Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (I)

Kegiatan PAUHINGU SENI: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail adalah pogram dari PWAG Indonesia yang berada di bawah Arts for Women dan bekerjasama dengan Humba Ailulu, satu komunitas seni yang digagas orang-orang muda di Sumba Timur dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Kegiatan PAUHINGU SENI ini lebih dikhususkan kepada pengembangan dan pemberdayaan perempuan. Namun tak hanya terbatas kepada kaum perempaun, melainkan kaum muda baik laki-laki maupun perempuan pun dapat turut ikut andil di dalamnya. Pengembangan dan pemberdayaan ini dilaksanakan melalui seni dan sastra.

Sebelumnya seusai kegiatan Festival Sastra Santarang di Kupang, di Dusun Flobamora sudah ada diskusi kecil-kecilan tentang akan adanya kegiatan tersebut di Sumba. Dari PWAG yang berada di bawah Arts for Women sendiri mau menjalin kerja sama dengan Dusun Flobamora yang telah sukses menyelenggarakan Festival Sastra Santarang.

Awalnya saya tak berpikir akan ikut ke sana. Toh, waktu itu saya sementara menikmati masa liburan sekolah di kampung halaman dan tak hendak berpikir yang berat-berat. 😀

Tak tahunya, ketika diskusi Dusun Flobamora berakhir, saya pun akhirnya mengiyakan tawaran teman-teman untuk mewakili Dusun Flobamora memberikan workshop menulis cerpen di salah satu sesi kegiatan Sumba Art Gathering dan Sumba Trail tersebut.

Pada hari Rabu, tanggal 12 Agustus 2016, saya berangkat dari Kupang. Waktu itu saya berangkat satu pesawat dengan kakak Fransiska Eka. Ia seorang penulis asal Ende yang baru saja balik dari US, dan kembali ke Indonesia. Kami baru berkenalan dan saling menyapa ketika berjalan menuju pesawat. Katanya ia baru saja balik dari Surabaya mengikuti satu kegiatan Indonesian Youth kalau tak salah. Kami duduk di seat yang berbeda dan berjauhan sehingga tak memungkinkan kami berkomunikasi. Kami baru bersama lagi ketika turun di bandara Umbu Mehangkunda, Waingapu. Sembari menunggu jemputan untuk dibawa ke hotel tempat menginap barulah kami melanjutkan percakapan.

Sesampainya di hotel, kami berdua jadinya sekamar. Kami lalu bertemu dengan Kak Dicky Senda, perwakilan dari Dusun Flobamora juga yang akan menjadi salah satu pembicara di sesi yang berbeda. Kak Diky juga sudah lebih dahulu tiba beberapa hari sebelumnya. Tak lama kemudian datang Diana, seorang anggota Dusun Flobamora yang sewaktu menjadi mahasiswa, kami sudah sering bertemu dan hingga kini ia sudah kembali ke kampung halamannya di Mauliru, Sumba Timur.

Kegiatan pertama hari itu dimulai siang hari menonton film dokumenter bersama di aula STIE Kriswina Sumba. Film dokumenter yang diputar adalah Payung Hitam, tentang dua perempuan penyintas di Jawa. Informasi selengkapnya tentag film ini bisa diakses di sini. Seusai menonton film dokumenter tersebut, acara dilanjutkan dengan diskusi. Mayoritas peserta diskusi tersebut adalah mahasiwa/i baru STIE Kriswina Sumba yang sedang dalam masa orientasi siswa (sebuah aksi MOS yang baik dan positif. (Jadi teringat UPH yang memang setiap kali masa MOS yang dikenal dengan dengan sebutan festival WNS, mahasiswa baru selalu dihadirkan materi-materi dan aktivitas-aktivitas yang keren dan positif).

Seusai kegiatan di aula STIE Kriswina Sumba, rencananya kami akan beristirahat sebelum nanti sore harinya kami akan melanjutkan kegiatan berikutnya yaitu diskusi anak muda dan budaya di tempat yang sama di mana Kak Dicky dari Dusun Flobamora adalah salah satu pembicaranya.

Namun sebelum kegiatan dimulai, siang itu kami bersepakat akan jalan-jalan dulu sebelum mengikuti kegiatan berikut. Diana pun membawa kami jalan-jalan ke luar kota Waingapu dengan sepeda motornya. Kam berboncengan bertiga melintasi kota Waingapu menuju satu pantai di luar kota.

Sepanjang jalan, saya melihat banyak sekali kuda yang merumput dan nampaknya dilepas begitu saja. Di Kupang apalagi di Amarasi saya memang sering melihat kuda, tetapi jelas tak sebanyak yang di Sumba. Di tempat ini, melihat kawanan kuda seolah melihat kawanan anak ayam dari beberapa induk sekaligus. Jumlahnya memang tak terhitung. Warnanya pun tidak seperti kuda-kuda di Amarasi pada umumnya. Saya sampai salah mengira (kalau ini ampun-ampunan memang… :D) kawanan itu adalah kawanan sapi (padahal saya tumbuh besar di Amarasi dengan binatang ternak yang namanya sapi itu :p. Sapinya Amarasi itu terkenal se-Indonesia sampai-sampai Bapak Jokowi sewaktu belum menjabat sebagai presiden RI, beliau semasa kampanyanya sempat menyinggahi Kecamatan Amarasi dan berdialog dengan para tetua Amarasi tentang pertenakan sapi. Sebagai salah satu anak Amarasi, saya bangga tentunya..;) :).

Ok, mari kita lanjut.

Kami dibawa ke Patung Maria yang yang tingginya kira-kira dua meter dan lokasinya tepat di pinggir pantai. Untuk bisa sampai di patung itu berdiri, kami harus melewati pekarangan rumah orang.

Udara hari itu cerah. Angin bertiup pelan. Pemandangan dari area patung Maria berbatik Sumba itu begitu teduh dan menyenangkan mata.

Kami berbagi cerita tentang berbagai hal mulai dari kepenulisan hingga di luar daripada itu. Hingga entah beberapa lama, kami menyudahi sesi obrolan kami dan berboncengan pulang dengan Diana sebagai pengemudinya.

Hari itu saya baru sadar bahwa terakhir kali berboncengan tiga orang seperti itu adalah ketika saya mengikuti MOS di SMA. Betapa beberapa pelanggaran kami buat hari itu. Sudah berboncengan bertiga, tak ada satu pun dari kami memakai helm. Bersyukur semuanya berjalan baik hingga kembali pulang ke Waingapu dan mengikuti acara selanjutnya.

Di kota Waingapu, ternyata masih ada waktu sejam sebelum kegiatan kedua di STIE dimulai. Kami pun diajak Diana mengunjungi Kampung Raja di Prailiu. Melihat taman bacaan yang dikelola oleh seorang anggota Humba Ailulu. Taman baca itu sudah saya ikuti perkembangannya di media sosial, di facebook. Hari itu akhirnya saya bisa melihatnya langsung. Sebuah taman baca yang mungil. Tak lama berbicang dengan sang pengelola, datang Mrs Sarah beserta bayinya. Ia seorang perempuan Australia yang menikah dengan salah seorang Putra Raja Prailiu dan sementara menetap di sana.

Sudah menjelang maghrib ketika kami sadar kami harus mengikuti satu acara di Aula STIE Kristen Waingapu. Kak Dicky adalah salah satu pembicaranya, bersanding dengan Kak Jonathan Hani, seorang anggota DPR yang juga adalah anggota Humba Ailulu bersama Kak Umbu Nababan yang juga penggagas AH Community, serta seorang perempuan Sumba yang bergiat dalam seni tari daerah Sumba.

Inti diskusi mereka hari itu adalah untuk mendorong dan menyemangai pemuda-pemuda Sumba menjaga dan melestarikan budaya yang diwariskan leluhur. Punya karakter memiliki dan bangga terhadapnya, namun tak hanya terbatas sampai di situ saja, tentu mereka diajak untuk memperkenalkan budaya mereka sebagai identitas mereka yang tak boleh dilunturkan begitu saja.

Bersambung …. (bagian II)

Iklan

3 comments on “Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (I)

  1. […] Pauhingu Seni:Sumba Art Gathering dan Sumba Trail pada pertengahan Agustus di Sumba […]

    Suka

  2. […] Ternyata, yang datang adalah Diana dan Ke Eka. Duo kawan saya yang gokil abis sewaktu kegiatan Sumba Art Gathering. Entah bagaimana mereka bisa melobi panitia sampai merekalah yang datang dan membawa saya ke hotel. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s