Kesan Natal Tahun 2012

Aku tak tahu harus menulis apa untuk mengungkapkan keindahan kenangan natal masaku kecil dulu sekaligus lagu kesedihan yang sekarang lagi melandaku.

Desember sudah berakhir. Sebentar lagi masuk tahun baru. Tinggal beberapa jam lagi. Hingga sore aku menulis ini, matahari baru saja lamat-lamat menghilang di balik peraduannya. Tanah negeriku masih kering. Berdebu. Entah akan berapa lama negeri ini dibiarkan kering.

Udara masih hangat. Di langit, bintang-bintang kecil mulai bermunculan. Sebuah tanda sudah jelas, tak akan hujan malam ini. Bunyi petasan dan meriam bambu disertai sorakan anak-anak kecil terdengar di berbagai penjuru mata angin. Di ujung timur dan barat desa, maupun bagian utara dan selatan dekat laut.

Berbeda sekali dengan suasana dan semarak natal masa kecil aku kecil dulu. Natal rasanya begitu syahdu dan agung. Malam selalu pekat. Langit tak berbintang. Sore-sore hujan baru saja reda. Tanah masih basah. Harum dedaunan yang mulai mekar. Kilat masih menyambar-nyambar di kejauhan. Guntur sesekali terdengar. Tampak di pucuk pohon randu, beberapa burung hujan bertengger dan menyanyi. Mereka bersyukur untuk hujan.

Kelam malam mulai merambat melingkupi bumi. Di kejauhan terdengar bunyi lonceng gereja. Di setiap sudut malam pasti bermunculan kunang-kunang. Bila keluar rumah, langsung disambut puluhan hingga ratusan kunang-kunang di keadaan sekeliling. Sekalipun begitu, yang kudengar katanya kunang-kunang lebih banyak didapati di mata air. Mata air jernih bening yang terletak di pinggir hutan yang kira-kira 200 meter jauhnya dari rumah.

Di malam-malam natal, anak-anak kecil memegang kembang api. Membawa Alkitab kecil dan uang kolekte. Berjalan dalam keheningan menuju gereja. Hati berdebar-debar karena sebentar ia akan berdiri di panggung gereja untuk menyanyi atau membaca puisi atau bermain drama atau yang lebih istimewa dia yang membakar lilin di pohon natal. Tampil di depan ratusan jemaat yang duduk berdempet-dempetan di dalam gedung gereja dimana jemaat duduk taksim dan mata mengarah ke depan. Di dalam gereja, banyak orang dengan wajah baru dan tampilan baru. Duduk dalam keheningan remang cahaya lampu gereja. Suasana di luar tampak sunyi. Hanya suara jangkrik. Orang-orang berbicara dengan berbisik.

Saat sang liturgos berbicara dari mimbar kecil di depan sana, semua memperbaiki cara dan gaya duduk. Diam taksim mengarahkan mata kepala ke depan. Menyanyikan lagu-lagu natal pun dengan segenap hati dan ketulusan jiwa, mengeluarkan suara terbaiknya. Doa pun dengan sungguh dinaikan. Mendengarkan suara pembawa Firman pun dengan saksama. Mengamini dan ketika keluar mereka membawa pulang sesuatu yang berharga dan dihidupi. Sesampai di rumah semua anggota keluarga berkumpul untuk berdoa. Mereka menaikan doa dalam keheningan, kesunyian yang indah.

Namun kini yang kulihat sepertinya hanya sebuah perayaan hingar bingar yang tak ubahnya pesta ulang tahun seorang anak konglomerat atau semacam pesta perkawinan. Bunyi petasan di mana-mana. Suara tape berdentum-dentum dari berbagai pernjuru mata angin. Melagukan tidak saja lagu natal melainkan juga lagu-lagu pop, baik lagu berbahassa Inggris, Indonesia maupun lagu-lagu daerah, orang-orang menyebutnya dengan KUMAMBO, Kupang Manado Ambon.

Anak-anak kecil berteriak memanggil temannya bukan dengan nama yang dibaptis bapak mamanya di gereja atas nama Tritunggal, melainkan dengan julukan-julukan lain yang menunjukan ciri fisik si anak, misalnya si hidung tomat, si muka monyet, si gigi kuda, di mata sapi, si kaki bebek, si leher onta, dll. Dan teriakan mereka membahana seiring dentuman petasan ke seantero kampung.

Ah, inikah natal?

Di manakah natal yang berlagukan malam kudus sunyi senyap itu? Silent night holy night telah berubah menjadi crowded night

Ah, sebentar. Kutinggal saja dulu tulisanku ini. Aku hendak bersiap ke malam natal. Natal rayon di tempat saudaraku yang rumahnya terletak di atas bukit. Mungkin ada sesuatu di sana yang bisa kubagikan untukmu lewat tulisan ini.

***
Ok, mari kembali.

Pagi ini ketika aku bangun, kudengar banyak ocehan mengenai natal semalam. Ah, benar memang, memprihatinkan sungguh keadaan negeriku. Semalam seusai kebaktian natal dan sedikit ramah tamah sebentar, kami pun pulang. Karena besok hari Minggu, hari orang-orang bersekutu di gereja. Karena di sini kebaktian satu kali di pagi hari, maka mau tak mau harus bangun pagi. Orang tak bisa bangun pagi bila tidurnya subuh.

Tak dinyana, sebuah insiden menjelang subuh terjadi. Beberapa anak muda yang saat kebaktian natal entah mereka di pojokan mana satu per satu mulai memasuki area di bawah tenda yang tadi diduduki jemaat. Entahlah di mana mereka saat kebaktian natal sehingga mereka baru masuk sekarang.

Lagu-lagu natal yang menyemaraki suasana ramah-tamah tadi kini diganti dengan lagu-lagu pop, seperti yang sedang tren sekarang, opa gangnam style, lalu lagu-lagu disco yang tak kumengerti apa.

Malam semakin larut, tuan rumah saja bahkan sudah masuk kamar dan tidur. Di luar, di bawah tenda hanya para pemuda yang bergerombol dan bercerita sambil menggoyang-goyangkan badan mengikuti alunan musik. Suara tawa mereka menyaingi suara tape yang dengan salon berundek-undek itu. Tak lama beberapa orang keluar dengan sepeda motor. Datang kembali dengan membawa beberapa botol minuman. Mereka bersama-sama menenggaknya di bawah tenda sambil berjoget-joget. Mabuk-mabukan tak terhindarkan. Mereka sudah bicara tidak karuan. Hingga menjelang subuh, mereka menuntut pada operator tape, lagu-lagu yang diputar tadi diganti. Sedari tadi hanya lagu-lagu itu melulu yang diputar, itu alasan mereka. Pemintaan mereka bukannya tak diacuhkan operator, tapi berhubung lagu-lagu hanya dari HP yang hanya sedikit memorinya, maka para pemuda naik pitam. Sambil terhuyung-huyung mereka mendatangi beberapa orang yang duduk di samping speaker dengan susunan berundek-undek itu. Singkat cerita hampir terjadi perkelahian antara para pejoget yang sudah habis minum-minum dan para penjaga tape dan speaker berundek-undek itu. Bahkan ada di antara para pejoget yang sampai masuk rumah untuk berkelahi dalam rumah orang.

Keributan itu sampai membuat tuan rumah kaget dan terbangun. Saat terbangun para pemuda yang baru muncul seusai ibadah natal itu satu per satu mulai mundur dan keluar dari tenda ruangan. Entah karena buru-buru sampai mereka lupa dengan botol-botol minum mereka di bawah tenda. Hingga akhirnya, pada seorang pemuda yang tak berpendirian mereka memintai tolong diambilkan sisa-sisa minuman tadi.

Pagi hari ketika fajar menyingsing, saat keadaan berangsur-angsur terang, didapati ada sebuah kursi plastik yang hancur berkeping-keping. Entahlah, bagaimana kursi itu digerayangi sampai berkeping-keping demikian, tak ada yang tahu. Para pemuda pejoget itu sudah kembali ke peraduan mereka masing-masing sementara sang ibu, pemilik rumah tersebut harus kembali memunguti keping-keping kursi plastik dan mengumpulkannya dalam sebuah kotak kayu. Hingga sore hari bahkan besoknya pun tak ada satu pemuda pun yang datang untuk bertanggungjawab atas kerusakan kursi tersebut. Ini bukan soal berapa duit yang hilang, tapi di mana moral para pemuda yang awal datang dilayani baik-baik dengan memberi mereka minum kopi dan makan kue-kue tapi pulang dengan meninggalkan sebuah kesan yang …. (anda meneruskan sendiri)

Ah, sungguh tragis para pemuda itu. Baru kemudian aku tahu, di antara mereka, ada anak terpelajar di kota. Di sini justru mereka yang memimpin kekacauan. Sungguh sayang seribu sayang. Memprihatinkan memang keadaan negeriku. Rasanya aku ingin menangis. Tapi apa yang mesti kutangisi sementara di luar sana mereka bilang, lho…ini urusan kami kok lu yang sedih??? Lalu mereka pun tertawa-tawa.

***
Demikian cerita singkat yang dapat kutuliskan tentang kesan natal tahun ini.

Malam ketika aku menulis ini, malam terakhir tahun 2012. Esok pagi tahun 2012 hanya kenangan. Maka malam ini, doaku…menyongsong tahun 2013, orang-orang negeriku mau merenungkan kembali hati, pikiran, tutur kata dan laku mereka. Merefleksikan kembali apa yang sudah mereka lakukan selama ini dan hal apa yang ingin diperbaharui di tahun 2013 dan seterusnya.

Sungguh aku berdoa, kiranya Tuhan datang menjamah dan melembutkan hatimu, pikiranmu, agar kau mau membuka diri pada-Nya, mau mendengarkan ketika orang tua memberi nasihat, dan melakukan apa yang ia sampaikan dalam nasihatnya. Jangan kau anggap dirimu lebih pandai dari orang tua, dan begitu saja bangun berdiri, berjalan keluar rumah meninggalkan ia bersuara sendiri.

Hingga akhirnya ia diam dan hanya bisa menangis dalam hati, ‘Bagaimana aku bisa mengatasi anakku?’ Sayangilah orang tuamu, sebab ia sedih bila kau keluar rumah dan menimbulkan keonaran di masyarakat. Mungkin kau punya alasan tertentu untuk keluar dan meninggalkan ia mengoceh sendiri. Alasan itu bisa bermacam-macam, mulai dari mungkin kau tak suka dengan cara orang tua memperlakukan kamu, orang-orang yang suka membandingkan kamu dengan saudara-saudarimu, atau karena merasa diri tak memiliki kapasitas menjadi pemimpin hingga kau mulai mencari aktualisasi diri di tempat-tempat seperti itu dan bertemu dengan geng-geng yang merasa senasib dan mulailah kalian bertualang.

Sobat, di dunia ini bukan saja kau yang menderita. Ada banyak orang yang sebenarnya punya masa kelam. Mereka punya hak untuk marah, kecewa, dll. Tapi mereka memilih untuk berjuang, tidak membiarkan keadaan mengalahkan mereka. Merekalah yang punya kendali atas keadaan. Mereka pun menang. Mampu melewakti kekelaman dan mereka bisa menjadi terang bagi orang lain, menghadirkan rasa yang berbeda ketika mereka datang berkumpul serta meninggalkan kesan yang baik ketika mereka beranjak pergi. Mereka saja bisa, kenapa kau tidak? Saya yakin, kau pun bisa.

Mari kita berdoa kepada Tuhan. Dia punya kuasa.

Iklan

One comment on “Kesan Natal Tahun 2012

  1. Suhandy Manik berkata:

    Wow….nice reflection Ci!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s