Ratapan Kemarau

[Cerpen ini masuk dalam 10 Cerpen Prospektif Lomba Obor Award 2013]

Sebuah gazebo di tengah taman kampus. Di sampingnya membentang diam sebuah danau kecil. Berair tenang. Baiklah di sana nanti malam, kami sepakat.

Mulanya adalah sejuk malam. Hening. Betapa tenang.

Kemudian ia pun pecah oleh keriuhan kami. Ini kali pertama aku kembali bersua dengan teman-teman kuliah dulu. Kegiatan tahunan kampuslah yang mempertemukan, setelah setamat kuliah setahun lalu masing-masing ditempatkan di berbagai pelosok nusantara.  Aku sendiri balik ke kotaku, disebut-sebut sebagai kota KASIH[1]. Sedang kawanku, berpencar dari ujung pulau Nias hingga ke Sentani-Papua ataupun yang terbentang antara pulau Timor hingga kota Tomohon. Berbagai cerita telah menguar ke udara. Disambut beragam respon para pendengar. Aku sendiri telah larut dalam reuni kecil itu. Aneka perasaan bebas saja ia mengalir. Entah tertawa-tawa terpingkal-pingkal. Mata yang basah turut berempati. Ataupun ikut bergidik mendengar cerita-cerita tidak biasa.

E…Usi[2]… Usi…

Samar-samar terdengar lengkingan suara. Mengalahkan keributan kecil kami. Mendayu-dayu. Histeris. Merembesi celah-celah udara hingga terdengar sangat menyayat hati. Awal mula kucoba mengabaikan. Kembali menghanyutkan diri dalam balutan ocehan dan gelak tawa.

Acara selesai. Satu per satu beranjak meninggalkan gazebo. Tinggal aku dan satu kawanku, orang Sulawesi bertugas di Sumatera.

Usi…aa…ee…..

Suara itu lagi. Semakin melengking. Membuat bulu kuduk merinding.

“Ah, suara apa itu?” kusendengkan telinga kiri, ingin mendengar dengan saksama.

“Itu suara teriakan orang. Ratapan tangis umat manusia karena kelaparan,” kawanku menyahut.

Kelaparan? Apa maksudnya? Ini area kampus. Dikelilingi gedung-gedung mewah. Di barat ada rumah sakit internasional. Di timur ada supermall. Di utara ada bank, ada pula lapangan kecil tempat landas helikopter. Tak ketinggalan di selatan ada arena pasar malam yang bertaburan panggung hiburan. Tak kurang bila dikatakan sebuah kawasan elite. Tak mungkin ada orang kelaparan di kawasan seelite ini.

“Maksudku kelaparan karena sengatnya kemarau panjang.”

“Ah, benarkah?” tanyaku tak percaya. “Ini sedang malam hari. Masakan ada orang berteriak malam-malam begini karena kemarau?”

Kulirik kawanku. Ia diam. Senyum kecil tersungging. Maka kulanjutkkan, “Hm, dan bukannya memang demikian, ini bulan Juli. Ya, memang saatnya kemarau. Tapi belum saatnya kemarau yang menyengat itu, bukan?”

“Wah, kau tak percaya rupanya,” hanya itu komentar yang terlontar dari mulutnya.

Keningku berkerut.

“Rupanya kau tak tahu?” ia kemudian melanjutkan, “Itu sebenarnya sebuah lagu. Sedang dinyanyikan anak-anak choir kampus. Mau dipentaskan di event internasional. Wah, parah kamu, nona,” ia tertawa renyah.

“Lagu yang bagus,” ungkapku. Tulus. Dan memang itu sebuah lagu yang indah. Tak kalah indah dengan lagu-lagu yang dinyanyikan Enya. Atau yang pernah kudengar Halleluya dalam The Messiah karya Handel. Namun suara nyanyian yang bagai tangisan dan ratapan itu terdengar begitu memilukan.

“Tapi, nyanyian apakah itu? Begitu menyayat hati. Ah, seperti terpendam sebuah cerita di dalamnya? Membuatku merinding,” kataku mengakui.

“Apa kau mau melihatnya? Mari, kita ke sana,” ia mengajak.

Tanpa aba-aba segera aku bangkit. Berdua kami melangkah pelan menuju sumber suara. Semakin dekat semakin jelas terdengar.

Di tengah satu ruang terbuka dalam arena kampus, di bawah siraman cahaya lampu yang temaram, tampak beberapa orang laki-laki dan perempuan berpakaian lusuh, dengan tubuh yang dibaluri penuh abu merayap-rayap dan berguling-guling di tanah bagai orang merintih kesakitan tak berdaya. Hampir semua mereka meratap. Kedua tangan menengadah ke langit. Seperti berusaha menggapai-gapai mencari pertolongan.

Kemudian berubah. Mengikuti aba-aba dan instruksi dari seorang laki-laki berbadan tegap yang berdiri di depan layaknya sutradara. Mereka kemudian berlaku seolah-olah sedang mendengar ada suara dari langit. Ekspresi wajah menduga-duga. Mata mereka mendelik ke berbagai arah, seakan sedang bersikap waspada karena berhadapan dengan makhluk ajaib tak kasat mata. Laku mereka tampak aneh sambil mengumandangkan lagu yang tadi kudengar dari kejauhan.

Aku heran. Penasaran. Ada apa gerangan dengan lagu ini? Ada cerita apa di baliknya? Sepertinya agak misterius. Terus terang, selama di kampus dulu pementasan teater adalah sesuatu yang tak rela kulewatkan. Sibuk dengan kegiatan kampus ataupun stress dengan tumpukan tugas yang menggunung bukanlah penghalang. Bila ada yang sedang pentas, maka aku tetap akan menyempatkan diri untuk bisa menonton. Bahkan sekalipun uang saku kiriman keluarga sedang menipis, aku akan melakukan apa saja entah meminjam atau berusaha mendekati seseorang agar bisa mendapatkan tiketnya. Demikian pula acara kompetisi paduan suara ataupun anak-anak fakultas musik yang mengadakan recital and concert sebagai ujian akhir. Maka bertemu momen-momen seperti ini, yang membuat berdiri bulu roma, bagiku adalah sebuah keindahan. Sungguh kagum dan salut ada orang menciptakan karya sedemikian rupa. Siapapun dan di manapun ia, tentulah ia orang hebat.

“Lagu itu berkisah tentang mengganasnya kemarau di sebuah daerah,” tuturan temanku tiba-tiba membuyarkan keindahan yang tengah kualami.

“Berarti sungguh malang daerah yang dilanda kemarau mengganas itu,” berkata lirih, aku nyaris menangis.

Kawanku menoleh. Ia tersenyum sedih.

“Apa kau tahu dari negara mana lagi itu berasal?” sementara pertanyaan itu kuajukan, sempat terlintas di benak, entah di manapun negara itu pastilah dalam bentangan benua Afrika. Mungkin Dogon, atau wilayah tetangganya.

“Kalau yang kudengar, katanya di Indonesia,” ia menyahut, yang kudengar seperti gumaman.

“Ah, kalau benar itu di Indonesia, mestinya lagu itu lebih cocoknya dari daerah NTT,” aku menyeletuk asal-asalan.

“Oh iya. Benar…benar. Tepat sekali. Ah, aku baru ingat. Iya, benar. Katanya lagu itu asalnya dari Nusa tengggara,” temanku bersemangat. Kemudian melanjutkan, “Tapi tepatnya tak kutahu di mana.”

Ups… jangan kau bercanda,” aku terkejut sendiri akan celetukanku yang spontan tadi.

Lho, bagaimana ini, kamu orang Nusa tenggara kok malah tidak tahu kalo itu lagu asalnya dari sana,” ia menggerutu.

Mendadak aku tak bisa berkutik. Seketika aku lemas. Bagaimana kalau itu benar? Oh, tidak. Kalau iya, maka aku…. aku pantas malu. Sangat malu. Sungguh.

Betapa tidak, -ah, kukutuk diriku dulu sebelum kubeberkan padamu- aku seonggok daging yang lahir dalam sambutan garang matahari, tumbuh besar dan telah lama berkarib kemarau, tapi tentang lagu kemarau yang menggagumkan, aku malah sama sekali tak tahu.

“Hayo, tak lama lagi lagu itu akan dinyanyikan di Beijing, China. Kamu orang daerah sendiri malah tidak tahu tentang lagu itu.”

Kata-kata kawanku yang terdengar biasa, bagiku itu seperti sebuah tamparan. Seperti menyisakan rasa perih di pipi. Ah, bukan. Tapi pedih. Di kedalaman hati.

Tuhan… batinku menjerit.

Kukutuk diriku habis-habisan. Telah bertahun-tahun aku bersahabat dengan kemarau. Dengan Desember yang selalu panas. Dengan natal yang sering tidak turun hujan. Dan hanya empat kali natal berulang kutinggal sementara negeri itu, kemudian kembali ke sana lagi untuk kembali melewati sekali masa natal yang panas tanpa hujan. Namun seperti kacang lupa kulit, aku telah lupa bahwa negeriku adalah negeri kemarau. Hingga ketika lagu kemarau maha karya anak negeriku yang dengan indah dan menganggumkan itu dikumandangan, aku celingukan berpikir itu sebuah lagu rakyat dari negeri antah berantah.

Justru kawanku orang luar lebih tahu. Balik menjelaskannya padaku. Akan dinyanyikan di event internasional pula oleh anak-anak choir kampus, adik-adik tingkat,  mereka yang bukan dari negeri kemarau. Sementera aku anak dari negeri kemarau tak tahu apa-apa. Bahkan seperti orang bloon, aku terheran-heran ketika mendengar mereka menyanyikannya.

***

Kegiatan kampus yang hampir sebulan itu pun usai. Masing-masing kembali ke tempat tugas, termasuk kawanku ke Sumatera dan aku ke negeriku sendiri, negeri kemarau.

Dengan pesawat kutinggalkan negeri hijau. Terbang melintasi awan. Memasuki zona negeriku, tampak dari atas kulihat padang berwarna pastel terbentang luas. Alangkah berbeda dengan negeri hijau yang baru saja kutinggalkan. Sudah kuputuskan, sesampainya di daratan nanti, akan kutanyai orang-orang di sana tentang sejarah lagu kemarau. Membayangkan itu, aku tak sabar. Ingin aku cepat tiba. Maka sekeluarnya dari bandara, segera kudekati salah seorang di lobi penyambutan.

“Maaf, pak. Apakah bapak pernah mendengar tentang lagu kemarau?”

“Lagu kemarau?” ia menggumam.

Aku mengangguk. Membesarkan bola mata. Bertanda aku senang mengharapkan jawabannya.

Ia mengerutkan kening. Makin heran menatapku. Terpancar ada tatapan curiga. Mencermatiku dari ubun kepala hingga jari kaki. Lalu ia buru-buru pamit. Berjalan menjauh.

Terkulai lemas aku ditinggal pergi.

Baiklah. Tak apa. Kukuatkan diriku. Mungkin aku salah orang. Kucari-cari lagi. Ah, mungkin saja ada anak-anak sekolahan tahu. Mereka biasanya belajar mata pelajaran Mulok-Muatan Lokal. Pelajaran yang memuat tentang sejarah-sejarah lokal, termasuk hasil-hasil karya lokal.

Dengan percaya diri kuhampiri beberapa remaja yang sedang bercengkrama di bawah pohon kom dekat tempat parkir. Respons yang sama mereka tunjukan. Menatapku heran dan curiga. Bahkan tawa ledekan sebagai bumbu.

Tidak ada kata putus asa. Kuputuskan menuju kantor pemerintahan, yang mengurus bagian budaya. Di depan orang-orang berpakaian necis dengan motif batik daerah, malahan aku dihujani makian. “Heh, kunyuk… buat apa tanya-tanya demikian. Pergi sana!”

Terdengar suara daun pintu dibanting keras. Tutup.

Mengikuti sebuah anjuran, terhadap pintu rumah yang menolakmu, kebaskanlah debunya dari kakimu sebelum kau tinggalkan dan keluar daripadanya, maka kukebaskan debu dari kakiku.

Sambil menonton lalu lalang di jalanan yang silau oleh kendaraan dan terik matahari yang membakar, aku meratapi kekonyolanku. Mulai berkecamuk dalam pikiran. Berasa pilu. Bertanya-tanya, di antara berjibun-jibun orang negeri ini, tak adakah yang tahu tentang karya anak negeri yang sudah berkarib kemarau ini? Apakah harus benar ada ungkapan, seorang nabi tidak dihargai di tanahnya sendiri? Karya anak negeri kemarau yang sudah merambah dunia nasional bahkan sebentar lagi internasional, tetapi justru tak dikenal sama sekali dan malah dianggap tiada oleh orang-orang negerinya sendiri.

“Oh, negeri kemarau,” lirih aku bergumam. Rasanya aku ingin meminta Tuhan mencairkanku dengan olahan terik matahari yang sedang membara. Membiarkan aku menguap. Melebur dalam panas. Mungkin demikian kepongahanku terbakar. Dan terbayar.

Di tengah keputusasaanku, bagai bertemu oase di padang gurun, tiba-tiba munculah seorang bocah laki-laki 7 tahunan.

“Kakak nona, apakah benar kakak sedang mencari-cari informasi tentang lagu kemarau?” ia menatapku dengan bola matanya yang lebar. Sorot menanti jawab.

Dengan sudut mata yang mulai basah, aku mengangguk. Tanpa keluar suara ajakan selanjutnya, ia berbalik melangkah pergi. Aku masih berdiri di tempat. Diam. Melihat ingin tahu, hendak ke mana bocah itu. Beberapa meter ia berjalan, ia tiba-tiba berhenti. Menoleh ke belakang.

“Kenapa kak nona diam saja tidak ikut saya?” ia bertanya heran. “Ayo, ikutlah saya!” lanjutnya bernada perintah.

Ya, Tuhan. Kenapa aku begitu menyedihkan? Mengumpat kesal pada diriku sendiri. Betapa dungunya aku dibanding anak kecil ini.

Aku bergerak. Berusaha menjajari langkahnya. Ia malah makin mempercepat.

Di sebuah pertigaan ia membelok ke arah timur. Aku terus mengekor. Tak lama, kami pun memasuki sebuah lorong sempit. Sisi kiri kanan kami adalah pagar-pagar batu dan sisa-sisa tanaman kering. Hingga kami pun tiba di sebuah gubuk kecil. Berdinding bebak[3]. Beratapkan gewang[4]. Kecil dan sempit. Seorang ibu berbadan kurus menyambut kami. Dua anaknya yang lain sedang bermain siki doka[5] di halaman samping gubuk.

“Kenapa kau begitu ingin tahu tentang lagu kemarau?” sang ibu bertanya dengan mata menyelidik. Nadanya menyiratkan sindiran seakan-akan aku telah begitu sangat menyakiti hatinya.

“Aku merasa berdosa. Aku tidak tahu perihal lagu kemarau. Padahal di Jawa adik-adik tingkat di kampusku saat ini sedang mempersiapkan diri menyanyikan lagu itu di negeri China,” dengan nada merendah aku mengaku.

“Masih ingatkah kau ketika dulu kita  harus tidur dengan perut kosong menahan lapar?” tanya yang langsung ditujukan padaku. “Kadang di tengah malam kita terjaga. Menyadari bahwa seharian penuh perut belum diisi sejumput makananpun?”

Aku tersentak. Demikian terkejut hingga aku tak sanggup bersuara. Semua kata tersempal di kerongkongan. Tiba-tiba begitu sakit.

“Pada saat tertentu, karena yang ada hanya jagung kering tak seberapa. Maka satu dua bulir jagung kering itu kugoreng tanpa minyak. Lalu kurendam beberapa jam agar kita bisa kita menyapa perut, setidaknya untuk bertahan menunggu datang hujan menyirami tanah kering negeri kita, atau menyegarkan kembali tanaman tomat yang telah mengering di ladang.” Matanya yang tajam menatapku lekat-lekat.

Sementara itu dua bocah yang sedang bermain tadi tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan beralih menatapku. Pula dari dalam gubuk, keluar seorang laki-laki renta berbadan kurus sambil terbatuk-batuk.

Aku tiba-tiba saja berasa pening.

“Aku ingin menulis. Sekalipun menulis takkan mendatangkan hujan dengan segera. Tapi setidaknya aku menuangkan rinduku,” sahutku pada bapak ketika ia membentakku karena selalu memegang pena dan lembaran kertas, bukan ember atau alat timba.

“Pergi sana. Cepat, kerjakan sesuatu. Daripada kau bengong menunggu hujan.” Ia mengambil rotan. Dan tak lama ujung rotan itu mendarat dengan hangat di pantatku. “Di ujung rotan ada emas,” katanya.

“Lihat. Apa yang pernah kau tulis,” samar-samar kulihat ibu itu menyodorkan selembar kertas usang padaku. Kemudian, “Dulu saat kau masih bocah.”

Aku masih tegak di hadapannya. Bergeming. Namun di dalam, detak jantung sedang riuh  bergemuruh.

***

Muntahan panas matahari. Cahayanya terang benderang menyilaukan mata. Udara pun menguarkan aroma kering tanah. Tepung halus debu merah beterbangan ditiup angin selatan, ikut pula terhirup ketika menarik napas. Dedaunan pohon telah meranggas. Tiada lagi tempat berteduh dari terik matahari menggarang. Pada segala penjuru saat mengedar pandang, hanya tinggal berbagai bentuk bilik bebak sebagai tempat bermukim para penduduk, dengan semak kering dan rumput ilalang berwarna pastel sebagai latar. Mungkin bila dikenai sepercik api maka terbakarlah seisi negeri.

Ini bulan Desember. Bahkan hampir berakhir. Sebentar lagi masuk tahun baru. Namun tak terlihat tanda-tanda bakal turun hujan membasahi tanah gersang negeri ini. Langit di atas sana masih sama. Bersih tak berawan.

Jauh di atas bukit gundul, sapi-sapi peliharaan pun hanya berdiri. Memandang lesu ke arah perkampungan. Menunggu datangnya makanan dari sang tuan. Sebab jangankan hijau, rumput-rumput menguning pun bahkan telah lama mengering. Mati. Daun lamtoro pun sudah tiada. Batang pohonnya pun sudah dikikis. Tampak mengering. Hanya tinggal sebagai kayu bakar.

Kebun tomat yang disiapkan para petani bulan September dengan harapan paling lambat akhir bulan Oktober atau awal November sudah turun hujan, tak bisa lagi diharapkan. Awal-awal sekali, anak-anak remaja diminta membantu. Diiming-imingi, setelah ini tomat akan berakar kuat, hingga nanti ketika datang hujan mengguyur negeri maka tumbuh suburlah tanaman tomat itu. Pada saat dijual nanti mereka akan dibelikan baju natal, serta buku-buku dan alat tulis sebagai persiapan menyambut pelajaran sekolah semester 2 di bulan Januari.

Maka pergilah anak-anak itu dengan gembira. Berlarian menuju ngarai sambil berdendang lagu-lagu sekolah minggu, lagu-lagu jelang natal, lagu-lagu yang sedang tren di radio, ataupunn lagu-lagu daerah tentang pemujaan alam. Di sana mereka mengeruk air dari ceruk ke dalam ember. Setelah ember-ember terisi, tali-talinya dikaitkan pada setiap ujung lelepak[6]. Lalu dengan peluh berceceran mereka menapaki kembali tanjakan menuju kebun tomat. Menyiram anakan tomat yang baru saja ditanam pada lubang-lubang sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Satu bulan pertama sejak September, mereka bekerja penuh semangat. Memasuki Desember tanaman tomat mulai menua, namun langit belum juga menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Mereka tetap bekerja, sekalipun letih tergambar di setiap wajah. Sebab dalam kepala mereka telah ditanamkan, ‘Mendayung sampai ke pulau, berlari sampai ke batas’. Hingga pertengahan Desember, karena tak jua turun hujan, suplai air dari hasil pikulan mereka sudah tak mencukupi. Tanaman-tanaman itu mulai melayu. Hingga yang terlihat kini adalah tangkai tomat yang sudah mati. Ah, betapa hampir tiga bulan mereka mengeruk air dari dasar ceruk.

“Ayah, di bahuku ada luka. Rasanya perih. Panas sekali. Seperti terbakar,” bisik seorang anak perempuan pada ayahnya di suatu malam.

Kala itu mereka baru saja selesai makan. Ah, makan…? Sepertinya itu kata yang sangat halus digunakan. Karena mereka sesungguhnya bukan makan. Sebab lebih tepat hanya sebagai pengganjal perut dengan jagung kering disangrai ibu mereka, yang dilarutkan dalam air dingin agar tak sekeras kerikil ketika dikunyah.

“Sini, akan ayah oleskan minyak pada bahumu,” bapaknya pergi mengubek-ubek lemari dan meja kecil di kamar tidurnya. Namun ia keluar dengan tangan hampa. “Tiada lagi minyak punya kita, nak,” katanya. Matanya sendu.

Ia menyingkap kerah baju anaknya. Hatinya trenyuh. Sebab bahu anak itu telah melepuh. Lantas ia memeluk anaknya. Meniup pelan-pelan bahu yang melepuh itu.

Merambat ke luar, orang-orang negeri, semuanya bermuram durja. Kanak-kanak berbadan kurus berperut buncit nampak bertelanjang dada dan bermain-main di halaman rumah. Mereka yang belum begitu paham akan keadaan negerinya hanya cekikikan ketika melihat temannya terantuk batu dan jatuh terguling. Para perempuan menutup kepala melindungi muka dari terik matahari. Bapak-bapak yang pergi ke ladang sekadar menengok, berjalan pulang dengan lesu. Ada buliran sedih di mata mereka. Merasa kecewa karena langit tak jua mau menurunkan tetesan hujan. Dengan suara lemah mereka bertegur sapa satu sama lain.

“Selamat sore, pak, sebentar kita pergi membersihkan gereja, natal sudah tiba,” sapa seorang bapak tua bertelanjang dada ketika melewati sebuah rumah.

“Ya, selamat sore. Ah, natal ya. Rasanya tidak seperti masa natal,” sahut bapak sang empunya rumah sambil tetap melakukan aktivitasnya mematahkan ranting-ranting pohon delima yang sudang mengering di dahannya.

Bapak yang memberi sapa hanya tertawa pahit dan melanjutkan perjalananan. Pikirannya berkecamuk. Momen natal yang biasanya selalu hujan kini hanya kenangan. Natal kali ini dilalui dalam kekeringan. Kue-kue natal, siapa yang sempat berpikir untuk membuat.  Ia menghela napas. Mendongak ke langit. Bersih tak berawan. Mestinya orang bisa melihat Tuhan bertakhta di atas langit. Tapi tidak. Tuhan seperti bersembunyi di balik lapisan-lapisan langit.

Lalu….

Tersiar kabar. Di bagian timur negeri, ada para pendeta beserta para majelis gereja mengadakan doa dan puasa. Namun ini seperti tak ada efeknya. Doa mereka kering sebagaimana tanah tempat mereka yang kering. Beberapa orang kemudian berkumpul bersama sanak-sanak saudara. Mereka bersekutu berdoa memohon datangnya hujan. Meraung-raung dalam setiap doa dan pujian mereka. Namun ini tak ubahnya suatu kekejian bagi yang melihat.

Hingga….

Terdengar desah panjang.

E…Usi… Manse ma’taen leuf. Hoi nameot naen le sa sa,[7] mendesing tiba-tiba sebuah suara dari antara berjibun umat manusia.

Suara itu terpental di langit. Turun kembali mendapati umat yang menanti.

E Usi… Uis amnanut am nauto. Thanik tankai Usi oh…”[8] Tak henti-hentinya umat manusia itu berseru.

***

“Masihkan kau bertanya dari mana dan bagaimana sejarah lagu kemarau itu?”

selidik sang ibu.

“Maaf, aku belum mengerti,” sahutku.

“Dalam dirimu ada sejarah lagu kemarau. Kau mengalaminya. Tapi kau menyangkal,” mata sang ibu tajam menusuk.

Sungguh. Kurasakan daging hatiku teriris sembilu.

“Nak, maukah kau memaafkan bapakmu?” ia melanjutkan.

Kupalingkan muka pada lelaki renta di sampingnya yang semenjak tadi hanya diam.

“Maafkan bapak. Bapak tak tahu kau bisa menulis sebaik ini,” matanya berkaca-kaca. Diarahkan berganti-gantian ke arahku dan pada lembaran kertas di tanganku. “Maksud bapak, kita tak boleh hanya diam menunggu hujan. Kalau hujan belum turun, kita siapkan ladang, siapkan benih. Sehingga ketika turun hujan kita sudah siap menanam. Jangan sampai beranggap, belum datang hujan lantas kita tidur. Dan ketika datang hujan baru kita panik membersihkan ladang atau kocar-kacir mencari benih,”

“Sudahlah. Kau, teruslah berkarya. Kami mau berkemas. Sepertinya ada yang datang,” kata sang ibu kemudian memanggil anak-anaknya masuk ke dalam gubuk.

Aku menoleh. Di ujung jalan tampak seseorang datang menghampiri.

“Akhirnya kau mau juga datang menyambangi mereka,” ia mama Rika, yang dengannya aku tinggal sedari kecil. “Itu berarti telah dengan sendirinya kau mengidahkan pengampunan. Terhadap keluargamu, terhadap negerimu,” ia melanjutkan.

“Aku hanya ingin tahu tentang lagu kemarau,” jawabku tegas.

“Ya, tak apa. Memang demikian, dengan kau telah menyadari bahwa negerimu negeri kemarau, artinya kau telah membuka diri dan siap melakukan sesuatu yang lebih berarti bagi negerimu,” papar mama Rika. “Oh, ya, mengenai keluargamu, karena kau telah menutup mata dalam waktu yang panjang, maka biar kujelaskan. Adik-adikmu meninggal karena busung lapar. Sebulan kemudian ibumu menyusul karena tak kuat ditinggalkan anak-anaknya. Bapakmu mencoba bertahan hidup. Tetapi ketika datang hujan, ia terlanjur rapuh dan ikut tumbang,” ia memelankan suaranya.

Aku berpaling. Gubuk itu telah tiada. Hanya terlihat dua batu nisan berukuran besar dan tiga lagi berukuran kecil.

Air mataku tumpah. Makin deras tatkala kulihat dari ujung jalan yang tadi pula, kawanku melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Sungguh  terharu.

“Sudah kuduga, pasti sepulangnya dari Jawa kau akan mencari-cari informasi tentang lagu kemarau,” ia berseru dari jauh.

“Bagaimana kau tahu?”

“Sudah kau dapat sejarah lagu kemarau?” ia malah balik bertanya saat mendekat.

“Ini…” kusodorkan padanya lembaran kertas usang di tanganku.


Keterangan:

  1. KASIH  : Kupang-Asri-Sehat-Indah-Hormanis
  2. Usi       :  Tuhan
  3. Bebak   : Anyaman batang daun gewang
  4. Gewang  : Sejenis daun palem yang sudah mengering
  5. Siki doka  : Jenis permainan tradisional yakni pemain melompat menggunakan satu kaki di setiap petak yang telah digambar sebelumnya di tanah; serupa permainan Engklek di Jawa
  6. 6. Lelepak  : Pemikul dari belahan batang bambu
  7. 7.   E…Usi manse ma’taen leuf. Hoi nameot naen le sa sa  :Tuhan…panas ini sungguh membara. Telah mengeringkan kami
  8. 8. E Usi Uis amnanut am nauto. Thanik tankai Usi oh… : Tuhan, Kau yang penguasa dan penyayang umat… Tolong, siramilah kami, dengan guyuran hujanmu, Tuhan.

*** Sumber inspirasi berasal dari lagu “Usi Apakaet” karya Jhon Thius, yang dipopulerkan oleh Nekmese Group (Soe-Timor), serta dinyanyikan kembali oleh Mazmur Choral Kupang pada Bandung International Choir Competition 2012 di Bandung dan oleh UPH Choir pada China International Chorus Festival and IFCM World Choral Summit 2012 di Beijing, China.

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

2 comments on “Ratapan Kemarau

  1. rima soliah budi astuti berkata:

    izin copast untuk tugas sekolah ya kak 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s