Kala Aku Terjaga

*Terbit dalam harian lokal Minggu (tanggal terbit sudah lupa)

Aku merasa beberapa tahunku hilang. Entah di mana aku berada setamat SMA, hingga kini aku mendiami sebuah rumah berlantai dua dengan tamannya yang indah di samping, pun ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna. Sepertinya aku baru saja terjaga dari tidur panjang.

Malam ketika terjaga, aku berada dalam sebuah kamar yang temaram cahaya lampunya. Seorang pria di satu ranjang yang sama, mendengkur halus dengan alur tenang.

Namun entah,  tiada sedikit pun rasa takutku melihatnya. Perlahan-lahan aku bangkit, lalu duduk.

Tak jauh dari ranjang, sekitar dua meter, kulihat ada sebuah kotak serupa kereta dorong. Kucoba menengok apa yang ada di dalamnya. Alamak… Ada bayi, sedang tertidur pulas.

Seperti ada yang menggerus hatiku. Tiba-tiba aku merasa, dia yang tertidur dalam kereta dorong itu adalah diriku sendiri. Itu tubuhku, dagingku, jiwaku sendiri. Aku ingin mendekapnya erat-erat. Kusorongkan kedua tanganku untuk mengangkatnya. Mendadak seseorang memegang kedua pundakku, sedikit membungkuk dan menyandarkan kepalanya di leherku.

Hmm… Dia pria yang tadi tidur di sisiku.

“Kamu terbangun sayang,” sapanya dengan suara lembut di belakangku.

“Grasia tampaknya tidur pulas. Kau mau menggendongnya?” ia bersuara lagi, bertanya.

Tak kujawab dengan kata, aku menganggukan kepala pada pria itu.

“Ok, sini kubantu,” katanya.

Ia bergeser, berdiri di sisi kereta. Perlahan-lahan ia mengangkat sang bayi dan meletakannya di tanganku. Kusambut dan kudekap bayi mungil itu di tengah terang yang samar-samar.

Sekalipun cahaya tak cukup terang, kulihat jelas binar mata pria itu. Ia tersenyum lembut menatapku. Aku tercekat.

Tiba-tiba bayi mungil yang di tanganku terbangun. Mengeluarkan suara tangisan yang entah, sangat menenangkan jiwaku.

Sambil kudekap bayi mungil yang disebut Grasia, aku menatap pria yang berdiri di hadapanku. Ia pun balas menatap mataku lekat-lekat, seolah ingin menggali semua hal tentang aku di dalamnya.

“Aku ingin Grasia tidur bersamaku di ranjang,” kataku pelan dengan nada berharap.

“Oh, ok.. boleh, mari!” sahutnya.

Segera diambilnya kasur kecil yang menjadi alas tidur Grasia di kereta tadi, dibentangkannya di antara aku dan dia tadi berbaring. Langsung saja kubaringkan bayi mungil di tempat itu. Aku pun berbaring sambil tangan kananku membelai kepalanya. Pria itu pun menyodorkan tangan kirinya pada kami.

Malam dini hari itu, rasanya aku seperti baru terlempar dari langit. Banyak tanya berkecamuk dalam kepala. Namun kusimpan untuk besok.

Besoknya, pagi-pagi sekali, sebelum aku terbangun, dia yang di sampingku semalam sudah bangun lebih dulu. Aku terbangun pun karena pintu kamar didorong, bertanda ada orang yang masuk. Pria itu.

“Oh. Sudah bangun rupanya,” sapanya seraya tersenyum kecil. “Ayo, sikat gigi! Dan akan kubantu kamu mandi,” ia menarik tirai jendela.

Keadaan kamar kini jadi lebih terang. Sinar matahari pagi menerobos masuk.

Sehabis mandi dan berganti pakaian, kulihat tak ada lagi bayi mungil di atas ranjang. Ke mana dia kini?

“Di meja ada sarapan. Mari kutemani kamu makan. Setelah itu aku akan mandi, dan berangkat kerja. Kamu di sini seperti biasa, tunggu aku pulang. Baru kemudian berdua kita menjemput Grasia.”

Ia pun beranjak lebih dulu ke ruang makan. Kuturuti saja permintaannya. Kami menikmati sarapan pagi dalam diam di meja makan bundar.

Tak pernah aku merasa seperti ini dulunya. Semuanya berjalan bagai mimpi. Bahkan pria yang bersamaku semalam pun tak kukenal siapa namanya. Lagaknya seperti seorang suami. Atau… atau apa aku ini seorang istri?

Oh, tidak. Tidak mungkin. Aku ini seorang remaja. Aku tahu aku baru 18 tahun lebih beberapa bulan. Seminggu lalu ada pengumuman UAN SMA dan aku lulus. Menghargai undangan teman-temanku, kami berpesta di sebuah villa di pinggir pantai. Di tempat itu, terungkaplah padaku apa itu kenikmatan dunia, yang sering disebut orang-orang… keindahan. Satu geng ditambah entah orang dari mana, kami saling menelanjangi dan ditelanjangi.  Sepulang dari sana, di pagi hari buta itu, ayahku dan ibuku melihat tubuh dan mukaku yang buruk. Dirajamnya aku dengan kawat-kawat besi.

“Ini yang kau pelajari selama di sekolah, bodoh?” teriak ayah berang.

Setelah puas mengerahkan energi maksimalnya, lantas diusirnya aku dari rumah. Ah, ayahku, seorang yang biasanya memperlakukanku dengan baik, bisa juga sekejam itu padaku, putri satu-satunya. Sedang ibu, ia hanya menatap jauh dan tak berbuat apa-apa. Kenapa ibu tak jua mengulurkan tangannya untukku, sekadar menarikku dalam pelukannya dan mengusap-usap luka di tubuhku? Malahan ia hanya membisu melihat bilur-bilurku.

Bagaimana harusnya aku? Tak kuat lagi aku memberi penjelasan pada dunia. Pikirku waktu itu,  adalah lebih baik mati. Ya, bunuh diri sebagai kebebasan terakhir. Aku pun melangkah gontai menuju jembatan. Dan harusnya aku sudah mati sekarang. Tapi tidak…?

Tidak, aku hidup kini. Oh…

“Oh… Di mana hari-hariku sesudahnya. Di mana?”

“Ada apa, sayang?” cepat pria di hadapanku menanggapi.

“Heh… Kamu. Kamu siapa?” serangku balik.

Mata kupelototkan penuh padanya.

“Aku, Theeu, suamimu,” jawabnya tenang.

“Tidak. Aku belum punya suami. Mana mungkin aku sudah bersuami? Sejak kapan aku bersuami? Aku masih remaja,” aku berteriak. Kalau bisa, biarkan dunia mendengar.

Aku berlari keluar meninggalkan rumah. Kutinggalkan pria itu seorang diri di meja bundar dengan sarapan yang tak sempat kuhabisakan. Walau dalam hati, kutahu ada sesuatu yang tertinggal. Bayi mungil itu. Di mana gerangan dia?

Aku berjalan tak tentu arah. Setidaknya menghindar dari rumah itu. Rumah dengan seorang pria dan bayi yang walau aku tak menginginkannya, aku merasa mereka sebagian diriku. Mereka separuh jiwaku.

Aku menelusuri jalanan kota yang padat lalu lintas. Kucari satu tempat yang bisa meneduhkan aku, yang bisa memuaskan aku, membuat duniaku menjadi indah kembali.

Di kota sebesar Jakarta ini, orang tak saling mengenal. Ini kesempatanku untuk menyendiri. Pria yang mengaku suamiku tak akan bisa mudah melihatku. Seharian berjalan hingga malam hari, tak kutemui seseorang yang bisa memberiku makanan. Tak apa. Aku bisa bertahan seharian. Besok, mungkin aku bisa bekerja untuk mendapat makanan.

Tak tahu ke mana aku mesti menginap, aku hanya duduk-duduk bersandar saja di sebuah bangku halte bus. Orang-orang datang dan pergi, sementara aku tetap menempel di bangku panjang itu.

Hingga menjelang dini hari, datang dua orang laki-laki berbadan tegap dengan perutnya yang menggantung bak ibu hamil. Keduanya duduk di samping kiri dan kanan, menghimpitku yang di tengah. Aku hanya bisa menutup hidung, menahan aroma tak sedap yang menguar dari tubuh mereka. Keduanya saling diam satu sama lain. Tak lama, adegan yang sama persis seperti ketika aku baru lulus SMA pun terulang kembali. Betapa brutalnya kedua laki-laki itu bahkan melebihi brutalnya masa-masaku di SMA dulu. Aku dikoyak mereka habis-habisan. Dikunyah sampai benar-benar lumat daging tubuhku. Hingga menjelang matahari terbit, mereka meninggalkanku sendiri dengan terlebih dahulu menyelipkan beberapa lembaran uang di dekat kepalaku.

Oh Tuhan, sampai sejauh mana hidupku hingga begitu buruk dan menjijikan. Baru kemarin aku terjaga dari mimpiku dan menyadari betapa aku tak layak hidup, apalagi dihargai seorang pria seperti yang ada di rumah berlantai dua kemarin. Betapa aku tak layak mempunyai sorang suami seperti dia yang kemarin mengaku sebagai suamiku. Apa aku harus mencoba mati untuk yang kedua kali?

Tidak, aku tak ingin pulang ke rumah yang samalam kutiduri. Itu bukan rumahku. Kalau memang benar dia suamiku, maka aku tak pantas berada di situ. Aku lebih tepatnya berada di jalanan ini. Aku sudah terlanjur basah sewaktu tamat SMA, hingga barusan tadi. Bukan hanya basah. Karena jatuhku bukan di air yang jernih bening melainkan di kubangan lumpur. Kotor, becek, dan bau.

“Oh, sangat menjijikan hidupmu,” aku berteriak sendiri. Tak peduli didengar orang yang lalu lalang di dekatku.

“Mellyn… Sayang!” Kaget aku mendengar suara yang sama dengan kemarin. Lembut. Namun panik dirinya tak bisa bersembunyi dari wajahnya.

Ah, lelaki. Manismu makin membuatku tak layak untukmu.  

“Sayang, aku kemarin hingga semalaman mencarimu ke mana-mana,” ungkapnya terengah-engah.  “Ah, aku senang, berarti kamu sudah pulih sekarang. Oh, terima kasih, Tuhan…Kau kembalikan istriku.” Terpancar kegembiraan yang luar biasa dari air muka dan nada ucapannya.

“Mari kita kembali ke rumah,” ajaknya lembut. “Nanti kujelaskan, ke mana saja hari-harimu selama ini. Yang penting kau sudah sehat kembali,” dengan wajah berseri-seri.

“Tidak… Aku baru saja…” tak sanggup meneruskan, aku meronta berusaha melepaskan diri. “Ah, ada dua orang lelaki besar datang padaku semalam.” Aku lemas. Jatuh terduduk.

“Tenang… ya… ya…” ia mengangguk. “Ayo, mari kita kembali ke rumah.”

Ia menuntunku masuk mobil. Pulang.

Di belakang angin berhembus pelan. Dan aku… Tuhan… Kau tahu, aku tak sanggup lagi berkata-kata.

 

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s