Mendoakan Resolusi Tahun Baru

1

Sumber: shutterstock

Sharing:

Biasanya pada malam pergantian tahun, keluarga besar kami berkumpul dan berdoa bersama. Sebagai seorang anak, saya hanya ikut-ikutan saja. Kesan saya dari acara itu adalah sambil menunggu lonceng gereja berdentang, kami anak-anak akan bermain atau bernyanyi atau menonton atau yang sudah remaja saling bercerita tentang teman-temannya, sementara para orang tua akan mengobrol tentang silsilah keluarga, cuaca, dan masalah lain-lainnya.

Saya tak pernah diminta -atau sebenarnya diminta tapi saya yang lupa dan kurang sadar- mengenai resolusi atau perbaikan diri atau pembaruan. Setahu saya pada malam pergantian tahun masuk tahun baru, keluarga besar berkumpul untuk selesai berdoa bersama,  kami kemudian makan-makan dengan daging anjing, lalu pulang untuk esok pagi sepulang gereja orang-orang saling berjabatan tangan.

Begitu pemikiran yang saya bawa bahkan sampai kuliah pun demikian. Belum ada kesadaran saya untuk membuat tahun baru berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2009 masuk 2010, saya merayakan pergantian tahun baru di Karawaci. Waktu itu kami beberapa orang keluar Benton Junction untuk melihat kembang api yang dinyalakan di seputaran Lippo Karawaci.

Saat itu, entah ada dorongan apa dalam hati saya, sehingga membuat saya berdoa, “Tuhan, saat saya masih usia 20, sebelum menginjak benar usia 21, saya sudah harus menghasilkan sebuah karya.

“Itu tekad saya. Komitmen saya. Doa saya, yang saya ungkapkan di depan Times Bookstore–kini berubah nama menjadi ‘Books and Beyond’–, tepat beberapa detik sebelum jarum kecil menunjuk pada angka 12.

Setelah itu saya pulang dan berdoa lagi kamar, berdoa untuk hal ini. Puji Tuhan, doa saya dikabulkan. Pada akhir Maret tahun 2010, beberapa minggu sebelum ulang tahun saya tepat 21 tahun, cerpen pertama saya berjudul “Persinggahan Bocah Indigo” dimuat di Pos Kupang Minggu. Saya ingat doa saya di malam pergantian tahun baru itu. Saya percaya Tuhan yang bekerja untuk hal ini.

Sejak saat itu saya percaya doa di malam pergantian tahun punya daya yang luar biasa. Malam pergantian tahun baru berikutnya tahun 2010, saya mulai menaikan doa-doa dan mimpi saya tentang apa saja. Waktu itu  saya berdoa khusuk untuk sayembara novel di DKJ di TIM.

Pertengahan Januari 2011, saya pergi untuk mengikuti malam penganugerahan pemenang. Di jalan besar Cikini Raya, Jakarta, saya mengalami kecelakaan. Saya jatuh saat turun dari KOPAJA. Kaki kiri saya terkilir dan harus pincang-pincang saat berjalan.

Saat itu dalam hati saya bergumam, “Wah, sepertinya saya bakal masuk nih. Tuhan membuat saya menangis lebih dulu sebelum saya harus tertawa gembira”.

Saya pun makin percaya doa di malam pergantian tahun baru punya daya ampuh yang luar biasa. Saya berpikiran untuk menaikan doa-doa lagi di malam pergantian tahun baru waktu mendatang.

Namun sayang, hasil yang saya dengar tidak seperti yang saya harapkan. Di antara 5 karya dari antara 300-an yang dibacakan kutipannya, saya tidak termasuk. Malam itu saya berjalan pulang dengan kaki pincang ke tempat kawan saya yang kuliah di IKJ. Untung ada teman kuliahnya orang Bali yang tinggal serumah dan bisa mengurut yang terkilir. Malam itu juga langsung dibereskan kakiku. Aku harus histeris menahan sakit.

Sedih memang, tapi mau tidak mau saya harus merenung kembali. Apa yang telah saya lakukan ini?

Saya kemudian menyadari bahwa sebenarnya saya selama ini memang sengaja hanya memanfaatkan doa di malam pergantian tahun baru, dan malah mengabaikan doa yang semestinya saya lakukan tiap hari tiap saat. Saya kurang sungguh-sungguh berdoa untuk proses keikutsertaan saya dalam sayembara itu, tetapi saat malam tahun baru cara dan gaya saya saat berdoa persis mengikuti cara saya berdoa tahun lalu (ini tak perlu diberitahu). Ketika malam pergantian tahun lewat, saya tidak sungguh-sungguh lagi berdoa. Pikir saya, ah, yang penting kan saya sudah berdoa dengan sungguh-sungguh di malam tanggal 1 Januari itu kok.

Dalam berdoa juga, perhatian saya bukan fokus pada doa itu melainkan pada waktu, momen, dan cara atau gaya, serta kata-kata yang mesti saya ucapkan. Saya merasa, saya berlaku bukan lagi seperti manusia yang berpribadi yang berdoa kepada Tuhan yang juga adalah pribadi, melainkan seperti robot kepada kepada alat yang sudah diprogramkan. Saya pikir berdoa untuk resolusi-resolusi dan harapan-harapan di malam pergantian tahun baru, pasti dengan otomotis dikabulkan Tuhan sekalipun didoakan tanpa hati yang sungguh-sungguh.

Hal lain yang saya renungkan adalah motivasi saya ketika saya berdoa di malam pergantian tahun baru 2010 masuk 2011 itu. Saya kemudian menelisik masuk ke kedalaman diri saya. Saya dapati, motivasi doa saya salah. Bahwa doa saya itu sebenarnya tujuannya tidak kepada kemuliaan Tuhan sendiri, melainkan untuk kesenangan saya pribadi. Bukankah Tuhan mau mengabulkan doa dan memperkenankannya kalau doa kita itu memang tulus untuk Tuhan dan bukan keinginan daging kita sendiri.

Tahun 2009 masuk 2010 yang mengenai cerpen, motivasi saya adalah saya mau berkarya untuk Tuhan. Saya menyadari Tuhan sudah memberikan talenta yang unik pada saya. Maka itu tanggung jawab saya adalah mengembangkan talenta saya itu. Sebenarnya saya ragu. Dan selama itu memang saya bergumul dengan Tuhan mengenai talenta itu. Tuhan seakan menunjukan tanda kalau memang ada karyaku yang dipublikasikan sebelum April 2010, maka memang benar aku punya talenta di situ dan itu berarti aku harus berkarya, maka karyaku adalah untuk Tuhan.

Sedangkan doa di malam pergantian tahun baru 2010 masuk 2011, yang saya pikirkan mengenai sayembara itu adalah hadiah uangnya dan nama saya yang akan mulai bersinar. Memprihatinkan bukan diri saya ini?

Saya begitu mementingkan diri saya sendiri. Mengandalkan kekuatan dan pengalaman dan mitos yang tidak bernilai kekal. Lupa dan malah abai bahwa dorongan untuk berdoa dengan tulus adalah pekerjaan Roh Kudus. Itupun anugerah. Doa tidak harus dan tidak hanya punya kuasa saat malam tahun baru saja. Tidak harus hanya saat diiringi dentuman kembang api-akhirnya satu rahasia cara berdoa saya buka.

Kalau ini sampai terjadi lagi, maka sudah jelas menunjukan bahwa hubungan saya dengan Tuhan sangat dangkal. Maka itu kini penting sekali mendekatkan diri kepada Tuhan, di dalam doa dan puji-pujian kepada Dia. Hubungan yang dekat dan intim dengan Tuhan pasti membuahkan hikmat, sehingga dalam pikir, tutur, dan laku kita pun pasti benar dan menjadi berkat bagi orang lain. Bukankah harapan kita sebagai pengikut Kristus adalah menjadi berkat, sebagai garam dan terang dunia bagi orang lain?

Akhirnya, kesimpulan dari sharing saya ini adalah bahwa berdoa tentang resolusi atau perubahan atau mimpi atau apapun itu, bukan hanya didoakan sungguh-sungguh pada malam pergantian tahun baru saja lalu pada hari selanjutnya tidak peduli lagi dengan doa ataupun kalau berdoa hanya asal sekadar berdoa.  Dalam berdoa mestilah dengan segenap hati, kapan saja dan di mana saja. Berkaitan dengan tahun baru, maka membuat resolusi dan mendoakan resolusi  tidak hanya di malam pergantian tahun baru saja, melainkan resolusi apa yang sudah kita sepakati dengan diri sendiri terus didoakan sekaligus dikerjakan (diperjuangkan). Hal ini tentunya tidak bisa berjalan kalau kita tidak dekat dengan Tuhan sekaligus takut penuh akan Dia. Sehingga biarlah resolusi apapun itu, kita tahu motivasinya adalah untuk kemuliaan Tuhan semata. Sebab dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dialah kita diciptakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s