Festival Sastra Santarang 2015

Festival Sastra Santarang merupakan festival yang digagas Komunitas Sastra Dusun Flobamora bekerjasama dengan Komunitas Salihara Jakarta dan atas dukungan Hivos. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 2-4 Juni 2015 di Kupang. Kegiatan hari pertama pada Selasa, 2 Juni 2015 itu, tepat liburan sekolah. Hari itu saya bisa full time mengikutinya tanpa beban.

Sesi pertama di aula Hotel Romyta berlangsung pukul 09.00 sampai waktu makan siang. Sesi tersebut bertema Sarasehan Pengembangan Komunitas Seni Budaya di NTT dengan moderator Christian Dicky Senda. Sesi ini menghadirkan Ayu Utami dari Komunitas Salihara dari Jakarta sebagai pembicara utama.  Ada juga Bapak M Luthfi Baihaqi dari Kantor Bahasa Prov NTT.  Didampingi beberapa utusan dari beberapa komunitas di NTT yakni dari Yosua Sriadi dari Forum Soe Peduli-Soe, Unu Ruben Paineon, dari Lopo BiInmafo-TTU, dan Armin Bell dari LG Corner-Ruteng, serta Abdul M Djou sebagai perwakilan Dusun Flobamora.

Dalam penyampaian materinya, Ayu Utami memberikan apresiasi untuk sastra NTT yang mulai berkembang. “Karena para sastrawannya, kami mengenal NTT. Maka itulah kami memilih datang ke NTT,” demikian yang sempat dikatakannya.  Ia pun memaparkan profil dan kerja apa saja yang dilakukan salihara Jakarta. Kepada peserta yang datang dari berbagai lintas komunitas, ia mengharapkan agar komunitas sudah dibentuk  harus tetap bergerak dan berumbuh ke arah yang lebih baik, saling mendukung, dan bekerjasama. Satu hal yang dibanggakannya adalah bahwa komunitas-komunitas di daerah yang masih murni (dalam artian tidak mengarah kepada kepentingan bisnis atau pasar) tetap dipertahankan karena memang seharusnya begitulah sifat kesenian. Nilai-nilai budaya dan muatan kearifan lokal di NTT masih sangat kaya. Perlu dihargai dan dilestarikan.

Sementara Kantor Bahasa Prov NTT menyakatakan, dalam program kerja mereka sudah terdapat rencana-rencana kerja dalam rangka menggiatkan semangat literasi di NTT. Beberapa di antaranya bahkan sudah terealisasi dengan bekerjasama dengan penulis-penulis NTT. Ke depannya, Dusun Flobamora sebagai komunitas sastra di Kupang, dipastikan ikut terlibat dalam kegiatan kerja yang dimaksud.

Sesi pertama di hari pertama ini banyak mendapat sambutan dari para peserta yang hadir. Tanggapan dan pertanyaan yang diberikan menunjukkan perhatian yang positif bahwa sekalipun dunia digerus kehidupan modern, masih banyak pihak terutama masyrakat NTT yang tetap cinta akan kesenian dan kebudayaan daerahnya.

Sesi berikutnya adalah seusai makan siang yakni Bincang Buku dan Parade Karya Sastra Penulis NTT dengan moderator Abdul M Djou. Sesi ini menghadirkan Mario F Lawi sebagai pembicara utama, kemudian Ibunda Mezra Pellandou yang membahas buku Pion Ratulloly berjudul Wasiat Kemuhar. Selesai bagian ini pun dilanjutkan dengan testimoni buku sastra NTT. Saya sendiri adalah salah satu yang ikut menyampaikan testimoni buku sastra di sesi itu bersama dengan Jemmy Piran yang membawakan buku kumpulan puisi Parisenja milik Steve Elu, Rano Korbafo dengan novel Benang Merah dari Unu Ruben Paineon, Fr. Saddam HP dengan buku manuscript kumpulan puisi Lubang Hitam Bahasa milik AN Wibisana, serta Fr. Herman dengan manuscript kumpulan puisi Pertarungan di Pniel milik Cyprianus Bitin Berek.

Buku sastra yang saya buatkan testimoninya adalah Isis dan Musim-musim, satu buku kumpulan puisi karya 17 penyair perempuan Timur Indonesia. Di antara 17 penyair perempuan itu, ada 6 penyair dari NTT. Para penyair tersebut adalah Diana Timoria, Elsie Guntar, Fransiskan Eka, Martha Hebi, Monika Arundhati, dan Sandra Olivia Frans.

Kegiatan malamnya di hari pertama itu yakni pentas seni  dan hiburan di Taman Dedari Sikumana, satu taman milik salah seorang yang juga anggota Dusun Flobamora. Hal yang bagi saya paling berkesan di malam pementasan seni itu adalah penampilan musikalisasi puisi dari Velta. Puisinya berjudul Pulang, Unu milik salah satu anggota Dusun Flobamora, Ishack Sonlay yang membawakannya juga dengan gesekan biolanya. Penampilan ini membuat saya terpukau. Ternyata selain pandai menulis, ia pun pandai menggubahnya ke dalam musikalisasi puisi hingga dengan keren dan luar biasa mementaskannya di panggung seni malam festival sastra santarang itu. Di sana malam itu, saya juga sempat membacakan salah satu puisi dari kumpulan puisi Isis dan Musim-musim yang sempat saya sampaikan dalam testimoni siang harinya. Puisi yang saya baca tersebut milik Anastasia Fransiska Eka berjudul Percakapan Dungu. Puisi ini bagi saya sangat indah karena ia menyuarakan tentang eksistensi perempuan di mata dunia–demikian yang saya tangkap.

Berlanjut ke hari kedua, sesi pertama di pagi harinya ada diskusi sastra: Situasi sastra NTT Masa kini: Pementasan, Komunitas, dan Media dengan moderatornya adalah Lanny koroh. Sesi pertama ini menghadirkan para pembicara antara lain bapak Marsel Robot, seorang dosen Undana Kupang yang juga seorang penulis NTT dengan materi Pemetaan Dan Perkembangan Sastra NTT Lintas Generasi, Romo Amanche Frank Oe Ninu dengan materi Peran Komunitas dalam Perkembangan Sastra NTT, serta Ayu Utami dengan materi Karya Sastra NTT di Media Massa.

Di sesi ini saya kurang mengikuti karena sebelumnya saya ditunjuk sebagai koord sie konsumsi jadi perhatian saya lebih mengarah ke pengurusan konsumsi panitia dan peserta. Lagipula ini pengalaman pertama saya mengurusi bagian konsumsi dalam satu kegiatan. Saya agak was-was sewaktu sesi ini berlangsung. Dalam hati saya berharap agar bagaimanapun, persediaan makanan harus cukup bagi semua yang hadir. Bagaimanapun…:D dan alhasil, makananannya cukup bahkan berlebih. Praise God. 😀

Tapi ada yang saya senangi dari bagian pertama ini adalah beberapa anak murid yang saya ikutkan sempat tampil juga membaca puisi (walau saya tak sempat melihat penampilan mereka).

Seusai makan siang, di sesi kedua itulah sesi Lokakarya Penulisan Kreatif: Prosa, Puisi, dan Jurnalisme Sastrawi. Moderator untuk sesi ini adalah Mario F Lawi dengan pembicaranya adalah Hasif Amini untuk materi puisi, AS Laksana untuk cerpen, serta Ayu Utami untuk materi Jurnalisme Sastrawi.

Di sesi ini saya bisa duduk karena sekalian melahap makan siang saya. Di kursi peserta saya makin sekalian ingin ikut menyimak pembasahasan mereka. Sayang seribu sayang, entah soundsystem-nya atau entahkan pembicaranya, pembicaraan dalam lokakarya ini kurang begitu jelas terdengar sehingga saya pun kurang bisa mengikuti dengan baik. Untunglah di giliran Mbak Ayu Utami, ia juga sempat menampilkan beberapa slide sehingga setidaknya kekecewaan sedikit terobati.

Malamnya di hari kedua adalah sesi Diskusi Sastra: Beberapa Wacana Penting Dalam Puisi dan Cerpen Indonesia Masa Kini di aula Seminari tinggi St Michael. Ada satu kesan ketika saya dan kawan saya menuju ke sana. Walau ini tempat yang sering saya lewati kalau pulang pergi kampung halaman bahkan letaknya persis di belakang rumah om saya yang hampir setiap minggu saya datangi, toh kami tetap saja nyasar sewaktu mau memasuki gerbang kampus ini. Kejadian itu membuat saya sampai-sampai berpikir saya sedang berada di dunia lain, apalagi saat itu sedang terang bulan. Rasanya seperti memasuki dunia Narnia-nya CS Lewis. 😀

Sesi malam hari di aula seminari ini bagi saya cukup mengobati rasa kurang (kecewa) yang saya rasakan siang harinya di aula Undana. Di bawah tema diskusi: Beberapa Wacana Penting dalam Puisi dan Cerpen Indonesia Masa Kini, dengan moderator Fr. Saddam HP ini menghadirkan dua pembicara yang siang tadi ada di Undana yakni Hasif Amini bagian puisi dan AS Laksana bagian cerpen. Dua materi ini menarik memang. Tapi saya memang lebih tertarik dengan cerpen.

Bagi saya malam itu pembicaraannya bergizi sekali. Terutama tentang cerpen tentunya. Saya seperti mendapat suntikan vitamin mengenai kepenulisan cerpen. Hampir setiap kata yang dikeluarkan oleh pembicaranya seolah tak mau saya lewatkan. Sebab kata-katanya hampir serupa sabda (ah…alay.. :D) Ada banyak poin yang saya catat. Tapi dari semua itu yang paling berkesan adalah ketika anda menulis cerpen, janganlah seperti menulis khotbah. Seseorang membaca cerpen adalah untuk mencari sesuatu yang menyenangkan (menghibur), bukan sesuatu yang memberati kepala mereka seperti wejangan atau khotbah.

Hari ketiga tanggal 4 Juni, saya tak berpikir lagi untuk ikut. Sebab kegiatannya adalah visitasi media pagi harinya, bincang radio siangnya, lalu booksigning di toko buku Gramedia sore harinya. Tak begitu mendesak untuk saya ikuti. Sebab hari itu pun di sekolah kami akan rapat penentuan kenaikan kelas. Pikir saya, cukup sudah dua hari kemarin saya mengikuti sesi festival dan hari ini tak ikut tak apalah. Namun alangkah bahagia ketika sore harinya seusai jam sekolah, oleh seorang kawan saya, ia meminta tolong untuk kami pergi keluar membeli pita yang rencananya akan dipakai mengikat sertifikat atau tanda penghargaan di momento kelas 9 dan 12 esok harinya di acara commissioning.

Saya senang bukan main. Sebab ke mana lagi kami mencari barang-barang itu kalau bukan di toko-toko buku atau stationary semacam Gramedia dan toko stationary lainnya.

Dengan sekali ajakan saya langsung mengiyakan dan kami pun melaju ke Gramedia, bertepatan dengan baru dibukanya sesi booksigning itu.

11249406_966954036658691_5906265986650521530_n

Untungnya kawan saya itupun salah seorang pengagum Ayu Utami. Tak sia-sialah ia pun diajak bertemu Ayu Utami di Gramedia. 🙂

Demikian tiga hari berlangsungnya Festival Sastra Santarang, dan tak ada satu hari pun saya lewatkan bahkan di sela-sela kesibukan menjelang acara Commissioning kelas 9 & 12 dan penerimaan raport. 🙂

 

Iklan

2 comments on “Festival Sastra Santarang 2015

  1. […] seusai kegiatan Festival Sastra Santarang di Kupang, di Dusun Flobamora sudah ada diskusi kecil-kecilan tentang akan adanya kegiatan tersebut […]

    Suka

  2. […] dengan kegiatan Festival Sastra Santarang pada awal Juni di […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s