Rumusan Menulis*

hqdefault

Sumber gambar : i.ytimg.com

‘Kalau bukan kusadari hidupku adalah sebuah cerita persinggahan yang dituliskan, maka mungkin aku sudah membuat diriku berakhir sebelum ending yang dimaksud sang penulis.’

 

‘Maksudmu?’

‘Tak kau temui aku lagi di sini sekarang. Sebab aku pasti sudah lama mati. Ya, mati yang bukan karena tiba saatku mati. Tapi ini mati, mati yang datangnya kujemput sendiri.’

“Apakah begini sudah baik pembukaannya?” ia akhirnya bergumam. Sendiri ia dalam ruangan. Tak ada yang menanggapinya.

Ia sedang mencoba mengerjakan tugas dari kelas menulis yang diprogramkan kampus. Program yang sudah lama ia dambakan ada di kampusnya. Maka tak heran ketika diumumkan bahwa akan ada kelas menulis itu, ia malah orang pertama yang mendaftar. Dan setelah berlangsung beberapa kali pertemuan itu, para peserta diberi tugas. Menulis sebuah cerita pendek. Oleh trainer-nya, mereka diminta membuat cerita yang mesti berangkat dari pengalaman pribadi.

Setelah pikirannya dibawa mengelana pada potongan-potongan kenangan, dapatlah ia sebuah ide. “Bagus,” soraknya. Cerita ini ingin ia buka dengan dialog. Biar menggigit, begitu kata sang trainer. Namun kalimat yang ia tulis hanya berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia seperti merasa buntu. Tak tahu lagi bagaimana atau dengan kata-kata apa lagi mesti ia lanjutkan.

Otaknya mendadak sumpek. Seperti hawa bulan Oktober yang menggerahkan. Atmosfer dalam kamar sewanya yang di lantai dua ini pun berasa sesak. Suara berisik kipas angin dirasainya sangat mengganggu. Ia mengulurkan tangan lantas memencet tombol off. Hening seketika.

Bergerak ia menuju jendela. Menarik gorden dan membukanya lebar-lebar. Udara malam berhembus masuk. Di langit tak ada satu pun kerlip bintang. Mendadak ia merindukan kampung halamanya yang di kala malam justru penuh bertaburan bintang.

Kembali ke meja belajar, jendela tetap ia biarkan terbuka. Biarlah, pikirnya. Toh tak ada yang akan memanjati pagar berkawat duri di depan lantas harus pula merangkaki dinding tembok baru bisa sampai ke jendela kamarnya. Kecuali ada orang iseng melempar kerikil ke dalam. Kalau itu terjadi, ya tinggal kembali ditutup jendelanya.

Ia menatap layar laptop yang baru memunculkan beberapa baris kalimat percakapan tadi. Di sana ada dua tokoh sedang bercakap. Ia belum memutuskan, apakah keduanya cewek, ataukah cowok, ataukah satu cewek dan satu cowok. Kalau satu cewek dan satu cowok, manakah yang cewek dan manakah yang cowok. Itu sama rumitnya dengan tiap pagi kau mesti memikirkan, apakah kau memilih masak nasi dan lauk, ataukah nasi saja lalu membeli lauk, ataukah membeli nasi dan lauk sekalian di luar, atukah mi instan saja, ataukah jajan gorengan di pinggir jalan.

Ampun, apa hubungannya penokohan cewek-cowok dengan nasi-lauk. Ya, sudah. Intinya ada dua tokoh bercakap. Satunya menceritakan kisah hidup atau pengalaman pribadinya, dan yang lain berperan sebagai orang bloon yang tak tahu-menahu tentang keadaan kawannya itu.

‘Apa betul yang kau maksudkan adalah bunuh diri?’

Memang tepat sekali tokoh kedua ini berperan sebagai orang bloon. Pertanyaan yang diajukannya saja jelas-jelas menunjukan kalau ia orang bloon. Yup, cocok sekali.

Ok, lalu kira-kira apa tanggapan tokoh pertama. Apakah ia mesti menjawab, ‘ya’ ataukah mesti tertawa, atau perlu mengamuk marah karena jengkel.

Kalau mau ditelisik, jelas dua tokoh itu adalah gambaran kepribadiannya. Dua karakter yang sedang bercokol dalam dirinya. Yang satunya adalah ia yang mungkin sudah sejak lama berpikir untuk menghabisi hidupnya. Satunya lagi adalah tentang ia yang sudah merasa tak diterima sejak lahir bahkan oleh dua manusia yang bersepakat membuatnya. Maka ia menganggap dirinya adalah makhluk bloon yang paling menjengkelkan dan yang tak pernah diinginkan di muka bumi. Oleh orang yang membuatnya saja sudah demikian, apalagi orang-orang lain.

Sewaktu kanak dulu, sering tak sengaja ia memergoki ayah dan ibunya bertengkar hanya karena pembicaraan tentang ia yang terlontar keluar ke bumi bukan sebagai anak laki-laki tapi justru perempuan. Di rumah sudah ada lima perempuan. Mau ayahnya kali ini adalah ada setidaknya satu anak laki-laki di rumah untuk meneruskan marga keluarganya. Tapi justru yang keluar bukan jantan, malah lagi-lagi betina, demikian umpat ayahnya.

Rasa-rasanya ia ingin berteriak balik kepada kedua orangtuanya. Ingin menggugat bahkan ia sendiri pun tak pernah menghendaki dirinya muncul di bumi apalagi di keluarga yang tak pernah menginginkannya. Lima orang kakaknya pun seperti batu. Mereka melihat tapi tak pernah menganggap penting masalah ini. Lebih-lebih dua di antaranya yang sudah berkeluarga. Walau begitu ia tak pernah menaruh amarah pada mereka, toh bukan mereka juga yang salah.

‘Kalau pikiranku pendek, ya.’

Mungkin begitu mestinya tokoh pertama menyahut.

‘Untungnya tidak. Lantas apa yang kau lakukan?’

‘Kau tahu suaraku tidak bagus-bagus amat kalau menyanyi. Kau pernah mendengar sendiri bukan? Saat menyanyi suaraku selalu bengkok ke kiri atau kanan, bahkan terkadang jauh sekali dari nada yang semestinya. Liriknya pun, ah.. yang kutahu asal nyambung.’

‘Bukan pernah malahan, tapi sering. Kau tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba saja bernyanyi.’

‘Di rumah dulu, cara aku melampiaskan segala gundah adalah dengan bernyanyi di kamar mandi sewaktu mandi.’

‘Kau lucu.’

‘Tidak di saat itu. Karena pada dasarnya aku memang tak diinginkan di rumah, maka kau tahulah, segala yang kuperbuat, apapun itu adalah selalu salah. Aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku berteriak kayak orang kesetanan. Padahal aku hanya bernyanyi sebagaimana orang bernyanyi. Tak keras-keras amat juga. Hanya memang suaraku ya  demikian adanya.’

“Apakah mesti begini kutulis?” lagi-lagi ia bergumam.

‘Semenjak itu, tak pernah lagi aku mandi di kamar mandi di rumah.’

‘Lalu di mana kau mandi? Atau apa kau memutuskan tak pernah mandi lagi?’

‘Bodoh,’ semprot tokoh pertama kesal. ‘Mana mungkin aku tak mandi. Ya jelas, mandilah. Setiap subuh dan petang aku memilih pergi ke lembah untuk mandi di sana. Ada pancuran dengan sebuah drum penampung yang katanya sudah didudukan di sana di sebelum aku lahir bahkan sekarang pun ia masih ada walau sudah penuh lumut.’

‘Kenapa mesti setiap subuh dan petang mesti mandi di sana? Apakah kau tak takut dengan hantu-hantu yang bergentayangan?’

‘Apakah kau tak mengerti maksud ceritaku? Aku mandi di lembah biar bisa bebas bernyanyi. Tak ada yang melarangku. Tak ada juga yang perlu merasa terganggu. Bahkan ketika aku kadang sampai tak tahan dan meluapkan parau suaraku sepuas hati.’

Di sini tiba-tiba dirasainya matanya panas. Ah, kenangan itu sungguh merasuk. Ia seorang perempuan. Rasa sedih yang pekat sanggup mengalahkan ketakutannya berangkat pagi-pagi sekali saat hari masih gelap ke lembah atau pada petang menjelang malam. Di sana terkadang ditemuinya satu dua orang petani yang berangkat pagi-pagi sekali atau pulangnya kemalaman. Sekalipun begitu, di antara mereka tak ada yang pernah mau mandi di sana. Mereka semua mandi di rumah. Dengan air yang memang ada juga dialirkan di perkampungan. Hanya ia satu-satunya orang yang mandi di pancuran di lembah itu.

‘Apakah orang-orang tak menganggapmu aneh?’

‘Tak hanya dianggap aneh. Justru dibilang bersekutu dengan setan penunggu lembah’

Aih, kenapa ini cerpen isinya dialog semua?” ia mengumpat setelah mencermati baik-baik isi tulisan. “Bagaimana narasinya?”

Ia mengambil kertas dan bolpoin. Membuat coret-coret tak beraturan. Sampai kepalanya jatuh terkulai di atas meja barulah ia sadar, lantas mematikan laptop, menutup jendela, dan pergilah ia tidur.

***

Kubilang padamu, catat. Bahwa syair lagu yang kudengar di toko buku yang baru saja kukunjungi tadi benar-benar menyihirku. Syair dengan alunan lagunya sungguh perpaduan yang membawaku sejenak mencicipi secuil nirwana dunia. Bagaimana tidak, ia melagukan kisah seperti yang pernah dan sedang kualami.

Sekarang aku betul-betul ingin bertaruh. Siapa yang mau bertaruh denganku? Bahwa pasti para pencipta atau pelagu ini adalah malaikat utusan Tuhan yang didatangkan untuk menolong setiap insan yang sedang dilanda gundah. Mereka pasti punya hati yang besar nan luas nan lapang untuk orang-orang semacam aku yang baru saja menemui jalan buntu lantas berpikir ini sudah jalan satu-satunya, berhenti, dan matilah.

Aku yang sementara berdiri di depan kasir tadi, bersiap hendak membayar, mendadak terkesima ketika dari speaker mengalun lagu itu, lantas dengan saksama menyendengkan telinga.

Hingga lagu berakhir. Aku menarik napas.

Dan Bernyanyilah, dari grup band Musikimia,” kata sang kasir tersenyum.

“Keren sekali, aku jadi dapat sebuah rumusan menulis. Tuliskan apa yang kau rasakan, dan rasakan apa yang kutuliskan.” Aku berucap spontan. Jelas saja kegirangan.

“Neng suka menulis?” sebuah sapaan terdengar tepat di belakangku.

Aku menoleh. Oh, untunglah toko tak sedang ramai. Tak banyak antrian. Hanya seorang pemuda di belakangku itulah. Ia tersenyum sopan.

“Saya blogger. Kebetulan kemarin sempat saya baca, mereka sementara menyelenggarakan lomba menulis cerpen tentang inspirasi lagu ini,” jelasnya.

“Benarkah? Ah, Aku sungguh tak percaya. Kalau benar itu ada, maka aku mesti ikut.”

“Benar. Sebentar, saya buka linknya.” Ia sibuk mengetik, mengklik, dan scrolling di layar handphone-nya.

“Nah, ketemu. Ini, kalau kau tak percaya. Baca saja!” tanpa sungkan ia menyodorkan HP-nya ke tanganku.

Benar sekali. Tulisan di layar HP itu sungguh membuatku nyaris seperti tak lagi menapaki lantai.

Amazing. Aku akan menulis sebuah cerita. Tapi bukan semata-mata karena dan untuk mengikuti lomba ini. Aku menulis sebagai tanda ucapan terima kasihku untuk mereka, para malaikat utusan Tuhan yang dikirimkan datang menghibur jiwaku yang gundah, dan menyemangatiku kembali untuk mewarnai hidup.”

Sang blogger itu tersenyum.

“Oh, tolong. Terserah mau kau nilai apa tentang lakuku sekarang. Tapi lagu ini bagiku sungguh menggugah.” Demikian kuminta pengertiannya.

Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku. Nikmati saja prosesnya. Kau hanya perlu menuliskan apa yang kau rasakan, lalu merasakan apa yang kau tuliskan.

Sungguh kalimat lagu yang mencerahkan. Tak ada lagi yang namanya jalan buntu. Dalam proses menulis, ataupun problem kehidupan.

***

Kalau memang sampai waktunya sebuah cerita harus berakhir, dengan kata lain ia sudah tiba pada ending-nya, jangan lagi ia ditahan-tahan. Lepaskan, dan tutup. Di situ letak daya pikatnya. Cerita tambahan yang dipanjang-panjangkan hanya akan merusak makna. Orang yang membacanya pun tidak lagi tertarik. Demikian yang terngiang di telinganya kata-kata sang trainer tentang ending cerita.

Kini di matanya, tokoh pertama dan kedua dilihatnya saling menghampiri dan berangkulan.

‘Kau seorang mahasiswi yang hebat,’ suara itu menggema di kepalanya.

HP di sampingnya bergetar. Sebuah pesan suara terdengar, “Bernyanyilah, senandungkan suara isi hati, bila kau terluka. Dengarkan alunan lagu yang mampu menyembuhkan lara hati. Warnai hidupmu kembali. Ayo, apa peduli kita dengan suara kita yang tak merdu ini. Asal segala larut gundah terluapkan, dan pintu-pintu lain pun dikuakan.” Dari sang blogger yang menginfokan lomba menulis sore tadi di toko buku.

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s