Catatan Pendek Buku Richard J Foster, Sanctuary of the Soul (Tempat Perlindungan Bagi Jiwa): Perjalanan Menuju Doa Meditasi

Pengantar

Suatu sore sepulang sekolah di awal bulan Januari 2016, saya dan kawan saya mampir ke Gramedia untuk membeli buku. Di sana kawan saya melihat buku John Piper, ‘Think’ dan ia terlihat senang sekali. Saya bilang padanya kalau buku itu saya sudah punya. Saya beli di Gramedia Matraman Jakarta waktu masih kuliah dulu. Ketika ia bertanya lanjut, “Sudah baca?” Ya, saya mengiyakan. Tapi ketika ia bertanya lagi, ‘Isinya tentang apa?” Saya malah lupa. Kalau tentang pikiran dan perasaan adalah satu, saya ingat. Tapi mengenai detailnya, saya tak bisa menjelaskan banyak.

Itu salah satu di antara kekurangan saya. Baca sih baca, tapi kalau sudah lama, sering sekali saya lupa itu buku isinya apa. Sedih? Ya. Maka itu saya putuskan, kalau ada buku yang saya baca dan itu buku tersebut bagus, mestilah ditulis. Entah mau sedikit atau banyak, bagus atau tidak, mestilah belajar untuk mulai dituliskan biar ketika suatu kali kau ditanyakan kau sudah baca dan apa isinya kau lantas tidak bingung sendiri, bukan.

Yah, ini bukan sebuah resensi dengan segala aturan dan kelayakannya. Ini hanya semacam ringkasan untuk diri saya sendiri. Kalau engkau sempat membacanya dan bisa juga mendapat pesan-pesan baik dari tulisan ini, maka syukurlah. Semoga dari memulai tulisan-tulisan begini, saya mulai mengasah tulisan resensi supaya jadi lebih baik ke depannya.

Bertepatan memasuki tahun baru 2016 ini, saya memulai dengan membaca sebuah buku milik kakak sepupu saya. Buku itu awalnya dipegang adik saya sewaktu membantu tante saya membereskan rumah seusai pesta pernikahan kakak sepupu. Melihat judulnya yang menarik, saya lantas yang meminjamnya.

Catatan Mengenai Isi Buku

51ff02442e12f4ed84f46374f5cover_sanctuary_of_the_soul

Sumber gambar: PerkantasSulsel

Judul buku itu “Sanctuary of the Soul” (Tempat Perlindungan Bagi Jiwa): Perjalanan menuju Doa Meditasi. Penulisnya Richard J Foster. Buku ini adalah terbitan Literatur Perkantas Jawa Timur.

Buku ini membahas tentang bagaimana kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan – oh, ya, ada satu lagu Kidung Jemaat tentang ini, penulis lagunya, Fanny Crosby, “Close to Thee”, – apa artinya mengalami bisikan Allah dalam diri kita, bagaimana cara Allah berbicara kepada kita, apa ada persyaratan yang dipenuhi oleh hati dan pikiran kita agar bisa terbuka kepada suara Allah yang penuh kasih namun sekaligus juga menggetarkan, serta bagaimana kita juga bisa mengembangkan cara mendengarkan Allah melalui doa dalam batin kita.

Isi buku terdiri atas 3 bagian besar yang masing-masing bagiannya selain terdiri atas 3 bab, juga selalu dibuka dengan puisi-puisi yang indah dan memukau. Setiap babnya pun tak lupa disertakan pula dengan kutipan-kutipan yang berkaitan dengan isi yang akan diuraikan.

Berikut 3 bagian besar buku tersebut yakni, Meletakan Dasar, Melangkah ke Dalam Doa Meditasi, dan Menghadapi Kesulitan-Kesulitan Sehari-hari.

Bagian pertama, Meletakan Dasar terdiri atas 3 Bab yaitu Allah yang Berbicara, Mengajar, dan Bertindak, Persahabatan yang Akrab dengan Yesus, dan Merendahkan Hati Bersama Pikiran. Dan di sini saya tak membahas bab per bab, melainkan hanya menuliskan secara umum yang saya tangkap dan pahami.

Dimulai dengan paparan betapa rindunya Allah akan kedekatan-Nya dengan manusia ciptaan-Nya. Hal ini dibuktikan dengan kisah dalam Alkitab yang menunjukan kerinduan Allah tersebut melalui beberapa peristiwa dalam Alkitab.

Selain kisah dalam Alkitab, juga realitas yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai manusia saat ini. Tentang kita yang tak bisa menguasai hati dan pikiran kita. Setiap kita memiliki jalinan kusut motivasi. Kita memiliki hati yang gaduh. Sering juga kita dihampiri oleh kekacauan pikiran. Kita hidup dalam suatu kehidupan yang terpecah, sehingga kita menjadi sangat sulit ketika berusaha memusatkan pikiran dalam berdoa. Itulah kenapa diperlukan transformasi hati. Transformasi hati adalah sebuah pekerjaan yang diiniasiasi Allah dengan mengundang Anda dan saya. Hal ini tidak secara cepat dan menyenangkan, namun perlahan-lahan sebagaimana proses pembentukan sesuatu.

Hal berikut yang bagi saya sangat menarik yaitu mengenai imajinasi yang dikuduskan. Imajinasi adalah karunia Allah untuk membantu memberi dasar bagi pemikiran dan memfokuskan perhatian kita dalam menjalin kedekatan kita dengan Allah terutama dalam berdoa meditasi. Namun sebagaimana kemampuan lainnya, imajinasi juga ikut serta dalam peristiwa kejatuhan. Tapi kita percaya bahwa Allah melalui Kristus telah bekerja menguduskan imajinasi kita dan menggunakannya bagi tujuan-Nya yang baik. Diakui ini memang hal yang cukup sulit dimengerti, tapi di satu sisi perlu diketahui bahwa iman adalah tindakan tertinggi dari imajinasi yang telah disucikan.

Dengan imajinasi itu pula kita dapat melihat gambaran tentang Allah yang tidak terlihat. Secara singkat menurut teolog besar John dari Damaskus, dalam karyanya The Fountain of Knowledge, sebelum Allah mengambil bentuk manusia dalam Kristus, tidak ada gambaran materi apapun yang mungkin diberikan dan karena itu menjadi suatu penghujatan bahkan ketika kita memikirkannya sekalipun. Tetapi pada waktu Allah berinkarnasi, gambaran bisa dimungkinkan. Akibat inkarnasi Kristus atau Allah menjadi daging, penggunaan gambaran mengenai Yesus menjadi bagian dari teologi Kristen.

Selanjutnya tentang lectio divina. Yang saya tangkap mengenai istilah ini adalah, ia memiliki makna sepenuhnya mendoakan, mendengarkan, membiarkan diri tunduk terhadap apa yang dikatakan oleh tulisan-tulisan dalam kitab suci, serta mengizinkan pesan-pesan yang ada di dalamnya mengalir masuk, direnungkan secara mendalam, diresapi dengan melibatkan pikiran dan hati kita sepenuhnya, berusaha masuk ke dalam realitas yang dikatakan di dalamnya, hingga diterapkan dan ditaati sehingga menghasilkan rasa syukur, pengakuan, ratapan, dan permohonan.

Meski kita ingin menegaskan sentralitas kitab suci, lectio tidak hanya memasukan Alkitab semata. Kita pun bisa belajar dari kehidupan orang-orang kudus dan tulisan-tulisan yang dihasilkan dari pengalaman batin mereka bersama Allah karena kita tahu bahwa Allah yang berbicara di masa lalu tersebut.

Hingga akhirnya bagian satu ini ditutup dengan pengalaman penulis akan salah satu ibadahnya di Quaker Meadow dalam sebuah pertemuan akhir minggu di sebuah kampus di California. Tentang pengalaman doa meditasinya secara personal dan komunal yang terjadi di alam terbuka seperti itu yang juga membawa ketenangan tanpa terburu-buru dan tanpa disibuki hal-hal lain yang tidak berhubungan.

Jadi kesimpulan bagian satu ini adalah entah itu melalui Alkitab, imajinasi, gambaran akan Yesus, kehidupan orang Kristen yang beriman sepanjang sejarah, atau melalui pengalaman pribadi kita di antara bentangan alam ciptaan, kita bisa selalu berusaha merendahkan hati bersama pikiran, dan berdiam diri di hadirat Tuhan.

Bagian kedua ini tentang Melangkah ke Dalam Doa Meditasi. Dipaparkan tiga langkah dasar menuju doa meditasi, yakni yang pertama rekoleksi (menenangkan diri, memusatkan pikiran).

Sebagaimana pengertian umum mengenai kata meditasi yakni mengosongkan pikiran dan menyatukan diri dengan kesadaran kosmik, demikian pula dalam pemikiran Kristen. Namun di sini ia mengartikannya sebagai mengosongkan pemikiran dari semua yang berlawanan dengan jalan Kristus.

Maka itu untuk masuk dalam doa meditasi, harus dimulai lebih dahulu dengan rekoleksi. Rekoleksi terkait dengan pengintegrasian diri sampai kita menjadi utuh. Rekoleksi di sini berarti melepaskan semua gangguan yang menghalangi sampai kita bisa sepenuhnya sadar akan keberadaan kita. Rekoleksi lebih dari sekadar suatu relaksasi netral dalam psikologi, ia merupakan suatu tindakan penyerahan aktif, ‘Menyerahkan diri kepada provindesia Allah’ meminjam frasa Jean Pierre de Causade.

Beberapa hal yang terjadi dalam proses rekoleksi, yakni yang pertama menyerahkan diri dengan rela. Menyerahkan kepemilikan kita, segala ambisi kita, kecemasan dan kekhawatiran kita, segala maksud dan niat baik kita. Hal kedua yaitu munculnya semangat untuk bertobat dan mengaku dosa. Mengaku dosa berarti membuka dan menyatakan di hadapan Allah segala kegelapan yang ada di dalam diri kita. Seumpama bebatuan dan kerikil yang ada di dalam hati kita, kita meminta kepada Allah untuk melihatnya dan menyingkirkannya dari kehidupan kita. Hal ketiga adalah menerima jalan Allah. Pikiran Allah bukanlah pikiran kita. Kita perlu mengerti jalan Allah dan mengikuti pimpinan-Nya. Hanya dengan dekat kepada Allah kita bisa peka terhadap pimpinan-Nya.

Dengan rekoleksi kita dibawa masuk ke dalam langkah kedua dari doa meditasi, yakni bertemu dengan Tuhan. Bertemu dengan Tuhan berbicara mengenai hati kita yang tenang mengarahkan pandangan batin kepada Allah sebagai pusat. Menikmati kehangatan dari kehadiran Allah, meresapi kasih dan perhatian Allah, sehingga jiwa kita pun terpesona melihat apa yang ada di hadapannya.

Ada usulan penulis tentang 3 cara sederhana yang bisa membantu kita membuka pintu menuju kepada pengalaman bertemu dengan Tuhan:

Cara pertama, berdiam diri di hadirat Allah yang mulia, yang bisa kita saksikan dalam ciptaan. Melalui cara ini, kita mengakui bahwa tatanan ciptaan, meskipun sudah terpengaruh oleh peristiwa kejatuhan, tetap ia masih mencerminkan kebaikan dan kemuliaan Allah.

Cara kedua, melalui musik ibadah. Musik tersebut berguna jika, secara metafora, musik bisa membawa kita dari pelataran luar masuk ke pelataran dalam dan ke dalam ruang maha kudus. Ditekankan musik dan menyanyi itu sendiri bukanlah pertemuan itu, tetapi merupakan jalan masuk kepada pertemuan dengan Tuhan. Menurut penulis buku ini, ‘keras’ dan ‘meluap-luap’ jarang bisa menjadi jalan masuk bagi kita kepada Allah. Sebaliknya musik seperti itu hanya mengarahkan dan memfokuskan kita pada emosi-emosi lahiriah kita.

Cara ketiga, sebenarnya ini cara sederhana di mana ada suatu waktu ketika kita memasuki pengalaman sangat mendalam yang tak bisa diungkapkan dalam kata-kata manusia. Seperti yang dituliskan Paulus dalam Roma 8:26, Roh Kudus turut berdoa bersama kita ‘dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Di sepanjang pengalaman tersebut, kita berdiam dalam ‘keheningan Allah yang indah, menggetarkan, lembut, penuh kasih, dan melingkupi semuanya’.

Masih dalam bagian kedua, kita dibawa masuk ke dalam langkah ketiga, yaitu doa yang mendengarkan, ketika kita mengalami rekoleksi sebagai suatu anugerah yang menyatukan dan anugerah yang membebaskan dari perjumpaan dengan Tuhan.

Perlu diingat bahwa istilah ‘langkah’ di sini jangan salah dimengerti sebagai sesuatu yang seolah-olah praktis dan mudah. Sebab semua aspek dari doa meditasi ini memang saling terkait dan tumpang tindih, dan hal seperti ini tidak bisa dijelaskan atau dimengerti dengan kaku.

Baiklah kita lanjutkan mengenai doa yang mendengarkan. Ketika kita masuk ke dalam doa yang mendengarkan ini, kita menyingkirkan semua halangan yang ada dalam hati kita, semua kekotoran dalam pikiran, semua kebimbangan dari kehendak kita.

Nah, bagaimana kita bisa memahami suara Allah yang hidup yang dibedakan dari, katakanlah pikiran kita sendiri yang kacau atau bahkan dari pengaruh si jahat. Jelasnya tidak ada satu rumusan tertentu yang lengkap tentang ini. Hal ini membutuhkan kedekatan yang lebih personal. Butuh, seperti yang dikatakan Edward John Carnel, ‘ikatan darah’. Intuk itu, kita membutuhkan semacam kedekatan tertentu, suatu hubungan personal dengan ‘Guru Batin’ kita, Yesus.

Mengenai topik kedekatan ini, satu buku yang direkomendasikan sang penulis buku adalah buku Dallas Willard, Hearing God. Di dalamnya Dallas menjabarkan faktor-faktor tertentu yang dapat membedakan suara Allah, yakni kualitas suara Allah, roh dari suara Allah, dan isi dari suara Allah. Tidak mudah dan cukup rumit untuk dianalisis, namun oleh kasih karunia Tuhan dengan bimbingan Roh Kudus, kita pasti bisa belajar jika kita memiliki kerendahan hati.

Berikutnya, di dalam bisikan Allah yang berdaulat sifatnya personal. Ada hal yang biasa dan ada pula yang tidak biasa. Bahkan kehidupan kita sehari-hari pun menyajikan beragam kesempatan dalam mengalami bisikan Allah. Tentang hal ini pula penulis merekomendasikan buku-buku yang ditulis Frank Laubach. Laubach menulis hampir seratus buku, lima belas di antaranya membahas tentang doa. Beberapa bukunya yang paling dikenal antara lain adalah Letters by a Modern Mystic, Learning the Vocabulary of God, You Are My Friends, Game with Minutes, Prayer:The Migtiest Force in the World, dan Channels of Spiritual Power.

Di luar semuanya itu sebagai kesimpulan dari bagian terakhir bab ini, penulis mengingatkan sebagaimana perkataan Brother Lawrence, ‘Bagi saya, waktu ketika saya melakukan pekerjaan tidaklah berbeda dari waktu ketika saya berdoa; dan di tengah keriuhan yang terjadi di dapur saya, ketika beberapa orang yang sama meminta bantuan, di saat seperti itu saya bersama dengan Tuhan dalam ketenangan sama seperti ketika saya berlutut menerima sakramen.” Hal seperti inilah yang mestinya juga terjadi dalam hidup kita.

Mari kita masuk kepada bagian ketiga, Menghadapi Kesulitan Hidup Sehari-hari. Ini bagian yang paling saya sukai. Hati saya seperti meluap-luap dengan apa yang saya baca di sini. Saya mulai menyukainya dari pembahasan pertama atau pembuka, yakni di bab ‘Pikiran yang Berkelana’– saya jadi ingat salah satu judul buku Aan Masyur, seorang penyair dari Makassar, “Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia”.

Dipaparkan fakta-fakta tentang kehidupan kita sehari-hari di tengah-tengah revolusi elektronik ini, kita yang seolah tak bisa lepas dari internet, yang hampir setiap jam bahkan menit atau detik selalu berhubungan dengan internet, entah mengecek email atau mencari informasi atau aktifitas apapun, akhirnya membuat kapasitas kita mempertahankan konsentrasi terus berkurang.

Manusia di tangan mereka beragam peralatan teknologi yang digunakan, tapi justru semakin mudah mengeluh karena tertekan. Dikemukakan pula, sebenarnya bukan budaya internet ini masalahnya. Melainkan masalah mendasarnya adalah distraksi.

Bahwa ini sudah menjadi fakta, jadwal kita sangat padat dan terus menerus dihujani oleh beragam dorongan, hanya menunjukan kalau kita telah tenggelam ke dalam kegilaan modern yang terus membuat kita berada dalam keadaan yang terdistraksi.

Maka itu, jangan heran ketika kita berusaha masuk ke dalam keheningan kreatif dari doa meditasi, setiap tuntutan menjerit meminta perhatian kita. Pikiran kita begitu sibuk dan kacau memikirkan banyak hal. Dikatakan, kita memiliki hati yang gaduh.

Nah, paparan fakta tersebut bagi saya ini mengena secara pribadi. Bagaimana tidak, dengan adanya internet sekarang ini, ketika sebenarnya niat awal kita menghidupkan internet adalah ingin mencari informasi yang kita butuhkan. Namun ketika kita sudah berhadapan dengan internet, kita bukan lagi hanya fokus dengan apa yang kita niatkan, namun dengan mudah sekali tergiur untuk membuka atau membaca info-info lain yang awalnya tidak kita hiraukan.

Lalu kemudian kita menutup internet. Menyesal. Hanya mencari info ini yang sebenarnya membutuhkan waktu 5 menit, nyatanya kita habiskan 3-4 jam hanya sekadar untuk melihat-lihat. Dan kita sadar, waktu tak bisa diputar ulang. Duh, hati dan pikiran pun mulai kacau, mengingat Efesus 5:16 “Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat”.

Mengenai hati kita yang gaduh ini, kita dinasihati untuk menjadi sabar dengan diri sendiri. Duduk diamlah sebentar dan menunggulah dengan sabar. Jangan berusaha membatasinya dulu. Jangan hiraukan ke mana pikiran yang berkelana itu pergi. Tetapi sesudah itu, ambil tempat atau orang yang tersesat dalam pikiran tersebut dan taruhlah ia di dalam doa. Percakapan batin dengan Allah bisa memberitahu kita tentang distraksi kita sendiri. Bukan hal yang salah bila waktu meditasi kita semuanya terpakai hanya untuk mempelajari kekacauan batin kita. Meminta bimbingan Tuhan adalah penting.

Berikut mengenai mengatasi masalah pikiran yang berkelana ini secara mendasar. Yang jelas bahwa kita perlu memulainya sebelum waktu meditasi dimulai agar roh distraksi tersebut dapat disalibkan.

Cara pertama mungkin bisa dengan berhenti memakai media elektronik untuk suatu jangka waktu tertentu. Kalau yang ini silakan anda memilihnya. Bisa sejam sehari, atau sehari seminggu, atau seminggu dalam sebulan atau setahun. Cobalah lakukan dan perhatikan apakah hal ini menolong anda dalam mengurangi distraksi dalam batin.

Anjuran berikut, nah ini yang menohok bagi saya. Menurut penulis buku ini sendiri, anjuran ini mungkin kesannya sedikit agak aneh. Anjuran tersebut adalah membaca bagian tertentu dari sebuah puisi. Katanya, ada tiga hal yang membuat puisi sangat membantu dalam menenangkan dalam pikiran kita.

Pertama, puisi membuat kita kagum dengan pengaturan kata-katanya dan keindahan yang bisa dimunculkan dari bahasa. Ini tidak biasa kita temui dalam dunia tulisan di mana para pengiklan dan politisi terus-menerus meluncurkan tulisan untuk mendapatkan penjualan atau suara dalam pemilihan. Kata-kata, jika dipilih dengan saksama dan ditulis dengan indah, bisa membuat kita tidak terlalu terburu-buru dan kita bisa memfokuskan perhatian kita pada masalah-masalah yang esensial.

Kedua, seperti dikatakan sang penulis, bahwa ia sendiri pun pada pembacaan pertama ia sering tidak memahami apa yang sedang ingin dikatakan sang penyair. Hal ini memaksanya untuk berhenti dan kembali lagi dari awal, membaca ulang kata-kata tersebut. Dan terus dibaca ulang. Jika kita sabar, pikiran kita yang sedang kacau ini secara perlahan akan mengikuti suasana puisi tersebut. Sebuah puisi umumnya memiliki makna ganda, dan hal ini membuat kita tidak bisa langsung melewati subjek bahasa lahiriah dari puisi tersebut tetapi harus masuk ke masalah batin yang sedang dibahas oleh puisi tersebut. Ketika kita sedang berusaha memahami puisi tersebut, kita menyadari bahwa kekacauan kita telah sangat berkurang, dan menjadi jauh lebih tenang.

Ketiga, pikiran kita seringkali terkesima dengan metafora yang diungkapkan dalam sebuah puisi. Sebuh metafora, tentu saja, mengambil dua hal yang berlawanan dan menunjukan dalam satu cara di mana keduanya memiliki kemiripan. Metafora dalam suatu puisi dapat membantu memusatkan pikiran kita yang suka berkelana.

Sebaiknya kita tak perlu heran dan merasa aneh seperti yang dibilang sang penulis buku ini. Sebab dalam Akitab pun kitab-kitab puisi katakanlah Mazmur, menjadi bahan acuan yang sering dibaca ketika seseorang berhadapan dengan problem kehidupan, dan tak jarang mereka pun dapat menjadi tenang karenanya. Karena ketenangan inilah mereka dapat berusaha mencari dan menemukan solusi dengan baik.

Baik, mengenai membaca puisi ini, penulis mengusulkan tiga penyair yakni, John Donne, George Herbert, dan Robert Siegel. Dari ketiga penyair yang disebutkan namanya ini, saya sendiri pernah mengutip puisi George Herbert yang berjudul ‘Adakah Kepedihan seperti yang Kurasakan?’ dan saya salin ke blog pribadi dulu sewaktu masih kuliah. Berikut ini linknya: https://anicetunayt.wordpress.com/2011/04/21/pengorbanan-adakah-kepedihan-seperti-yang-kurasakan-2/

Hal berikut selain puisi, adalah imajinasi. Sebagaimana dijelaskan di bab awal bahwa sekalipun imajinasi ini telah turut ke dalam kejatuhan, ia pun ikut juga masuk dalam penebusan. Itulah kenapa dengan imajinasi, taruhlah Yesus ikut duduk bersama dengan anda dalam doa meditasi tersebut. Setelah itu mulailah membawa atau mengulangi sebuah perikop Alkitab, mungkin Doa Bapa Kami atau bacaan-bacaan dalam Mazmur. Dengan imajinasi tersebut, anda melihat ada semacam sumbat di setiap jari anda dan saat anda siap, tarik sumbat-sumbat itu dan perhatikan saat uap cairan tersebut mengalir keluar menuju tempat pembuangan. Cairan itu mewakili semua distraksi dan kekhawatiran yang memenuhi pikiran kita. Barulah setelah itu, tempat cairan tadi oleh tangan Yesus yang sambil tersenyum datang menggantikannya dengan cairan yang cerah dan jernih. Itulah Firman Allah yang menghidupkan dan mendamaikan jiwa batin kita.

Namun perlu disadarai bahwa ketika kita berusaha semakin dekat dan akrab dengan Tuhan, setan tak penah mau tinggal diam. Setan dan para pengikutnya akan terus berusaha menyerang kita bahkan di waktu kita berdoa..terutama di waktu berdoa. Itulah kenapa kita perlu membentengi diri kita agar tidak terjebak, tertipu, atau terjerat.

Yesus adalah guru agung kehidupan, dan pengalaman-Nya dengan setan dan tak-tiknya bisa menjadi petunjuk bagi kita dalam beragam cara. Perikop paling penting dapat dilihat kembali pada peristiwa pencobaan di padang gurun sesudah Yesus berpuasa 40 hari. Dalam 3 kali pencobaan tersebut sebenarnya bukan sekadar pencobaan biasa melainkan melambangkan 3 institusi sosial yang menonjol saat itu bahkan yang masih juga relevan hingga sekarang yakni, ekonomi, agama, dan politik. Yesus menolak daya tarik 3 institusi tersebut, ekonomi yang menjarah, agama yang manipulatif, dan politik yang menindas. Di sini kita pun belajar untuk mengalahkan iming-iming palsu dari setan dalam bidang-bidang tersebut.

Pesan terakhir dari buku ini berakar pada realitas agung dari kekuasaan Allah atas segala hal. Bacalah 1 Petrus 5:6-11.

Penutup
Demikian sedikit catatan saya tentang buku “Sanctuary of the Soul (Tempat Perlindungan Bagi Jiwa): Perjalanan menuju Doa Meditasi oleh Richard J Foster. Sekali lagi saya tekankan, catatan ini bukanlah seperti satu resensi buku dengan segala aturan dan kelayakannya. Ia hanyalah sebuah catatan pendek untuk membantu saya mengingat kembali apa yang sudah pernah saya baca. 🙂

Kupang, 31 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s