Pameran Lukisan “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata”

Pameran Lukisan “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata” merupakan salah satu program  Pameran Keliling Karya Pilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI). Program ini sesuai yang dituliskan di website mereka, bertujuan untuk memperkenalkan karya-karya seni rupa koleksi negara yang disimpan oleh Galeri Nasional Indonesia sehingga dapat langsung dilihat dan diapresiasi oleh masyarakat luas di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pada pameran ini, selain ditampilkan karya pilihan koleksi GNI, juga ditampilkan karya  perupa wilayah setempat yang dipilih dan disajikan secara berdampingan dalam satu ruang pameran.

Pada tahun 2014, NTT mendapat kesempatan menjadi salah satu tempat tujuan dari program tersebut. Di Kupang, pameran ini dibuka selama seminggu dari tanggal 28 April – 3 Mei 2014, bertempat di Taman Budaya Prov NTT. Dibuka dari pukul 09.00 – 17.09 wita.

Pada pameran “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata” ini, terdapat 40 karya yang dipajang. Karya-karya tersebut antara lain 20 lukisan karya para maestro seni rupa Indonesia dan Internasional yang menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia serta 20 karya perupa pilihan Nusa Tenggara Timur.

Saya sendiri senang dan bersyukur sempat berkunjung ke sana walau baru pergi di hari terakhir pameran karena itu tepat di hari Sabtu. Hari-hari lainnya saya tak sempat karena melihat waktu buka yang hanya sampai di pukul 17.00. Saya cukup senang karena walau di hari terakhir, saya masih sempat mendapat katalognya.

20170202_203336

Dari beberapa karya yang dipajang di sana, hampir semuanya tentu bagus, menarik, punya cerita uniknya sendiri. Namun di antara mereka, ada satu yang paling saya suka. Karya itu berupa lukisan. Hasil karya seorang pelukis NTT yakni Fecky Messah. Lukisan itu diberi judul Red My World yang ‘anehnya’ bisa diterjemahkan menjadi (atau mungin adalah terjemahan dari) Dunia Merah.

Red My World (Dunia Merah) oleh Fecky Messsah. 2013.                               Cat minyak di kanvas. 155 cm x 120 cm.

Ada beberapa alasan saya menyukai lukisan tersebut. Berikut ini saya uraikan alasan-alasannya.

Pertama, objek lukisan itu adalah seorang bocah. Saya sangat menyukai sesuatu yang beraroma bocah terutama dalam seni. Entah itu cerita, film, foto, lagu, ataupun lukisan. Saya sendiri punya kumpulan cerpen yang juga bercerita tentang bocah. Judulnya Persinggahan Bocah Indigo, atau dapat disingkat dengan PIB. PIB itupun adalah cerpen pertama saya yang dipublish di media cetak ketika saya masih duduk di bangku kuliah semester 6. 🙂

Kedua, saya menyukai warna merah. Lukisan Red My World atau Dunia Merah ini dilatarbelakangi oleh warna merah. Selain selimut yang membungkus sang bocah, juga tampakan alam di baliknya yang juga berwarna merah. Alam yang di atas tampak lebih merah terang daripada di bagian bawahnya yang nampak lebih gelap. Di bagian bawahnya, tampak juga bebatuan yang tandus, ditemani beberapa batang pohon kering tak berdaun. Lukisan ini benar-benar menggambarkan NTT yang sebagian besar wilayahnya kering, gersang, dan panas.

Ketiga, saya suka cara sang bocah memandang. Pada lukisan tersebut, ia mengarahkan matanya ke arah kiri bawah. Ia seperti bukan sedang melihat sesuatu, melainkan sedang berpikir atau mengenang. Ada sebuah catatan kenangan yang terpancar dari pandangan matanya. Mungkin ia sedang mengenang orang-orang terkasihnya yang baru saja meninggalkan dunia, atau adiknya yang merengek kelaparan namun tak tersedia cukup makanan di rumah, atau kakeknya yang berjalan berbungkuk-bungkuk mencari hasil-hasil hutan yang mungkin dapat dimakan, atau tetangganya yang baru tadi pagi datang memarahi ibunya karena memukul anaknya yang usil, atau keinginannya bersekolah tak dapat diteruskan karena tenaganya dibutuhkan di rumah demi membantu bapak dan ibunya di kebun atau ladang-ladang yang bahkan tak lagi mampu menumbuhkan tanaman.

Keempat, dari sosok sang bocah, terlihat ia bukan seorang anak yang hidup hanya untuk bersenang-senang dan menganggap hidup ini memang berjalan apa adanya tanpa perlu diperjuangkan. Badannya yang kurus dengan telapak tangannya yang nampak lebih besar, cukup menggambarkan bahwa ia adalah seorang pekerja keras. Tangannya yang masih berumur muda itu mungkin sudah berpengalaman dalam membongkar batu, menggali tanah, memotong kayu, mendorong kereta, menarik binatang-binatang ternak, mengangkat apapun itu yang berbeban berat. Ia memang bocah yang luar biasa.

Demikian beberapa alasan saya kenapa saya menyukai lukisan Red My World atau Dunia Merah. Seandainya saya boleh diberi kesempatan menamai lukisan itu, maka akan saya namai Bocah dalam Balutan Merah.

Ia bocah, hidup di alam yang penuh tantangan, namun berani menghadapi dan menjalaninya. Demikian berlama-lama memandang lukisan ini, saya jatuh cinta pada bocah. Salut untuk Bapak Fecky Messah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s