Telah Datang Pertolongan #nulisbuku

Niat awal saya memang kalau saya menerbitkan buku, maka buku pertama saya adalah sebuah novel. Namun niat itu berubah ketika suatu hari di sekolah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saya mengajar materi menulis cerpen dan buku referensi untuk anak-anak kelas 7 SMP tidak ada selain yang berjudul ‘Kiat Menulis Cerita pendek’ yang dalamnya juga dilampirkan contoh cerpen beberapa para penulis lainnya.

Di tengah berlangsungnya proses pembelajaran, beberapa anak laki-laki terkikik dan tampak ribut. Setelah saya cek, rupanya keributan kecil itu disebabkan buku ‘Kiat Menulis Cerita pendek’. Pada salah satu cerpen berkisah tentang tentang kehidupan sebuah rumah tangga di mana suami istri dalam rumah tersebut sedang membuka usaha kecil-kecilan. Di dalam cerpen tersebut terdapat narasi yang menurut saya dan memang sebenarnya belum sesuai untuk dibaca anak-anak SMP.

Dari peristiwa di ruang kelas itu saya jadi prihatin. Di satu pihak kita ingin anak-anak sejak dini dikenalkan dengan sastra. Namun ketika disodorkan malah cerita-cerita tersebut bertemakan cerita orang dewasa tentang perselingkuhan dan percekcokan rumah tangga antara suami istri. Tidak salah memang tema-tema seperti diangkat, sebab memang demikian realita yang terjadi, hanya untuk sasaran pembaca anak sekolahan semestinya juga perlu dipikirkan. Dan untuk sastra anak seperti yang saya harapkan masih sangat minim.

Hal ini menggugah saya kenapa tidak saya bukukan saja cerpen-cerpen saya yang sudah tersebar di beberapa surat kabar minggu, jurnal sastra, blog pribadi, maupun yang pernah saya ikutkan dalam lomba nasional. Toh, cerita yang saya buat berkisah tentang kehidupan anak dan segala problemanya.

Tidak mau kejadian di ruang kelas tersebut berulang, maka waktu itu saya akhirnya naskah cerpen saya print sendiri, saya foto kopi hingga 10 kopian lalu dijilid. Proses itu saya kerjakan sendiri demi terlihat seperti sebuah buku. Kemudian saya beri gambar dan menambahkan beberapa kata di depan sampulnya supaya tampak seperti buku. Naskah itu saya bagikan kepada anak-anak.

Lama kelamaan naskah fotokopian seperti itu tetap membuat saya tidak puas. Anak-anak yang membaca pun sepertinya agak kesusahan juga sebab jilidannya yang panjang cukup mengganggu ketika mereka membaca. Hal ini membuat saya berpikir untuk mencari penerbit mana yang kira-kira bisa membuat naskah ini menjadi sebuah buku. Ya, benar-benar sebuah buku antologi cerpen. Tidak hanya berupa semacam fotokopian seperti ini.

Saya ingin mengajukan ke penerbit namun dari profil penerbit-penerbit yang saya baca, saya tahu bahwa sepertinya tema cerita seperti punya saya ini sepertinya sulit diterima. Biasanya mereka menerima cerita-cerita dengan tema-tema romantis, atau tema-tema yang memang sedang digandrungi pasar, apalagi kalau dengan sasaran pembaca anak SMP/SMA. Pastilah cerita-cerita teenlit atau chicli yang diburu. Akhirnya naskah saya tetap menjadi naskah fotokopian biasa, yang kadang memang dipinjam anak-anak buat baca-baca kala istirahat.

Hingga suatu hari saya mengikuti sebuah lomba yakni Kompetensi Menulis Nusantara, sebuah lomba menulis yang diadakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan nulisbuku. Dari sinilah saya bertemu dengan nulisbuku. Karena penasaran maka saya mencoba mencari profil nulisbuku.com lewat internet. Lalu munculah websitenya. Ketika membuka dan membaca bagian FAQ dan layanan (service) dari nulisbuku.com, saya entah kenapa saya langsung jatuh hati. Tertarik untuk menerbitkan kumpulan cerpen saya lewat nulisbuku.com saja. Penyajian informasi yang transparan, menerbitkan buku tidak harus tergantung selera penerbit atau selera pasar.

Ini dia, telah datang pertolongan buat saya. Begitu saya kirim email ke nulisbuku, saya pikir, mungkin saja sama dengan penerbit buku yang lain, yang biasanya pasti beberapa hari baru dibalas atau mungkin bahkan diabaikan saja dan tak pernah ditanggapi. Namun tak saya sangka bahkan tak sampai sejam kemudian email saya langsung mendapat tanggapan dari admin nulisbuku. Wah, saya begitu kaget dan senang. Ternyata berhubungan dengan nulisbuku tidak sesulit dan serumit yang saya bayangkan. Respons yang cepat dan ramah dari admin@nulisbuku.com membuat saya semakin terkesan. Hingga pada liburan natal tahun lalu, saya intens mempersiapkan naskah saya untuk siap terbit di nulisbuku.

Terima kasih nulisbuku. Hadirmu yang tidak membatasi ruang imajinasi penulis dan tidak menuntut harus sesuai selera pasar, kini naskah-naskah saya yang tercecer telah berbentuk buku dengan tulisan indah di sampul depan Persinggahan Bocah Indigo”.

Gambar

Foto di atas adalah foto para desainer dan ilustrator buku ‘Persinggahan Bocah Indigo’. Mereka adalah siswa SMP dan SMA (kecuali desainer) yang sudah lebih dulu membaca cerpen saya lalu dibuat ilustrasi. Cerita jelasnya dapat anda baca di https://anicetunayt.wordpress.com/2013/05/20/persinggahan-bocah-indigo-2/

Iklan

One comment on “Telah Datang Pertolongan #nulisbuku

  1. […] ataupun lukisan. Saya sendiri punya kumpulan cerpen yang juga bercerita tentang bocah. Judulnya Persinggahan Bocah Indigo, atau dapat disingkat dengan PIB. PIB itupun adalah cerpen pertama saya yang dipublish di media […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s