Orang-orang Malam Pecinta Malam

Petugas locker  itu mengangguk dan tersenyum  padaku. Dengan sigap ia menerima Smart Card[1]-ku, dan balik menyodorkan sekeping koin.

Segera kupilih satu kotak locker[2]. Menyelipkan koin agar bisa kubuka pintu locker. Barang bawaanku kumasukan, lantas kucopot kunci yang bertengger di pintu locker. Aku pun menuju meja petugas untuk diinput nomor locker tempat barang bawaanku dititipkan.

“Silakan, cicik[3],” katanya seraya mengembalikan Smart Card.

Kugesekkan Smart Card tersebut ke Card Reader. Kubuka pintunya lalu melangkah masuk. Lokasi yang kutuju ada di lantai dua. Dalam ruang kaca. Sebenarnya itu ruang diskusi. Tapi karena hari sudah malam, biasanya sepi. Itu yang kusuka. Sebab aku butuh keheningan. Segala sakit dapat kulepas di sana. Tanpa takut. Tanpa ragu.

Beberapa buku sebagai teman, kubawa turun. Kuletakkan di atas meja. Kuambil satu dan segera tenggelam di dalamnya. Hmm… tidak. Kubuka saja laptop.  Menuliskan segala yang bergelayut dan menggerus-gerus pedih.

Itu yang biasa kulakukan di sini saat hari malam. Saat orang-orang malah keluar darinya dan terbang pulang ke sarang, dormitory. Kadang aku mengantongi teh kotak atau kopi kaleng, dan kusembunyikan dalam tas laptop. Bakal kukakatakan pada security, di sini perlengkapan laptop entah charger, entah cool pad, entah mouse klik. Dan bapak tanggung itu entah percaya dengan aktingku entah malas berurusan panjang, sehingga aku akan melenggang masuk tanpa dicurigai membawa sesuatu yang nantinya bisa mengundang semut berkeriapan di area perpustakaan yang terkenal sangat bersih dan terjaga itu.

Seperti malam-malam biasanya, di dalam ruang kaca ini aku sendiri. Ingin kuselesaikan naskah ceritaku tentang orang-orang malam yang begitu cinta pada malam, hingga memimpikan kalau bisa dunia hanya terdiri atas malam. Selalu malam. Atau pun kalau ada siang, ia hanya seperdelapan hari, 3 jam.  Selebihnya malam. Biar dunia ini indah dan  jauh dari kebisingan.  Entah khayalan macam apa itu, begitulah yang ingin kutulis dalam ceritaku. Sebab yang kuamati dalam keseharianku, orang-orang terlalu sibuk, tak tahu apa yang mereka kejar. Saking sibuknya, mereka tampak seperti robot bernyawa. Bekerja dengan cermat namun tanpa jiwa. Tiada hati.  Kering garing kriuk olahannya.

Aku sudah menyiapkan sekaleng Nescafe yang kubeli tadi di Food Court kampus.

Di luar gerimis  mulai turun. Titik-titik air berpercikan di antara dinding kaca jendela.

Malam mulai merambat. Kelap-kelip lampu kota menaburi pekat malam. Surga kini semakin merapat. Artinya ide-ide liar dan kegilaanku mulai terpacu. Semakin memanas. Aku mesti gesit menangkap dan memasaknya hingga matang.

Tengah aku bekerja, kuendus satu sosok bayangan menghampiri. Seorang laki-laki. Anak kuliahan. Mungkin sebayaku.  Ia memilih ruang kaca di seberang.

Walau tak persis di sebelahku, sepertinya aku mulai merasa terganggu. Sebab dinding kaca ini polos dan tembus pandang hingga 2-3 ruang sekalipun. Orang bisa saling mengamati antar ruang. Dan tak enak memang bila melakukan sesuatu dan serasa diamat-amati.

Biasanya aku nyaman karena di area lantai dua ini hanya ada aku. Sendiri. Tapi kali ini duniaku serasa dirobek. Konsentrasiku pecah. Aku tak lagi bebas berekspresi. Tak bebas lagi meratap padahal butuh. Tak lagi puas mengeluarkan air mata padahal ingin. Tak lagi pulang dorm membawa kelegaan habis menangis. Sebab, yang kubutuhkan dari kesendirian malam di ruang kaca ini adalah memecahkan air mata yang ingin berbicara setelah lama-lama menampung sakit[4], yang finalnya bisa menganakkan sebuah cerita. Namun dengan datangnya lelaki itu, segala yang ingin kuluapkan di ruang kaca itu tiba-tiba saja tertahan, tak bisa keluar. Malam-malamku yang sempurna kini dikacaukannya. Sirna sudah kedamaianku. Risau karenanya.

Objek perhatianku malah beralih padanya.  Biar begitu tetap kujaga ia tak boleh tahu.  Aku berpura-pura mengedit huruf  yang sebenarnya bisa ditunda.

Sedikit kulihat lelaki itu mengeluarkan peralatannya. Gulungan karton dalam sebuah tas panjang bundar berwarna hitam, serta beberapa pensil coret. Tak lama, ia keluar lagi. Kemudian muncul kembali dengan buku-buku tebal. Setelah membolak-balik beberapa halaman ia pun duduk diam. Terpaku. Lama. Tanpa melakukan apa-apa. Kupikir mungkin ia sedang melamun.

Lama tepekur ia pun menarik napas kemudian menunduk penuh perhatian pada kertas kartonnya. Ia menggambar.

Aku menonton.

***

Tak hanya semalam itu. Esok malamnya ketika aku baru saja beberapa menit di situ, ia pun datang. Memilih tempat yang sama. Dengan laku yang sama pula. Ia menggambar. Aku berhenti. Menonton dari jauh.

            Kupikir hanya dua malam itu. Mungkin sedang ada tugas kuliah. Tapi tidak. Malam-malam selanjutnya ia begitu. Menggambar. Dan  entah, aku pun berlaku yang sama seperti sebelumnya. Menonton.

Sebenarnya bisa saja aku terus berseteru dengan tulisanku tanpa harus merasa terusik. Tapi aku memang tak suka terlihat lakuku yang mungkin sebentar bisa menarik perhatian. Tak mau aku ia tahu. Risih rasanya. Akibat aku tanggung, selalu pulang dengan dada yang sesak dan berat. Menampung sakit itu lagi. Resah dalam derap langkahku.

***

Malam mulai merambat. Kelap-kelip lampu kota menaburi pekat malam. Pengunjung perpustakaan kian berkurang. Satu per satu mulai beranjak keluar. Suara bising kendaraan di luar gedung pun makin menyayup. Hanya beberapa mahasiswa yang masih setia dengan tumpukan buku-buku dan laptopnya di deretan meja-meja, serta para cleaning service yang sibuk membereskan ruangan, juga petugas perpustakaan yang  membawa buku-buku di atas kereta dorong untuk segera ditata sesuai kategorinya.

Sebentar lagi keadaan mulai sepi. Hening. Surga makin merapat. Aku baru saja mau memulai menikmati duniaku ketika kudengar pintu kaca berderit. Ah, manusia itu lagi.  Hanya datang sebagai pengusik. Kapan ia tak usah datang lagi? Dalam hati aku mengumpat kesal.

Bertekad plus bersumpah-sumpah tak peduli kehadirannya, kugeser kursiku membelakanginya. Anggap saja dia tak ada. Atau pun kalau ada, anggap saja dia pun sibuk dengan dunianya dan sedikitpun tak memperhatikan walau sekadar untuk melirik. Ini perpustakaan. Tempat terindah yang pernah aku temui sejak aku tahu aku di bumi. Di sinilah bisa kualami secuil surga. Bercinta dengan malam, mengandung ide, menganakkan cerita dengan keheningan sebagai saksi. Tak boleh ada seorang manusia pun yang berhak mengambil keindahan ini dariku.

Kukuatkan hatiku dengan kalimat itu berulang-ulang. Dan aku pun mulai terbenam dengan draft ceritaku.

***

Tak sadar waktu sudah hampir pukul 11 malam. Tumben sekali alarm HP tak bergetar. Biasanya ia pasti berisik di angka 10 lebih sedikit. Kucari-cari dalam tas laptop. Tak ada. Panik. Di mana ia kutaruh?

Kini aku mesti pulang. Sekarang. Ini sudah jam malam. Jam batas masuk dorm.

Harus cepat masuk kamar bila tak mau melanggar peraturan dorm yang ujung-ujungnya bisa mendapat hadiah surat cinta menggigit dari pihak universitas.

Cepat-cepat aku mengembalikan beberapa buku ke tempat penyimpanan sementara. Mengambil tas laptop dan menapaki tangga kayu menuju lantai 3, gerbang perpustakaan. Kugesekan Smart Card. Pintu pun terbuka. Aku keluar, dan segera berlari ke arah lift.  Kupencet angka 1. Nomor itu berkedip. Pintu lift terbuka. Aku masuk. Aman. Tinggal meluncur turun.

Tapi tidak. Pintu lift yang sudah mau tertutup itu tiba-tiba berdebuk keras. Satu sosok datang menyerempet. Terjepit. Lalu mengaduh. Lift pun membuka mulutnya kembali. Huh… Dia lagi, tetangga seberang ruang kaca. Dalam hati aku hanya tersenyum. Berasa puas seorang manusia sepertinya ditimpa sakit serupa itu.

Gubrak… senyumku pun lenyap.

Isi tas kain yang sedang dipapahnya jatuh semua. Gambar-gambarnya berceceran. Cekatan ia menunduk dan meraup segera. Hampir tak menyisakanku sedikit waktu untuk dapat  menengok gambar-gambarnya.

“Permisi, angkanya belum dipencet,” kataku baru sadar kalau sedari masuknya laki-laki itu, tak kurasakan ada getaran lift sedikit jua.

“Ooh, ya, sorry…sorry,” serta merta dipencetnya angka 1 dan terasa lift mulai bergerak perlahan-lahan ke bawah.

Saat monitor menunjukan angka 1, lift berlenting. Pintunya terbuka. Astaga… Semua tampak gelap. Pekat.

“Oh, apakah kita salah lantai? Ini basement barangkali,” seruku panik.

“Hmm….? Sepertinya tidak. Sedang mati lampu barangkali. Lihat, monitor tidak tertera angka. Tombol-tombol di sini tak ada yang menyala,” selembar sahutan tenang yang hanya bisa kudengar tanpa melihat muka.

“Sepertinya lift kita menggantung. Sebentar, coba saya lihat seberapa jauh kita dari lantai,” suara itu meneruskan. “Hmm… kira-kira semeter. Ayo, kita harus melompat turun,” ajakannya yang terdengar ditujukan ke arahku.

“Oh, tidak. Bagaimana mungkin?” spontan aku menyahut. Takut dan panik, aku malah tak bisa berdiri tenang.

Ah, pulang… Hari begini gelap, bagaimana aku bisa pulang. Sudah makin telat malahan. Andai saja aku bawa HP, setidaknya pada teman sekamar kukabari keadaanku sekarang yang sedang sekarat.

“Tak apa. Mari kubantu. Maaf, saya Jo.” Kurasai hangat tangannya yang dijulurkan.

“Lib…Libry.” Kusebut namaku dengan terbata, lalu menyambut tangannya.

“Yuk, Libry. Barengan sampai hitungan ketiga.”

Pada hitungan ketiga tubuh kami bertumbukan dengan lantai dengan selang waktu yang sangat singkat tanpa sempat menerapkan konsep impuls guna memperlama. Sakit tapi melegakan. Rasanya ingin kucium bumi sepuas-puasnya. Seperti lepas kangen sudah lama mengambang di udara dan tak menapaki bumi.

            Di lantai yang melegakan itu kami berdua duduk. Membisu dibungkus malam.

***

            “Hmm… Gelap begitu pekat,” katamu lirih seraya mengarahkan cahaya senter HP yang serupa butiran kelereng, bahkan tak mampu menembusi pekatnya malam. “Sedang bulan dan bintang terhalang asap tebal. Kau, mari kuantar pulang,” kau melanjutkan.

“Hah…? Apa kita harus menggerapai dalam gelap? Tidak, terima kasih. Aku ingin diselimuti malam. Sebentar saja. Kau, pulanglah duluan.”

Senyap sesudahnya.

“Kulihat lukisanmu gelap semua,” kupecah kehehingan.

“Iya, semua bercerita tentang malam.”

“Malam…? Oh, ya, aku pun sedang menulis cerita tentang orang malam pecinta malam.”

“Suka kau pada malam?” tanyamu.

Desah nafas saja yang terdengar.

“Hanya malam yang mau menemani menangis,” akhirnya kusahuti. Tak tahu kenapa harus kukatakan itu padamu.

            “Siang itu terlalu angkuh. Dia pongah seperti puncak menara pencakar langit,” giliranmu.

“Hanya malam yang bisa mengerti,” aku.

 “Siang selalu menampakkan kepalsuan. Tapi malam… malam tak pernah ingin kita bertopeng.”

“Apa saat kau berkata begitu, kau sedang tak bertopeng pada malam?” tanya yang seolah-olah ingin menyelidik.

“Tanyakan pada malam dan biar ia menjawab,” kau menyahut.

Malam, sungguh kuharap kau seperti dalam ceritaku. Sepederlapan hari lamanya. Jangan cepat datang pagi. Sebab kini sedang kualami secuil surga.

“Aku tak ingin tidur. Sebab sayang bila kulewatkan,” aku bergumam pelan.

“Benar, malam itu mengenalkanmu pada dirimu. Jangan ketika datang malam kau lantas meninggalkannya dan tertidur,” kau menanggapi.

Ah, betapa kau mendengar suaraku yang sangat pelan itu.

Hari terus malam. Kita lanjut menikmatinya dalam diam. Dengan malam kulanjutkan ceritaku yang tertunda. Tak ingat lagi aku pulang dorm, walau bentang jarak hanya 300 meter.

Malam itu mengenalkanmu pada dirimu… Tiba-tiba patah kata itu kembali terngiang tengah aku bekerja.

Sontak aku berhenti. Kupandangi kau di sebelahku. Tak jelas rupamu kulihat memang. Tapi kutahu kau asyik melukis dalam gelap.

Malam mengenalkanku pada diriku? Apa? Benar demikian? Kalau begitu seperti apa diriku? Aku mendebat pikiranku sendiri.

 “Malam itu misteri. Menunjukan padamu bahwa kau sendiri tak akan pernah tahu seperti apa dirimu. Selamanya kau hanya akan menebak-nebak,” jawabmu seperti sudah membaca kepalaku sambil terus asyik menggambar.

***

Berita heboh di TV. Stasiun TV Nasional menghimbau semua orang berdiam saja dalam rumah. Sebab hari ini terjadi peristiwa aneh. Matahari tak pernah muncul walau sudah hampir tengah hari.  Hari harusnya siang nampak seperti malam. Lampu-lampu bahkan tak mampu menerangi kota.

Hingga sore hari, saat di jam tangan setiap orang dan jam dinding di tiap rumah mengarah pada pukul 03.00 pm, matahari pelan-pelan menampakkan dirinya. Dan tengoklah, di setiap gedung-gedung pemerintah maupun swasta, di bawah kemegahan papan nama gedung itu pastilah ditemukan lukisan misterius dengan background hitam disertai entahkah itu sebaris puisi, entah kalimat apa…

“Mestilah malam lebih panjang

Biar banyaklah waktu kau merenung

Apa sudah  dengan hati kau bekerja

Sudah yang terbaikkah kau tabur?  

Untuk apa berlelah-lelah di siang hari mengejar kesemuan belaka,

  hingga tak sepenggal napas pun kau hembuskan untuknya?”

***

Malam berikutnya, seperti jam-jam malam biasanya aku datang. Kutinggalkan Smart Card di meja petugas, dan segera menuju satu kotak locker setelah menerima koin yang diberikan petugas.

“Eh, Maaf, cik Libry,” panggilan petugas locker perpustakaan menghentikan langkahku. “Semalam cicik tidak mengembalikan kunci locker sehingga barang-barangnya diambil petugas.”

Oh, my God. Kuingat sekarang… Semalam tak sadar HP kutinggal di sana serta beberapa alat tulis.

“Oh, ya. Ini… tadi barusan juga ada titipan buat cicik,” katanya sembari merunduk membuka laci meja kerjanya. Lantas kembali menegakan kepala. Menyodorkan padaku sebuah gulungan.

Dengan ragu kuterima gulungan itu. Membawanya ke deretan lemari locker. Tulisan tinta perak di atas lembaran karton hitam.

“Jangan takut mencintai malam. Tetap terjagalah walau dalam malam, sebab dalam malam aku ada.”  Ttd, Jo.

Juli, 2012

 Notes:

  1. Smart Card : Kartu mahasiswa
  2. Locker : Deretan rak berkunci sebagai tempat penitipan barang pengunjung perpustakaan
  1. Cicik : Panggilan kakak perempuan untuk orang Tionghoa
  2. Membahasakan sepenggal kutipan puisi Mario F Lawi, ‘Suaraku adalah jerit pecah airmatamu menampung sakit,’ dari Maka Cinta pun Jadi.

Iklan

One comment on “Orang-orang Malam Pecinta Malam

  1. […] Postingan ini masih tetap berproses. Bahkan untuk cerpen, saya punya satu cerpen tentang malam. Ini link cerpennya. Setingannya saya ambil di area UPH. Atmosfer UPH memang melekat kuat dalam diri […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s