Kuasa Kata-kata dan Keajaiban Allah, Saya berkaca

Seperti yang saya percayai, tiada yang kebetulan.

Untuk buku-buku rohani, saya memang paling suka terbitan Momentum. Awalnya saya mengenal buku Momentum itu dari kakak sepupu saya yang adalah seorang staf Perkantas cabang Kupang. Lalu lebih intens lagi mengenalnya ketika di bangku kuliah, buku-buku teks atau referensi untuk mata kuliah ST yang untuk terjemahan Bahasa Indonesia biasanya terbitan Momentum. ‘Makanan’ saya saat mengalami masa-masa kritis sewaktu kuliah itu juga lebih banyak dari Momentum. Rasanya selama di Karawaci, saya merasa kaya. Jiwa saya penuh.

Namun kebanggaan akan jiwa yang penuh itu perlahan–lahan memudar sejak selesai kuliah dan menjalankan tugas penempatan. Di tempat saya (maksudnya di perpustakaan SLH Kupang) buku sangat terbatas. Apalagi seperti yang saya harapkan. Maka itu, entah kenapa jiwa saya pun lamat-lamat mulai terasa susut. Terasa kering. Dahaga benar. Rindu akan percikan-percikan dari buku terbitan Momentum. Biarpun begitu, saya tetap berusaha menjalani hari. Walau dengan tertatih-tatih.

Rindu saya terobati, ketika suatu hari di sekolah saya pergi ke perpustakaan dan melihat ada  setumpukan buku-buku terbitan Momentum. Betapa senang hati saya. Sungguh. Tak dapat menahan diri untuk hanya berdiri dan diam. Berulang-ulang kali saya mengungkap syukur pada Tuhan dengan cara saya… 🙂 🙂  Ibu Merry yang adalah pegawai perpustakaan di sana hanya senyum-senyam melihat laku saya. Katanya, buku-buku itu baru saja dikirim donatur dari Jakarta. (Terima kasih kepada donatur, Tuhan telah memakaimu…))

Sejak itu bila sempat ada waktu luang (waktu yang ‘disempat-sempatkan’, atau lebih kasar lagi mencuri-curi waktu luang…:p), saya biasa pergi sebentar ke perpustakaan untuk melihat-lihat judul buku apa saja yang ada di sana. Kadang sekalian nongkrong untuk membaca topik-topik yang memang saat itu ingin dibaca. Sempat terpikirkirkan untuk saya sediakan waktu membaca buku-buku tersebut untuk saya buatkan resensinya. Ah, entah sudah berapa banyak orang yang membuat resensi, atau sudah berapa lama buku ini terbit saya tak peduli. Pikir saya ya sambil menyelam minum air. Sambil mengasah kemampuan menulis resensi sekalian jiwa saya diberi kandungan gizi. Hanya tinggal mengatur waktu saja.

kuasakataf

Sumber: Momentum

Kemarin, Kamis, 05 Desember 2013, sore kira-kira jam setengah tujuh malam, sambil menunggu kabar teman saya untuk kami pergi ke suatu acara, saya nongkrong lagi di perpustakaan untuk membaca melihat-lihat buku. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah judul, Kuasa Kata-kata dan Keajaiban Allah.

“Nah, ini dia buku tentang Kuasa Kata-Kata yang pernah saya lihat dulu sewaktu kuliah. Ternyata ada di sini,” saya berseru sampai mengagetkan satu teman saya yang saat itu juga sedang berada di ruang perpustakaan.

“Ah, besok bagaimanapun saya haru pinjam buku ini,” saya bergumam.  “Bisa tidak saya bawa buku ini sekarang nanti besok baru saya lapor ke ibu Merry,” saking tak sabar saya beralih kepada teman saya dan bertanya dengan nada bercanda lalu terkekeh.

“Ah, janganlah. Sabar saja. Kan masih bisa besok,” teman saya menyahut.

Baiklah.

Lalu pergilah saya dan teman saya ke suatu acara yang sudah kami rencanakan sebelumnya.

Saya pun membolak-balik halaman buku itu. Sebenarnya pokok bacaan yang ingin sekali saya baca itu ada di bab 5 buku itu yang judul babnya Cerita yang Membentuk Iman oleh Daniel Taylor. Dorongan ini pun karena beberapa minggu sebelumnya saya juga baru selesai membaca buku Seni Bercerita dari AL Simanjuntak terbitan BPK Gunung Mulia  Maka itu pikiran saya sekarang masih hangat dengan bacaan-bacaan yang berkaitan dengan cerita.

Karena tak bisa meminjam sore itu, siang tadi, Jumat, 06 Desember 2013, di sela-sela jam istirahat saya pergi ke perpustakaan meminjam buku itu, Kuasa Kata-Kata dan Keajaiban Allah. Buku ini ditulis oleh beberapa kontributor dengan editor umum John Piper dan Justin Taylor. Betapa senang hati saya akhirnya bisa meminjam buku itu untuk dibaca.

Ternyata sore tadi, sang iblis yang kerjanya berkeliaran, merayap masuk. Kejadian itu berlangsung begitu cepat dan tak terkontrol. Tanpa sengaja saya terlanjur menanggapi kata-kata dari seseorang yang semestinya tak perlu saya tanggapi. Kata-kata dari orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Suara kaleng rombeng. Tak penting mendengarkannya. Anggap saja angin lalu. Sebab itu tiada artinya. Tiada manfaatnya menanggapi orang seperti demikian. Semestinya saya mafhum, demikian kata orang-orang tentang laku orang itu.

Sekarang yang perlu itu hanya doa, katanya. Oh, doa. Semoga Tuhan memberikan kepada saya hati yang putih.  Tapi sudah. Saya terlanjur jatuh. Sekali lagi, semoga Tuhan memberikan kepada saya hati yang putih. Hanya oleh kuasa-Nya saya bisa.

Selesai.

Sepulang sekolah, sejenak tak ingat lagi saya dengan buku yang dipinjam tadi. Sesampai di rumah, sementara mandi saya merenung. Segala yang terjadi tidaklah kebetulan. Itu yang saya percayai. Saya sebagai pencerita tentu harus menyadari(saya suka cerita, suka membaca cerita, suka menulis cerita) bahwa memang terkadang Tuhan menghadirkan karakter tertentu agar kita bisa mempelajari berbagai karakter. Entah dia akan jadi protagonis yang disayang pembaca, atau antagonis yang dibenci dan dicaci. Intinya saya harus bersyukur. Terima kasih Tuhan karena dengan adanya kejadian ini, salah satu karakter dalam pelaku-pelaku cerita saya akan semakin kuat.

Seusai mandi, saya mengobrol sebentar dengan tetangga kamar. Sejenak lupa lagi saya buku yang dipinjam tadi. Lalu ketika saya masuk kamar dan berdiam di sana, baru saya ingat, sepertinya ada yang menyenangkan hari ini. Apa kira-kira ya.?

Memicing mata, putar otak, oh iya, buku Momentum. Segera saya buka tas. Maksud hati ingin melanjutkan bacaan di bab 5 yang belum selesai. Tentang proposisi dan cerita. Namun bagian pendahuluan buku ini sepertinya sangat menarik. Nah, karena tidak diburu waktu lagi maka kini saatnya membaca dengan baik. Harus diketahui dulu latar belakang pembuatan buku ini, kata pengantarnya–ini memang kebiasaan saya membaca buku sebenarnya. Mengenai Kata-Kata.

Begini bagian pendahuluannya.

Kata-Kata. Kita memikirkan kata-kata, mendengar kata-kata, mengucapkan kata-kata, menyanyikan kata-kata, menuliskan kata-kata, dan membaca kata-kata–sepanjang waktu. Setiap hari.

Bahkan Allah, memulai adanya alam semesta dengan kata-kata. Dengan kata-kata pula Ia mengatur, memberi nama, mengartikan, memberkati, mengutuki, mengajar, dan memperingatkan. Serta dengan kata-kata yang menjadi daging –sesuai yang saya imani- saya ditebus. Betapa berkuasanya kata-kata.

Jadi bagaimana kita harus hidup?

Menurut pendahuluan dalam buku ini, kitab Amsal adalah bagian yang tepat untuk memulai. Sebab di sana ada pernyataan-pernyataan penuh arti mengenai seperti apa perkataan yang saleh dan yang tidak saleh.

Sebagai contoh pada kitab Amsal:

PS      : Perkataan Saleh
PTS     : Perkataan Tidak Saleh
10:32 => PS  : Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan
         PTS : Mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat
12:8  => PS  : Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan
         PTS : Orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang
13:1  => PS  : Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya
         PTS : Seorang pencemooh tidak mendengarkan didikan
13:3  => PS  : Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya.
         PTS : Siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan
13:10 => PS  : Mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.
         PTS : Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran
13:18 => PS  : Siapa mengindahkan teguran, ia dihormati
         PTS : Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan
14:3  => PS  : Orang bijak dipelihara oleh bibirnya.
         PTS : Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya.
14:25 => PS  : Saksi yang setia menyelamatkan hidup.
         PTS : Siapa menyembur-nyemburkan kebohongan adalah pengkhianat.
15:1 =>  PS  : Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman
        PTS  : Perkataan yang pedas membangkitkan marah

Demikian.

***

Berikut ini ringkasan dari Bab 5 yang sangat saya suka:

Antara Proposisi dan Cerita

Proposisi itu penting. Tuhan itu kuat. Tuhan itu baik. Tetapi proposisi itu bergantung pada cerita-cerita yang melahirkannya untuk mendapat kekuatan dan makna penerapan praktis. Cerita menyediakan dasar keberadaan yang di atasnya proposisi itu ada. Jika tidak ada cerita, maka proposisi itu tidak memiliki makna (hal. 119)

Penegasan: Proposisi ada untuk cerita, tetapi proposi juga bergantung pada cerita-cerita untuk mendapatkan maknanya yang tertinggi.

Untungnya, kita tak diminta memilih antara proposisi atau cerita. Bagi kita disediakan keduanya, karena masing-masing memiliki tujuan sendiri. Proposisi dan cerita saling memerlukan satu sama lain. Masing-masing memiliki keterbatasan yang harus dihormati oleh pihak lain (hal. 121).

Dikutip dari buku Kuasa Kata-Kata dan Keajaiban Allah terbitan Momentum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s