Pawai Menabur Tangis

* Dalam Jurnal Sastra Santarang-Komunitas Sastra Dusun Flobamora ed. November 2012

Siang itu panas terik membakar badan. Jalan-jalan raya berwarna putih berdebu. Sedang di sampingnya debu tanah merah seperti tepung kering merah bata. Beberapa hari terakhir ini terlihat beberapa bocah berjumlah 12 menyusuri jalanan kota. Mereka menceceri jalanan dengan air mata kurasan mereka. Berharap datangnya banjir air mata hingga bisa memekarkan kembali tanaman dan tumbuhan yang sudah kering dan layu.

Sebab dua minggu lalu, seorang perempuan tua berkerudung hitam mendatangi tempat bermain mereka. Di tempat itu biasanya mereka berkumpul untuk bermain siki doka, gala asing, atau tari bambu*. Ketika perempuan tua itu muncul, bertepatan mereka sedang berkelahi. Saling mengolok-olok suku. Hingga keluar dari mulut mungil mereka ucapan kata-kata tidak senonoh tentang suku lawannya.

Lama perempuan tua itu mengamati mereka sebelum kemudian ia bertanya, “Tahu tidak, kalian tinggal di mana?”

Karena terkejut didatangi tiba-tiba seorang asing, mereka pun berhenti saling mengejek. Yang baru saja memoncongkan mulutnya hendak mengatai teman, tiba-tiba mendongkkan kepala dan mengendurkannya. Yang baru setengah mengangkat lengan hendak meninju teman, perlahan-perlahan menurunkan kembali ke posisi semula. Yang baru memungut batu hendak melempar kepala teman, pelan-pelan melepaskan kembali batu kerikil hingga terpelanting jauh ke belakang.

Mereka semua kaget karena kahadiran seorang perempuan tua asing yang tiba-tiba.

“Ini daerah apa namanya?”

Neka Mese*,” jawab mereka beramai-ramai.

“Oh, ya, letaknya di propinsi apa ini?”

“NTT,” seumpama mereka dilemparkan pertanyaan oleh guru di sekolah, bocah-bocah itu berlomba menjawab. Antusias tinggi.

“Hmm, Neka Mese bukannya sama arti dengan  A ate*?”

“Iya, nek,” sahut seorang bocah lelaki berwajah bulat berambut keriting.

“Juga dengan Haingi ati*?

“Iya.” Pelan-pelan karena heran, bocah lelaki barambut lurus bermancung tinggi memberi sahutan.

“Begitu juga Dalek esa*?”

“Oh, iya, nek,” sambil tersenyum bangga, bocah berkulit putih berambut lurus itu menyahut dengan cepat.

“Juga dengan Taramitu tominuku*?”

“Iya, benar, nek,” sahut seorang gadis kecil dengan rambut keritingnya yang sangat kering, sambil tersenyum malu-malu.

“Sama dengan Heade*?

“Ya, begitu,” meluncur cepat tanggapan dari seorang gadis kecil berambut hitam lurus sembari menatap teman-temannya.

“Bahasa-bahasa semua ini asalnya dari mana?”

“NTT,” seperti tadi, mereka semua semangat berlomba menyumbang suara.

“Ya, kalau begitu… artinya apa?”

“Satu hati, sehati” teriak mereka beramai-ramai.

Detik berikutnya berderailah tawa mereka, membaur dengan sapuan udara kering yang hawanya panas menggerahkan.

Sambil mengipasi tubuhnya dengan sekerat kulit binatang, perempuan tua itu mendengus, “Waduh… panasnya.”

Lalu kembali ia beralih kepada bocah-bocah yang masih tetap berdiri melongo menatapnya.

“Ok, NTT termasuk negara mana?”

“Indonesia.”

“Ok, Indonesia dikenal dua musim, iya kan?”

“Ya, musim kemarau dan musim hujan.”

“Ya, musim hujan mulai bulan apa dan berakhir bulan apa?”

“Oktober hingga April.”

“Nah, sekarang bulan apa?”

“November.”

“Ya, benar November. Sudah akhir bulan lagi. Kok sekarang tidak hujan? Buktinya panas menyengat begini. Terik. Gerah. Pohon-pohon sudah lama kering, bunga-bunga dan tanaman pada layu. Bahkan airnya saja susah. Bagaimana?”

Anak-anak nampak bingung. Satu-satu mulai saling bertatapan.

You’re special children,” ujar nenek itu seraya tersenyum.

Sedang anak-anak yang masih belum pulih dari keheranan, makin bertambah pulalah rasa heran mereka akan ungkapan bahasa asing dengan ucapan huruf  “r” yang sengaja dibuat-buat hingga terdengar seperti nada manja seorang bocah.

“Oh wow… You can speak English too, and you say ‘one heart’ in many languages, what do you want from us?” melangkah maju seorang bocah lelaki bermata biru, kulitnya jauh lebih terang dibanding teman-teman sepermainannya. Sedari tadi, ia hanya duduk-duduk di atas ayunan sambil tersenyum mengawasi sebayanya yang saling berolok-olok suku.

Of course I can. But I’m not  coming to show that I can speak many languages.

“Aku tak datang padamu untuk menunjukkan bahwa aku bisa banyak bahasa, melainkan karena kulihat kalian anak-anak istimewa,” sekaligus mengulang, ia berkata sambil melempar pandang pada semua anak di situ, tak ada seorang pun luput dari tatapan matanya yang tajam.

“Kalau kalian ikut prihatin pada tanah kalian, saya anjurkan kalian untuk berbuat sesuatu. Mau tidak kalian?” lanjutnya.

Tak ada seorang pun dari mereka yang menjawab. Hingga majulah seseorang. Dialah yang tertua di antara mereka. Umurnya kira-kira 12.

“Berbuat apa, nek?” tanyanya dengan tangan yang masih memegang batangan bambu permainannya.

“Kalau kau mau. Kutunjuk kau menjadi pemimpin rombongan ini. Lalu ikutilah apa yang akan kukatakan padamu.”

Lelaki jangkung itu sekejap menoleh kepada teman-temannya yang berdiri melongo di belakang, mungkin menunggu instruksi apa yang akan dikeluarkan dari mulutnya.

“Jangan bimbang, wahai pemuda! Kalian memang anak-anak istimewa. Kepada kalianlah aku diminta sang Ibu datang ke sini.”

Maka terjadilah apa yang tampak sekarang. Rombongan anak-anak itu kemudian bergerak, menebarkan air mata mereka, yang dikuras dari mata cekungnya di sepanjang jalanan kota. Mereka bergerak keliling kota. Jalan-jalan besar mereka lalui. Lorong-lorong gang yang gelap pun mereka terobos. Kadang menemui jalan buntu, dan mereka akan mencari jalan keluar.

Sepanjang perjalanan, mereka hanya berjalan di atas trotoar. Mereka berjalan sambil menangis, meraung, meringis, dengan kepala mendongak ke atas. Kelihatannya seperti segerombolan peserta pawai, kegiatan yang biasa diadakan saat Natal, Paskah, atau acara 17-an. Bedanya, pawai ini hanya dibawakan bocah-bocah. Gayanya pun beda. Mereka pawai menabur tangis.

Pemandangan itu kemudian menjadi bahan berita yang hangat. Hingga menjadi tontonan menarik bagi setiap orang yang mereka lewati. Saat ada orang mendekat dan menanyakan apa yang terjadi, serentak mereka berhenti, diam membisu, pelan-pelan mendatangi orang itu, memelototkan mata ke arahnya tanpa bicara sampai penanya itu bergerak menjauh sendiri, dan para rombongan itupun melanjutkan pawainya menabur tangis.

Hari ini mereka pun memasuki jalanan desa.  Jalanan di sini sudah mulai sepi. Kenderaan yang lalu lalang pun jarang. Begitu juga orang-orangnya.

Memasuki sebuah hutan yang lebat, tiba-tiba dari belakang mereka, bermunculanlah mobil-mobil keranjang. Berlompatan turun pada pasukan dengan menyandang bedil. Para bocah diringkus satu-satu.

Dalam usaha mereka meronta melepaskan diri, tak ada terdengar satu ucapan yang keluar dari mulut mereka. Para petugas yang meringkus jadi terheran-heran. Hanya dengan sedikit usaha, bocah-bocah inipun dinaikan ke atas mobil, dimasukan ke dalam keranjang. Di dalam mobil keranjang, mereka berusaha lepas namun tetap dengan mulut terkunci.

Hingga tiba kembali di kota, di sebuah gedung putih beratap merah bata, mobil berhenti. Bocah-bocah itupun diturunkan, digiring masuk ke dalam layaknya gembala sapi menghalau gembalaannya. Semua mereka berjumalah 12 orang, bocah laki-laki dan bocah perempuan, digabung satu ruangan.

Beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah orang bersepatu menuju ruangan mereka disekap.

“Bicaralah padaku. Kenapa kalian berlaku demikian?” tanya seorang lelaki tinggi besar berbadan tegap. Ia mungkin pemimpin tempat itu.

Tak ada suara sahutan dari bocah-bocah itu.

“Kenapa kalian berlaku demikian, bocah-bocah dekil?” ulangnya tegas dan kasar.

“Heh…kalian tidak sedang dikunci mulutnya kan?” sudah tak sabar, ia pun merunduk, dan membuka ngangakan mulut seorang bocah laki-laki yang paling besar, ia pemimpin rombongan itu.

“Mana lidahmu? Ok, lidahmu tidak pendek. Bicara padaku, bocah tengil!” bentaknya seraya memain-mainkan lidah anak lelaki itu dengan telapak tangan kanannya yang besar dan lebar.

Akhirnya, entah jijik, entah muak, entah karena marah, bocah lelaki ini pun menghempaskan lengan kanan petugas kurang ajar itu.

Ia berdiri seraya mengibaskan celana. “Ok,” katanya.

Begitu mengeluarkan satu kata itu, semua mata para bocah terarah padanya. Tampaknya mereka tidak menerima tindakan pemimpinnya. Sebagian menampakkan wajah kecewa. Sebagian air mukanya menunjukan keputusasaan, sebagian lagi marah. Namun satu hal sama, tetap tak keluar suara.

“Saya akan bicara,” lanjut pemimpin rombongan para bocah.

Terdengar tarikan napas dari rekan-rekannya. Mereka mendengus kesal dan marah.

“Sudahlah teman-teman, biar aku yang menanggungnya.”

Setelah berkata demikian, ia pun berpaling. “Baik bapak-bapak. We’re the special childrens. Kami ini anak-anak istimewa. Anak-anak yang dipilih melakukan hal baik, namun kalian orang-orang yang masuk dalam kategori orang pasrah, yang hanya berdiam diri menunggu keadaan membaik dengan sendirinya, tahunya hanya menunggu datangnya bala bantuan, melihat kami sebagai gerombolan orang aneh lalu mengambil keputusan meringkus kami untuk dimasukan ke dalam ruang sempit pengap ini.”

Petugas yang berdiri di depannya terhenyak kaget. Ia berancang-ancang mengambil langkah mundur ke belakang.

“Tak tahukan kalian, bahwa aksi kami menabur air mata di sepanjang jalanan adalah perintah dari sang Ibu. Lihat saja… aksi kami  sudah hampir dua minggu. Tepatnya besok. Banjir berkat akan turun di mana-mana,  melimpahi daerah kita yang kering kerontang tiada air. Pohon-pohon yang lagi meranggas dan layu akan mekar hijau kembali. Tanah-tanah akan kembali menumbuhkan tanaman sayur dan buah yang bernas-bernas. Tak ada lagi sejauh mata memandang, hanya tumbuhan semak dan ilalang berwarna pastel. Kalau kalian tidak percaya, silakan…tunggu saja! Tidak lama. Sebentar, tak sampai sejam dari sekarang.”

“Anak… jangan kau meracau! Hidup ini perlu realistis, nak,” kata bapak berbadan tegap sembari tangannya disentuhkan pada bahu pemimpin rombongan itu.

“Nak…kau masih kecil, jangan bebani dirimu dengan kondisi daerah kita dulu, ya nak. Kau masih perlu menikmati masa kecilmu,” sambung bapak itu dengan nada sedih.

Hatinya trenyuh dengan kenekatan bocah-bocah dekil ini.

Memang, kondisi daerah kita begini, tapi kenapa harus kalian yang memikirkannya, wahai…bocah-bocah? Keluhnya dalam diam.

Saking terharunya, dari dua sudut matanya merembes air mata hangat yang tanpa dihalang satu barang secuil pun segera jatuh ke lantai. Seketika, dua titik air mata itu berubah menjadi dua genangan kolam yang dengan segera membanjiri ruangan tempat mereka berada. Anehnya, genangan dari air mata itu panas bagai air mendidih. Mereka yang di dalam ruangan, semuanya baik bocah-bocah dan petugas yang terkena rembesan air, kulitnya pun melepuh. Tak sampai hitungan menit untuk melihat mereka tumbang satu persatu bagai pohon tua meradang lalu ambruk ditimpa badai angin.

Keterangan:

Siki doka, gala asing, atau tari bambu: istilah untuk permainan tradisional NTT

Neka mese: Satu hati/sehati dalam bahasa Timor; A ate (Flores); Haingi ati (Sumba); Heade (Sabu); Dalek esa(Rote), Taramitu tominuku (Alor)

Itu semua satu dalam FLOBAMORA

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s