Pelajaran Bersyukur

Betapa indah hari ini. Menyusuri lorong-lorong Kuanino. Dari satu rumah ke rumah lain-mereka anggota GKII Betel Oebobo. Bercerita dengan oma-oma (tiap rumah memang ada 1 omanya).

Senangnya apa?

Jauh dari dunia gosip, jauh dari suara kaleng rombeng orang-orang di jalanan, jauh dari hiruk pikuk isu-isu politik, hukum, ekonomi, dll. Bicara mereka sederhana. Pengalaman, kegiatan keseharian, sakit-sakit orang tua, dan di antaranya masih sempat-sempat menyaksikan kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Betapa mereka bersyukur untuk segala sesuatu. Bahwa untuk bisa menyuapkan makanan ke mulut pun mereka bersyukur. Bahwa untuk bisa menelan makanan pun mereka bersyukur. Bahwa untuk bisa bangun dari tempat tidur dan bisa duduk atau berdiri pun mereka bersyukur. Bahwa untuk bisa menyeret satu atau dua langkah kaki pun mereka bersyukur. Masih banyak lagi contoh lain yang kemudian timbul di benak.

Mendengar kisah mereka, mata saya berkaca, “Bagaimana dengan saya?”

Contoh yang paling dekat, bahkan untuk berjalan ke kamar kecil saja dalam hati agak kesal. Kekesalan itu kemudian kadang saya ungkapkan kepada orang yang pas ada di dekat saya, “Banyak minum air putih ni, mesti harus sering-sering ke toilet ya...”

Itu kata-kata yang tak harus dapat tanggapan balik dari orang-toh, apa yang mau ditanggapi. Kata-kata yang sekadar diucapkan begitu saja. Hanya untuk mendapat kepuasan pribadi–sebab kita lega dapat mengeluarkannya–dan orang lain yang mendengar jadi terganggu (yah, bukannya kita pun sering terganggu ketika mendengar orang lain mengeluh…?)

Keluhan saya tentang perjalanan ke kamar kecil itu saja sudah menggambarkan berapa banyak hal yang tidak saya syukuri, antara lain:

  1. Saya tak bersyukur bahwa saya masih berjalan dengan dua kaki yang masih sehat dan kuat
  2. Saya tidak bersyukur bahwa saya masih bisa menjalani proses menelan air yang melewati kerongkongan
  3. Saya tidak bersyukur bahwa di tempat saya masih tersedia air bersih
  4. Saya tak bersyukur bahwa proses ‘biologi’ tubuh saya masih baik. Hmm…mungkin sampai di sini saja dulu saya berungkap…;)

Adakalanya kita memikirkan misteri semesta yang megah nan agung, namun yang di dekat kita pun tak kalah agung menyingkap tentang bagaimana semestinya tanggung jawab kita sebagai manusia bentukan Tuhan.

Nikmatilah proses perjalananmu sambil terus mengucap syukur. Dalam segala hal. Tentu, hanya oleh dan karena kekuatan yang datang dari-Nya. SDG… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s