Catatan Pendek Buku John Piper, “Think” -> The Life of the Mind and the Love of God (Pikirkan: Eksistensi Akal Budi dan Kasih akan Allah)

full_think

Sumber gambar: desiringgod

Pengantar

Pertama kali baca buku ini waktu kuliah. Tapi kemudian baru-baru memasuki tahun baru ini, ketika ada kawan saya yang berseru senang karena baru menemukan buku ini di Gramedia Kupang, dan saya bilang kalau saya sudah baca tapi justru tak bisa memberi jawaban ketika saya ditanyai isinya apa, maka dengan ini saya memutuskan untuk kembali membaca ulang dan meninggalkan catatan-catatan kecil tentangnya dengan bahasa yang saya mengerti.

Namun tentu akan menjadi sebuah kesalahan juga bila saya hanya membuat catatan-catatan kecil yang bertujuan untuk mengingatkan saya kalau saya pernah membacanya, lalu mengacu kepada apa yang dituntut dalam bahasan buku ini yakni bila engkau hanya mau mengetahui untuk diri kamu sendiri, maka itu sangatlah tidak berfaedah, dan jelas tak ada artinya. Maka baiklah dalam kekurangan dan keterbatasan saya, biarlah saya bertanggungjawab merangkum atau meringkasnya sebaik mungkin agar dapat dimengerti oleh orang yang membaca. Kalaupun ada di antara para pembaca yang tidak mengerti rangkuman atau catatan kecil ini, maka biarlah itu adalah sepenuhnya kesalahan saya sebagai seorang pemula yang baru belajar menulis rangkuman buku nonfiksi.

Sebenarnya kalau boleh berterus terang saya ‘agak iri’ dengan ada kawan lain yang juga pernah membaca buku ini, dan ketika dalam satu kali kesempatan kami mengobrol santai tentang kekonyolan saya di Gramedia, ia lantas menjawab kalau ia sudah pernah membaca buku itu sekilas, hanya membaca ekstensif dan masih ingat inti pesan bukunya sampai sekarang. Sungguh, terang saya seperti merasa down karena masakan waktu itu saya membaca dengan intensif tapi justru seperti tak ada lagi bayangan saya akannya. Tapi, tak apa, tetap bersyukurlah. Memang patut saya bersyukur, bahwa dalam buku ini pun John Piper mengungkapkan bahwa ia pun adalah bukan seorang pembaca yang langsung memahami dalam sekali baca dalam sekilas waktu. Ia pun butuh waktu yang lama bahkan mesti berulang-ulang membaca demi menangkap apa yang dimaksudkan oleh bacaan tersebut. Dalam hati saya gembira, mendapat penghiburan, dan berarti saya pun ada teman yang senasib. John Piper yang bagi saya seorang yang luar biasa saja demikian, tapi kau bisa lihat sudah berapa banyak buku-buku berkualitas yang ia hasilkan?

Catatan Mengenai Isi Buku

Judul buku itu “Think: The life of the Mind and the Love of Godatau Pikirkan: Eksistensi Akal Budi dan Kasih akan Allah. Penulisnya John Piper. Buku ini adalah terbitan Pionir Jaya, Bandung.

Bagian pertama yakni penjelasan tujuan buku ini. Dalam Perjalanan Ziarah, John Piper memaparkan asal mula ia menulis buku ini ketika ia memutuskan meninggalkan dunia akademis setelah bergelut 6 tahun mengajar di universitas untuk memulai pelayanan pastoralnya. Bukan karena ia tak suka atau tak nyaman dengan dunia pendidikan. Ia menekankan juga ia bukanlah tipe orang yang suka menoleh ke belakang untuk menyalahkan sistem pendidikan. Bahkan menurutnya ia justru sangat terberkati olehnya. Hanya saja, ketika ia sedang menulis sebuah buku mengenai Roma pasal 9, tentang justifikasi Allah, ia pun mulai disulut hasratnya untuk berkhotbah. Melalui Roma 9, proses riset, dan penulisan buku tersebutlah, ia memutuskan meninggalkan dunia akademis dan mulai mengerjakan pelayanan pastoralnya.

Untuk memulai catatan kecil saya ini, saya membukanya dengan kalimat John Piper, “Berpikir itu penting”. Berpikir merupakan syarat mutlak dalam perjalanan mencapai hasrat akan Allah. Berpikir sama halnya dengan tidak berpikir, dapat menjadi sumber bagi kesombongan. Berpikir tanpa doa, tanpa Roh Kudus, tanpa ketaatan, tanpa kasih, akan membawa kepada kesombongan dan kebinasaan. Tapi bukan berarti semua itu berjalan baik dan mulus.

Adapun menurut pengalaman penulis, antara pikiran, perasaan, dan perbuatan selalu berebutan tempat lebih. Hal ini yang menjadi konflik pribadinya. Tentunya ini sebagian besar bersumber dari selain keunikan pribadi, juga beberapa faktor latar belakangnya. Namun yang lebih intens itu terutama dari Alkitab sendiri. Lihat saja, ‘Pengetahuan..membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun’ (1 Kor 8:1). Di sisi lain, ‘Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu’ (Yoh 8:32). Apalagi mengingat, banyak sekali peringatan terkait ‘pengetahuan’ (I Tim 6:20), ‘hikmat dunia ini’ (1 Kor 3:19), ‘filsafat’ (kol 2:8), ‘pikiran yang terkutuk’ (Rom 1:28), ‘orang bijak dan orang pandai’ yang tidak dapat melihat (Luk 10:21), dan ‘mereka yang pengertiannya gelap’ (ef 4:18).

Terlepas dari semua peringatan tersebut, pesan penting Alkitab adalah kebenaran itu krusial. Berpikir – dengan penuh kesungguhan sekaligus kerendahan hati, menggunakann pikiran yang dianugerahkan Allah dan mengimplementasikannya dengan baik – penting dalam upaya mengenal kebenaran.

Ada nasihat Paulus kepada Timotius untuk berpikir karena, “Tuhan akan memberimu pengertian dalam segala sesuatu’. Tidak ada pertentangan di antara berpikir dan karunia pengetahuan. Keduanya berjalan seiring. Berpikir itu esensial dalam proses mencapai pengertian. Sekalipun demikian pengertian adalah karunia Allah. Maka itulah kita perlu mencarinya seperti mencari perak. Kita diingatkan untuk menggunakan pikiran kita dengan cerdik dan sungguh-sungguh. Alasannya, karena Tuhanlah yang memberikan hikmat. Mengejar kepandaian itu penting demi keberhasilan penemuan kita. Namun keberhasilan penemuan itu merupakan anugerah Allah.

“Kadang kita mendengar orang berkata bahwa ‘10 menit berdoa akan memberi kita sebuah pengenalan akan Allah yang lebih sejati, lebih mendalam, lebih efektif, dibandingkan 10 jam membaca buku’. Respons yang tepat terhadap pernyataan di atas adalah ‘Apa? Apa yang dapat melebihi 10 jam membaca buku, yang disertai dengan doa?’” Demikian nasihat Benjamin Warfield kepada mahasiswanya dalam sebuah khotbahnya pada tahun 1911. Jadi yang benar adalah, membaca dan berdoa. Bukan membaca atau berdoa.

Buku “Think” ini juga merupakan sebuah penghormatan John Piper kepada seorang sahabat yang tak dikenal secara pribadi. Namun ia sudah meneladankan fondasi kokoh dari buku ini bahwa pikiran dan perasaan saling berelasi satu sama lain. Sahabatnya itu, demikian menurut Piper, ia melakukan ini melalui visinya yang terkait natur Trinitas Allah.

Adalah Jonathan Edward, sahabat yang dimaksud John Piper. Seorang pendeta dan teolog New England abad 18. Dialah yang mengemukakan konsep membaca dan berdoa, yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini.

Tujuan buku ini merekomendasikan pentingnya berpikir tanpa mengorbankan perasaan ataupun sukacita ataupun kasih. Keduanya sama-sama esensial dalam keberadaan manusia, juga esensial untuk memuliakan Allah. Bahwa pikiran dan perasaan saling membangun adalah fakta.

Pada bab “Membaca sebagai manifestasi berpikir”, John Piper mengajak kita berfokus kepada Mat 7:7-12, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” sebagai bahan yang dipakai untuk kita belajar mengenai membaca sebagai manifestasi berpikir.

Piper menceritakan perkenalan penuh kesan dengan dunia membaca kritis yakni berawal dari karya Mortimer Adler, “How to Read a Book”. Sebuah buku klasik yang masih terus ditebitkan sampai sekarang di Amazon sejak pertama kali terbit tahun 1939. Argumentasi utama buku ini adalah membaca itu aktif. Membaca itu identik dengan berpikir. Piper sangat merekomendasikan buku ini didapatkan dan dibaca siapa saja, berapapun usianya.

Kita sudah terlatih sejak kecil ketika membaca sebenarnya pikiran kita menangkap sekumpulan lambang yang tercetak pada selembar kertas atau media tertentu. Kita menyebutnya huruf. Setelah bertahun-tahun mengalami proses studi dan asosiasi, kita belajar (dengan pikiran kita) bahwa sekumpulan lambang tersebut mempresentasikan bunyi, lalu jika dirangkai menurut rumusan tertent, huruf-huruf itu membentuk kata yang merujuk kepada benda atau manusia dan aksi dan deskripsi dan pemikiran dan perasaan. Kita juga belajar (menggunanakan pikiran) bahwa ribuan kata tersebut berasosiasi dengan sejumlah realitas. Kita juga belajar bahwa karena orang lain memahami apa yang diasosiasikan oleh kata-kata tersebut, maka kita dapat berkomunikasi.

Dimulai dari contoh yang paling sederhana, “Bertemu kamu di TB Gramedia jam 4”. Bertemu menunjukan kepada tempat yang sama atau saling menemukan satu sama lain. Kamu adalah anda yang dikirimi pesan, bukan mereka atau yang lain. Di, sebuah tempat. TB Gramedia, kita mengenalnya sebagai suatu tempat yang memajang dan menjual buku-buku. Jam, titik waktu tertentu yang telah ditetapkan, bukan satu jam lebih cepat atau lambat. Sementara 4, bukan ritme, bukan bertahun-tahun kemudian, bukan nomor rumah, bukan pula pagi hari karena kita mau bertemu di sebuah tempat umum, melainkan pada sore hari.

Otak kita serius bekerja ketika kita membaca dan menafsirkan makna pesan tersebut. Namun karena kita sudah sedemikian piawai melakukannya, maka sepertinya tak lagi diperlukan usaha ekstra. Pikiran kita telah terlatih dengan sempurna. Sehingga ketika membaca bacaan Mat 7:7-12, “Mintalah, maka…; carilah, maka…; ketoklah, maka…”, kita tak harus berkata dulu pada diri sendiri, ‘saya sudah meneliti tentang kata ‘mintalah’ ini sebagai kata pertama dalam kalimat, dan menunjukan arti imperatif, kata minta tidak ditaruh sebagai kata kedua, lalu disusul… sehingga, dan seterusnya. Tidak. Pikiran kita sudah otomatis menangkap pengertiannya apa atau ke arah mana. Itulah yang disebut sebagai hadiah luar biasa dari tata bahasa.

Namun kita tak hanya sampai di sini. Agar suatu keahlian menjadi natur sekunder kita dan membawa kita menuju sukacita yang lebih melimpah, maka dibutuhkan pelatihan yang pasti menyakitkan. Terus belajar dan berlatih melakukannya bukanlah hal yang menyenangkan. Sukacitanya kita rasakan setelah kerja keras. Tentu ini adalah dasar bagi segala jenis pertumbuhan. Pertumbuhan identik dengan pembentukan. Apa atau siapa yang kalau mau dibentuk jadi sesuatu itu memang ‘enak’ dan ‘baik-baik’ saja? Tidak, bukan? Ucapan syukur yang tertunda adalah bagian dari proses pendewasaan. Mungkin maksudnya adalah kita menikmati saja segala proses yang ada. Karena ketika proses itu berakhir, jelas ada luapan sukacita terkait hal yang sudah kita alami dan lewati itu. Demikian saya kutipkan kalimat penulis yang sangat saya suka di sini, “Jika kita tidak mengambil komitmen untuk berpikir lebih serius, kita takkan pernah beranjak dari tingkatan pengertian seorang remaja sampai akhir hayat kita.” Maksudnya kita diajak untuk berpikir serius adalah dengan mengajukan pertanyaan dan mengerahkan pikiran kita untuk menemukan jawabannya. Mengajukan pertanyaan merupakan kunci menuju pemahaman. Pantas atau tidak pantasnya kebiasaan mengajukan pertanyaan dalam membaca bisa ya bisa tidak, bergantung kepada sikap hati saat mengajukan pertanyaan tersebut. Ilustrasi pengajuan pertanyaan Zakharia dan Maria saat menerima pesan menjelang kelahiran Yesus bisa menjadi contoh yang baik.

Melalui beragam pertanyaanlah kita melakukan pendalaman terhadap sebuah teks. Berikut disajikan beberapa contoh pertanyaan yang bisa diajukan:

  • Mengapa penulis menggunakan kata itu?
  • Mengapa penulis meletakannya di sini, bukan di sana?
  • Bagaimana penulis menggunakan kata itu dalam konteks lain?
  • Bagaimana kata tersebut berbeda dibandingkan kata lain yang bermakna serupa?
  • Bagaimana kombinasi kumpulan kata itu mempengaruhi makna kata itu?
  • Mengapa pernyataan itu mengikuti kalimat ini?
  • Mengapa penulis merangkai kalimat-kalimat tersebut dengan kata sebab atau sebab itu atau meskipun atau supaya? Apakah ini logis?
  • Bagaimana konsistensi pernyataan itu dengan pernyatan penulis kitab lain dalam Alkitab?
  • Bagaimana korelasi pernyatan itu dengan pengalaman saya?

Apakah itu efektif? Mungkin saja ada orang yang bertanya, bukankah sudah jelas semua pernyataan. Apakah kita secara sadar harus berpikir saat sedang membaca Alkitab? Jawabannya adalah tidak. Anda tidak wajib melakukannya. Boleh jadi ada orang yang langsung paham tanpa terlebih dahulu mengajukan pertanyaan. Ini adalah tipe pembaca yang merasa paham dalam sekali pandang, Namun ada juga tipe orang seperti tipe penulis, John Piper, yang butuh waktu berjam-jam untuk merenung (alias berpikr) sebelum dapat memahaminya. (Jadi Anda tidak usah merasa berkecil hati kalau Anda tak langsung paham sewaktu Anda membaca suatu bacaan dan harus berulang-ulang membacanya. Orang sekelas John Piper saja butuh waktu berjam-jam untuk memahami suatu bacaan kok 😉 -anice). Namun demikian bukan berarti kita boleh terlena dengan kekurangan tersebut. Perlu kita dengan sungguh-sungguh memohon kepada Tuhan berkenan menyingkapkan mata kita kepada keajaiban taurat-Nya dan pengertian dan hikmat-Nya. Hendaklah kita berusaha mengerti dengan ‘mencarinya seperti mencari perak’ Ams 2:4.

Berikut mengenai tulisan sebagai salah satu bentuk komunikasi. Dalam setiap tulisan, tujuan sang penulis adalah untuk dipahami. Sehingga ada semacam aturan utama dalam membaca begini, ‘Lakukan kepada para penulis apa yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda’. Implikasi dari aturan tersebut bagi para pembaca adalah bekerja keras dengan pikiran Anda untuk mamahami apa yang hendak disampaikan oleh seorang penulis melalui serangkaian kata maupun kalimat (Saya merangkum begini pun sebenarnya adalah tanggungjawab saya bagaimana memahami apa yang benar-benar ingin disampaikan oleh John Piper melalui buku “Think” ini sehingga jangan saya salah memahaminya, juga sekaligus tanggung jawab saya bagaimana membuat para pembaca memahami apa saya tulis). Sebab menurut Piper juga, bila pernyataan-pernyataan seorang penulis ditafsirkan berbeda dari maksud penulisnya — ini mungkin di luar sastra yang multitafsir kali ya — maka hanya ada 2 kemungkinan, cara sang penulis yang kurang memadai, atau sebaliknya cara mereka mambacalah yang kurang memadai, atau kedua-duanya.

Selanjutnya tentang pembahasan Mat 7:7-12, yakni misteri kata “jadi”. Kata “jadi” adalah kata pembuka ayat 12. Hal ini mengungkapkan sebuah pesan yang tegas dan jelas mengenai relasi ajaran Yesus tentang hal berdoa. Cara lain menerjemahkan kata itu adalah “sebab itu”. “Allah akan menjawab doa Anda dan memberi Anda yang terbaik; Sebab itu, perlakukan orang lain dengan cara seperti Anda ingin diperlakukan.” Intinya, ini tentang peran kata “jadi” yang ternyata dalam sekali maknanya dalam bacaan tersebut.

Berikut mengenai “Logika demi kasih”. Allah meminta kita menggunakan logika dalam pelayanan bagi-Nya. Logika atau rasio dibutuhkan untuk kita dapat mengerti bacaan di atas. Agar kita dapat mengerti frasa ‘sebab itu’. Ini berhubungan dengan premis dan kesimpulan bagaimana kita mempelajari dan memahami suatu kalimat dalam Alkitab. Berhubungan dengan pengambilan kesimpulan.

Namun, bagaimana jika kita bukan orang yang terlahir sebagai orang jenius? Tentu bahkan orang yang terlahir sebagai orang jenius pun sebenarnya orang yang langka. Orang tersebut harus setiap hari berlutut menaikan ucapan syukur kepada Allah atas berkat-Nya itu. Namun kita, baiklah kita perlu berpikir agar dapat memperoleh apa yang dikehendaki Allah bagi kita. Kita diingatkan bahwa Tuhan memberi kita pengertian dalam segala sesuatu (2 Tim 2:7), juga dinasihati untuk mencari pengertian seperti perak dan mengejarnya seperti harta terpendam, karena Tuhanlah yang memberikan hikmat (Ams 2:4-6). Pernyataan tersebut menunjukan bahwa Allah memberikan karunia hikmat-Nya melalui pikiran kita. Itulah kenapa penting bahwa kita harus berpikir lebih, bukan kurang.

Kutipan “Melibatkan pikiran saat membaca merupakan jalan masuk menuju kedalaman misteri Allah”. Bacaan 2 Tim 2:7, kita mesti melihatnya bahwa di sana ada peran mutlak rasio dan pikiran, juga peran supranatural Allah, dan karya iluminasi Allah. Meneladani Paulus, tidak memisahkan antara yang kiri dan kanan, melainkan mengapresiasi pikiran manusia maupun iluminasi Allah. Konsep berpikir dan berdoa mestilah yang kita anut, bukan berpikir atau berdoa. Bukan engkau berupaya keras berpikir tanpa sungguh-sungguh berdoa, atau hanya berdoa menunggu turunnya karunia Allah kepadamu tanpa kau upayakan sesuatu dengan pikiranmu. Sekali lagi, berpikir dan berdoa, bukan berpikir atau berdoa. Tak ada iman tanpa keterlibatan pikiran.

Bagian berikut mengenai “Menghadapi tantangan Relativisme”. Bagian ini terdiri dari 2 bab, Yesus Bertemu dengan Kaum Relativis dan Imoralitas Relativisme. Kaum relativis di zaman Yesus adalah ketika mereka yang mendatangi Yesus dan bertanya dengan kuasa apa Yesus mengajar. Sebagai Ia yang berkuasa, yang mengetahui niat hati mereka, bukannya menjawab, Yesus malah memberikan pertanyaan balik dari mana asal kuasa baptisan Yohanes. Dan kau tahu, respons mereka adalah mereka mau ambil aman. Tak mau malu, juga tak mau celaka. Karunia berpikir mereka justru dicondongkan dan diputarbalikan. Mereka cermat berpikir. Jika menjawab ini, maka begini, jika menjawab itu, maka begitu. Kesimpulannya, ‘kami tidak tahu.’ Pikir mereka itulah yang disebut sebagai kebebasan. Sikap seperti ini adalah contoh yang bahaya. (Saya jadi berpikir apakah jangan-jangan saya pun kadang bersikap seperti ini)

Selanjutnya dipaparkan 7 hal berbahaya dan immoral mengenai relativisme, antara lain

  1. Relativisme adalah pengkhianatan. Ia menolak Allah sebagai standar tertinggi dan final bagi segala jenis klaim kebenaran. Ia menolak standar valid yang berlaku secara universal bagi kebenaran dan kepalsuan. Ia lebih parah daripada pemberontakan terselubung sebab ia menyesatkan.
  2. Relativisme menumbuhkan kepalsuan. Ketika mereka sibuk mengoarkan tentang relativitas, justru pada saat yang sama mereka mempercayai dan mempraktikan yang tidak relatif.
  3. Relativisme seringkali menyamarkan penyimpangan doktrin. Ini kaitannya dengan bahasa. Penggunaan bahasa tak lagi menjadi sarana untuk menyampaikan dan menyuarakan kebenaran, melainkan telah dimanipulasi untuk menyamarkan penyimpangan kebenaran.
  4. Relativisme membungkus keserakahan dengan sanjungan. Juga berkaitan dengan bahasa. Demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan sendiri, kita memberi sanjungan untuk menyenangkan pendengar kita. Secara tak langsung kita akan menuruti apa yang mereka dengar.
  5. Relativisme membungkus kesombongan dengan topeng kerendahan hati. Ia terlihat rendah hati tapi sebenarnya adalah jubah kesombongan. Katanya, “Saya tak cukup cerdas untuk mengenali tuan saya-kalau saya memang memiliki seorang tuan”. Bisa kau analisis kata-katanya?
  6. Relativisme memperbudak manusia. Sebab ia menjauhkan manusia dari kebenaran, maka mereka takkan dimerdekakan, takkan dikuduskan, dan pada akhirnya jelas manusia menjadi binasa.
  7. Relativisme pada akhirnya membawa kepada totalitarianisme. Percayalah pada apa yang tampaknya benar bagi diri anda sendiri. Turutilah perasaan anda. Lakukanlah apa yang anda sukai. Apa saja yang menyenangkan diri anda. Itulah totalitarianisme.

Kesimpulannya, Injil memberi kita kemerdekaan untuk memahami dan menyatakan kebenaran.

Menghakhiri 2 bab mengenai relativisme ini, ada kata-kata G K Chesterton yang sangat menarik dan berkesan yang dikutip John Piper, “Sang penyair memohon untuk dapat membawa serta kepalanya saat memasuki surga. Sang rasionalis justru berupaya memasukan surga ke dalam kepalanya. Dan kepalanyalah yang kemudian terbelah.”

Bagian berikut menghadapi tantangan anti antiintelektualisme. Pada bab pertama bagian ini membahas tentang 4 respons John Piper atas 6 pernyataan George Ripley, seorang pastor Unitarian yang merasa kecewa dengan Unitarian kemudian berpindah memeluk sebuah gerakan baru bernama Transendentalisme. Secara ringkas, tanggapan John Piper untuk pernyataan Riplay “Logika positif bukan alat yang berkuasa dari Allah untuk mematahkan belenggu dosa,” adalah memang benar bila ‘logika’ yang dimaksud Riplay adalah ‘logika saja’, tapi pada kenyataannya, di dalam kemahakuasaan Allah, ada juga karya supranatural. Ada kuasa dari Roh kudus yang mengalir menyertainya seperti yang dilustrsikan yakni arus listrik yang dialirkan melalui seutas kabel.

Berikut, mengenai, “Logika mampu menemukan kesalahan, namun logika tidak mampu membuat kita melihat kemuliaan Kristus,” (2 Kor 4:4) dan “Logika mungkin mampu membongkar kesesatan; namun logika tidak mampu membuat hati berkomitmen untuk mengasihi kekudusan” adalah benar, kata John Piper seperti kepada pernyataan sebelumnya, jika ia merujuk kepada ‘logika saja’. Namun jika menelaah 2 Kor 4:4-6, ditunjukan bahwa kita bisa melihat kemuliaan Allah karena dua hal dan bukan satu hal. Itu adalah efek dari karya supranatural Allah yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, sekaligus efek dari pemberitaan Paulus sebagai hamba Yesus Kristus. Berikut terhadap pernyataan yang kedua, adalah bahwa pernyataan ini menjauhkan manusia dari kebenaran yang sangat krusial. Yesus berkata, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, Firman-Mu adalah kebenaran (Yoh 17:17). Juga berulangkali PB menyatakan bahwa ‘pengetahuan’ akan kebenaran akan membawa kita kepada hidup kudus. Ketika kita mengetahui dan masih berenang-renang dalam kolam dosa, itu berarti diperlukan lebih dari sekadar kita mengetahui.

Tentang pernyataan yang ke-4, “Kristus tidak melihat ‘belajar ekstensif’ sebagai keharusan tapi Ia mempercayakan pemberitaan injil-Nya kepada orang-orang yang ‘biasa dan tidak terpelajar’. Hal ini benar, bahwa tak ada korelasi antara belajar ekstensif dengan cara menggunakan pikiran yang baik. Menurut Piper, banyak profesor yang berpikiran kacau, pun banyak orang berpendidikan rendah memiliki kejernihan dan kedalaman berpikir. Tapi yang sebenarnya direkomendasikan dalam buku ini adalah keterlibatan pikiran yang penuh dedikasi dalam upaya lebih mengenal Allah.

Demikian pada dua bab berikutnyalah, 2 pernyataan Ripley yang terakhir dibahas. Pada bab 10 berjudul “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai” dan bab 11 “Dalam hikmat Allah, dunia tidak mengenal Allah oleh hikmat-Nya” adalah tanggapan atas dua pernyataan Ripley tersebut, “Yesus tidak menggunakan metode belajar ekstensif, atau ketika memilih 12 murid, Ia justru memilihnya dari kalangan ‘biasa dan tidak terpelajar’, juga tidak mendirikan sekolah bagi para nabi atau para rasul”.

Dijelaskan beda antara hikmat Allah dan hikmat manusia. Perbedaanya bukan sekadar hitam dan putih. Maka itu diperlukan agar kita menemukan cara belajar yang rendah hati. Paulus mengkritik orang-orang di Korintus, yang menyangka diri mereka tahu, tapi sebenarnya mereka tidak tahu apa yang seharusnya mereka tahu.

Saya suka bab 12. Malam ketika saya membacanya yaitu saat mau tidur. Saya mengantuk sebenarnya. Dan rasanya seperti setengah sadar saya membaca. Namun entah kenapa bagian pertama bab ini rasanya seperti langsung ‘nancep’. Pengetahuan kalau hanya untuk pengetahuan semata maka itu tidak ada gunanya dan itu bukanlah pengetahuan yang benar atau istilahnya pengetahuan sejati. Demikian saya kutipkan dari hal 186, “Pengetahun apapun yang tidak didedikasikan untuk kasih bukanlah pengetahuan sejati”. (Pikiran saya langsung ke salah satu visi sekolah-sekolah di bawah payung Pendidikan Pelita Harapan, true knowledge atau pengetahun sejati) Pengetahuan yang benar bukan untuk melahirkan kesombongan, melainkan untuk mengasihi Allah sebagai Sang Sumber yang memberikan anugerah pengetahuan dan berpikir itu secara cuma-cuma, juga mengasihi dan membangun sesama manusia. Namun bukan berarti karena kita takut dicap atau takut jatuh ke dalam dosa kesombongan lantas kita menolak menjadi tahu atau jadi malas berpikir atau malas belajar untuk mencari pengetahuan. John Piper sendiri bilang, “Menolak pengetahuan bukanlah jalan menuju kasih”. Maksudnya adalah jika kita dibekali akal budi dan diberi karunia berpikir, dan juga sudah tersedia jalan untuk kita boleh ‘tahu seperti kita seharusnya tahu’ dan jika tujuan pengetahuan semacam itu adalah mengasihi Allah dan manusia, maka ketika menolak berpikir dan atau menolak pengetahuan, itu sama artinya dengan kita memadamkan kasih.

Namun apa yang terjadi bila ada orang yang sudah sungguh-sungguh giat untuk Allah namun ternyata ia tetap tidak diselamatkan? Ini memang sungguh mengejutkan dan sungguh menyedihkan. Pada bagian ini dijelaskan orang-orang yang dimaksud di sini adalah mereka memang sudah sungguh giat untuk Allah tapi mereka melakukannya dengan tanpa pengertian yang benar. Ini memang mematikan, sebab ia hanyalah seperti sebuah kesia-siaan. Ini bermula dari ketika mereka berpikir bahwa semua itu adalah karunia iman yang cuma-cuma, dengan demikian mereka pun berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri. Nah, di saat itulah mereka menunjukan mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

Namun kemudian ada pertentangan, “Tunggu apa yang salah dengan kami kalau kami mendirikan kebenaran justru sebagai wajud ketaatan kami kepada kebenaran Allah?” Tanggapan untuk pernyataan tersebut adalah, “Justru perjuangan Anda menunjukan bahwa diri Anda benar dan Anda berusaha mencapainya supaya Allah menerima Anda, menunjukan Anda sedang melawan Allah. Mengapa? Sebab kebenaran Allah merupakan karunia bebas dan berdaulat, diberikan cuma-cuma bukan karena sebuah pencapaian karena kehebatan manusia – atau bahkan wujud kemenangan dari usaha pengudusan” (saya teringat lagu Amazing Grace, John Newton—sungguh ini adalah pintaku, Tuhan, anugerahkanlah kasih-Mu kepada kami semua umat ciptaan-Mu, amin).

Selanjutnya bab terakhir dengan judul “Segala bentuk studi adalah demi kasih akan Allah dan manusia”, menjelaskan bahwa semua itu perlu ada demi menolong kita lebih mengenal Allah, lebih mengasihi Dia, dan juga memampukan kita melakukan lebih banyak kebaikan kepada sesama manusia – khususnya kebaikan kekal untuk menikmati Allah melalui Kristus.

Kemuliaan Allah secara umum dinyatakan melalui alam ciptaan-Nya. Dan pernyataan melalui alam ini mencakup pernyataan diri Yesus, landasannya yakni “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Demikian Paulus beriman dengan alasan serupa, “Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Dengan demikian jelas bahwa ini berarti segala yang kita pikirkan –segala studi- dengan segala bentuknya, ada demi menemukan serta menyatakan kemuliaan Allah. dengan kata lain, peran segala bentuk studi Kristen –bukan hanya studi biblikal – adalah mempelajari realitas sebagai manifestasi kemuliaan Allah, memberitakan dan menuliskannya dengan akurat, mengecap keindahan Allah di dalamnya, dan menjadikannya pelayan bagi kebaikan umat manusia. (mungkin ini juga alasan kenapa dalam setiap PD, para guru dalam lingkup ypph selalu diberi penegasan bahwa bidang studi atau mata pelajaran di sekolah bukan menjadi tujuan utama melainkan hanyalah salah satu sarana untuk memperkenalkan kemuliaan Tuhan. Melalui mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah, siswa belajar mengagumi dan menikmati kemuliaan Allah, serta belajar bertanggungjawab terhadap mandat agung dan mandat budaya). Jika seluruh alam semesta dan segenap isinya ada berkat rancangan Allah yang personal dan kekal, agar kemuliaan-Nya yang tidak ternilai itu dikenal dan dikasihi, maka segala aktivitas menganalisis segala subjek tanpa merujuk kepada kemuliaan Allah itu, tak layak disebut studi, tetapi pemberontakan (Maka itu bapak ibu pengajar lentera, sdh, sph, dan uphc, dan bahkan uph, jangan mudah ngeluh -maaf- kalau di setiap topik mapel Anda diminta untuk selalu disertakan referensi atau perspektif Alkitabiahnya..;) Refleksi: mesti banyak berdoa dan berpikir keras juga supaya jangan karena memang mesti ada akhirnya saya jadi comot2 sana-sini. Ini kan sama juga dengan pemberontakan//sungguh sujud aku memohon ampunan-Mu).

Semua studi itu saling terkait satu sama lain. Untuk dapat melihat realitas dalam kebenaran yang penuh, kita harus melihat setiap hal tersebut dalam hubungannya dengan Allah, yang telah menciptakannya, dan memeliharanya, dan menetapkan karakteristiknya, relasinya, dan desainnya.

Sekalipun demikian, untuk dapat melihat itu semua, seseorang memang harus butuh lahir baru. Ia tak hanya sekadar memahami efek karya Allah, tapi juga harus mencicipi keindahan natur Allah baik dalam Injil, maupun di dalam segenap karya ciptaan-Nya.

Bagian berikutnya yaitu ‘memotivasi para pemikir dan non pemikir’, berupa imbauan John Piper kepada 2 kelompok orang, namun ia tidak lantas merendahkan yang satu dan meninggikan yang lain. Secara ringaks, mereka yang tidak suka berpikir tidak serta merta dipaksa harus berubah jadi orang lain, melainkan bersyukur untuk keberadaan para pemikir, menghormati mereka, berdoa bagi mereka, dan berwaspada terhadap pola pikir mereka sendiri, dan tetap setia membaca Alkitab dengan sukacita. Sebaliknya kepada mereka sebagai pemikir, imbauan tersebut adalah berpikir untuk kemuliaan Kristus, tetap menjadi seperti anak-anak dalam kejahatan, menikmati Firman Allah seperti emas dan madu, dan berpikirlah demi Kasih.

Buku ini ditutup dengan 2 lampiran. Lampiran pertama memaparkan tentang latar belakang atau fondasi biblikal bagi Betlehem College dan Seminary, sebuah sekolah yang menurut maksud John Piper di sini adalah sebuah program terakreditasi bagi gelar Bachelor of Arts dan Master of Divinity. Ada pergumulan dan kegentaran mengenai bahaya kesombongan dan bahaya kemiskinan yang mengintai ketika perencanaan program ini dimulai. Intinya seperti ini, bahwa sementara di tempat studi kita membaca buku pelajaran dan mendengarkan guru mengajar dan menyusun makalah dan mengikuti diskusi, kita menyadari betapa masyarakat kita ini sedang sekarat dan tengah kepayahan untuk melepaskan diri dari ketergantungan obat dan pengangguran, dan kemiskinan dan kriminalitas. Bahwa sementara kita sibuk berdebat tentang ilmu dan berbagai teori, di seberang sana, ada jutaan manusia yang hidup tanpa air bersih, tanpa makanan yang layak, tanpa perawatan kesehatan yang memadai, yang berbaring di bawah atap langit terbuka dengan ancaman tembakan atau pengusiran, yang hanya mampu memimpikan pendidikan semacam ini (Ah, saya pun jadi berpikir betapa saya sendiri sibuk berpikir memahami buku ini dan menuliskannya kembali sementara ada saudara-saudara saya di kampung yang menangis menanti tetesan air mata langit demi tetap eksisnya mata-mata air di gunung atau tetumbuhan untuk makanan ternak-ternak dan demi keberlangsungan hidup mereka, sehingga menganggap berpikir semacam saya apalagi menuliskannya hanyalah sesuatu yang teramat jauh dan muluk yang bahkan untuk dibayangkan saja tidak). Namun kemudian, dengan pergumulan yang intens, banyak pertanyaan diajukan dan direnungkan sebagai pergumulan, para pendiri pun memberanikan diri menanggung bahaya dan memohon kepada Tuhan agar program ini bukan menjadi bagian dari masalah tapi justru menjadi bagian dari solusi (Setelah membaca fondasi didirikannya program ini, rasa-rasanya saya ingin juga bergabung ke sana, menjadi murid Betlehem College dan Seminary 🙂). Betlehem College dan Seminary meyakini Allah memiliki 2 kitab, Alkitab dan alam ciptaan-Nya. Kedua kitab ini tidak sama. Namun keduanya sama-sama ada untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Pola pikir yang mau dibangun pada para siswanya dibuat dalam poin-poin sebagai berikut: 1) observasi, 2) pemahaman, 3) evaluasi 4) perasaan 5) aplikasi 6) ekspresi.

Poin-poin tersebut ingin saya tuliskan satu per satu tapi sepertinya sudah terlalu banyak yang tuliskan maka baiklah saya ambil saja 2 poin terkahir yakni aplikasi dan ekspresi. Pertama yakni tentang mempergunakan waktu yang anda, maka aplikasinya adalah tidur lebih awal dan bangun lebih awal sehingga ada waktu untuk bersaat teduh tanpa terlalu lelah (kalau ini saya merasa langsung ditembak lurus-lurus). Demikian juga ekpresi, yakni tentang penggunaan bahasa baik dalam ucapan dan tulisan dan tindakan, diusahakan sebaik-baiknya sehingga ketepatannya, kejelasannya, kebenarannya, maknanya, dan kebajikannya dapat dipahami dan dinikmati oleh sesama.

Penutup

Setelah membaca buku ini, kesimpulan saya adalah setiap orang yang mengaku mengasihi Allah, punya tanggung jawab untuk belajar dan untuk mencari pengertian. Istilahnya ia perlu menjadi seorang yang pandai. Belajar untuk menjadi pandai di sini tidak harus dan tidak mesti yang mengejar gelar karena banyak orang yang bergelar tinggi tapi tidak juga punya yang namanya pengertian dan kepandaian yang benar-benar dipakai untuk mengasihi dan mengikuti kehendak Allah, tapi justru ia turut dan larut dalam hikmat dunia yang di mata Allah adalah sebuah kebodohan yang sia-sia. Dan kalau misalnya ia sudah punya kesempatan boleh belajar dan mendapat pengertian, ya, tentu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menampakan kemuliaan Allah sebagai pencipta-Nya. Ia menjadi menjadi pintar bukan untuk menghancurkan dunia, tetapi punya tanggungjawab untuk menjalankan mandat budaya, turut ambil bagian dalam upaya pemulihan kondisi dunia yang kian hari kian payah. Demikianlah hikmat di mata Tuhan yang di mata dunia adalah suatu kebodohan.

Baiklah, untuk menutup, ada imbauan begini, ‘Tetaplah menjadi anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu’ (1 Kor 14:20b). Saya masih ingat sewaktu kecil, bapak saya selalu bilang, ‘Lu pikir dia bodok ko?’ ke saya– tatkala beliau menanggapi pertanyaan saya tentang ‘kenapa para pejabat yang sudah kaya raya tapi tetap saja masih suka mencuri uang rakyat dan suka tipu sana tipu sini?’. Ya, itulah pemahaman dunia tentang yang bodoh dan yang pintar. Orang pintar yang dunia bilang, ‘Saya sudah lihat segepok uang. Memang ini uang rakyat, tapi kenapa tak saya belokkan untuk saya pakai sendiri saja. Kalau saya kembalikan dan kerjakan lurus-lurus saja, itu artinya saya memang bodoh to. Masakan saya sudah dikasih otak, tapi kok tak dipakai sih?’ Demikian. Salam kasih.

Kupang, 29 Februari 2016

NB: “Think: The Life of the Mind and the Love of God”, what an amazing book for your soul. Highly recommended to read! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s