Dua Sastrawan Wanita NTT

Justru yang diperlukan penulis adalah demikian, review dan kritikan-kritikan yang mengarahkan agar karyanya mendatang lebih baik dari yang sudah ada saat ini. Maka janganlah takut dikritik. Karena dari kritikan itulah kau belajar. Bahkan untuk sastra Indonesia, kita sebenarnya sangat butuh adanya kritikus. Di kepala dan tangan merekalah, karya sastra akan dikenal, dikaji, dan dinikmati orang tidak hanya untuk saat ini.

Seperti halnya dalam artikel ini, judul di atas ditulis oleh bapak Yoseph Yapi Taum, seorang pengajar sastra di Univ. Sanata Dharma Jogjakarta, yang juga pernah menulis beberapa cerita dan artikel mengenai sastra. Beliau menuliskannya setelah membaca buku “Pelangi di Langit Bali” dan “Luka Batin yang Tersisa” karya ibu Fanny Jonathan Poyk -Sekadar diketahui ibu Fanny adalah putri seorang sastrawan kawakan asal NTT, Gerson Poyk- serta buku saya “Persinggahan Bocah Indigo”. Sebenarnya saya sebagai penulis yang baru mulai merangkak, belum patutlah saya disebut sastrawan. Namun dari sebutan itu setidaknya sebagai cambukan bagi saya untuk terus menggali dan mengembangkan apa yang disebut sebagaI ‘talenta’, sebuah anugerah dari Tuhan.

Mungkin bisa dari catatan kecil ini pula, pak Yoseph sendiri telah memulai sebuah ‘pekerjaan kecil’ yang suatu hari akan berkembang kapasitasnya menjadi seorang kritikus sastra. Bukan bermaksud meminta atau apalah serupa itu, namun seperti yang saya yakini, barang siapa setia dalam perkara kecil, akan diberikan padanya tanggung jawab dalam perkara yang besar (Mat 25:21). [Anaci]

Berikut ini tulisan ‘kritikan’ yang saya maksud.

Dua Sastrawan Wanita NTT

Oleh: Yoseph Yapi Taum

Hari ini saya kembali menerima dua buah novel dan sebuah antologi cerpen karya sastrawan NTT: Fanny J. Poyk dan Anaci Tnunay.  Terima kasih kepada kedua penulis atas kiriman ini. Berikut ini catatan saya setelah sekilas membaca karya-karya mereka.

Dua buah novel karya Fanny, Pelangi di Langit Bali dan Luka Batin yang Tersisa mengambil setting Bali —sebuah tempat yang sangat diakrabi penulisnya. Fanny menghabiskan masa kecil sampai remaja dan bahkan kuliah di Denpasar.  Karya-karya Fanny  memiliki kekuatan yang sangat menonjol dalam menggambarkan realitas alam dan budaya massyarakat Bali. Kepercayaan dan pandangan hidup mereka digambarkannya lengkap dengan warna lokal (bahasa, adat, geografi) khas Bali.

Khusus novel Luka Batin yang Tersisa, Fanny memotret perselingkuhan , bukan dengan sudut pandang ‘biasa’ (yakni:  wanita menjadi korban perselingkungan sang suami). Fanny mengangkat realitas persoalan  yang sudah jauh berbeda: sang wanita berkhianat dan berselingkuh, yang menyebabkan “luka batin yang tersisa’ pada sang suami dan kedua anak mereka. Yang menarik adalah bagaimana Fanny mengajukan solusi atas persoalan tersebut. Dalam sebuah dilemma yang panjang: di antara rasa sakit hati, dendam, marah, dan terluka, sang suami memutuskan untuk  menerima (bahkan menikahi untuk kedua kalinya sang istri yang telah berkhianat itu). Sebuah dramatisasi kasih dan pengampunan yang digarap dengan kematangan seorang penulis ‘senior’. Amanat memutus mata rantai dendam dan karma terlihat jelas dalam novel ini.

Teknik penyelesaian konflik sekaligus teknik mengakhiri cerita adalah salah satu  kekuatan lain dari Fanny J. Poyk. Saya pernah menulis, bagaimana kepiawaian dan kebesaran Gerson Poyk sebagai seorang sastrawan Indonesia ternama mengakhiri kisah dalam karyanya. Berikut ini salah satu cara Gerson Poyk menutup cerpen “Perempuan dan Anak-anaknya” setelah berbagai konflik sosial dan psikologis dibangunnya dengan kuat.

“Beberapa hari kemudian, seorang bapak dengan lima orang anak bersama seorang pembantu yang bisu dan tuli, menjadi penumpang sebuah kapal yang meninggalkan pelabuhan kota kecil itu. Tak ada yang melambaikan tangan perpisahan, kecuali burung-burung laut yang terbang jauh….(Gerson Poyk, “Perempuan dan Anak-anaknya, 1966:144).

Kepiawaian yang sama tampaknya diwarariskan sang ayah (Gerson Poyk) secara sempurna kepada putrinya (Fanny J. Poyk). Perhatikan kutipan bagian akhir novel Fanny.

“Ketika kulamar ia untuk kedua kalinya di hadapan anak-anakku, Made Liana memeluk aku, Normala dan Adnyana dengan air mata yang tak henti mengalir. …. Ia begitu berbahagia. Rona bahagia juga menaungi kami msemua yang hadir. Adnyana dan Normala memeluk kami dengan erat. Inilah kebahagiaan yang hakiki dalam hidupku. Inilah absurditas kehidupan yang tak pernah bias kutebak akan seperti ini jadinya. Inilah luka batin yang tersisa, dia mengurai menjadi butir-butir permata yang menari-nari dengan indahnya. Dan luka batin itu telah tertutup menjadi sebuah tulisan indah yang kekal sepanjang masa (Fanny J. Poyk, 2013: 155).“

Demikian pula bagian akhir novel “Pelangi di Langit Bali” yang tak kalah memukau.

“Bila malam tiba, aku memandang langit Bali yang dipenuhi bintang. Bintang-bintang itu seolah menjadi saksi saat aku menangis, sedih, dan tertawa. Cahaya mereka selalu memberi aku semangat dalam menapaki hidup. Saat ini, kurasa bintang-bintang itu sama bahagianya denganku. Jalan hidupku masih panjang, tapi aku yakin di sinilah, di Bali, aku akan menjalani hari-hariku selanjutnya. Dan teman-temanku masih tetap dating ke rumah. Tiap liburan mereka main di rumahku. Rumah yang unik itu selalu terbuka bagi siapa saja yang mau dating dan menginap” (Fanny J. Poyk, 2009: 190).

Sementara itu, Anaci Tnunay dalam antologi cerpennya “Persinggahan Bocah Indigo” menawarkan keceriaan dan kepolosan dunia kanak-kanak,  sebuah sudut pandang yang kadang mengejutkan. Anaci memiliki kegemaran dan bakat bertutur, sebuah modal dasar yang sangat penting bagi sastrawan. Kadang-kadang keasyikan bertutur itu menjadikan Anaci terfokus hanya pada salah satu unsur  komposisi naratif, yaitu alur cerita  dan mengabaikan penggarapan yang lebih serius pada aspek-aspek lain seperti penokohan, latar (latar tempat, latar sosial, latar budaya), dan gaya bahasa. Dalam ketiga-belas cerpennya yang dimuat dalam antologi ini, kita tidak dapat segera mengidentifikasi setting-nya. Dalam cerpen “Suara dari Kampung Selatan” misalnya, kejutan yang dijanjikan (dan dibangun melalui suspense alur dan latar) tak pernah mencapai ‘puncaknya’ karena cerpen ini menggiring pembaca ke kisah Lena si gila. Padahal pembaca mengharapkan mendapatkan sebuah gambaran tentang sebuah desa di Pulau Timor (entah di mana) yang bisa dengan leluasa melihat lampu-lampu gemerlapan di Benua Australia, bila malam bertambah malam. Cerpen ini hampir saja menjadi sebuah cerpen yang menarik jika setting tempat dan alurnya digarap dengan baik.

Kepiawaian Anaci dalam membangun imaginasi dan bertutur tak dapat diragukan lagi. Beberapa cerpennya dipublikasikan di media massa dan memenangkan lomba menulis. Tentu dengan jam terbang yang lebih banyak lagi dan pembacaan yang luas, Anaci akan mampu mencapai kematangan seperti Fanny J. Poyk, seniornya.

Saya mengucapkan selamat kepada kedua sastrawan perempuan NTT ini.

Iklan
This entry was posted in PBI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s