Terkapar Lapar di Christiania

Judul       : Lapar
Judul asli  : Sult (Hunger)
Penulis     : Knut Humsun
Penerjemah  : Marianne Kattopo
Penerbit    : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun       : 2013
Ukuran      : xxii + 284.; 13,5 x 18,5 cm
ISBN        : 978-979-461-850-9

 

Sumber: Obor

Lapar adalah sesuatu yang pernah menghinggapi hampir setiap orang di muka bumi. Bahkan Yesus yang diimani umat Kristen sebagai anak Allah pun pernah didera rasa lapar hingga dicobai iblis di padang gurun. Tak ada seorangpun manusia yang bisa luput dari rasa lapar, sehingga dalam hidupnya ia mesti bekerja demi mengusir rasa lapar yang secara berkala mendera. Demikian yang dilakukan sang tokoh ‘aku’ dalam novel Lapar. Didera rasa lapar yang terlampau pelik, ia berusaha dan berjuang penuh semangat demi mengusir rasa lapar.

Lapar karya Knut Humsun, seorang novelis Norwegia, peraih Hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1920, mengisahkan tentang pergolakan jiwa tokoh ‘aku’ pada suatu musim gugur di kota Christiania-nama kota lama Oslo di Norwegia. Kota Christiana, sebagaimana yang diungkapkan pada paragraf pertama halaman buku ini, sebuah kota aneh yang tak meluputkan seorangpun tanpa bekas mendalam pada dirinya (hlm. 3).

Perjalanan tokoh ‘aku’ yang adalah seorang penulis muda, demikian menderitanya, nyaris melampaui derita para gelandangan yang sering ditemui di jalan-jalan kota Jakarta. Suasana kejiwaan tentang lapar langsung terasa pada pembukaan bagian pertama paragraf dua, ‘Aku sedang terkapar, terjaga, dalam kamarku di loteng rumah (hlm. 3).

Hidup sang penulis muda ini tidak menentu. Berpindah dari satu penginapan ke penginapan yang lain karena diusir – baik secara halus maupun terang-terangan- oleh induk semangnya karena biaya penginapan tak kunjung dibayar. Selama masa penjelajahan di kota Christiania, tak ada sepeser uangpun di saku. Maka barang-barang di kamarnya dibawanya ke rumah gadai demi mendapatkan sedikit uang, yang bisa dipakai untuk setidaknya mengisi perutnya dengan sekeping roti atau mungkin makanan yang sedikit lebih bergizi misalnya sepotong bistik sapi. Selama itu pula ia berusaha mencari pekerjaan tapi selalu tak berhasil. Sedang dalam hidupnya sebagai manusia ia lapar dan butuh makan. Satu per satu barang yang melekat di badannya pun berpindah ke rumah gadai. Hingga yang tersisa adalah selimut tempatnya berbaring yang dipinjamkan temannya pun, ingin pula ia gadai. Namun cepat datang rasa bersalah yang membatalkan niatnya. Tak kurang akal, kancing bajunya pun dicopot untuk digadai, lalu kacamatanya yang melekat di wajahnya. Untunglah orang tidak tertarik akan kancing baju dan kacamatanya yang tidak berharga itu.

Demikian ia menahan lapar berhari-hari hingga tak ada sesuatupun yang masuk ke perutnya.  Tampangnya sangat kurus dan menyeramkan, sampai rambut di kepalanya rontok bergumpal-gumpal. Terkadang karena harus menahan lapar, ia memunguti kepingan-kepingan kayu di pinggir jalan untuk digigit, atau batu-batu kecil yang dibersihkan untuk sekadar dihisap, serta mengemis tulang dari tukang daging dengan alasan ‘untuk anjingku’ yang kemudian ia makan daging mentah itu, lalu dimuntahkannya kembali saking mualnya menelan daging mentah.

Sekalipun menderita kelaparan, ia tak mau menjadi gelandangan atau pengemis yang hidup hanya dengan mengandalkan belas kasihan orang lain. Sebab ia menyadari di dalam dirinya ia punya sesuatu yang bisa memberinya lebih daripada sekadar makanan. Ia menulis artikel, atau cerita bersambung untuk dikirm ke majalah-majalah dan koran. Ia berharap agar dari hasil tulisannya ia mendapat setidaknya lima atau 10 krone per tulisannya (mata uang Norwegia, yang pada waktu tahun 1890, 1 krone nilainya sekitar Rp.1500).

Bahkan, ia mempunya hati yang entah begitu berbelas kasih ataukah menurut saya sedikit dungu. Sebab apa, ia begitu cepat terkesan pada orang-orang yang ditemuinya baik di jalanan atau di manapun yang walau hanya sedikit saja memperlakukannya dengan baik. Entahlah, mungkin karena ia merasa tidak pantas diperlakukan dengan baik, sehingga bila ada orang yang memperlakukan dengan baik maka langsung memekar rasa harunya. Tak hanya itu, ia pun sering berjanji pada dirinya sendiri, kelak jika ia punya uang memadai dari hasil menulisnya, ia akan membalas kebaikan orang-orang yang pernah telah berbaik hati padanya, termasuk kepada salah satu induk semangnya yang sudah memarahinya dan mengusirnya untuk segera keluar dari rumah, namun pada malam harinya masih berbaik hati memberikannya sekeping roti dan segelas susu.

Gaya bahasa yang digunakan Knut Humsun dalam novel Lapar ini tidaklah terlampau berat untuk diikuti. Bahkan dapat dikatakan hal yang diceritakannya merupakan persoalan keseharian yang juga sering terjadi pada setiap orang, yakni ketika sang ‘aku’ harus terkapar lapar di Christiania. Tetapi memang harus diakui bahwa penggambaran detail dan kecermatan dalam menuturkan pergolakan batin sang pelaku itulah yang menakjubkan, dan benar-benar terasa nyata di benak pembaca. Apalagi ketika ia menyajikan tentang pergolakan batin sang pelaku mendebat dirinya sendiri, bertanya pada Tuhan, serta dengan sesuatu di dalam dirinya, yang dikutuk dan disumpahinya sebagai monster-monster gelap yang hanya menghalangi kemujurannya, dan mereka akan terbakar di api neraka.

Penyajian konflik batin yang indah. Sehingga menurut saya novel ini patut dibaca siapa saja, terutama yang mereka yang tertarik menggeluti dunia tulis-menulis. Hanya saja mungkin karena novel ini lebih banyak menyajikan konflik batin, maka penyajian teknis novel ini bila dikaji berdasarkan EYD terkesan kurang jelas penempatan huruf kapital dan tanda kutip bila sang tokoh yang berbicara. Satu contoh misalnya pada halaman 224 paragraf dua.  Di sana tertulis: Aku takut bahwa ia memaksa diri untuk bersikap lembut terhadapku, aku cuma berkata, Betapa cantiknya Anda sekarang!

Terlepas dari itu, kesimpulan saya adalah novel Lapar karya Knut Humsun ini padat bermakna. Membacanya kita lalu berkaca, betapa memalukan kita yang baru tertimpa sedikit sakit tapi dengan reaktif mengeluh dan mengutuk Tuhan. Juga bahwa panggilan hidup lebih berharga, lebih bernilai, lebih indah dari perburuan harta ataupun makanan sebagai pengusir rasa lapar yang mengusik. Sebagaimana yang dituliskan Mariane Kattopo pada Kata Pengantar buku ini, pada hakikatnya, pengalaman tokoh ‘aku’ dalam Lapar ini dapat mencerminkan pengalaman barang siapa ingin hidup menurut keyakinan dan panggilan yang membakar hidupnya; barang siapa yang ingin hidup, bukan saja mencari nafkah sesuai ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang hendak dipaksakan oleh masyarakat sekitarnya (hal. xvi).  

 *Novel Lapar yang diresensi ini adalah salah satu buku hadiah pemenang 10 cerpen prospektif Lomba Obor Award 2013.

**Resensi ini dimuat dalam Jurnal Sastra Santarang, edisi November 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s