung, meringis, dengan kepala mendongak ke atas. Kelihatannya seperti segerombolan peserta pawai, kegiatan yang biasa diadakan saat Natal, Paskah, atau acara 17-an. Bedanya, pawai ini hanya dibawakan bocah-bocah. Gayanya pun beda. Mereka pawai menabur tangis.

Pemandangan itu kemudian menjadi bahan berita yang hangat. Hingga menjadi tontonan menarik bagi setiap orang yang mereka lewati. Saat ada orang mendekat dan menanyakan apa yang terjadi, serentak mereka berhenti, diam membisu, pelan-pelan mendatangi orang itu, memelototkan mata ke arahnya tanpa bicara sampai penanya itu bergerak menjauh sendiri, dan para rombongan itupun melanjutkan pawainya menabur tangis.

Hari ini mereka pun memasuki jalanan desa.  Jalanan di sini sudah mulai sepi. Kenderaan yang lalu lalang pun jarang. Begitu juga orang-orangnya.

Memasuki sebuah hutan yang lebat, tiba-tiba dari belakang mereka, bermunculanlah mobil-mobil keranjang. Berlompatan turun pada pasukan dengan menyandang bedil. Para bocah diringkus satu-satu.

Dalam usaha mereka meronta melepaskan diri, tak ada terdengar satu ucapan yang keluar dari mulut mereka. Para petugas yang meringkus jadi terheran-heran. Hanya dengan sedikit usaha, bocah-bocah inipun dinaikan ke atas mobil, dimasukan ke dalam keranjang. Di dalam mobil keranjang, mereka berusaha lepas namun tetap dengan mulut terkunci.

Hingga tiba kembali di kota, di sebuah gedung putih beratap merah bata, mobil berhenti. Bocah-bocah itupun diturunkan, digiring masuk ke dalam layaknya gembala sapi menghalau gembalaannya. Semua mereka berjumalah 12 orang, bocah laki-laki dan bocah perempuan, digabung satu ruangan.

Beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah orang bersepatu menuju ruangan mereka disekap.

“Bicaralah padaku. Kenapa kalian berlaku demikian?” tanya seorang lelaki tinggi besar berbadan tegap. Ia mungkin pemimpin tempat itu.

Tak ada suara sahutan dari bocah-bocah itu.

“Kenapa kalian berlaku demikian, bocah-bocah dekil?” ulangnya tegas dan kasar.

“Heh…kalian tidak sedang dikunci mulutnya kan?” sudah tak sabar, ia pun merunduk, dan membuka ngangakan mulut seorang bocah laki-laki yang paling besar, ia pemimpin rombongan itu.

“Mana lidahmu? Ok, lidahmu tidak pendek. Bicara padaku, bocah tengil!” bentaknya seraya memain-mainkan lidah anak lelaki itu dengan telapak tangan kanannya yang besar dan lebar.

Akhirnya, entah jijik, entah muak, entah karena marah, bocah lelaki ini pun menghempaskan lengan kanan petugas kurang ajar itu.

Ia berdiri seraya mengibaskan celana. “Ok,” katanya.

Begitu mengeluarkan satu kata itu, semua mata para bocah terarah padanya. Tampaknya mereka tidak menerima tindakan pemimpinnya. Sebagian menampakkan wajah kecewa. Sebagian air mukanya menunjukan keputusasaan, sebagian lagi marah. Namun satu hal sama, tetap tak keluar suara.

“Saya akan bicara,” lanjut pemimpin rombongan para bocah.

Terdengar tarikan napas dari rekan-rekannya. Mereka mendengus kesal dan marah.

“Sudahlah teman-teman, biar aku yang menanggungnya.”

Setelah berkata demikian, ia pun berpaling. “Baik bapak-bapak. We’re the special childrens. Kami ini anak-anak istimewa. Anak-anak yang dipilih melakukan hal baik, namun kalian orang-orang yang masuk dalam kategori orang pasrah, yang hanya berdiam diri menunggu keadaan membaik dengan sendirinya, tahunya hanya menunggu datangnya bala bantuan, melihat kami sebagai gerombolan orang aneh lalu mengambil keputusan meringkus kami untuk dimasukan ke dalam ruang sempit pengap ini.”

Petugas yang berdiri di depannya terhenyak kaget. Ia berancang-ancang mengambil langkah mundur ke belakang.

“Tak tahukan kalian, bahwa aksi kami menabur air mata di sepanjang jalanan adalah perintah dari sang Ibu. Lihat saja… aksi kami  sudah hampir dua minggu. Tepatnya besok. Banjir berkat akan turun di mana-mana,  melimpahi daerah kita yang kering kerontang tiada air. Pohon-pohon yang lagi meranggas dan layu akan mekar hijau kembali. Tanah-tanah akan kembali menumbuhkan tanaman sayur dan buah yang bernas-bernas. Tak ada lagi sejauh mata memandang, hanya tumbuhan semak dan ilalang berwarna pastel. Kalau kalian tidak percaya, silakan…tunggu saja! Tidak lama. Sebentar, tak sampai sejam dari sekarang.”

“Anak… jangan kau meracau! Hidup ini perlu realistis, nak,” kata bapak berbadan tegap sembari tangannya disentuhkan pada bahu pemimpin rombongan itu.

“Nak…kau masih kecil, jangan bebani dirimu dengan kondisi daerah kita dulu, ya nak. Kau masih perlu menikmati masa kecilmu,” sambung bapak itu dengan nada sedih.

Hatinya trenyuh dengan kenekatan bocah-bocah dekil ini.

Memang, kondisi daerah kita begini, tapi kenapa harus kalian yang memikirkannya, wahai…bocah-bocah? Keluhnya dalam diam.

Saking terharunya, dari dua sudut matanya merembes air mata hangat yang tanpa dihalang satu barang secuil pun segera jatuh ke lantai. Seketika, dua titik air mata itu berubah menjadi dua genangan kolam yang dengan segera membanjiri ruangan tempat mereka berada. Anehnya, genangan dari air mata itu panas bagai air mendidih. Mereka yang di dalam ruangan, semuanya baik bocah-bocah dan petugas yang terkena rembesan air, kulitnya pun melepuh. Tak sampai hitungan menit untuk melihat mereka tumbang satu persatu bagai pohon tua meradang lalu ambruk ditimpa badai angin.

Keterangan:

Siki doka, gala asing, atau tari bambu: istilah untuk permainan tradisional NTT

Neka mese: Satu hati/sehati dalam bahasa Timor; A ate (Flores); Haingi ati (Sumba); Heade (Sabu); Dalek esa(Rote), Taramitu tominuku (Alor)

Itu semua satu dalam FLOBAMORA

Iklan
Merayakan Keseharian

Berburu Kodok di Kali Mapoli

Suara jangkrik bernyanyi saling bersahutan. Lampu neon di setiap pojokan nyaris membuat malam tak seperti malam.

Di luar kilat menyambar-nyambar. Disusul suara gemuruh menggelegar. Sepertinya malam ini akan turun hujan deras.

Aku sedang menyelesaikan kisi-kisi soal EBAS ganjil kelas X yang sangat kompleks. Pukul tujuh lewat akhinya selesai. Sebenarnya ingin kulanjutkan yang SMP karena bagiku itu belum terlalu larut. Namun cuaca di luar agak mencekam, maka aku pun berkemas pulang.

Di lobby, Pak Hikmah, Bu Yoan, dan Pak Gusti terlihat sedang bersiap hendak keluar. Ada juga perlengkapan duah buah senter, satu gelas aqua besar,  dan plastik bening.

Ketika ditanya hendak ke mana, mereka menjawab, “Ke kali”

“Kali mana?”

“Di belakang sini, kali Mapoli,” Bu Yoan antusias menjawab.

“Lho… malam-malam saat cuaca sedang marah begini?”

“Ya. Ini sudah mau jalan kok.”

“Buat apa?”

“Tangkap kodok.”

“Hah…??”  aku hanya bisa melongo dengan jawabannya.

“Kok ibu tidak percaya. Ini pak Hikmah yang mau tangkap kodok,” Pak Gusti menimpali.

“Oh, buat percobaan?”

“Betul, ini pak Hikmah sudah siap dengan botol aqua besar. Buat masukin kodok. Ini ada plastik untuk tangkap. Saya dengan pak Gusti bawa senter.”

“Yah, kok saya tidak diajak?”

“Oh, kita pikirnya ibu sementara serius dalam kelas sana. Ayo, simpan tas dulu. Mari kita pergi.”

“Mari, saya ikut. Ayo…” tertawa.

Dari pada balik ke kelas, saya pun mentipkan tas di ruang TU.

Tiba-tiba…

“Naci… Sudah mau pulang, tunggu beta,” Kak Novi baru muncul keluar dari ruang lab komputer.

Disusul Asty di belakangnya.

“Masih mau pergi ke kali.”

Kak Novi tak terlalu menanggapi serius jawabanku. Ia terus menuju kelasnya di 8.2 membereskan perangkatnya. Sementara Ibu Asty langung menuju kami sebelum ke kelasnya yang ada di samping lobby.

Setelah bertanya dan diyakinkan kalau misalnya turun hujan, maka aku dan ibu Yoan sudah menyediakan sebuah plastik yang besar untuk menampung HP dan jam tangannya. Ia pun masuk membereSkan beberapa perangkatnya di kelas 9 dan keluar kembali dengan siap melakukan perjalanan.

Kak Novi pun datang.

“Ayo, Naci, pulang. Lho, mana tas? Lho, yang lain, kalian mau ke mana?”

Kami tertawa nyengir.

“Ayo ka, ikut ke kali,” kata kami beramai-ramai.

😀

“Apa? Kali, kali mana?” benar serupa saya ekspresinya.

“Mapoli,” jawab Pak Gusti. “Di belakang sini,” sambil tangannya menunjuk ke arah barat.

“Malam-malam begini, bagaimana kalau hujan?”

Aku dan bu Yoan serempak mengacungkan bawaan kami masing-masing. Bu Yoan menunjukan plastik yang dicopotnya dari entah bungkusan apa, sedang aku menunjukan payung baru berwarna merah yang baru saja dibeli Ibu Merry siang tadi dan ditaruh di ruang TU. Katanya payung itu dibeli lantaran Pak Ged merasa prihatin akan kondisi guru dan siswa hari senin kemarin saat hujan-moving class jadi terhambat.

“Ini jaminannya.”

“Oh, ya, Kak simpan tas dulu, di TU saja.”

“Ah, jangan. Bagaimana kalau saya langsung pulang, dijemput Meni..?” Ka Novi menjawab enggan.

“Oh, ya, bukannya di tas Kak sudah ada jas hujannya?” seruku begitu sebab seingatku ransel kami sama-sama punya jas hujan.

“Oh, ya, coba saya lihat dulu.”

Ka Novi yang sudah hampir di gerbang, berbalik ke lobby, meletakan ranselnya di meja piket, membuka resleting bawah ranselnya, menarik keluar carikan kain berwarna hitam itu dan berseru, “Ini ada, jas hujan. Ok, aman.”

😀

“Ok, ada. Itu, tas ibu Novi ada jas hujannya,” Ibu Yoan menyambut riang.

Berempat kami pun pamit pada Pak Iron yang bertugas menggantikan Pak Morgan jaga malam ini. Lalu bergerak keluar jalan samping Yupenkris (tidak lewat gerbang utama), lewat jalan tikus 😀 soalnya di gerbang utama jalannya putus. Pas ada tukang-tukangnya sedang mengerjakan pagar tembok yang belum jadi. Kami meminta permisi saja terus lewat.

Selama perjalanan itu semua terlibat obrolan seru. Tentang rumah-rumah elit yng kini megah berdiri padahal dulunya itu kawasan hutan jati, serta katanya ada juga kuburan Raja Kupang di situ. Tempat kost Bu Herni dulu yang baru kami lihat. Lalu sebuah lorong sempit menuju tempat kost Pak Hikmah, Teacher Uthe, dan Ci Novi, yang katanya sering dilewati Teacher Uthe setiap lari pagi.

Mendekati kali Mapoli, aku baru sadar kalau sebenarnya aku sudah pernah melewati jalanan ini sebelumnya bersama Elis.

Kali itu dikelelingi pohon-pohon berbatang tinggi besar. Keadaan sekitar begitu gelap dan seram. Kami pun bergurau bagaimana jika datang bahaya, misalnya ada perompak atau sejenis itulah.

“Oh, tidak. Di sini, aku sudah punya senjata,” kuacungkan payung itu tinggi-tinggi. “Tinggal menggunakannya untuk menusuk…”   tak sempat kuteruskan karena agak takut.

Para ibu pun bisa menyingsingkan lengan baju.

Ups… Jangan lupa. Di sini, ada orang jago taekwondo. Sudah senior. Punya yunior dia di UPH lagi.

Tiba di kali Mapoli. Kami merangkak turun  menembusi gelap. Kilat yang menyambar dan guntur menggelegar tak lagi kami pedulikan. Semua perhatian menuju ke bentangan kali di depan kami. Lebarnya kurang lebih 4 meter. Sedikit batu-batu.

Pikir kami kali itu berair dan mungkin kami hanya akan menunggu di pinggir sambil melihat Pak Hikmah dan Pak Gusti yang menangkap.

Tapi, malah yang nampak, kali itu sama sekali tak ada airnya. Hari Senin kemarin baru saja hujan turun deras sekali. Sekarang ini hanya lumpur. Lumpur yang sudah mau mengering.

Tapi, alamak… Aroma kali itu tercium seperti kita sedang berada di dekat kandang babi.

Kami pun hanya menunggu di pinggir. Tiba-tiba Pak Gusti berteriak memangil Pak Hikmah kalau ada kodok. Pak Hikmah pun datang, dengan tangan kirinya ia memegang erat botol aqua dan tangan kanannya yang terbungkus plastik, ia membungkuk. Terlihat juga gerakannya yang ragu-ragu, geli, dan takut terbenam lumpur, ia mencoba menangkap kodok.

Dan lihat….

Kodok itu tidak tertangkap. Ia melompat. Pak Hikmah tidak putus asa. Ia melangkah maju cepat, membungkuk, menepuk lumpur sebab kodok itu sudah lebih dulu melompat. Pak Hikmah maju lagi, menepuk. Tangannya malah kena kerikil tajam. Kodok itu sudah di depan lagi.

Demikianlah berkali-kali Pak Hikmah dan kodok itupun berkejar-kejaran ria sebelum akhirnya Pak Hikmah dapat menaklukannya, lantas dimasukan dalam botol aqua yang tak lupa diberikan jendela.

Kami yang tadinya cuman berdiri di pinggir kini baru sadar kalau kami pun sudah di tengah-tengah kali. Berdiri di atas hamparan lumpur yang selebar tiga meter. Sepatu yang kupakai sudah berlumur lumpur. Mau keluar, sayang sudah terlanjur. Lagi pula seru sekali melihat Pak Hikmah berkejar-kejaran dengan kodok.

Memang betul begitu (tebe ona na-Bahasa Amarasi),  aku snediri, Bu Yoan, Ibu Asty, dan Bu Novi memang dilahirkan untuk menjadi suporter hebat. Memberi support dengan suara dan cahaya senter HP yang tak seberapa terang.

Kemudian, kami pun berjalan pelan menyusuri kali sambil masing-masing dengan senter HP-nya mengarahkan ke sana ke mari bermaksud membantu Pak Hikmah mencari kodok. Siapa tahu melihat satu sedang bersembunyi di balik batu.

Tiba-tiba, entah siapa yang lebih dulu. Serempak semua senter bergerak balik ke belakang. Ada satu kodok kecil. Jauh lebih kecil dari yang pertama. Adegan kejar-kejaran pun berulang. Seperti sebuah film. Pak Hikmah dan kodok pemainnya dengan Pak Hikmah pelaku utama, kodok pelaku sampingan. Sedang Pak Gusti sutradaranya sekaligus kameramen karena ia yang memegang senter besar (cahaya utama) dan kami… mesti dengan jujur kuakui… kami hanya penonton (hanya itu yang bisa kami lakukan…Maaf pak Hikmah… setidaknya kami sudah menemani…:D)

Sebagaimana kodok pertama, kodok kecil itu pun akhirnya tertangkap. Pak Hikmah memasukannya ke dalam botol aqua. Entah bagaimana tiba-tiba kodok itu lepas dari cengkraman tangan kanan Pak Hikmah lalu melompat menjauh. Ia melompat dengan cepat sekali sehingga pak Hikmah pun harus kembali mengejarnya.

Kodok kecil itu ternyata pintar. Ia berlari keluar kali. Masuk ke semak-semak, dan pak Hikmah tak mau kalah begitu saja. Pak Hikmah pun ikut masuk ke semak-semak hingga senter dari Pak Gusti tak dapat menerangi lagi. Pak Hikmah pun kembali ke kali. Kami sebagai penonton menyayangkan kejadian itu. Pak Hikmah sudah berusaha capek-capek, kodok itu malah lepas dan menghilang…:(.

Namun dengan sikap yang tak mudah menyerah serta dukungan yang solid dari sutradara + kameramen dan para penonton, Pak Hikmah pun akhirnya berhasil membawa keluar empat ekor kodok dari kali Mapoli di dalam botol aqua.

Menurutnya itu sudah cukup. Kami menjajaki tanjakan keluar jalanan. Sambil menyibak dedaunan di pinggir jalan, kami menengok ke selokan.

Tak seberapa jauh. Tiba-tiba ada seekor kodok yang jauh lebih gendut dibanding empat kodok yang didapat di kali tadi. Pak Hikmah yang semula sudah membuat plastik yang tadi ia pakai segera mencari plastik bekas sampah. Didapatinya plastik bekas minum es sirup. Ia bungkus tangannya. Hanya butuh tiga tepukan dan ia menangkap kodok gendut itu.  Sementara kami tetap menjadi pentonton dan supporter yang setia.

Beberapa meter kemudian, orang paling depan menemukan satu lagi kodok gendut. Untung Pak Hikmah belum membuat plastik bekas minum es sirup. Hanya sekali tepuk, dan ia langsung meraup kodok gendut itu. Sudah enam ekor. Pak Hikmah pun membuang plastiknya.

Kami berjalan pulang menuju sekolah. Pak Gusti mengarahkan kami melewati jalan lain yang bukan kami lewati tadi. Sebuah tempat yang dulu sempat menghebohkan Kupang dengan aksi-aksi manusia unik berpikir pendek.

Hingga tepat di depan SMKN 5, Kak Novi menemukan satu lagi kodok kecil yang sedang beria-ria melompat di pinggir jalan. Seperti biasa yang lain berseru, dan Pak Hikmah segera menoleh ke kiri dan ke kanan mencari plastik. Bertepatan juga, tak jauh di samping pagar tembok sebuah halaman rumah, ada drum tempat sampah. Pak Hikmah menuju ke situ, mengorek sebentar dan kemudian menemukan plastik bening. Plastik itu ia pungut dan menuju kodok yang sedang dihadang Kak Novi.

Pak Hikmah datang. Membungkuk. Mencoba menangkap. Kodok itu cukup lincah. Ia menghindar. Pak Hikmah bergerak mengikuti. Kodok itu melompat lagi. Ia melompat ke tengah jalan raya depan sekolah. Pak Hikmah dibuat kalang kabut. Untung saat itu tak ada kenderaan lewat. Dan karena sudah cukup mahir, di tengah jalan itulah Pak Hikmah akhirnya menangkap kodok tengil itu.

Hingga tiba kembali di sekolah pukul sembilan lewat. Pak Hikmah sudah mengantongi tujuh ekor kodok. Besar dan kecil.

Inilah pengalaman berburu kodok di kali saat cuaca sedang labil.

 Pengalaman ini mengingatkan saya kembali pada masa kanak-kanak saat membaca buku cerita anak tentang bocah-bocah desa yang berburu jangkrik di malam hari. Kala itu, saya ingin sekali merasakan pengalaman, berburu jangkrik di malam hari bersama teman-teman. Dan saya hanya bisa mengalami menangkap kunang-kunang di bulan Desember sendirian. Oh, ya, btw, sekarang saya kok jarang lihat kunang-kunang di bulan Desember..:(

*Waktu terjadi, Rabu, 21 November 2012

 

Cerpen

Orang-orang Malam Pecinta Malam

Petugas locker  itu mengangguk dan tersenyum  padaku. Dengan sigap ia menerima Smart Card[1]-ku, dan balik menyodorkan sekeping koin.

Segera kupilih satu kotak locker[2]. Menyelipkan koin agar bisa kubuka pintu locker. Barang bawaanku kumasukan, lantas kucopot kunci yang bertengger di pintu locker. Aku pun menuju meja petugas untuk diinput nomor locker tempat barang bawaanku dititipkan.

“Silakan, cicik[3],” katanya seraya mengembalikan Smart Card.

Kugesekkan Smart Card tersebut ke Card Reader. Kubuka pintunya lalu melangkah masuk. Lokasi yang kutuju ada di lantai dua. Dalam ruang kaca. Sebenarnya itu ruang diskusi. Tapi karena hari sudah malam, biasanya sepi. Itu yang kusuka. Sebab aku butuh keheningan. Segala sakit dapat kulepas di sana. Tanpa takut. Tanpa ragu.

Beberapa buku sebagai teman, kubawa turun. Kuletakkan di atas meja. Kuambil satu dan segera tenggelam di dalamnya. Hmm… tidak. Kubuka saja laptop.  Menuliskan segala yang bergelayut dan menggerus-gerus pedih.

Itu yang biasa kulakukan di sini saat hari malam. Saat orang-orang malah keluar darinya dan terbang pulang ke sarang, dormitory. Kadang aku mengantongi teh kotak atau kopi kaleng, dan kusembunyikan dalam tas laptop. Bakal kukakatakan pada security, di sini perlengkapan laptop entah charger, entah cool pad, entah mouse klik. Dan bapak tanggung itu entah percaya dengan aktingku entah malas berurusan panjang, sehingga aku akan melenggang masuk tanpa dicurigai membawa sesuatu yang nantinya bisa mengundang semut berkeriapan di area perpustakaan yang terkenal sangat bersih dan terjaga itu.

Seperti malam-malam biasanya, di dalam ruang kaca ini aku sendiri. Ingin kuselesaikan naskah ceritaku tentang orang-orang malam yang begitu cinta pada malam, hingga memimpikan kalau bisa dunia hanya terdiri atas malam. Selalu malam. Atau pun kalau ada siang, ia hanya seperdelapan hari, 3 jam.  Selebihnya malam. Biar dunia ini indah dan  jauh dari kebisingan.  Entah khayalan macam apa itu, begitulah yang ingin kutulis dalam ceritaku. Sebab yang kuamati dalam keseharianku, orang-orang terlalu sibuk, tak tahu apa yang mereka kejar. Saking sibuknya, mereka tampak seperti robot bernyawa. Bekerja dengan cermat namun tanpa jiwa. Tiada hati.  Kering garing kriuk olahannya.

Aku sudah menyiapkan sekaleng Nescafe yang kubeli tadi di Food Court kampus.

Di luar gerimis  mulai turun. Titik-titik air berpercikan di antara dinding kaca jendela.

Malam mulai merambat. Kelap-kelip lampu kota menaburi pekat malam. Surga kini semakin merapat. Artinya ide-ide liar dan kegilaanku mulai terpacu. Semakin memanas. Aku mesti gesit menangkap dan memasaknya hingga matang.

Tengah aku bekerja, kuendus satu sosok bayangan menghampiri. Seorang laki-laki. Anak kuliahan. Mungkin sebayaku.  Ia memilih ruang kaca di seberang.

Walau tak persis di sebelahku, sepertinya aku mulai merasa terganggu. Sebab dinding kaca ini polos dan tembus pandang hingga 2-3 ruang sekalipun. Orang bisa saling mengamati antar ruang. Dan tak enak memang bila melakukan sesuatu dan serasa diamat-amati.

Biasanya aku nyaman karena di area lantai dua ini hanya ada aku. Sendiri. Tapi kali ini duniaku serasa dirobek. Konsentrasiku pecah. Aku tak lagi bebas berekspresi. Tak bebas lagi meratap padahal butuh. Tak lagi puas mengeluarkan air mata padahal ingin. Tak lagi pulang dorm membawa kelegaan habis menangis. Sebab, yang kubutuhkan dari kesendirian malam di ruang kaca ini adalah memecahkan air mata yang ingin berbicara setelah lama-lama menampung sakit[4], yang finalnya bisa menganakkan sebuah cerita. Namun dengan datangnya lelaki itu, segala yang ingin kuluapkan di ruang kaca itu tiba-tiba saja tertahan, tak bisa keluar. Malam-malamku yang sempurna kini dikacaukannya. Sirna sudah kedamaianku. Risau karenanya.

Objek perhatianku malah beralih padanya.  Biar begitu tetap kujaga ia tak boleh tahu.  Aku berpura-pura mengedit huruf  yang sebenarnya bisa ditunda.

Sedikit kulihat lelaki itu mengeluarkan peralatannya. Gulungan karton dalam sebuah tas panjang bundar berwarna hitam, serta beberapa pensil coret. Tak lama, ia keluar lagi. Kemudian muncul kembali dengan buku-buku tebal. Setelah membolak-balik beberapa halaman ia pun duduk diam. Terpaku. Lama. Tanpa melakukan apa-apa. Kupikir mungkin ia sedang melamun.

Lama tepekur ia pun menarik napas kemudian menunduk penuh perhatian pada kertas kartonnya. Ia menggambar.

Aku menonton.

***

Tak hanya semalam itu. Esok malamnya ketika aku baru saja beberapa menit di situ, ia pun datang. Memilih tempat yang sama. Dengan laku yang sama pula. Ia menggambar. Aku berhenti. Menonton dari jauh.

            Kupikir hanya dua malam itu. Mungkin sedang ada tugas kuliah. Tapi tidak. Malam-malam selanjutnya ia begitu. Menggambar. Dan  entah, aku pun berlaku yang sama seperti sebelumnya. Menonton.

Sebenarnya bisa saja aku terus berseteru dengan tulisanku tanpa harus merasa terusik. Tapi aku memang tak suka terlihat lakuku yang mungkin sebentar bisa menarik perhatian. Tak mau aku ia tahu. Risih rasanya. Akibat aku tanggung, selalu pulang dengan dada yang sesak dan berat. Menampung sakit itu lagi. Resah dalam derap langkahku.

***

Malam mulai merambat. Kelap-kelip lampu kota menaburi pekat malam. Pengunjung perpustakaan kian berkurang. Satu per satu mulai beranjak keluar. Suara bising kendaraan di luar gedung pun makin menyayup. Hanya beberapa mahasiswa yang masih setia dengan tumpukan buku-buku dan laptopnya di deretan meja-meja, serta para cleaning service yang sibuk membereskan ruangan, juga petugas perpustakaan yang  membawa buku-buku di atas kereta dorong untuk segera ditata sesuai kategorinya.

Sebentar lagi keadaan mulai sepi. Hening. Surga makin merapat. Aku baru saja mau memulai menikmati duniaku ketika kudengar pintu kaca berderit. Ah, manusia itu lagi.  Hanya datang sebagai pengusik. Kapan ia tak usah datang lagi? Dalam hati aku mengumpat kesal.

Bertekad plus bersumpah-sumpah tak peduli kehadirannya, kugeser kursiku membelakanginya. Anggap saja dia tak ada. Atau pun kalau ada, anggap saja dia pun sibuk dengan dunianya dan sedikitpun tak memperhatikan walau sekadar untuk melirik. Ini perpustakaan. Tempat terindah yang pernah aku temui sejak aku tahu aku di bumi. Di sinilah bisa kualami secuil surga. Bercinta dengan malam, mengandung ide, menganakkan cerita dengan keheningan sebagai saksi. Tak boleh ada seorang manusia pun yang berhak mengambil keindahan ini dariku.

Kukuatkan hatiku dengan kalimat itu berulang-ulang. Dan aku pun mulai terbenam dengan draft ceritaku.

***

Tak sadar waktu sudah hampir pukul 11 malam. Tumben sekali alarm HP tak bergetar. Biasanya ia pasti berisik di angka 10 lebih sedikit. Kucari-cari dalam tas laptop. Tak ada. Panik. Di mana ia kutaruh?

Kini aku mesti pulang. Sekarang. Ini sudah jam malam. Jam batas masuk dorm.

Harus cepat masuk kamar bila tak mau melanggar peraturan dorm yang ujung-ujungnya bisa mendapat hadiah surat cinta menggigit dari pihak universitas.

Cepat-cepat aku mengembalikan beberapa buku ke tempat penyimpanan sementara. Mengambil tas laptop dan menapaki tangga kayu menuju lantai 3, gerbang perpustakaan. Kugesekan Smart Card. Pintu pun terbuka. Aku keluar, dan segera berlari ke arah lift.  Kupencet angka 1. Nomor itu berkedip. Pintu lift terbuka. Aku masuk. Aman. Tinggal meluncur turun.

Tapi tidak. Pintu lift yang sudah mau tertutup itu tiba-tiba berdebuk keras. Satu sosok datang menyerempet. Terjepit. Lalu mengaduh. Lift pun membuka mulutnya kembali. Huh… Dia lagi, tetangga seberang ruang kaca. Dalam hati aku hanya tersenyum. Berasa puas seorang manusia sepertinya ditimpa sakit serupa itu.

Gubrak… senyumku pun lenyap.

Isi tas kain yang sedang dipapahnya jatuh semua. Gambar-gambarnya berceceran. Cekatan ia menunduk dan meraup segera. Hampir tak menyisakanku sedikit waktu untuk dapat  menengok gambar-gambarnya.

“Permisi, angkanya belum dipencet,” kataku baru sadar kalau sedari masuknya laki-laki itu, tak kurasakan ada getaran lift sedikit jua.

“Ooh, ya, sorry…sorry,” serta merta dipencetnya angka 1 dan terasa lift mulai bergerak perlahan-lahan ke bawah.

Saat monitor menunjukan angka 1, lift berlenting. Pintunya terbuka. Astaga… Semua tampak gelap. Pekat.

“Oh, apakah kita salah lantai? Ini basement barangkali,” seruku panik.

“Hmm….? Sepertinya tidak. Sedang mati lampu barangkali. Lihat, monitor tidak tertera angka. Tombol-tombol di sini tak ada yang menyala,” selembar sahutan tenang yang hanya bisa kudengar tanpa melihat muka.

“Sepertinya lift kita menggantung. Sebentar, coba saya lihat seberapa jauh kita dari lantai,” suara itu meneruskan. “Hmm… kira-kira semeter. Ayo, kita harus melompat turun,” ajakannya yang terdengar ditujukan ke arahku.

“Oh, tidak. Bagaimana mungkin?” spontan aku menyahut. Takut dan panik, aku malah tak bisa berdiri tenang.

Ah, pulang… Hari begini gelap, bagaimana aku bisa pulang. Sudah makin telat malahan. Andai saja aku bawa HP, setidaknya pada teman sekamar kukabari keadaanku sekarang yang sedang sekarat.

“Tak apa. Mari kubantu. Maaf, saya Jo.” Kurasai hangat tangannya yang dijulurkan.

“Lib…Libry.” Kusebut namaku dengan terbata, lalu menyambut tangannya.

“Yuk, Libry. Barengan sampai hitungan ketiga.”

Pada hitungan ketiga tubuh kami bertumbukan dengan lantai dengan selang waktu yang sangat singkat tanpa sempat menerapkan konsep impuls guna memperlama. Sakit tapi melegakan. Rasanya ingin kucium bumi sepuas-puasnya. Seperti lepas kangen sudah lama mengambang di udara dan tak menapaki bumi.

            Di lantai yang melegakan itu kami berdua duduk. Membisu dibungkus malam.

***

            “Hmm… Gelap begitu pekat,” katamu lirih seraya mengarahkan cahaya senter HP yang serupa butiran kelereng, bahkan tak mampu menembusi pekatnya malam. “Sedang bulan dan bintang terhalang asap tebal. Kau, mari kuantar pulang,” kau melanjutkan.

“Hah…? Apa kita harus menggerapai dalam gelap? Tidak, terima kasih. Aku ingin diselimuti malam. Sebentar saja. Kau, pulanglah duluan.”

Senyap sesudahnya.

“Kulihat lukisanmu gelap semua,” kupecah kehehingan.

“Iya, semua bercerita tentang malam.”

“Malam…? Oh, ya, aku pun sedang menulis cerita tentang orang malam pecinta malam.”

“Suka kau pada malam?” tanyamu.

Desah nafas saja yang terdengar.

“Hanya malam yang mau menemani menangis,” akhirnya kusahuti. Tak tahu kenapa harus kukatakan itu padamu.

            “Siang itu terlalu angkuh. Dia pongah seperti puncak menara pencakar langit,” giliranmu.

“Hanya malam yang bisa mengerti,” aku.

 “Siang selalu menampakkan kepalsuan. Tapi malam… malam tak pernah ingin kita bertopeng.”

“Apa saat kau berkata begitu, kau sedang tak bertopeng pada malam?” tanya yang seolah-olah ingin menyelidik.

“Tanyakan pada malam dan biar ia menjawab,” kau menyahut.

Malam, sungguh kuharap kau seperti dalam ceritaku. Sepederlapan hari lamanya. Jangan cepat datang pagi. Sebab kini sedang kualami secuil surga.

“Aku tak ingin tidur. Sebab sayang bila kulewatkan,” aku bergumam pelan.

“Benar, malam itu mengenalkanmu pada dirimu. Jangan ketika datang malam kau lantas meninggalkannya dan tertidur,” kau menanggapi.

Ah, betapa kau mendengar suaraku yang sangat pelan itu.

Hari terus malam. Kita lanjut menikmatinya dalam diam. Dengan malam kulanjutkan ceritaku yang tertunda. Tak ingat lagi aku pulang dorm, walau bentang jarak hanya 300 meter.

Malam itu mengenalkanmu pada dirimu… Tiba-tiba patah kata itu kembali terngiang tengah aku bekerja.

Sontak aku berhenti. Kupandangi kau di sebelahku. Tak jelas rupamu kulihat memang. Tapi kutahu kau asyik melukis dalam gelap.

Malam mengenalkanku pada diriku? Apa? Benar demikian? Kalau begitu seperti apa diriku? Aku mendebat pikiranku sendiri.

 “Malam itu misteri. Menunjukan padamu bahwa kau sendiri tak akan pernah tahu seperti apa dirimu. Selamanya kau hanya akan menebak-nebak,” jawabmu seperti sudah membaca kepalaku sambil terus asyik menggambar.

***

Berita heboh di TV. Stasiun TV Nasional menghimbau semua orang berdiam saja dalam rumah. Sebab hari ini terjadi peristiwa aneh. Matahari tak pernah muncul walau sudah hampir tengah hari.  Hari harusnya siang nampak seperti malam. Lampu-lampu bahkan tak mampu menerangi kota.

Hingga sore hari, saat di jam tangan setiap orang dan jam dinding di tiap rumah mengarah pada pukul 03.00 pm, matahari pelan-pelan menampakkan dirinya. Dan tengoklah, di setiap gedung-gedung pemerintah maupun swasta, di bawah kemegahan papan nama gedung itu pastilah ditemukan lukisan misterius dengan background hitam disertai entahkah itu sebaris puisi, entah kalimat apa…

“Mestilah malam lebih panjang

Biar banyaklah waktu kau merenung

Apa sudah  dengan hati kau bekerja

Sudah yang terbaikkah kau tabur?  

Untuk apa berlelah-lelah di siang hari mengejar kesemuan belaka,

  hingga tak sepenggal napas pun kau hembuskan untuknya?”

***

Malam berikutnya, seperti jam-jam malam biasanya aku datang. Kutinggalkan Smart Card di meja petugas, dan segera menuju satu kotak locker setelah menerima koin yang diberikan petugas.

“Eh, Maaf, cik Libry,” panggilan petugas locker perpustakaan menghentikan langkahku. “Semalam cicik tidak mengembalikan kunci locker sehingga barang-barangnya diambil petugas.”

Oh, my God. Kuingat sekarang… Semalam tak sadar HP kutinggal di sana serta beberapa alat tulis.

“Oh, ya. Ini… tadi barusan juga ada titipan buat cicik,” katanya sembari merunduk membuka laci meja kerjanya. Lantas kembali menegakan kepala. Menyodorkan padaku sebuah gulungan.

Dengan ragu kuterima gulungan itu. Membawanya ke deretan lemari locker. Tulisan tinta perak di atas lembaran karton hitam.

“Jangan takut mencintai malam. Tetap terjagalah walau dalam malam, sebab dalam malam aku ada.”  Ttd, Jo.

Juli, 2012

 Notes:

  1. Smart Card : Kartu mahasiswa
  2. Locker : Deretan rak berkunci sebagai tempat penitipan barang pengunjung perpustakaan
  1. Cicik : Panggilan kakak perempuan untuk orang Tionghoa
  2. Membahasakan sepenggal kutipan puisi Mario F Lawi, ‘Suaraku adalah jerit pecah airmatamu menampung sakit,’ dari Maka Cinta pun Jadi.