Messe, Putri Tuhan

{Cerpen ini dimuat dalam Jurnal Sastra Santarang edisi 32, Desember 2014}

10850244_376061002518794_7258195707627273746_n

Sampul depan Jurnal Sastra Santarang ed 32, Des’14. Sumber gambar: File Santarang

Messe menatap dengan geram setiap kali teman-temannya bercerita tentang bapak mereka. Katanya bapak mereka pergi berburu. Bapak mereka pergi melaut. Bapak mereka menasihatkan begini. Bapak mereka menasihatkan begitu. Bapak mereka melarang ini. Bapak mereka melarang itu. Selalu dengan nada bangga kalau bercerita. Tak jarang pula Messe melihat mereka sering bermanja ria, merengek minta sesuatu dari bapak mereka. Lalu bapak mereka akan merogoh kantong baju atau celananya, lantas mengeluarkan sekeping dua keping logam. Mereka akan menerimanya dengan tawa sumringah lantas berlari berjingkrak menuju gerobak es tong-tong atau kios gula-gula.

Tampakan-tampakan itu hanya memaksanya menelan pahit ludah. Bagaimana tidak, semua temannya mempunyai satu sosok laki-laki besar yang mereka panggil bapak. Hanya ia seorang yang tak tahu kepada siapa ia lemparkan panggilan itu.

Di rumah hanya ada ia dan ibu, serta tiga orang adiknya, seorang perempuan dan dua laki-laki yang masih kecil. Sejak ia keluar ke bumi dan menghirup aroma tanah, tak pernah ada sosok laki-laki besar di rumah. Ibu pun tak pernah menceritakan siapa pemberi benih dalam rahimnya, hingga melongok keluarlah empat anak manusia ke bumi. Terdengar ke telinganya gunjingan-gunjingan tetangga kalau mereka empat bersaudara dari satu ibu yang berbeda bapak. Bapak mereka masing-masing pergi meninggalkan ibu setelah menanam benih di rahim ibu.

Di sekolah teman-teman laki-lakinya sering mengolok dan mengejeknya sebagai anak haram. Tak berbapak, dari ibu seorang pelacur. Anak-anak yang tak berbapak adalah karena ibunya melacur dengan sembarang laki-laki. Sebab tidak mungkin seorang anak lahir hanya dari perempuan tanpa sentuhan laki-laki. Melainkan karena ada laki-laki dan ada perempuan itulah yang menganakan satu kepala muncul ke bumi. Mendengar olok-olok mereka, seperti ada perih yang menyusup di ulu hatinya. Tapi yang bisa ia lakukan adalah berdiam dan memendamnya. Kadang ada buliran bening menggantung di sudut matanya. Namun buru-buru akan ia usap dengan telapak tangannya atau ujung lengan bajunya. Tak pernah ia membalas mengolok apalagi memaki. Ia hanya diam-diam menguatkan dirinya dengan rajin bekerja dan rajin belajar demi membanggakan ibunya. Agar di sekolah ketika penerimaan rapor, orang-orang melihat bahwa ia anak haram, tak berbapak dari seorang ibu pelacur tapi ia berprestasi.

Beberapa minggu lagi natal tiba. Lagu-lagu natal sudah mulai dikumandangkan. Entah  di tape recorder para tetangga dengan speaker besar disusun berundak, atau digemakan lewat radio. Warta jemaat gereja mulai mengumumkan persiapan natal. Para orang tua terutama bapak-bapak yang punya simpanan uang sudah mulai membelikan baju-baju baru dan sepatu baru buat anak mereka. Anak-anak seusianya sudah ramai memperbincangkan baju natal, sepatu natal, serta kembang api yang dibelikan bapak mereka, atau meriam bambu yang sementara disiapkan kakak lelaki mereka. Anak-anak yang bersekolah di kota sudah pula berbondong-bondong datang berlibur. Menghabiskan liburan natalnya di rumah bersama keluarga. Di antara mereka ada yang mengabdikan dirinya menjadi pelayan gereja. Menjadi pembimbing anak-anak sekolah minggu. Mereka membawa lagu baru dari kota, atau tarian atau pertunjukan baru untuk dikenalkan dan dipentaskan anak sekolah minggu yang selalu menunggu dengan antusias setiap pertunjukan di malam natal.

Tidak ketinggalan pula Messe. Ia selalu menanti masa-masa menjelang natal maupun masa natal. Sebab selain ia merenungkan tentang Tuhan yang maha agung pernah juga menjadi bayi manusia, ia juga sangat senang mendapat bagian dalam talent show, istilah yang disebutkan kakak-kakak pembimbingnya untuk acara pertunjukan seusai kebaktian di malam natal. Talent show dapat berupa menyanyi solo, atau paduan suara anak sekolah minggu, atau menari, atau membaca puisi, atau bermain drama, atau bahkan ada beberapa pemuda akan mementaskan lawak yang membuat hadirin akan tergelak-gelak sambil menikmati makanan dan minuman mereka. Talent show menjadi acara yang ditunggu-tunggu setiap anak usai kebaktian natal. Bagi mereka itu momen tak terlupakan baik oleh mereka yang tampil ataupun yang hanya menonton. Sebab sesudah itu mereka akan memperbincangkannya di jalan-jalan sepulang acara natal, atau bahkan keesokan harinya pun acara talent show itu kerapkali menjadi bahan obrolan para ibu yang sedang ramai mencuci pakaian di perigi, atau anak-anak perempuan yang mengumpulkan kayu kering di ladang-ladang. Seperti halnya di talent show malam natal tahun lalu, Messe tampil menyanyi dan menari. Ia masih ingat, saat itu ia mengenakan dress kembang warna putih, berkaos tangan putih, stocking putih, bersepatu putih, serta bermahkota kertas karton berwarna emas. Bersama ketiga orang temannya mereka menyanyikan lagu Malam yang Indah sambil menari-nari mengikuti alunan musik. Malam itu ia merasa seperti malaikat. Keesokan harinya ramai perbincangan orang. Bahwa gadis haram, yang tak berbapak dan beribu pelacur itu tampil sempurna bak malaikat. Walau ia yang terkecil di antara keempat penari, tapi ialah yang paling terlihat percaya diri dan paling luwes bergerak. Sayang tak ada kamera atau handycam yang bisa mengabadikan momen malam itu. Di talent show kali ini Messe mendapat bagian lain. Ia akan tampil bermain drama. Dalam drama singkat itu ia mendapat peran sebagai Maria, perempuan yang melahirkan bayi Yesus. Tentunya tak lepas dengan tokoh Yusuf, pasangannya seperti yang diceritakan di kelas sekolah minggu. Diterimanya dengan perasaan yang beradu padu. Antara terkejut juga bahagia. Sudah sejak lama ia mendamba bermain drama. Peran apa saja ia dapat asal itu adalah bermain drama. Sebab selama ini ia hanya boleh puas tampil sebagai pembakar lilin di pohon terang, atau ikut serta dalam paduan suara, atau tampil menari, dan membaca puisi. Bermain peran bagi anak-anak sekolah minggu adalah sesuatu yang menakjubkan. Seolah itu puncak atau inti dari semua acara talent show. Setiap anak yang pernah ikut bermain drama setelahnya mereka merasa bak bintang film. Kepala mereka akan membengkak sebesar balon terbang. Sebab dari semua peserta talent show, para pemain drama itulah yang biasanya lebih disorot. Memikirkan kesehariannya sudah dikenyangkan dengan gunjingan anak haram, Messe ingin sekali menunjukan kemampuannya bermain drama. Ia berharap dengan kemampuan lainnya ini, setidaknya gunjingan bisa berganti sikap menghargai atau kalau perlu decak kagum.

Malam sepulangnya dari pembagian tugas bermain drama dengan peran sebagai Maria, ia duduk dan mulai membuka kitab yang bercerita tentang Maria ketika didatangi malaikat Gabriel. Ia penasaran dengan penjelasan kakak pembimbingnya di gereja sore tadi. Katanya, Maria waktu itu belum bersuamikan Yusuf, dan Yesus bukan anak kandung Yusuf. Maria adalah perempuan baik yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan laki-laki. Ia tersentak dengan pemaparan tadi. Lalu bagaimana Yesus bisa lahir, sementara untuk seorang anak bisa lahir ke dunia adalah karena ada laki-laki dan ada perempuan? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat hebat di kepalanya. Walau ia tergolong anak rajin dan aktif setiap talent show di malam natal, ia sebenarnya tak begitu paham hubungan Yesus, Maria, dan Yusuf. Setahunya Yesus itu juru selamat yang menebus dosa umat manusia. Yesus adalah Tuhan. Maria adalah perempuan yang melahirkan Yesus, dan Yusuf adalah pasangannya. Pasangan berarti tak lain tak bukan adalah suaminya. Maka Yesus adalah anak Maria dan Yusuf. Walau Yesus adalah Tuhan, tapi Yesus lahir karena ada kedua orang itu. Demikianlah maka malam itu ia membolak-balik kitab yang mengisahkan tentang Maria, Yusuf, dan Yesus. Dibacanya berulang-ulang. Saking semangat ia mengkaji, lupa ia kalau belum makan. Bercampur lapar dan lelah ia membaca sampai tertidur di meja tempatnya belajar.

Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Tuhan. Tuhan datang mengunjunginya sebagai Messe, bukan sebagai perawan Maria. Kunjungan itu terjadi ketika ia baru saja membaringkan diri hendak tidur. Lalu tiba-tiba tampaklah cahaya benderang menerangi seisi kamar. Ia terkejut dan segera bangun, demikian yang ia ingat dari mimpinya.

Dilihatnya Tuhan datang menghampiri. Mengulurkan tangan dan mengelus perutnya, serta berkata, “Di sini ada anakku yang kukasihi. Lahirkan ia dengan selamat. Rawatlah ia, dan biarkan ia tumbuh besar menjadi penyelamat bangsa-bangsa. Ia anak agung, lahir dari rahim seorang yang telah lama kupilihkan.”

“Apakah benar saya, Messe? Sedang saya tidak punya suami, bahkan untuk pacar sekalipun,” ia mengingat teman-teman sekolahnya yang saling mengganggu dengan memasangkan satu sama lain antara perempuan dan laki-laki.

“Jangan takut. Ini aku, Tuhan. Anak yang kau kandung tidak berbapak dunia. Sebab ia anakku,” dengan lembut suara Tuhan menyahutinya.

“Baiklah. Terjadilah padaku seperti yang kau kehendaki,” ucapan pasrah keluar dari mulut Messe.

Kemudian terjadilah seperti yang dirasainya. Isi dalam perutnya mulai menggeliat. Keesokan paginya ketika ia bangun, benar-benar bangun. Dengan takut-takut ia mengangkat ujung bajunya ke atas. Melihat dengan saksama perutnya. Rata. Masih seperti biasa. Tidak terlihat besar seperti perut ibunya, yang kata orang-orang ibunya hamil tiga bulan. Ingin ia pergi ke ibunya untuk menceritakan mimpinya. Namun segera diurungkan niatnya. Takut kalau-kalau ia menyinggung perasaan ibunya. Maka duduk dan bertelut ia berdoa. Meminta petunjuk Tuhan di surga.

Seusai berdoa, terbersitlah di pikirannya suatu ide. Kali ini ia jadi lebih menghayati perannya sebagai Maria, perempuan terpilih di antara banyak perempuan yang terserak di muka bumi. Baginya itu peran istimewa. Betapa agung menjadi ibunda Tuhan, batinnya. Sebab dari rahimnyalah sang Tuhan keluar dan menghirup aroma bumi.

Setiap sore seperti yang sudah ditentukan, ia selalu tepat waktu pergi ke gereja mengikuti sesi latihan. Dengan sungguh-sungguh ia memainkan bagiannya.

“Aku Maria. Aku mengandung. Tapi yang kukandung bukan berasal dari dunia. Janinku adalah benih dari Tuhan. Aku bukan pelacur,” katanya dengan nada bergetar pada suatu kali sesi latihan.

Rekan-rekannya yang sementara beraktivitas mendadak berhenti. Ruangan tempat latihan hening seketika.

“Messe, apakah itu seperti yang tertulis di naskahmu?” tegur satu pembimbingnya.

Messe berpaling. Ia melihat banyak tatapan mata ditujukan ke arahnya.  “Kini baru terbuka pikiranku, kak,” katanya dengan mata memerah. “Bahwa ibuku bukanlah seorang pelacur seperti yang dituduhkan orang-orang kepadanya.”

“Iya?” melongo wajah sang kakak pembimbingnya.

“Ibuku adalah Maria. Ia melahirkan kami empat anak-anaknya yang tak berbapak. Kakak tahu kenapa? Sebab ia mengandung benih yang ditanamkan Tuhan di perutnya. Jadi kami empat bersaudara bukan satu ibu dengan beda bapak. Tapi kami memang satu ibu dengan bapak kami ialah Tuhan. Aku salah satu anak Tuhan. Aku, putri Tuhan.” Ia tersenyum.

*Anaci Tnunay, pembelajar @Sekolah Lentera Harapan Kupang. Bukunya yang telah terbit, sebuah Antologi Cerpen berjudul ‘Persinggahan Bocah Indigo’ tahun 2013.

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s