Festival Pakariang dari Kupang Bagarak

11692526_1471329813166467_891780728499836122_n

Sumber: Page Fb Festival Pakariang

Pakariang, Pesta Permainan dan Kreativitas Anak Kupang. Demikian slogan yang dibawa Komunitas Kupang Bagarak bekerjasama dengan beberapa Komunitas di Kupang. Festival ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang ditetapkan tanggal 25 Juli. Kegiatan ini bertempat di Lasiana tepatnya di area pinggiran pantai. Bertepatan dengan kegiatan tersebut, berbagai macam permaianan anak tradisional diadakan.

Informasi mengenai kegiatan ini lebih lengkapnya dapat Anda baca di beberapa link berikut: KupangBagarak, SavanaParadise, dan CV Ariston Kupang.

img_20150727_103456

Sebagian dari Tim Lentera Harapan Kupang: Asty, Anaci, Meildy, Rucita

Saya berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari. Hari pertama sedianya saya bersama beberapa kawan mendampingi anak-anak disabilitas. Pada hari H, rupanya tak banyak dari mereka yang datang. Karena pertahanan dapur kekurangan personil, saya pun bergabung di sana. Rasanya cukup lumayan. Saya mengingat cerita-cerita yang saya baca ketika para tentara atau pejuang-pejuang bertempur dan ada orang-orang tertentu bertempur di dapur demi menyediakan makanan bagi para pejuang. 😀

Di hari yang sama itupun saya punya kesan tak terlupakan yaitu ketika dalam perjalanan dari Naikoten menuju Pantai Lasiana. Pagi itu bersama kawan, kami melajukan sepeda motor mengikuti lajur jalan Timor Raya. Di jalan raya tersebut saya melihat hampir sepanjang tepi kiri kanan jalan dijaga ketat oleh polisi. Kami bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Saya melajukan motor dengan pelan ingin melihat. Di depan apotek Oesapa, karena kawan saya ingin membeli obat, saya pun  memarkir motor agak ke pinggir. Kawan saya masuk membeli obat di apotek sementara saya menunggu di seberang kiri jalan yang sepi. Tak berapa lama kemudian lewat beberapa mobil dengn bunyi klakson militer. Ternyata di antara beberapa mobil yang lewat salah satunya adalah mobil yang memuat Bapak Jokowi. Jendela kacanya terbuka dan tangannya sementara dilambaikan. Saya berdiri terpukau di pinggir jalan. Tak percaya apa yang baru saja saya lihat. Baru saja bapak presiden lewat. Saya sementara berdiri di tepi jalan sebelah kiri. Posisi yang pas sesuai dengan posisi bapak Jokowi duduk. Ia baru saja lewat dan melambaikan tangan. Sayang, karena tak sempat menyangka, bahkan saya pun tak sempat mengangkat tangan saya untuk balas melambaikan tangan. Saya baru bisa mengeluarkan kata ‘Bapak Jokowi’ ketika mobilnya sudah jauh lewat, dan iring-iringan di belakangnya melewati tempat saya berdiri. Saya menoleh ke belakang saya kalau-kalau ada orang di belakang saya yang mungkin melihat saya. Syukurlah tak ada seorangpun selain satu kios kosong yang sementara tertutup pintunya.

Teman saya yang baru selesai membeli obat di apotek tak percaya kalau yang barusan lewat adalah Jokowi. Kami melanjutkan perjalanan walaupun sedikit macet hingga tiba di gerbang pantai Lasiana dan berbelok masuk. Di sana sudah hadir beberapa panitia. Karena menunggu anak-anak di bawah bimbingan kak Yafas belum datang itulah kami menggabungkan diri di dapur.

Keesokan harinya hari Minggu, paginya tidak seramai hari kemarin. Keikutsertaan kami di situ masih sesuai yang kemarin, namun karena kawan saya yang bertugas di bagian penerangan lalu lintas belum datang, saya diminta tolong mendampingi stand bagian itu. Beberapa saat ketika ia datang, saya pun didatangi seorang kakak dari STAKN untuk membantu di bagian bercerita. Walaupun sempat dilanda ragu karena tak ikut latihan dan belum tahu seluk beluk cerita, saya mengiyakan saja. Sebab nampak di arena panggung boneka sudah berkumpulan anak-anak kecil yang lucu dan imut menanti kapan adanya panggung boneka.

Sebenarnya secara keseluruhan kegiatannya seru dan menarik. Sangat cocok untuk arena keriangan anak-anak–namanya saja pesta anak-anak. Hanya bagi saya agak terlalu riuh dan jadinya kegiatan kurang terkontrol dengan baik. Terdapat banyak perubahan mendadak dari beberapa peserta yang sudah diundang ataupun dari panitia sendiri. Sedihnya ada yang beranggapan, toh, panitia pun adalah relawan, tak bisa mereka diatur-atur. Berharap kalau ke depannya masih ada kegiatan semacam ini, koordinasi antar panitia lebih diperhatikan lagi. Sekalipun sebagai seorang sukarelawan, bukan berarti kita datang dan hanya bekerja sekadarnya.

Terlepas dari itu, sure, secara pribadi saya angkat topi untuk penggagas dan semua mereka yang telibat baik panitia maupun mereka yang sudah mau membawa anak-anaknya datang ke arena ini termasuk wakil kepala sekolah saya di SMP LenteraHarapanKupang, Bapak Hengky Hailitik–saya agak terharu ketika melihat beliau dengan istrinya membawa putri kecil mereka, Syallum, datang. 😀 🙂 🙂

Iklan

One comment on “Festival Pakariang dari Kupang Bagarak

  1. […] Festival Pakariang-Pesta Kreativitas dan Permainan Tradisional Anak Kupang pada akhir Juli di Pantai Lasiana, […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s