Geliat Suci Mencuat Duka

[Cerpen ini terangkum dalam Antologi Cerpen Sastrawan Nusa Tenggara Timur “Kematian Sasando” yang diterbitkan Kantor Bahasa Prov NTT pada bulan Agustus 2013]

“Mereka menuduhku tak bisa menulis. Sama halnya mereka bilang adik tak bisa melukis. Seperti halnya mereka menuduh mama tak bisa bereksperimen di atas panggung. Tak beda cemoohan mereka pada bapak bahwa ia tak bisa mematung,” ia bertutur.

Minggu lalu aku bertemu dengannya. Awalnya ia mengirim pesan padaku lewat HP, mengajak jalan santai di pagi sebelum kerja nanti malam.

“Mau sekadar meluapkan kesah,” tulisnya.

Kuusulkan sebuah taman bunga kecil di pinggir kota. Namun ia menolak.

“Terlalu ramai di situ,” balasnya. “Bagaimana kalau di rumahmu, di kamarmu?”

Sayang sekali di rumah sedang ramai. Sepupu-sepupu dari luar kota sedang liburan di sini. Akhirnya kala matahari masih hangat dan belum begitu menyengat, berdua kami bertemu di sebuah sabana, berteduh di bawah pohon kom menikmati semilir angin sepoi basah. Di situlah kudengarkan ceritanya.

“Padahal apa? Hasil editanku setiap hari dibaca orang-orang. Tulisan-tulisanku sendiri sudah banyak mengisi surat kabar negeri, bahkan sudah pula direkomendasikan mengikuti ajang internasional di Belanda. Masihkan perlu bukti mereka itu?” ujarnya dengan nada kesal.

“Adik yang biarpun masih bocah, sudah mampu menuangkan idenya dalam rupa gambar-gambar abstrak, mereka bilang itu gambar tak ada artinya. Penuh oret-oretan tak bermakna, yang bisa dibuat siapa saja anak-anak balita di dunia ini. Mama yang bersuara merdu ditambah dengan betapa memukau ia bereksperimen di atas panggung, masih juga mereka bilang sebenarnya ia tak bisa bernyanyi dan berakting. Ia hanya memaksa diri.”

Sementara ia menggebu-gebu bercerita, aku hanya manggut-manggut mendengarkan.

“Pernah sekali waktu, menjelang persiapan natal di gereja. Mama datang menawarkan dirinya melatih drama untuk para remaja dan pemuda. Awalnya banyak orang tertarik. Hari pertama mereka memenuhi pelataran gereja. Lalu diadakan seleksi dan audisi. Kemudian pembagian peran dilanjutkan dengan latihan. Para remaja dan pemuda terlihat sangat antusias. Mereka begitu menikmati. Namun selang beberapa hari kemudian tak ada lagi anak-anak itu datang. Esoknya, dan seterusnya pun tak satu dari mereka yang muncul batang hidungnya. Hingga didapati dari mulut ke mulut, orang tua merekalah yang melarang anak-anaknya ikut latihan drama. Alasannya latihan drama itu tak masuk akal. Terlalu ekstrim. Masakan seorang harus membaluri tubuhnya dengan arang hitam kayak iblis? Berteriak histeris seperti orang kerasukan setan? Baru saja tahap latihan, tapi sudah membuat bulu badan merinding. Mama dituduh memakai ilmu hitam sehingga ketika bermain drama, mereka tak jadi mengenal sosok anak-anak mereka yang sebenarnya.

Sedang bapak, mereka menuduh ia orang gila. Bapak setelah masa kekeringan yang panjang melanda pulau ini, ia memutuskan menggiati kembali profesinya dulu semasa lajang di tempat kelahirannya, kampung Pesinggahan, kecamataan Dawan di kota Klungkung, Bali. Konon dari cerita bapak, sebelum bertemu mama di Timor ini, ia adalah pematung. Maka kini kembali ia berkubang dengan batu, pasir, dan semen demi tercipta sebuah karya.

Patung pertama yang ia buat adalah patung Yesus mengeluarkan air mata dari dua bola mata-Nya. Patung itu selesai dalam waktu dua minggu secara intensif dari pagi hingga malam menjelang, bahkan hingga larut pun bapak asyik mematung. Selesai patung Yesus, menyusul patung berikutnya. Bocah-bocah bertelanjang dada menarik sapi. Selama pengerjaan patung-patung itu, orang-orang yang lewat depan rumah berhenti sejenak dan memandang sebelah mata, lalu meludah ke tanah dan berlalu.

‘Entahlah, mungkin ia sudah gila. Masakan ia membuat patung di depan rumahnya?’ kata seorang kepada yang lain.

‘Iya, masak ada juga dibuatnya patung binatang. Itu kan mau penyembahan berhala dia,’ sahut orang yang diajak bicara.

‘Aneh memang kelaurga ini. Mereka tak bekerja sebagaimana kita yang lain,’ komentar yang pertama.

‘Oh ya. Anak perempuannya, padahal baru selesai kuliah di seberang lautan sana, lakunya kayak kelelawar. Tidur-tiduran saja di waktu siang. Sore harinya baru dengan motornya pergi kerja, pulang-pulang sudah dini hari.’

‘Anak laki-lakinya lain lagi. Baru saja bisa coret-coret tak beraturan, malah sudah disiapkan kamar tersendiri. Katanya buat studio. Supaya bisa fokus melukis. Istrinya apalagi. Berlaku kayak orang kerasukan. Puih. Gila semua itu satu keluarga,’ ia mengumpat marah.

Tingkah orang-orang kampung mulai terlihat ganjil. Bahkan ketika aku atau salah satu anggota keluargaku berpapasan dengan mereka di jalan, mereka pastilah diam-diam berbisik. Entahlah, kenapa mereka begitu sibuk. Huh…” berhenti sebentar ia menghela napas.

Demikian mereka mencemooh keluarganya. Semua itu membuatnya merasa tertekan. Begitu ceritanya padaku.

Hingga ketika aku bertugas di luar kota, kudengar kabar tentangnya. Mereka sekeluarga dibakar hidup-hidup dalam rumah setelah sebelumnya patung-patung bapaknya dihancurleburkan penduduk sekampung.

Sekembalinya aku dari tempat tugas, bersama beberapa rekan kami mengunjungi kampung yang ditinggalinya dulu. Tiba di sana, kami melihat satu lokasi yang hanya ada puing dan abu sisa makanan api.

“Maaf, ini rombongan dari mana?” mata para penduduk setempat memandang curiga.

“Kami teman kerja si korban. Kami sama-sama bekerja di surat kabar,” temanku menjelaskan.

“Oh, anda ini wartawan?” raut cemas tersirat dari nada bicaranya.

“Iya. Kami bekerja di surat kabar. Dan nona Lina bertugas sebagai proofreader di sana,” kali ini aku yang menegaskan.

“Apa…? Ah, apa itu prufrider?”

Bingung aku mau menjelaskan apa pada mereka, penduduk kampung ini.

Proofreader itu tugasnya mengoreksi tulisan sebelum dicetak untuk jadi koran yang biasa anda baca.”

“Yah… Oh, pantas nona Lina bekerja malam-malam dan pulang dini hari itu?” mulut mereka menganga keget.

“Iya, korannya terbit pagi. Dia kerjanya memang malam.”

“Ya, Tuhan. Dia sebenarnya kerja di surat kabar toh. Selama ini kami pikir dia di kota sebagai pelacur.”

Tersentak kami mendengar kalimat terakhirnya. Berbarengan kami saling pandang. Sahabatku dikira pelacur oleh karena ia membabat malam dengan segala huruf demi kesempurnaan penyajian informasi.

Memang setamat kuliahnya, ia langsung diterima bekerja di tempat kami. Sebelumnya ia sudah beberapa kali menulis dan menerbitkan karyanya lewat koran kami. Namun ketika melamar dan diterima, ia mendapat posisi sebagai proofreader. Kebersamaan kami baru berjalan beberapa bulan, belum juga setahun. Sekalipun begitu ia tetap menulis cerita, berkarya sendiri. Kini tulisannya mulai dilirik, bahkan seperti pengakuannya, ia memang direkomendasikan dalam ajang kepenulisan tingkat internasional. Sayang, geliat suci ia dan seisi keluarganya telah berujung. Duka.

Kupang, 2012

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s