Berburu Kodok di Kali Mapoli

Suara jangkrik bernyanyi saling bersahutan. Lampu neon di setiap pojokan nyaris membuat malam tak seperti malam.

Di luar kilat menyambar-nyambar. Disusul suara gemuruh menggelegar. Sepertinya malam ini akan turun hujan deras.

Aku sedang menyelesaikan kisi-kisi soal EBAS ganjil kelas X yang sangat kompleks. Pukul tujuh lewat akhinya selesai. Sebenarnya ingin kulanjutkan yang SMP karena bagiku itu belum terlalu larut. Namun cuaca di luar agak mencekam, maka aku pun berkemas pulang.

Di lobby, Pak Hikmah, Bu Yoan, dan Pak Gusti terlihat sedang bersiap hendak keluar. Ada juga perlengkapan duah buah senter, satu gelas aqua besar,  dan plastik bening.

Ketika ditanya hendak ke mana, mereka menjawab, “Ke kali”

“Kali mana?”

“Di belakang sini, kali Mapoli,” Bu Yoan antusias menjawab.

“Lho… malam-malam saat cuaca sedang marah begini?”

“Ya. Ini sudah mau jalan kok.”

“Buat apa?”

“Tangkap kodok.”

“Hah…??”  aku hanya bisa melongo dengan jawabannya.

“Kok ibu tidak percaya. Ini pak Hikmah yang mau tangkap kodok,” Pak Gusti menimpali.

“Oh, buat percobaan?”

“Betul, ini pak Hikmah sudah siap dengan botol aqua besar. Buat masukin kodok. Ini ada plastik untuk tangkap. Saya dengan pak Gusti bawa senter.”

“Yah, kok saya tidak diajak?”

“Oh, kita pikirnya ibu sementara serius dalam kelas sana. Ayo, simpan tas dulu. Mari kita pergi.”

“Mari, saya ikut. Ayo…” tertawa.

Dari pada balik ke kelas, saya pun mentipkan tas di ruang TU.

Tiba-tiba…

“Naci… Sudah mau pulang, tunggu beta,” Kak Novi baru muncul keluar dari ruang lab komputer.

Disusul Asty di belakangnya.

“Masih mau pergi ke kali.”

Kak Novi tak terlalu menanggapi serius jawabanku. Ia terus menuju kelasnya di 8.2 membereskan perangkatnya. Sementara Ibu Asty langung menuju kami sebelum ke kelasnya yang ada di samping lobby.

Setelah bertanya dan diyakinkan kalau misalnya turun hujan, maka aku dan ibu Yoan sudah menyediakan sebuah plastik yang besar untuk menampung HP dan jam tangannya. Ia pun masuk membereSkan beberapa perangkatnya di kelas 9 dan keluar kembali dengan siap melakukan perjalanan.

Kak Novi pun datang.

“Ayo, Naci, pulang. Lho, mana tas? Lho, yang lain, kalian mau ke mana?”

Kami tertawa nyengir.

“Ayo ka, ikut ke kali,” kata kami beramai-ramai.

😀

“Apa? Kali, kali mana?” benar serupa saya ekspresinya.

“Mapoli,” jawab Pak Gusti. “Di belakang sini,” sambil tangannya menunjuk ke arah barat.

“Malam-malam begini, bagaimana kalau hujan?”

Aku dan bu Yoan serempak mengacungkan bawaan kami masing-masing. Bu Yoan menunjukan plastik yang dicopotnya dari entah bungkusan apa, sedang aku menunjukan payung baru berwarna merah yang baru saja dibeli Ibu Merry siang tadi dan ditaruh di ruang TU. Katanya payung itu dibeli lantaran Pak Ged merasa prihatin akan kondisi guru dan siswa hari senin kemarin saat hujan-moving class jadi terhambat.

“Ini jaminannya.”

“Oh, ya, Kak simpan tas dulu, di TU saja.”

“Ah, jangan. Bagaimana kalau saya langsung pulang, dijemput Meni..?” Ka Novi menjawab enggan.

“Oh, ya, bukannya di tas Kak sudah ada jas hujannya?” seruku begitu sebab seingatku ransel kami sama-sama punya jas hujan.

“Oh, ya, coba saya lihat dulu.”

Ka Novi yang sudah hampir di gerbang, berbalik ke lobby, meletakan ranselnya di meja piket, membuka resleting bawah ranselnya, menarik keluar carikan kain berwarna hitam itu dan berseru, “Ini ada, jas hujan. Ok, aman.”

😀

“Ok, ada. Itu, tas ibu Novi ada jas hujannya,” Ibu Yoan menyambut riang.

Berempat kami pun pamit pada Pak Iron yang bertugas menggantikan Pak Morgan jaga malam ini. Lalu bergerak keluar jalan samping Yupenkris (tidak lewat gerbang utama), lewat jalan tikus 😀 soalnya di gerbang utama jalannya putus. Pas ada tukang-tukangnya sedang mengerjakan pagar tembok yang belum jadi. Kami meminta permisi saja terus lewat.

Selama perjalanan itu semua terlibat obrolan seru. Tentang rumah-rumah elit yng kini megah berdiri padahal dulunya itu kawasan hutan jati, serta katanya ada juga kuburan Raja Kupang di situ. Tempat kost Bu Herni dulu yang baru kami lihat. Lalu sebuah lorong sempit menuju tempat kost Pak Hikmah, Teacher Uthe, dan Ci Novi, yang katanya sering dilewati Teacher Uthe setiap lari pagi.

Mendekati kali Mapoli, aku baru sadar kalau sebenarnya aku sudah pernah melewati jalanan ini sebelumnya bersama Elis.

Kali itu dikelelingi pohon-pohon berbatang tinggi besar. Keadaan sekitar begitu gelap dan seram. Kami pun bergurau bagaimana jika datang bahaya, misalnya ada perompak atau sejenis itulah.

“Oh, tidak. Di sini, aku sudah punya senjata,” kuacungkan payung itu tinggi-tinggi. “Tinggal menggunakannya untuk menusuk…”   tak sempat kuteruskan karena agak takut.

Para ibu pun bisa menyingsingkan lengan baju.

Ups… Jangan lupa. Di sini, ada orang jago taekwondo. Sudah senior. Punya yunior dia di UPH lagi.

Tiba di kali Mapoli. Kami merangkak turun  menembusi gelap. Kilat yang menyambar dan guntur menggelegar tak lagi kami pedulikan. Semua perhatian menuju ke bentangan kali di depan kami. Lebarnya kurang lebih 4 meter. Sedikit batu-batu.

Pikir kami kali itu berair dan mungkin kami hanya akan menunggu di pinggir sambil melihat Pak Hikmah dan Pak Gusti yang menangkap.

Tapi, malah yang nampak, kali itu sama sekali tak ada airnya. Hari Senin kemarin baru saja hujan turun deras sekali. Sekarang ini hanya lumpur. Lumpur yang sudah mau mengering.

Tapi, alamak… Aroma kali itu tercium seperti kita sedang berada di dekat kandang babi.

Kami pun hanya menunggu di pinggir. Tiba-tiba Pak Gusti berteriak memangil Pak Hikmah kalau ada kodok. Pak Hikmah pun datang, dengan tangan kirinya ia memegang erat botol aqua dan tangan kanannya yang terbungkus plastik, ia membungkuk. Terlihat juga gerakannya yang ragu-ragu, geli, dan takut terbenam lumpur, ia mencoba menangkap kodok.

Dan lihat….

Kodok itu tidak tertangkap. Ia melompat. Pak Hikmah tidak putus asa. Ia melangkah maju cepat, membungkuk, menepuk lumpur sebab kodok itu sudah lebih dulu melompat. Pak Hikmah maju lagi, menepuk. Tangannya malah kena kerikil tajam. Kodok itu sudah di depan lagi.

Demikianlah berkali-kali Pak Hikmah dan kodok itupun berkejar-kejaran ria sebelum akhirnya Pak Hikmah dapat menaklukannya, lantas dimasukan dalam botol aqua yang tak lupa diberikan jendela.

Kami yang tadinya cuman berdiri di pinggir kini baru sadar kalau kami pun sudah di tengah-tengah kali. Berdiri di atas hamparan lumpur yang selebar tiga meter. Sepatu yang kupakai sudah berlumur lumpur. Mau keluar, sayang sudah terlanjur. Lagi pula seru sekali melihat Pak Hikmah berkejar-kejaran dengan kodok.

Memang betul begitu (tebe ona na-Bahasa Amarasi),  aku snediri, Bu Yoan, Ibu Asty, dan Bu Novi memang dilahirkan untuk menjadi suporter hebat. Memberi support dengan suara dan cahaya senter HP yang tak seberapa terang.

Kemudian, kami pun berjalan pelan menyusuri kali sambil masing-masing dengan senter HP-nya mengarahkan ke sana ke mari bermaksud membantu Pak Hikmah mencari kodok. Siapa tahu melihat satu sedang bersembunyi di balik batu.

Tiba-tiba, entah siapa yang lebih dulu. Serempak semua senter bergerak balik ke belakang. Ada satu kodok kecil. Jauh lebih kecil dari yang pertama. Adegan kejar-kejaran pun berulang. Seperti sebuah film. Pak Hikmah dan kodok pemainnya dengan Pak Hikmah pelaku utama, kodok pelaku sampingan. Sedang Pak Gusti sutradaranya sekaligus kameramen karena ia yang memegang senter besar (cahaya utama) dan kami… mesti dengan jujur kuakui… kami hanya penonton (hanya itu yang bisa kami lakukan…Maaf pak Hikmah… setidaknya kami sudah menemani…:D)

Sebagaimana kodok pertama, kodok kecil itu pun akhirnya tertangkap. Pak Hikmah memasukannya ke dalam botol aqua. Entah bagaimana tiba-tiba kodok itu lepas dari cengkraman tangan kanan Pak Hikmah lalu melompat menjauh. Ia melompat dengan cepat sekali sehingga pak Hikmah pun harus kembali mengejarnya.

Kodok kecil itu ternyata pintar. Ia berlari keluar kali. Masuk ke semak-semak, dan pak Hikmah tak mau kalah begitu saja. Pak Hikmah pun ikut masuk ke semak-semak hingga senter dari Pak Gusti tak dapat menerangi lagi. Pak Hikmah pun kembali ke kali. Kami sebagai penonton menyayangkan kejadian itu. Pak Hikmah sudah berusaha capek-capek, kodok itu malah lepas dan menghilang…:(.

Namun dengan sikap yang tak mudah menyerah serta dukungan yang solid dari sutradara + kameramen dan para penonton, Pak Hikmah pun akhirnya berhasil membawa keluar empat ekor kodok dari kali Mapoli di dalam botol aqua.

Menurutnya itu sudah cukup. Kami menjajaki tanjakan keluar jalanan. Sambil menyibak dedaunan di pinggir jalan, kami menengok ke selokan.

Tak seberapa jauh. Tiba-tiba ada seekor kodok yang jauh lebih gendut dibanding empat kodok yang didapat di kali tadi. Pak Hikmah yang semula sudah membuat plastik yang tadi ia pakai segera mencari plastik bekas sampah. Didapatinya plastik bekas minum es sirup. Ia bungkus tangannya. Hanya butuh tiga tepukan dan ia menangkap kodok gendut itu.  Sementara kami tetap menjadi pentonton dan supporter yang setia.

Beberapa meter kemudian, orang paling depan menemukan satu lagi kodok gendut. Untung Pak Hikmah belum membuat plastik bekas minum es sirup. Hanya sekali tepuk, dan ia langsung meraup kodok gendut itu. Sudah enam ekor. Pak Hikmah pun membuang plastiknya.

Kami berjalan pulang menuju sekolah. Pak Gusti mengarahkan kami melewati jalan lain yang bukan kami lewati tadi. Sebuah tempat yang dulu sempat menghebohkan Kupang dengan aksi-aksi manusia unik berpikir pendek.

Hingga tepat di depan SMKN 5, Kak Novi menemukan satu lagi kodok kecil yang sedang beria-ria melompat di pinggir jalan. Seperti biasa yang lain berseru, dan Pak Hikmah segera menoleh ke kiri dan ke kanan mencari plastik. Bertepatan juga, tak jauh di samping pagar tembok sebuah halaman rumah, ada drum tempat sampah. Pak Hikmah menuju ke situ, mengorek sebentar dan kemudian menemukan plastik bening. Plastik itu ia pungut dan menuju kodok yang sedang dihadang Kak Novi.

Pak Hikmah datang. Membungkuk. Mencoba menangkap. Kodok itu cukup lincah. Ia menghindar. Pak Hikmah bergerak mengikuti. Kodok itu melompat lagi. Ia melompat ke tengah jalan raya depan sekolah. Pak Hikmah dibuat kalang kabut. Untung saat itu tak ada kenderaan lewat. Dan karena sudah cukup mahir, di tengah jalan itulah Pak Hikmah akhirnya menangkap kodok tengil itu.

Hingga tiba kembali di sekolah pukul sembilan lewat. Pak Hikmah sudah mengantongi tujuh ekor kodok. Besar dan kecil.

Inilah pengalaman berburu kodok di kali saat cuaca sedang labil.

 Pengalaman ini mengingatkan saya kembali pada masa kanak-kanak saat membaca buku cerita anak tentang bocah-bocah desa yang berburu jangkrik di malam hari. Kala itu, saya ingin sekali merasakan pengalaman, berburu jangkrik di malam hari bersama teman-teman. Dan saya hanya bisa mengalami menangkap kunang-kunang di bulan Desember sendirian. Oh, ya, btw, sekarang saya kok jarang lihat kunang-kunang di bulan Desember..:(

*Waktu terjadi, Rabu, 21 November 2012

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s