Cerpen

Usai Pesta Pernikahan Silpa

Cerpen ini tergabung dalam Antologi Sastrawan NTT “Cerita dari Selat Gonsalu” Terbitan Kantor Bahasa Prop NTT 2015

Belum seminggu berlalu sejak pesta pernikahan Silpa digelar. Sore itu ia duduk menghadap tungku api di dapur. Menjaga sebuah periuk besar berisi air. Daster pink bermotif bunga pemberian kawan kuliahnya sebagai kado pernikahan itu terentang menutupi permukaan lantai tanah yang didudukinya. Selembar kipas berbahan anyaman daun lontar di tangan kanan diayunkan sekenanya. Menggiring angin menghembuskan api. Nyala api menjilat-jilat pantat periuk. Asapnya mengepul menyesaki dapur. Asap yang betul-betul menoreh perih di mata. Tapi baginya, rasa perih di mata itu baik. Sengaja dibiarkannya menyatu dengan ketakutan dan sakit hati yang mencekam. Melebur dalam bulir air matanya yang merebak keluar.

Suhu di dapur sungguh menggerahkan bahkan panas. Tapi badan Silpa gemetar. Bergetar dalam isakan tangis.

Air yang dijerangkannya dalam periuk besar itu sudah mendidih sejak tadi. Namun ia tak peduli. Ia terus saja mengipasi api. Sebab rasa-rasanya ia tak sanggup beranjak dari tempatnya sekarang. Suara teriakan dan bentakan serta makian yang terdengar dari ujung ruang tamu seakan menekannya hingga tak kuat, sekalipun hanya untuk beranjak dari tempat duduknya. Di sana para paman suaminya sedang bertikai hebat. Sekalipun belum begitu mengusai bahasa daerah suaminya, namun sedikit-sedikit ia bisa menangkap maksud dari kata-kata yang dilontarkan seorang akan lain.

Dirinya tersangkut di sana. Bukan saja disangkut-pautkan, tapi ditembak sebagai penyebab utama. Di sana namanya berulangkali disebut disertai nominal rupiah yang tentu diucapkan dalam bahasa Indonesia. Hal itulah yang mengiris-iris hatinya. Namanya bersanding dengan rupiah. Sudah jadi apakah dirinya sekarang yang belum sempat disadarinya?

Lewat pintu sempit di samping dapur ia menoleh ke suaminya yang sedang berpeluh membelah kayu di halaman. Kenapa ia seakan tak peduli pada pertikaian hebat para pamannya yang terus menyebut nama istrinya dengan umpatan demikian kasar. Betapa suaminya menanggapi situasi itu semacam ia mendengar sambil lalu sebuah perselisihan para bocah berebutan kelereng atau gasing.

Mendadak ia kangen ibunya, juga bapak, dan saudara-saudaranya. Mereka sudah pulang seminggu lalu setelah mengantarnya ke rumah ini beserta dengan sejumlah perabotan rumah tangga di hari usai pesta pernikahannya. Dan ah, mestinya ia ingat, “Ibu suamimu adalah ibumu sekarang. Sanaknya adalah sanakmu juga,” pesan ibunya.

Sambil tetap mengipasi api, Silpa mencuri pandang ke arah ibu mertuanya yang duduk tak jauh darinya. Ia tak bersuara. Hanya sibuk mengupasi kulit kacang kering di atas nyiru. Perempuan yang telah lama ditinggal pergi suaminya itu sudah merasa bersyukur pernikahan putra tunggalnya dapat terlaksana atas tanggungan saudara-saudara laki-lakinya. “Kau tak usah kuatir. Kau satu-satunya saudara perempuan kami. Putramu adalah tanggung jawab kami. Kami akan menyelesaikannya,” itu penegasan salah satu di antara mereka sebelum pesta pernikahan digelar.

Pernyataan itu yang dipegangnya sehingga ia tak perlu merasa ikut campur akan penyelesaian masalah. “Aku tak bisa berbicara banyak lagi sekarang. Sebab itu urusan mereka,” ia pernah berkata beberapa hari yang lalu menanggapi gelagat yang sudah mulai tercium sejak usai pesta pernikahan.

“Hai, Silpa… Kenapa kau biarkan api terus berkobar begitu?” teriakan suaminya yang tiba-tiba nyaris membuatnya terjengkang dari bangku kecil yang diduduki.

Spontan Silpa melihat tungku di depannya. Kaget ia nyala apa memang berkobar. Menjilat-jilat tak hanya pantat periuk, tapi badan periuk bahkan hingga ke penutupnya yang juga sudah hitam berjelaga.

“Kau tidak lihat bagaimana capeknya aku membelah setumpuk kayu itu hanya untuk kau boros-boroskan macam begini?” dengan murka suaminya menunjuk setumpuk kayu yang sudah dibelah di luar.

Tanpa menoleh ke arah suaminya, Silpa cepat-cepat menyerakan kembali potongan-potongan kayu itu agar tak bertumpuk dan berkurang nyala apinya. Segera ia memaksa diri bangkit dan menyeret kakinya menuju ke kamar mandi. Menghindari sorot tajam mata suaminya, serta tatapan sayu ibu mertuanya. Di kamar mandi itulah ia mencipratkan bergayung-gayung air ke wajahnya. Airmatanya menderas turun seturut air yang jatuh ke lantai kamar mandi.

***

Belum seminggu ini pula Silpa mulai mengakrabi kampung ini dan para penduduknya. Dahulu ia pernah diajak datang. Tapi hanya untuk menengok sebentar kemudian pergi lagi. Dahulu ketika ia datang, sambutan keluarga calon suaminya begitu hangat. Begitu mengenangkan. Sehingga dipikirnya mereka akan menerima dengan hangat juga ketika ia jadi menikah nanti.

Aku tak sabar menanti hari selesainya sekolahku. Dambanya ketika itu. Agar tak ada hambatan aku bisa bergabung dengan kekasih hatiku dan keluarganya. Ah, keluarga besar yang menyenangkan.

Maka dijalaninya masa kuliah sebaik-baiknya dengan angan bahagia yang tak sekejap pun menghilang dari benak. Setelah ini, ia akan menikah. Bukankah itu sempurna? Ia tersenyum membayangkan hari depan.

Proses kuliahnya memang tak mudah. Tugasnya banyak. Dosennya galak. Sebentar saja terlambat mengumpulkan tugas, nilai berkurang. Bahkan bisa-bisa tidak lulus mata kuliah bersangkutan. Sedang ia tidak mau tidak lulus. Sebab itu akan semakin memperlama masa kuliahnya. Sedang ia ingin cepat-cepat selesai. Maka di kepalanya selalu digaung-gaungkan, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Lalu ia akan merasa antusias menjalani hari-hari perkuliahannya. Segala tugas diusahakannya selesai dan dikumpul tepat waktu. Kalau ada ujian ia akan belajar semalam suntuk biar nilainya tidak fail.

Kerja kerasnya pun membuatnya mengembangkan senyum pada suatu hari. Ia dikukuhkan sebagai salah seorang wisudawati di kampusnya. Demikianlah pada hari itu juga diadakan pesta syukuran wisuda di rumah ayah ibunya. Ia mengundang sanak saudara, teman-teman, dan para tetangga, para dosen yang membimbing dan menguji hasil tugas akhirnya, teman dari saudara-saudarinya, hingga ketika yang datang pun tak sekadar para undangan, tapi bahkan mereka yang disebut rompe* pun hadir memeriahkan acara pestanya. Sebuah pesta syukuran wisuda yang sangat meriah. Dengan spanduk ucapan selamat berukuran raksasa, aneka makanan yang berlimpah ruah, beberapa petak tenda beratap terpal, paketan sound system lengkap yang speakernya disusun berundak-undak, dan kumpulan berbagai lagu dari para artis internasional, nasional, hingga artis lokal yang berbahasa indah maupun yang hanya meracau dalam iringan satu dua alat musik lalu disebut lagu.

Malam itu juga di tengah hingar-bingar pesta, oleh sang pemandu acara diumumkan dengan bangga bahwa setelah satu hari bahagia ini, akan segera disusul lagi hari bahagia lainnya yaitu acara maso minta* dan pernikahan sang bintang kita malam ini’ bulan depan. Semua hadirin spontan riuh bertepuk tangan. Tak sedikit pula yang bersuit gembira. Serta-merta dari atas panggung diperkenalkan seorang laki-laki yang sejak siang tadi terlihat selalu mendampingi Silpa baik di area kampus hingga di tempat pesta, di ruang dandan, di dapur, maupun di depan ketika Silpa maju menyampaikan pidato, ataupun ketika mereka terjun melantai bersama di arena dansa. Silpa menyunggingkan senyumnya yang menawan, dan sang lelaki sambil membungkukan badannya ia memberikan senyum hormat kepada para hadirin.

Sementara di antara bangku hadirin, ada beberapa gadis yang berdecak kagum dan saling berbisik, “Betapa beruntungnya jadi Silpa”. Seorang yang lain pun menyambung, “Ya, setelah tamat kuliah langsung dapat calon dan menikah”. Lalu mereka pun saling mengangguk satu sama lain. Masing-masing mengembangkan senyum. Berbeda cara senyum, namun melambangkan hal yang sama. Mereka ingin juga seberuntung Silpa.

***

“”Hallo…Hallo… Siapa yang lagi di dalam?” terdengar suara orang menggedor pintu kamar mandi. “Bisa lebih cepat keluar?”

“Sebentar. Ini saya, Silpa,” suara serak menyahut dari dalam.

Tak lama pintu kamar mandi terkuak. Wajah sinis seorang sepupu suaminya menyambut.

“Kakak, kau menangis?” pria yang kira-kira sebaya dengannya ini menyelisik kedua matanya yang merah dan sembab. Ia pun tersenyum sinis. “Biar… Biar tahu rasa kau. Siapa suruh penetapan belis*-mu tingginya selangit.” Mukanya berubah dingin. “Lihat, kalian buat bapakku sudah saling cakar dengan saudara-saudara sekandungnya sendiri.” Mulutnya pun bergetar.

Belum sempat Silpa merespons, terdengar suara teriakan keras dari ruang tamu. Pemuda yang sedari tadi hendak masuk ke kamar mandi kini berbalik lari menuju sumber suara. Penasaran, Silpa pun menyusul masuk. Di sana didapatinya paman tertua suaminya, ayah sang pemuda tadi, sedang terperonyok di pojok ruang menadah pukulan dan tendangan dari saudara-saudaranya yang lain. Sang pemuda nampak bergerak maju ingin menolong ayahnya.

“Kalian, Anak-anak. Jangan ikut campur urusan orang tua. Biar kami kakak beradik menyelesaikan ini,” hardik salah satu pamannya disertai sentakan keras menariknya kembali ke belakang.

Pemuda itu berbalik, mengedarkan pandangan sekilas lalu tiba tepat di muka suami Silpa yang berdiri tak jauh. “Ini semua ulahmu,” ia menunjuk dan dalam sekali lompat sudah di depan orang yang ditujunya. Silpa bergerak hendak menarik tangan suaminya agar menjauh. Kalah cepat. Tinju pemuda itu sudah melayang tepat di muka suaminya. Tubuh laki-laki yang belum seminggu menikah itu limbung ke tanah. Persis di depan istrinya Silpa dan para pamannya yang masih ribut bertikai soal pelunasan belis.

Keterangan

*rompe : rombongan pesta, ada sebutan tak resmi untuk orang-orang yang akan hadir dalam setiap pesta walau tak mendapat undangan langsung karena mereka hanya ingin bergabung dalam acara bebas (dansa dan tari-tarian lainnya)

*maso minta : lamaran atau peminangan

*belis : mahar

Iklan
God's Story, Kegiatan Seni dan Budaya

Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT

Fest sastra Temu 2 Sastrawanntt
Sumber: putrisuhartinijpg

Namanya mungkin terbilang keren. Ah, tak tahulah. Mau keren atau tidak, saya hanya mau menuliskan kembali kisah keikutsertaan saya dalam kegiatan Temu II Sastrawan NTT (begitu ia dikasih nama) ini. Saya tidak  mengatakan diri saya salah seorang dari sastrawan/ti NTT. Hanya saya memang mendapat undangan untuk ikut serta. Begitulah kira-kira. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Bahasa NTT.

 

Baik, mari dimulai. Namun sebelumnya, perlu diketahui, bahwa tulisan ini hanyalah sebuah cerita pengalaman mengikuti kegiatan Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT. Bukan serupa liputan jurnalistik dengan segala kaidahnya. Jadi, harapan saya, ikutilah saja alirannya ke mana ia membawamu. Terima kasih atas pengertiannya.

Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT. Dari namanya, mungkin telah engkau ketahui, bahwa telah ada pertemuan sebelumnya yakni Temu I. Tentang itu, saya hanya tahu bahwa itu memang ada, di tahun 2013, katanya diadakan di Kupang. Saya ikut menyertakan satu cerpen saya dalam satu antologinya, Kematian Sasando. Tapi tentang ada temu-temu segala saya kurang tahu. Dan itu sudah lewat, tidak begitu penting lagi dibahas sekarang.

Mengenai Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT tahun 2015 ini, kegiatannya tak lagi di Kupang, tapi di luar, tepatnya di Kota Ende. Dan kali ini pun, mereka yang karyanya dimuat mendapat undangan untuk menghadiri kegiatan yang diselenggarakan.

Sesuai agenda, kegiatannya berlangsung dari Kamis, 8 Oktober hingga Sabtu, 10 Oktober 2015. Sementara di hari Jumat, tanggal 9 Oktober, di sekolah kami baru pembagian narrative report tengah semester. Saya minta izin untuk ikut berangkat hari Kamis bersama teman-teman lain dari Kupang, toh, semua kelengkapan administrasi sudah beres tinggal dari bagian kurikulum mencetak dan nanti dibagikan di hari Jumat. Surat dari Kantor Bahasa saya tunjukan ke pimpinan sekolah sebagai bukti kuat ada nama saya juga diundang di sana. Saya dipanggil dan kami berdiskusi. Pimpinan sendiri memberi apresiasi. Dari sini, sudah saya paham ke mana arah keputusannya. 😀 Jelas, mana yang harus lebih diprioritaskan. Saya diberi pertimbangan ini itu. Karena sedih dan ada sedikit rasa kecewa, saya memutuskan untuk membatalkan keikutsertaan saya, tiket saya tidak usah dipesan. Tidak, bukan begitu. Menurut kami, Anaci berangkat saja Jumat siang, sesudah pembagian narrative. Tidak ikut sehari lebih baik dari pada tidak sama sekali. Berkatnya Anaci, sayang tak dimanfaatkan. Lagian , di Jumat siang, semua kegiatan sekolah sudah selesai. Kamu bisa berangkat dengan tenang. Daripada berangkat Kamis dengan belum membagikan narrative, pasti ada ketidaktenangan selama mengikuti kegiatan. Ah tahu saja mereka.

(Btw, dalam percakapan itu, saya menuliskan saja sebagaimana yang terjadi, pimpinan saya, kepsek dan wakasek, karena kami berdiskusi dalam suasana santai, dan kebetulan mereka adalah kakak angkatan saya dan kawan saya sewaktu kuliah, maka bila mereka memanggil saya langsung dengan nama Anaci, dan bukan Ibu Anaci, adalah biasa. Kami berdiskusi dalam keadaan santai dan itu menunjukkan keakraban kami. Akan sangat berbeda dan terkesan kaku sekali bahkan aneh saja seandainya dalam diskusi kecil kami mereka memanggil saya dengan Ibu Anaci).

Waktu itu, saya mengikuti saran mereka walau dengan berat hati. Saya memesan tiket sehari lebih telat dibanding kawan-kawan saya yang lain. Mereka tanggal 8, sementara saya tanggal 9. Kemudian di sekolah saya jadi lebih diam sebagai bentuk protes saya. Beberapa hari kemudian, saya berefleksi dan baru menyadari, sudah benar pertimbangan dan keputusan kedua pimpinan saya, Pak Grefer Pollo sebagai kepsek dan Ibu Elise Lobo, sebagai wakaseknya. Apa yang mereka katakan dan sarankan memang benar. Saya adalah seorang wali kelas, dan tugas utama saya belum selesai, masakan di hari pembagian narrative report, hari di mana saya mesti bertemu dan berkomunikasi dengan orang tua anak wali saya, masakan saya malah tinggalkan mereka dan pergi menghadiri kegiatan yang di sana juga bukan saya pelakon utamanya. Di mana posisi dan keberadaan saya lebih diperlukan. Merenungkan ini, saya benar-benar bersyukur atas kebijakan yang diberikan kedua pimpinan saya. Sehingga di hari Jumat, ketika pembagian narrative report, saya sudah siap dan semangat, siap membagikan narrativer report, tidak terlalu terburu-buru karena tiket saya pukul 1 siang, sementara acara pembagian narrative dimulai pukul 9 pagi hingga pukul 11. Setelah semua berjalan baik, saya yang sudah menyiapkan perlengkapan, tak perlu pulang lagi ke rumah, melainkan dengan bawaan yang sudah ada, oleh seorang adik angkatan dari UPH Teachers College yang sedang menjalankan praktikum terakhirnya di Kupang, saya diantar ke bandara. Dan benarlah, saya berangkat dengan kelegaan luar biasa. Tak ada beban memberati pundak saya. Rasanya istimewa sekali hari itu.

12088524_889227664446883_74668948827274576_n
Sumber: akunfbdianatimoria

Saya tiba di bandara Ende ketika sedang berlangsung diskusi di aula UniFlor. Saya menelpon panitia dan pikir saya, satu dari antara merekalah yang akan menjemput saya. Ternyata, yang datang adalah Diana dan Ke Eka. Duo kawan saya yang gokil abis sewaktu kegiatan Sumba Art Gathering. Entah bagaimana mereka bisa melobi panitia sampai merekalah yang datang dan membawa saya ke hotel. Dari sana, barulah kami bertiga menuju gedung UniFlor. Saya tak begitu mengikuti dengan baik kegiatan di sana karena mungkin juga baru datang sehingga saya perlu beradaptasi dengan tempatnya. Hanya mendengar sedikit ketika berlangsung tanya jawab antara peserta dan pemateri, kemudian kami kembali ke hotel untuk kemudian katanya bersiap untuk makan malam di rumah ketua yayasan (begitu sih bilangnya).

Ketika hari menjelang maghrib, kami sudah bersiap sambil menunggu Ka Eka dari rumahnya. Ketika ia datang, kami bukannya langsung keluar, malah berada di dalam kamar saya dan bernostalgia tentang Sumba Art Gathering di bulan Agustus lalu. Saking asyiknya bercerita sampai kami lupa harus berangkat ke rumah ketua yayasan UniFlor. Ketika kami keluar dari kamar, hotel sudah sepi. Jadinya kami menumpang angkot (saya lupa dengan nama apa mereka menyebutnya di sana, apakah angkot apakah bemo:)) yang langsung mengantar kami ke tempat tujuan. Beberapa menit kami tiba, acara pun dimulai dengan sambutan dan beberapa penulis membacakan karyanya lalu makan malam. Sehabis makan, acara baca-baca karya dilanjutkan. Kami bertiga menggunakan waktu itu dengan keluar berjalan-jalan di area sekitar. Kami menuju satu pelataran entah itu perkantoran atau apapun itu yang jelas ada mesin ATM. Pelataran itu baik untuk kami duduk-duduk di situ meski hanya tidak ada bangku dan hanya serupa tepi paving block sebagai alas duduk kami. Cukup lama sampai kami kemudian ditegur entah petugas entah siapa di situ dan kami pun pulang ke rumah ketua yayasan itu yang mana acara baca-baca karya masih sedang berlangsung. Kami berbaur kembali dengan mereka yang ada di rumah itu sambil mendengarkan orang-orang menampilkan karya mereka.

Keesokan paginya karena mesti bangun pagi-pagi untuk berangkat ke Puncak Kelimutu, wisata sastra begitu tertulis di agendanya, kami pun segera pulang ke hotel dengan bis yang disediakan. Di kamar, seusai membasuh muka kaki tangan, niat saya mau membaca beberap buku yang saya beli di pameran siangnya tak jadi karena langsung jatuh tertidur. Tidak  menyadari lagi keriuhan di luar. Beruntungnya sudah saya setel alarm. Saya bangun tepat waktu. Dengan dua bis, kami berangkat ke Kelimutu pagi-pagi sekali ketika hari masih gelap. Kak Eka tak ikut bersama kami, ada yang kurang jadinya. Perjalanan menuju ke sana melewati jalan-jalan yang berliku dan di pinggirannya terdapat jurang yang curam seperti yang ada di film-film atau mimpi. 😀 Tidak dekat ternyata. Mendekati tempat tujuan, kepala saya berasa pening, mungkin terlalu banyak melihat ke luar. Saya ingat ketika masih kecil kalau bepergian jauh, saya selalu diingatkan agar jangan terlalu sering menengok keluar jendela. Pandangan harus selalu lurus ke depan. Itu dapat mencegah kamu mabuk, begitu saya dibilangkan. Maka, mendekati tempat tujuan, saya harus mau tak mau mengurangis intensitas saya menengok ke luar padahal justru di tempat-tempat itulah yang pemandangannya hijau bagus karena semakin mendekat ke arah pegunungan. Saya sempat tertidur sebelum benar-benar tiba di tempat tujuan.

Tempat perhentian bis serupa di bila kita bepergian ke daerah Puncak Bogor kalau di Jawa. Kami hanya turun beristirahat sebentar untuk minum atau ke toilet dan barulah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki demi ke Puncak Kelimutu. Satu-satu kami mulai mendaki jalanan yang sepanjang jalannya kami  ditemani desiran pohon cemara. Karena pemandangannya yang menyejukkan dan menentramkan hati, tiada letih sedikitpun terasa. Kami singgah di dua tepian danau Kelimutu yang dipagar dengan besi. Cukup menyeramkan seandainya tak dipagari. Tapi betapa waktu itu saya bisa berdiri dekat-dekat, sementara sekarang ketika membayangkan, saya jadi merasa ngeri, kok bisa saya sedekat itu dengan tepiannya (sambil berdoa minta dijauhkan segala mimpi buruk-amin).

1424583_10206015387837571_5012343631197885513_nDari tepian itu, kami menapaki lagi tangga seribu, begitu mereka menyebutnya, hingga ke Puncak Kelimutu. Dari tugu di puncak itulah, katanya kita bisa melempar pandang ke segala arah dan benar saja, itulah puncak tertinggi Kelimutu.

Anehnya di sana, saya seperti hilang sadar. Orang-orang begitu bersibuk ria, dan saya pun seperti tak menyadari keberadaan saya di sana. Serupa sebatang kayu kering, saya hanya bergerak ke sana-kemari tanpa mengerti betul-betul kenapa dan untuk apa. Saya pusing. Mungkin terlalu banyak orang. Tak ada ruang bagi saya untuk lebih menikmati. Hanya satu konsep yang saya bawa, cerita kedatangan saya ke Puncak Kelimutu tiada lain dan tiada bukan adalah melihat kebesaran ciptaan Allah. Hanya itu yang saya pegang. Namun ketika terlalu banyak orang bergerak ke sana ke mari dan saya pun ikut-ikutan bergerak ke sana ke mari, serta tak memberikan ruang kepada diri saya sendiri untuk berefleksi, jadilah hanya euforia yang terjadi. Di perjalanan pulang, saya tahu bahwa entah kapanpu itu saya pasti datang lagi, entah sendiri ataupun dengan orang-orang lain tapi dalam jumlah yang lebih kecil. Mesti.

Sepulang dari sana, mungkin karena letih, saya dengan Diana sempat tertidur hingga bus harus berhenti beberapa lama di tengah jalan karena berada dalam antrian panjang berhubung ada sisi jalan yang sementara diperbaiki.

Malamnya, acara dilanjutkan di Pantai Taman Ria, Ende. Sebelumnya karena Diana sudah lebih dahulu pulang berhubung ada acara lain yang harus ia ikuti, saya diajak Ka Eka jalan-jalan ke Pasar Ende, ke lapangan Pancasila, tempat Bung Karno menemukan ilham pancasila, kemudian ke situs rumah pengasingannya, sayang sudah tutup. Kami kemudian berjalan kaki ke Pantai Taman Ria.

12122780_10205199317076312_5132009350216555941_nAcara di sana sekaligus malam penutupan Temu II Sastrawan NTT. Acaranya seperti Babasa kalau di Kupang, tapi sedikit lebih formal, ah, sebut saja semi formal begitu kali ya. Ada babaca karya sendiri ataupun karya orang lain, makan-makan, babaca karya, musikalisasi puisi, hingga sambutan-sambutan penutupan. Saya sendiri sempat membaca puisi Ibu Mezra Pellondou dari antologi yang diterbitkan Kantor Bahasa. Seperti antologi Temu I, saya pun paling menyukai puisi-puisi Ibu Mezra. Kalau tahun lalu, saya suka puisinya, Orang-orang Gila itu Meneriakimu Gila; teruntuk Tius Natun, maka kali ini, puisinya yang saya pilih adalah Nazarku Cacad, ya Tuhan* Demikian liriknya.

Tuhan, inilah nazarku
Binatang cacad
Yang telah hilang sepasang matanya
Kaki-kakinya pun lenyap
Begitu pula tangan-tangannya

Semalam seekor jantan yang kupersiapkan untukMu
telah dicuri oleh seekor betina liar
Betina itu melarikannya
ke tengah hutan belukar
Aku telah mengejarnya
Mereka lenyap
Aku menangis sepanjang malam
di tengah rumput-rumput tropis yang kering

Tuhan, inilah nazarku
Binatang cacad
Yang tak bisa kukatakan seekor
Karena ekornya pun telah lenyap
Kugunting dan telah kupakai
Untuk mengikat sang jantan
Kutambatkan di mezbahMu
Agar ia jangan pergi
Namun seperti yang kukatakan
Seperti yang Engkau ketahui sekarang
Seekor jantan yang kupersiapkan padamu itu
Telah dicuri betina liar

Tuhan, terimalah nazar cacadku ini
Jangan lagi Engkau mengutukku
Apalagi jika Engkau tahu bahwa
Aku baru saja memeriksanya
Ternyata kelaminnya pun tak dimilikinya lagi
Aku tidak bisa menyebut
Jantan atau betina yang telah kupersembahkan padaMu ini

Tuhan, terimalah nazar cacadku ini
Kutuklah aku jika Engkau dapati aku
Mempersembahkannya dengan tidak tulus
Amin.

Kupang, 6 Januari 2014

(Diambil dari antologi puisi sastrawan NTT, Nyanyian Sasando terbitan kantor bahasa prov NTT 2015)

Oh, ya, sebelum menutup, sebagai informasi tambahan, bahwa di kegiatan Temu II Sastrawan NTT inilah terjadi dua peristiwa penting dalam sejarah sastra NTT. Maafkan saya, tak menuliskannya secara lebih detail sebab saya pun hanya mendapat informasi sekilas saja karena keterlambatan saya sehari itu. Saya tiba di Ende ketika acara penting itu sudah usai. Dua peristiwa penting itu adalah dinobatkan Bapak Gerson Poyk sebagai perintis sastra dan sastrawan NTT serta tanggal kelahirannya di 16 Juli ditetapkan sebagai hari sastra NTT. Itulah yang dibacakan di malam penutupan Temu II Sastrawan NTT.

Sepulangnya kami dari Pantai Taman Ria, bukannya langsung beristirahat. Kami masih bersibuk ria mengamati Pak Polisi Buang Sine yang sedang menggambar sketsa wajah orang Bapak Gerson Poyk. Terutama saya mengamati saja dengan takjub. Sungguh bapak ini luar biasa. Pak Polisi yang bukan saja menulis, tapi juga jago menggambar wajah orang dengan persis sekali wajah aslinya. Salute… 🙂 Demikianlah akhir cerita malam itu. Kami pun pulang keesokan harinya beberapa jam setelah sarapan.

Sekalian Lampiran

Puisi Mezra Pellondou

Orang-orang Gila itu Meneriakimu Gila
: Tius Natun
Lelaki Timor yang gagah menerjang panas dengan kaki telanjang
Di saat semua orang terpulas di kamarnya yang panas. Teramat panas.
Atau di saat orang-orang kantor, pedagang dan pengangguran mondar-mandir
Lelaki itu memang sedang berjalan di bawah langit Kupang yang selalu tanpa
Mendung
Apalagi hujan.

Tidak sekadar berjalan
Tangan lelaki itu menggali lubang demi lubang
Sepanjang jalanan protokol kota Kupang
Yang kerontang dan terlalu ajaib jika sebatang pohon pun mampu tumbuh

Namun tidak bagi lelaki itu; opa Tius
Tetangga dan sahabat memanggilmu demikian
Lelaki itu mencoba melakukan keajaiban dari pada menunggu keajaiban
Tangan opa Tius menciduk tanah, menggali bongkahan batu
Dan astaga… ia menanam satu demi satu jalanan protokol itu
Dengan akasia, lontar, kayu besi, kedondong, turi, kemang dan ribuan jenis ribuan perdu
Setelah itu langkahnya tidak berhenti ia terus berjalan
Menanam setiap sudut kota Kupang dengan anakan yang diambilnya dari rumahnya
Setiap orang yang melihatnya meneriaknya gila, menganggapnya bermimpi di siang
bolong

Opa Tius terus saja berjalan, tidak sekadar berjalan
Terus saja menanam, tidak sekadar menanam
Astaga… kali ini lelaki itu membawa air dan menyiram setiap tanaman yang telah
Diatanamnya
Dibelai-belai, diamat-amati, disayang-sayang seperti menimang seorang bayi
begitulah
Kasihnya tumbuh sepanjang jalan trotoar, protokol, dan setiap sudut kota
Orang-orang terus memanggilnya gila, bahkan tidak sedikit yang membunyikan
klakson
Bukan untuk menyapanya namun untuk menyemburkan asap knalpot mereka yang robek
Dan tertawa sinis

Opa Tius terus saja tersenyum
Terus saja berjalan, terus saja menanam, terus saja menyiram
Bagai seonggok renta yang dilupakan orang, opa Tius tidak butuh pujian namun
Tidak pernah menolak makian dan teriakan orang-orang

Sekarang jika setiap orang melewati jalan-jalan protokol dengan senyuman
Memandang hijaunya pepohonan
Atau yang sengaja berteduh dan bermain di bawah pohon di sudut-sudut kota Kupang
Akankah mereka tahu bahwa keindahan alam itu dibangun dengan keringat seorang lelaki yang kini renta?
Jika orang-orang kantor, pedagang dan pengangguran mondar-mandir di jalan-jalan
yang kini menghijau itu…pernahkah mereka berpikir barangkali mereka adalah seorang yang meneriaki gila pada lelaki renta itu?

Jika sekarang pemerintah bangkit dengan semangat clean and greeen-nya , mampukah mata mereka melek bahwa seorang lelaki telah membuka jalan dan tak seorang pun bila menutupnya? Bahwa lelaki itu telah lebih dahulu melakukan semua itu tanpa menunggu sebait perda ataupun undang-undang?

Kupang, Januari 2010.

Terdapat dalam antologi puisi sastrawan NTT “Senja di Kota Kupang” terbitan Kantor Bahasa Prov. NTT.