Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (II)

– Lanjutan dari bagian I

Hari berikutnya, Kamis, 13 Agustus 2016, tiba bagian saya membawakan workshop menulis cerpen. Workshop itu bertempat di Wisma Cendana, Waingapu. Saat itu, bertepatan para pasuka kan pengibar bendera untuk upacara 17-an binaan kabupaten juga bertepatan sedang memakai tempaat itu sebagai  tempat karantina mereka. Untungnya, ruangan tempat workshop kami berada di lantai dua.

20150813_120619Pemandangan dari depan hotel tersebut sangat memukau. Bentangan Sumba Timur begitu indah terlihat dari balkon hotel tersebut.

Workshop itu sendiri berjalan baik (Praise God :)). Pesertanya memang tak banyak karena dibatasi hanya yang mengirim karya dan lolos kurasi saja. Di antara mereka pun lebih banyak peserta perempuan karena visi-misi PWAG mengharapkan demikian. Di workshop itu, saya menyadari diri saya bukanlah seorang pakar cerpen. Setelah berbagi materi-materi dasar menulis cerpen sekaligus menceritakan proses kreatif pribadi, saya pun meminta Kak Dicky, Kak Eka, dan Diana untuk ikut berbagi proses kreatif mereka dalam menulis. Setelah itu, kepada para peserta workshop, mereka diminta untuk menulis cerpen spontan, yang baru ataupun boleh sebagai revisi cerpen sebelumnya yang dikirim, dan akan dikumpulkan dalam waktu yang sudah ditentukan (saya agak lupa berapa lama :D).

Seusai mereka mengumpulkan karya mereka, saya dan keempat kawan yang bergabung dalam Dusun Flobamora  itu sedang membaca dna memiliah tulisan terbaik untuk diumumkan.

Sudah hampir selesai ketika suatu ketika saya mengangkat kepala, beberapa meter di depan saya terlihat satu sosok yang paling menonjol dari semua tampakan-tampakan orang di sana. Saya memicingkan kepala untuk mengingat-ingat siapa gerangan orang tersebut.

Kemudian barulah kemudian kesadaran saya tergugah, dan saya seakan lupa bernapas untuk sesaat. Aktor keren Indonesia, Nicholas Saputra, sementara duduk menyamping dari arah pandang saya dan asyik mengobrol dengan beberapa orang panitia PWAG. Saya seketika lupa dengan apa yang sebenarnya sedang saya lakukan dengan barang-barang di pangkuan saya, lembaran-lembaran kertas milik peserta workshop.

Ah, memang, pengalih dunia yang berhasil. Makhluk Tuhan paling indah sudah itu orang…:p

Ok, mari, kembali ke topik.

20150813_151811Kegiatan sepenuhnya belum selesai. Saya dan kawan-kawan memilah dan berdiskusi menentukan tiga karya terbaik. Kepada mereka PWAG telah menyediakan hadiah berupa buku-buku.

Seusai pengumuman dan penyerahan hadiah, sebagai penutup workshop cerpen, sang aktor membacakan sebuah cerpen berlatar Sumba karya Lisa Febriyanti dari antologi berjudul Hari-hari Salamander terbitan PBP Publising. Saking terpukau akan penampaka di depan, saya sampai lupa harus merekam suaranya sewaktu membacakan cerpen tersebut.

Kami beristirahat sebentar seusai workshop. Sorenya dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter dari PWAG tentang dua orang perempuan penyintas dari Flores berjudul Masih Ada Asa. Film ini berkaitan dengan kekerasan pada perempuan terutama dalam kekerasan seksua. Jumlah peserta saat itu jauh lebih banyak daripada siang harinya. Seusai pemutaran film, acara pun dilanjutkan dengan berdiskusi. Diskusi kali ini dipandu seorang Vikaris dengan menghadirkan Kak Olin Monteiro sebagai produser, dan Ibu Pendeta Irene Umbu Lolo sebagai seorang aktivis perempuan di Sumba. Diskusi berlangsung baik, penuh semangat dan tampak hidup.

Hari sudah malam ketika diskusi itu usai. Kami tak langsung pulang ke hotel tempat kami menginap. Kami melanjutkan acara makan malam di sebuah tempat makan di pinggir pantai. Di sana saya sempat bertemu dengan penduduk lokal. Namun ketika berbincang-bincang sebentar, baru saya tahu mereka bukan orang asli Sumba melainkan Sabu. Konon, banyak orang Sabu yang sudah lama menetap di pulau Sumba. Itu hanya nama suku. Secara karakteristik fisik, orang Sumba dan orang Sabu sebenarnya tak jauh berbeda.

Keesokan paginya, kami sarapan di hotel. Menjelang siang, bersama panitia PWAG dan panitia lokal, kami berkumpul di pelataran salah satu hotel tempat panitia dan sang aktor menginap. Diskusi internal tentang seputaran leadership, bagaimana mengelola gerakan-gerakan anak muda agar memberi dampak positif kepada masyarakat, bagaimana menjalin komunikasi antar komunitas yang sudah terbentuk demi mencapai tujuan bersama, dsb.

Tak lama berdiskusi, keluarlah sang aktor dari markasnya. Ia memang tak bergabung bersama kami. Hanya menikmati kopi tak berapa jauh dari kumpulan kami.

Seusai diskusi kecil itu, dengan dua mobil, kami diajak mencari makan siang sebelum melanjutkan acara diskusi buku di SMAN2 Waingapu. Kami semua berada di satu mobil bersama sang aktor. Ia duduk di samping supir. Saya tepat berada di belakangnya.

Dalam perjalanan, setiap orang mengobrol seperti biasa. Saya seperti merasa tak percaya sementara berada dalam satu mobil kecil bersama sang aktor keren. :p 😀 Demikian pula di tempat makan. Duduk di meja panjang dan berada di ujung, kami tepat saling berhadapan. Ketika semua orang sudah duduk dan sendok-garpu dibagikan, ialah yang duduk di hadapan saya menerimanya lantas menyodorkannya kepada saya. Saya seperti merasa shock. Namun tetap saya usahakan menyambut sodoran dengan ‘profesional’ walau dengan tangan gemetar, bahkan untuk mengucapkan kata terima kasih saja mulut saya pun gemetar.

Saya menikmati makanan siang dengan baik, tetapi jauh di dalam, hati saya bergemuruh hebat. 😀 Saya seperti orang linglung saat itu. Saya sementara duduk dan menikmati makanan, tapi jiwa dan pikiran seperti tak ada bersama raga saya di bumi. 😀

Bersambung….

Iklan

One comment on “Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s