Di Golgota Angkuhku Tercabik

Oleh Anaci Tnunay
Malam itu kami menerobos gelap demi mencapai Yerusalem di pagi hari. Maksudku agar kami bisa melepaskan lelah sebentar, sebelum acara makan paskah senja nanti. Meletihkan memang menempuh perjalanan dari Kirene menuju Yerusalem. Tapi mengingat kami akan makan paskah bersama di sana membuat jauhnya perjalanan ini jadi tak ada artinya.
“Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan sampai,” aku mengingatkan rombongan kecilku. Kedua anakku, Aleksander dan Rufus, serta ibu mereka, istriku.
Matahari menyembul malu-malu ketika nun jauh di sana, bubungan bait suci Yerusalem mulai nampak. Mungkin sejam atau dua jam lagi kami akan tiba.
Namun hingga sejam lebih berjalan, belum juga kami mencapai gerbang kota, tampak kira-kira 100 meter di depan, ada kegaduhan. Riuh rendah suara orang bersorak. Debu beterbangan oleh tapak-tapak kaki yang berlarian. Mendekat ke arah kami. Mereka baru saja ke luar dari gerbang.
Para serdadu berseragam lengkap dengan cambuk di tangan tampak menghalau massa yang berjalan di depan. Ingin memberi jalan kepada arak-arakkan. Belum jelas arak-arakan apa. Sebab tidak terdengar arak-arakaan yang meriah. Tapi ada semacam permainan olok-olok, ada amuk dan murka, ada juga serupa tangisan kepedihan.
“Aleksander, jaga ibumu dan adikmu! Aku akan melihat apa gerangan yang terjadi.” Kuberikan tali kekangan ke tangan anakku yang sulung.
“Akan disalibkan seorang pemberontak.” Seorang yang lewat rupanya menangkap rasa penasaranku.
“Huh.. Masih saja ada pemberontak di hari raya begini,” aku menggerutu kesal.
Kutinggalkan rombonganku sementara mereka menepi. Arak-arakan semakin mendekat.
Dengan peluh di sekujur badan, aku tiba di antara kerumunan. Mencoba menyibak. Namun pagar betis para serdadu cukup rapat untuk membiarkan orang sipil bisa melihat dari dekat. Hanya dari balik pundak mereka kulihat di tengah-tengah ada seorang pria terseok-seok menyeret salib di pundak-Nya. Di kepala-Nya tersemat anyaman semak duri. Darah mengucur turun ke wajah-Nya. Wajah yang penuh luka dan berlumur darah. Pakaian-Nya telah koyak. Dapat kulihat daging tubuh-Nya juga telah koyak. Berbalutkan lengket darah, keringat, dan debu yang menyatu.
Meski begitu, para serdadu makin menggila. Mereka melecut-Nya seperti keledai tunggangan yang malas berjalan. Bertubi-tubi cambuk di tangan mereka mendarat di tubuh-Nya. Sehingga tak hanya darah yang menyembur keluar menciprati jalanan pun tubuh para pecambuk. Tapi juga daging tubuh-Nya ikut tercerabut bersama ujung cambuk yang padanya diikatkan potongan-potongan kecil besi dan tulang belulang. Itulah kenapa tubuh-Nya koyak.
Tak ada belas kasihan di sana. Jangankan para serdadu. Massa yang menonton peristiwa ini pun tak kalah mengerikan. Mereka ikut mengolok-olok, meludahi, dan mencemooh-Nya. Dengan mata nyalang dan tangan dikepal, mereka meneriaki-Nya sebagai manusia paling bengis. Menyoraki-Nya sebagai manusia paling bejat sejagat.
Ya, mungkin Ia seorang penjahat yang bengis. Mungkin Ia penjahat paling bejat di kota, atau sedunia. Sampai bila sebegitu banyak caci orang-orang tumpah kepada-Nya, jelaslah Ia telah menanam kesakitan dan kemurkaan pada diri banyak orang. Kalau begitu, maka pantaslah Ia disesah serupa itu. Orang-orang yang memberontak haruslah mendapat hukuman berat biar jera. Agar orang di generasi berikutnya tak mencontohi perbuatan buruknya.
“Hai, Kau raja, kan? Raja itu kuat. Ayo, cepat Kau bangun. Jangan berpura-pura!” Olok sang serdadu disusul bentakan keras.
Rupanya Ia jatuh tertindih salib yang dipanggul-Nya. Selintas Ia diam. Tak bergerak.
“Bangun. Angkat salib-Mu. Terus berjalan!” Suara orang banyak memekakan telinga.
Pria itu bergerak. Terlihat jari-jari tangan-Nya berusaha meraup tanah pasir. Meremas sekuat tenaga. Menumpu pada kedua lengan-Nya. Berusaha bangun. Tapi salib itu tetap menindih-Nya. Tak bisa bangun. Dengan sisa tenaga-Nya Ia berusaha menggeser salib di punggung-Nya. Tidak kuat. Ia jatuh telungkup lagi.
“Apakah Ia benar tak kuat, ataukah Ia berpura-pura?” seorang serdadu bergumam.
“Suruhlah seorang budak membawa salib-Nya. Mungkin Ia benar tak kuat,” sahut rekannya.
Ah, sungguh. Memang benar Ia tak kuat. Toh, badannya sudah koyak. Ditendang dan dicambuki sepanjang jalan. Kepala tersemat anyaman duri. Darah tubuh-Nya tercecer sepanjang jalan. Luka dagingnya bahkan terburai dari tubuh-Nya. Harus pula berjalan dengan salib yang besar di atas pundak. Belum lagi tekanan batin-Nya yang dicaci, diludahi, dicemooh, dan disoraki orang banyak.
“Hei, kamu!” Seorang serdadu menunjuk ke arah kami dengan cambuknya.
Aku melihat ke kiri kanan memastikan siapa yang ia maksud.
“Hei…ya, kamu,” serdadu itu memelototkan mata. “Masih saja toleh sana sini,” gerutunya selesai bersamaan dengan tarikan kasarnya.
Aku menggeleng keras. “Aku? Aku bukan budak. Aku baru saja datang. Tak tahu menahu peristiwa ini,” tangkisku membela diri.
Sebuah sentakan keras di pangkal leherku. Mendorongku ke arah pria itu. Terhuyung aku hampir menindih tubuh-Nya yang berbebankan salib.
“Kau pikul salib itu. Iringi tuanmu. Ia raja orang Yahudi!” lantas mereka ramai terbahak.
Enak saja. Makiku dalam hati. Kata siapa Ia rajaku? Tidak. Aku tak merajakan seorang penjahat. Penjahat sebengis dan sebejat Dia. Sampai sebegitu banyak murka orang-orang tumpah kepada-Nya.
Tak segera aku mengangkat salib itu. Aku masih berdiri di samping-Nya. Mengamati dan menimbang bagian mana yang kira-kira paling ringan diangkat.
“Cepat! Jangan bengong.” Tangan besar serdadu membenamkan kepalaku mencium salib.
Aku mengulurkan tangan hendak mengangkat salib. Kutolehkan kepalaku ke muka pria sekarat itu. Astaga! Tepat di saat yang sama, Ia menoleh padaku. Mata-Nya. Tepat menembak mataku. Aku melihat mata-Nya. Darahku tersirap. Lemas tubuhku seketika. Tulangku serasa remuk. Telingaku berdengung kencang, lalu mengatup. Suara teriakan orang banyak, dan cambukan serta makian menjadi seperti suara yang lamat-lamat terdengar dari kejauhan. Ada apa ini? Ada apa? Aih, berat amat salib ini. Betul-betul menyiksa. Memalukan pula harus terseok-seok begini. Sungguh payah.
Aku Simon dari Kirene, orang Yahudi taat. Terhormat. Tak pantas aku memanggul salib ini. Semoga tak ada kenalanku melihat peristiwa memalukan ini lantas menceritakannya kepada kenalan dan sahabat-sahabatku yang lain sehingga aku yang nantinya menjadi bahan olok-olok lagi. Bagaimana pula dengan anak istriku yang baru saja menepi? Apakah mereka melihat peristiwa konyol bapak dan atau suaminya? Apa yang mereka pikirkan sekarang?
Baiklah nanti. Setelah ini, aku akan pergi menemui keluargaku. Memohon pengertian mereka memaafkanku. Semoga mereka tidak malu mengetahui peristiswa tadi. Lalu aku akan beristirahat sebentar, sebelum acara makan paskah senja nanti. Sebab untuk itulah aku berjerih payah di Kirene. Merayakan paskah bersama sanak di Yerusalem, kota tempat Tuhan menaruh nama-Nya untuk dikenang. Bukan untuk hal memalukan ini. Ikut terlibat dalam olok-olok seorang penjahat bejat yang telah merusak hati rakyat.
Aih, kenapa salib ini semakin menekan?
“Sampai di mana mesti kubawa salib ini?” Kutanyakan pada serdadu di sampingku.
“Jalan saja. Tak usah banyak tanya. Tanyakan saja pada-Nya,” sang serdadu menjawab sambil cambuknya diarahkan tepat ke kepala pria di depanku. “Bukankah Ia tuanmu yang tahu bakal ke mana kalian menuju?” lalu disambung dengan tawa.
Serdadu yang lain pun ikut tertawa dan mendorong pria itu dengan cambuk. Ada pula yang menjulurkannya tepat ke anyaman duri di kepala-Nya. Darah di kepala-Nya makin deras mengucur turun ke wajah. Rupa wajahnya tak jelas lagi. Toh, darah kering dan basah telah menyatu. Yang kering menggumpal, yang basah keluar lalu melengket.
“Cepat, hai Raja Yahudi. Kita sudah dekat Golgota.”
Golgota. Tempat tengkorak. Rupanya ke sanalah kami menuju. Dari jauh kulihat bukit di atas sana. Tinggi menjulang menunjukan keangkuhan dan kebanggaannya. Seolah-olah siap menampung sebanyak-banyaknya korban dipancang di sana.
Jalanan yang kutapaki sekarang pun mulai menanjak. Berbatu-batu dan berkelok. Kukerahkan diriku. Sedikit lagi tiba. Sedikit lagi. Aku akan menaruh salib ini. Lalu segera pulang. Tak peduli mau mereka apakan pria ini. Mau seperti apa Ia disalib. Bukan urusanku lagi. Aku hanya mau pulang. Tak sabar ingin berbaring melepaskan letih. Kubayangkan nikmatnya tumpukan jerami di bawah pohon. Tidur berangin-angin merasakan hembusan angin sepoi ditemani suara cicit burung.
“Cepat! Jangan kau melamun!”
Dorongan keras serdadu itu membuatku nyaris terhuyung bersama salib yang kupikul.
Kuperbaiki alas di pundak. Menetapkan hati. Lalu tapak demi tapak kuusahakan terus maju. Menarik salib di pundakku jangan sampai jatuh. Napasku terengah-engah. Kepala mulai pening. Mata pun berkunang-kunang.
Tiba-tiba kurasakan ada tangan di pundakku. Tangan siapa ini gerangan? Kutolehkan kepalaku mencari tahu. Oh, tidak. Dia lagi. Pria yang salib-Nya kupikul. Mata di antara kering luka di wajah-Nya itu, tepat menatapku. Ini kedua kalinya. Serasa aliran darahku berhenti. Membeku di dalam daging. Suara orang-orang dan serdadu perlahan mulai redup. Serasa yang kutahu di sekitarku hanya ada aku dan Dia. Tak ada apa-apa lagi yang kurasakan selain sentuhan tangan-Nya. Tak ada lagi yang membuatku berpaling oleh karena tatapan-Nya. Kini entah kenapa, salib yang kupikul jadi terasa ringan. Ada semacam beban beratku tersedot keluar. Meruap bersama angin. Kini dengan yakin, kuarahkan mataku ke puncak. Bersama-Nya kami menyusuri tanjakan penuh batu hingga tiba di puncak Golgota.
Selanjutnya tak sanggup kulukiskan perasaan aneh yang merasukku. Aku hanya melihat segala sesuatu yang terbentang di hadapanku seperti baru terbangun dari tidur panjang. Aksi-aksi para serdadu mengolok-Nya, membuang undi atas jubah-Nya, meminumkan-Nya anggur asam yang pahit ketika Ia berseru haus, seruan penyerahan diri-Nya menjelang kematian, atau ketika bumi bergoncang disusul runtuhnya bait suci kebanggaan kota, ataupun ketika lambung-Nya ditusuk tombak hingga keluar darah dan air. Semua terbaca satu per satu menggenapi nubuatan para nabi. Apakah ini benar waktunya? Jikalau ya, maka aku telah turut di dalam-Nya. Apakah yang telah kuperankan di sini?
“Ya Allah… tolong katakan padaku, apa yang telah kuperankan di sini?” dengan putus asa aku berteriak. Mengejutkan penjaga yang baru saja menyesali dan menyatakan sesuatu yang membuat perasaanku bertambah tak karuan.
“Ayah… Ayah!” itu pasti suara Aleksander. Ia muncul dari bawah bukit.
Aku bergerak turun mendapatinya. Wajahnya tampak gelisah.
“Ibu menyuruhku menyusulmu. Kami kuatir menunggumu makan paskah bersama. Hari sudah hampir petang. Bukankah Allah akan melenyapkan orang yang mengabaikan paskah?”
“Nak, …” ingin kuucapkan sesuatu. Tapi kata-kataku tertahan di kerongkongan.
“Ayah, kudengar tadi di perjalanan. Katanya kau ikut memikul salib sang pemberontak. Benarkan itu, ayah?” rasa ingin tahu Aleksander menyeruak keluar.
Hatiku terpukul. Apa mesti kujawab. Jawaban apa mesti kuberikan pada anakku. Aku mengasihinya. Aku ingin ia benar setia kepada Allah. Juga adiknya. Tapi sekarang, belum bisa kuberi jawaban itu pada anakku. Aku hanya memandangnya. Tersenyum kecil padanya. Kupegang pundaknya. Kami melangkah dalam bisu menuju penginapan.
Di sana, makan paskah sedang dipersiapkan. Kambing domba dan lembu telah dibantai. Sedang dalam api pembakaran. Tersedia juga roti tak beragi beserta sayur pahit.
Aku diam saja mengamati persiapan mereka. Bahkan hanya mematung ketika semua disajikan. “Bukan aku tak mau makan paskah di sini,” kataku akhirnya. “Tapi hari ini telah kusaksikan korban paskah sesungguhnya. Darahnya menciprati jalanan menuju tempat kematian.”
Mereka semua diam. Menatapku dengan bingung.
***
Ah, rasanya aku ingin saja makan sayur pahit. Sebanyak mungkin kutelan. Agar kutahu dan kunikmati betapa pahit hatiku sekarang. Bukan pahit karena seseorang atau kepada siapapun. Tapi karena diriku sendiri. Kukutuki diriku.
Siapa‬ aku, sampai begitu sombong dan angkuh? Siapa aku, hingga bisa membanggakan diri dan menganggap diri lebih besar di hadapan Tuhan. Siapa aku sampai begitu berlaku kurang ajar kepada Tuhan yang sudah menanggung segala kebejatanku? Siapa aku yang hanya sebentar saja memikul salib tapi menggerutu sepanjang jalan?
Sungguh. Aku malu kepada Tuhan. Ke mana mesti kutaruh mukaku sekarang? Ke mana harus kubawa hatiku yang telah menjadi seperti lilin habis terbakar, hancur luluh di dalam dada? Ke mana mesti kupalingkan jiwaku yang pedih ini? Rasanya aku tak sanggup lagi berdiri.
Ya, Allah. Apakah perlu aku mengadakan korban pendamaian dengan-Mu? Tidak. Tentu ini tak sebanding. Tiba-tiba sesuatu melintas di kepalaku. Mungkin ini lebih baik.
“Tunggulah sebentar, aku pergi mencari sayur.” Kutinggalkan mereka dalam kebingungan.
“Mau ke mana, Ayah? Aku ikut denganmu,” Rufus merajuk. Ia berlari menjajari langkahku.
“Kau yakin ikut denganku, Nak?”
“Yakin, Ayah.” Matanya berkilat-kilat menyahut.
“Yesus yang mati tadi itu Tuhan,” kataku begitu saja padanya. Rufus tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan sorot matanya yang aneh.
Tidak susah mencari pohon bergetah itu. Aku segera mengerat dan menampungnya pada tabung kecil yang kubawa.
“Ayah, kumohon. Jelaskan padaku apa maksudmu ‘Yesus yang mati tadi itu Tuhan’, dan apa hubungannya dengan yang akan kau lakukan ini?” Rufus yang sedari tadi memperhatikanku terlihat mendesak.
“Aku akan seperti Yesus.” Kataku mantap. “Kalau Yesus dengan cara disalibkan, maka aku dengan cara ini.” Kutunjukan padanya getah ipuh dalam tabung.
Tanpa diduga, Rufus yang selama ini patuh dan selalu menaruh hormat padaku, dengan sekali tebas, ia melayangkan tabung berisi getah yang sedang kupegang.
Ia berlutut di bawah kakiku, sambil menangis histeris.
“Ayah, ampuni aku. Biarlah setelah ini ayah menjatuhkan hukuman paling berat padaku. Tapi berikan padaku kesempatan mengemukakan satu hal,” erat ia memeluk kakiku.
“Apa yang mau kau katakan, cepat katakan!” aku menghardiknya dengan suara yang bergetar. Murkaku naik, tapi kebimbangan pun ikut melanda.
“Yesus yang ayah bilang Tuhan, ialah Mesias yang dinubuatkan para nabi. Hari ini darah-Nya tertumpah,” pilu suaranya. “Katakan padaku, itu yang ayah risaukan. Ayah takut karena ayah telah ikut berperan dalam penyaliban-Nya. Bukankah begitu, ayah?”
Ah, Rufus, remaja beliaku. Engkau begitu tahu yang kurisaukan. Kurasakan mataku basah.
Maka di senja hari paskah itu, seperti seorang anak yang tertangkap basah mencuri roti dan dipaksa mengakui kesalahan, aku menganggukan kepala kepada anakku dengan lelehan air mata di wajah. Tak kutahan diriku, aku segera menjatuhkan diriku padanya. Kupeluk anakku.
“Ayah, ampunilah atas kelancanganku. Tapi bukankah, ia yang atasnya nama-Nya disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Nya, lalu berbalik dari jalannya yang jahat, maka Ia akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosanya?* Ayah, sekali lagi. Aku mohon ampun. Aku mencintai ayah.”
Aku mengangguk. “Aku jadi merasa dekat sekali dengan Dia yang salib-Nya kupikul siang tadi.” Kuusap lembut rambutnya. “Baiklah, mari kita temui ibumu dan kakakmu.”
Setibanya di penginapan, kutangkap istriku sempat melihat mataku yang sembab. Sorot matanya bertanya-tanya. Aku mengerti. Tapi kepadanya aku hanya lemas menggeleng, lalu masuk ke dalam. Aku tak mampu bercerita. Tidak, aku belum mampu. Aku hanya bisa berlutut mendaraskan doa. Ya, Allah… Apa yang mesti kulakukan?
Aku tersedu sembari tanganku menorehkan kecamuk yang berkelebatan di benak.
“Telah kuperankan satu bagian dalam sengsara-Nya
Yang semula kutolak dengan angkuh yang tinggi
Hingga di Golgota Ia dipaku
Angkuhku tercabik
Mati
Jiwaku terbuka
Sengsara-Nya adalah karena dosaku
Darah-Nya untuk menebusku
Mati-Nya adalah agar aku beroleh hidup.”

Hanya itu yang bisa kusodorkan pada istriku. Setelah membaca ia mengangkat mukanya. Memandangku penuh pengertian. Dengan matanya ia memanggil kedua anak kami. Memeluk mereka, dan mendatangiku. Kami berpelukan.
“Akan kusaksikan kisah ini ke seluruh dunia!”
Mereka mengangguk bersemangat.

Catatan

* Teks Kitab Suci 2 Tawarikh 7:14

Iklan
This entry was posted in Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s