Catatan Buku

Sinopsis “Bumi yang Subur” dari Pearl S Buck

Hari ini ## Semalam karena jaringan internet bermasalah, saya sekalian buka file lama untuk benah-benah. Tiba-tiba ketemulah file ini, yang membuat saya senang tak terkira.*  😀

Judul    : “The Good Earth (Bumi yang Subur)
Penulis  : Pearl S Buck
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun    : 2003
ISBN     : 9794034487               
THE GOOD EARTH
Sumber: GPU

Wang Lung, mulanya seorang petani  yang belum menikah. Ia begitu miskin. Bahkan untuk minum teh saja, ayahnya berkata, “Kau minum teh seperti membuang perak.” Makan nasi saja pun dirasanya terlalu mewah. Nasi hanya untuk pesta. Maka ia dan bapaknya biasanya menikmati bubur untuk sarapan.

Cerita awal dikisahkan pada hari pertama pernikahan Wang Lung dengan seorang budak perempuan dari sebuah keluarga tuan tanah, keluarga Hwang. Wang Lung yang biasanya jarang mandi, hari itu untuk pertama kalinya sejak setahun lalu ia mandi pagi-pagi hari benar. Bersama dengan bapaknya yang sudah batuk-batuk.

Di hari ia pergi menjemput istrinya di rumah besar Hwang, ia begitu terpukau dengan halaman dan gedung rumah itu. Rumah yang serupa istana. Belum lagi ketika ia melihat para pelayan yang berlarian melayani sang nyonya rumah yang hanya duduk dan menghisap candu.

Pertama kali berjumpa dengan  istrinya, ia merasa perempuan itu tidak cantik memang. Digambarkannya ia serupa gajah yang sangat tidak ada tampak menariknya. Tapi apa daya. Di masa-masa demikian, seseorang petani sepertinya tidak dapat meminang istri. Sebab masa-masa itu, betapa mahalnya ongkos nikah, dan apalagi bila perempuannya menuntut cincin emas dan baju dari sutera sebelum dikawini, maka rasanya, “Hanya tinggal budak saja buat orang miskin,” demikian bapaknya menjawab ketika Wang Lung mengutarakan keinginannya untuk menikah.

Perkawinan dengan sang budak yang digambarkan memiliki kaki gajah dan sangat tidak menarik itu, memberinya 3 anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.

O-lan, istri sang petani itu begitu kuat. Sejak ia kawin dengan Wang Lung, tak pernah sekalipun ia mengeluh kepada petani itu. O-lan adalah sosok perempuan yang kuat, rajin, pekerja keras, dan tidak banyak berbicara. Bisa dikatakan jarang berbicara. Hal ini membuat Wang Lung sendiri heran dengan istrinya.

Apalagi ketika O-lan mengandung anak pertamanya, sekalipun hamil tua, ia tetap ikut bekerja di ladang membantu Wang Lung. Hari itu, ketika ia merasa akan melahirkan, ia hanya memberitahukan kepada suaminya bahwa ia akan pulang ke rumah, dan sore nanti bila sang suami pulang, jangan segera ia membuka pintu kamar bila O-lan tak menyuruhnya.

Sore ketika Wang Lung tiba di rumah, dilihatnya perut istrinya sudah tak kembung lagi. O-lan tampak bekerja seperti biasa, mengambil rumput kering dan memasak, serta memberitahukan kepada petani itu, “Laki-laki”.

Betapa senang hati Wang Lung mendengar kabar itu lantas mengguncang-guncang bahu ayahnya yang sudah renta. Ia bangga anak pertamanya laki-laki sebab itu merupakan sebuah kebanggaan keluarga, sementara bila perempuan maka jalan satu-satunya anak tersebut akan menjadi budak lagi di rumah keluarga orang kaya.

Kehadiran O-lan, budak yang kini menjadi istri Wang Lung rupanya menjadi salah satu keberuntungan juga buat sang petani itu. Bagaimana tidak, O-lan yang sudah terbiasa bekerja keras di rumah keluarga Hwang itu bahkan setelah menjadi istri pun tak pernah mau tinggal diam. Ia memberi sumbangsih tenaga yang tidak kecil untuk pertanian Wang Lung. Dengan demikian, lamat-lamat simpanan Wang Lung semakin bertambah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya Wang Lung mencicipi makanan enak, dan kehidupan yang sedikit mendekati kehidupan kaum-kaum tuan tanah di kota.

Akan tetapi, rupanya dunia terus berputar. Suatu ketika, dewa bumi dan langit tak lagi berpihak padanya. Kekeringan melanda negeri mereka. Hujan yang dinanti-nantikan pun tak kunjung turun. Rumput-rumput yang andai bisa dimakan pun telah habis. Bahkan untuk menahan lapar, tanah kering pun dimakan sebagai pengganjal perut. Tubuh mereka nyaris menyerupai kerangka saja. Keadaan ini akhirnya memaksa Wang Lung dan keluarga kecilnya mengungsi ke selatan.

Kehidupan di selatan memang butuh perjuangan. Tak ada kata malu untk bisa mendapat makan. Wang Lung menarik kereta, O-lan dan anak-anaknya mengemis. Hingga suatu hari ketika terjadi penjarahan besar-besaran sekelompok orang ke rumah-rumah tuan tanah yang kaya, Wang Lung tanpa ia sadari ikut tersert arus orang banyak itu hingga masuk ke ruang inti istana. Di dalam ruang tersebut ada seraong lelaki gendut yang dalam keadaan bugil, didampingi seorang wanita cantik di sebelahnya. Dalam keadaan takut dan panik lelaki gendut menyerahkan begitu saja segenggam penuh emas dari kantong jubah satin ungu yang sedang digenggamnya kepada Wang Lung.

Berbekal segenggam emas, ditambah pula hati Wang Lung yang sudah demikian rindu pada kampung halamannya, Wang Lung memutuskan pulang ke kampung halamannya. Mereka sekeluarga pun pulang.

Dalam perjalanan itu, Wang Lung merasa diri kaya sekarang. Ia pun membeli lembu yang nantinya akan membantunya  membajak sawah. Tak peduli berapa harga lembu itu, sebab di kantongnya terdapat banyak emas untuk mencukupi kebutuhan keluarga nanti sebelum masa panen tiba.

Tak disangka, rupanya sewaktu sedang terjadi penjarahan yang besaran-besar, saat Wang Lung mendapat segenggam emas, pada saat yang sama O-lan pun serta merta terlibat bersama orang banyak, di saat itu pula ia  melihat rencengan permata yang sedang disembunyikan di balik tembok istana. Disimpannya diam-diam tanpa memberitahukan kepada siapapun hingga ketika mereka tiba di kampung. Bermodalkan rencengan permata itu, Wang Lung menggunakannya untuk membeli tanah dari tuan besar rumah keluarga Hwang.

Tanah Wang Lung menjadi banyak sekarang. Dan karena ia adalah seorang petani yang rajin bekerja, juga sangat mencintai tanahnya, maka hasil yang diperolehnya pun tidak sedikit. Ia sampai kewalahan ketika masa panen. Hasilnya lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka sekeluarga. Sehingga dipanggilnya sahabatnya, Chung untuk membantunya bekerja di ladang. Sebagai imbalan, Chung mendapat makan dan tempat menginap gratis di rumahnya.

Tahun-tahun berikutnya pun demikian. Wang Lung menanami sawahnya bibit-bibit yang lebih baru dan lebih banyak dari tahun sebelumnya. Ia lebih rajin mengolah dan mengerjakan sawah dan ladangnya. Hingga setiap tahun panennya semakin banyak menghasilkan.

Wang Lung berangsur-angsur menjadi orang kaya. O-lan kini tak lagi diperbolehkan untuk bekerja  di sawah. Ia sudah punya banyak pekerja. Pekerjaan O-lan adalah segala sesuatu yang berkisar dalam rumah tangga. Menjahit sepatu dan baju-baju baru untuk untuk setiap anggota keluarga, membuat penutup tempat tidur dari kain yang bercorak kembang-kembang yang diisinya dengan kapas baru, kemudian ia akan berbaring untuk melahirkan anaknya yang kembar untuk Wang Lung.

Dengan kekayaan yang melimpah itu, Wang Lung pun membuat rumah baru yang lebih besar. Ia menambah ruang-ruangan untuk menyimpan hasil panen, juga untuk tempat tinggalnya yang baru. Sedangkan rumah lamanya yang sudah tua, diizinkannya kepada para pekerja sewaannya untuk tinggal di sana, dengan Ching adalah ketua atau kepala pengawasnya.

Akan tetapi, sebagaimana orang-orang kaya lainnya, uang pun kemudian membutakan mata hati nurani manusia. Wang Lung berpikir, uangnya sudah banyak, keluarganya sudah cukup makan minum, demikian juga kebutuhan sehari telah terpenuhi. Kedua anaknya pun bahkan sudah disekolahkan di kota. Kini saatnya ia menikmati hidup sebagaimana tuan-tuan tanah lainnya.

Suatu hari ia pun mencoba memasuki sebuah kedai minum di kota. Awalnya ia masih takut-takut, dimulai dengan hanya berani mencicipi teh, kemudian sedikit-sedikit mencuri pandang kepada dinding yang di sana tergantung lukisan-lukisan wanita cantik dari kain sutra putih. Demikian itu pada mulanya. Akan tetapi, suatu hari ia memenuhi juga ajakan Cuckoo yang mengatakan padanya, benar mereka para perempuan yang suka diimpikan, tetapi bila ada keping perak saja, maka impian-impian seperti itu akan menjadi kenyataan. Maka,  untuk naik ke atas loteng untuk melihat bahwa gambar-gambar tersebut bukan hanya di mimpi saja, tapi mereka adalah nyata yang tinggal di atas loteng. Ia diminta memilih salah satu di antara gambar-gambar itu. “Ia seperti bunga melati,” katanya menggambarkan sosok wanita yang dipilihnya.

Terperosoklah Wang Lung ke dalam jebakan Cuckoo.

Setelah mengenal wanita cantik di kedai minum, Wang Lung pun kemudian acapkali membandingkan dengan istrinya yang berkaki besar. Dikatakan demikian, perempuan itu hanya memandang diam dengan lugu, namun dengan sorotan mata yang pedih.

Lama kelamaan, Wang Lung berpikir bahwa sebaiknya ia mengambil Lotus menjadi istrinya sehingga Lotus khusus ada untuk dirinya seorang. Dua mutiara O-lan pun diambil Wang Lung untuk diberikan pada Lotus demi menyenangkan hatinya.

Kemudian dibopongnya Lotus ke rumahnya yang lebih baru, lebih bagus, mewah, dan megah. Tinggalah Lotus di dalam sebuah rumah khusus yang hanya boleh didatangi Wang Lung. Lotus pun tidak diperbolehkan keluar menunjukan dirinya kepada orang-orang. Ia ada hanya khusus untuk melayani Wang Lung.

Masa tua Wang Lung terbilang makmur. Ia memperoleh dan dapat mencicipi apa yang dahulunya hanya mengambang di angan, tentang bagaimana ia benar-benar menjadi seorang tuan tanah yang makmur, kecuali mendapat seorang anak perempuannya yang buta, ia punya istri yang melahirkan untuknya anak laki-laki dan perempuan, punya putra-putra yang terpelajar, anak perempuan yang menikah baik-baik, juga punya seorang perempuan cantik, si Lotus yang melayani malam-malamnya, tinggal di dalam istana dengan banyak budak yang melayani kebutuhannya, istana yang dulu adalah milik keluarga besar Hwang yang kini sudah bangkrut oleh karena pemborosan dan kemalasan tuan-tuan muda keluarga Hwang sendiri.

Masa-masa itu bolah dibilang adalah masa kejayaannya. Namun hidup di bumi tidak selamanya kejayaan itu mengabadi. Alangkan sedih dan marah Wang Lung ketika suatu hari di akhir masa tuanya, saat-saat ia sedang menikma senja, tak sengaja didengarnya percakapan dua orang putranya yang berencana menjual begitu saja tanah yang telah diperolehnya dengan susah payah.

Sebuah keluarga akan habis riwayatnya kalau mereka sudah mulai menjual tanah-tanahnya,” ujar Wang Lung. “Kita berasal dari tanah, dan mesti kembali lagi ke situ. Kalau kalian masih mempertahankan tanah itu, kalian bisa hidup terus. Tak ada orang yang bisa merampas tanah begitu saja,” katanya. “Kalau kalian menjual tanah-tanah itu, maka tamatlah sudah riwayat kita.”

Kedua putranya berencana demikian, sebab mereka tak mengikuti jejak ayahnya yang begitu mencintai tanah-tanahnya. Putra yang sulung sudah  menjadi pejabat di kota, sedang yang kedua sedang mempersiapkan diri membuka toko beras. Sementara yang bungsu justru mengikuti panggilan hatinya menjadi tentara. Maka, demikianlah generasi mereka tak ada yang meneruskan perjuangan bapaknya, dan juga ibu mereka mestinya. Sebuah kesia-siaan bagi Wang Lung yang selama hidupnya telah bersusah payah mendapatkan tanah-tanah itu. Ia yang dulu hanya mempunyai satu petak kecil sawah, dengan sekarang yang adalah seorang tuan tanah yang makmur.

Dalam perenungannya, ia merasa di dalam alamlah ia merasa satu. Ia tahu hati dan jiwanya ada di alam, di tanah. Bagi Wang Lung, tanah adalah hidupnya. Maka betapa kecewanya ia ketika mendengar rencana kedua putranya itu. Sungguh suatu pengkhianatan untuk orang tua yang sudah berusia senja sepertinya.

Demikian cerita Bumi yang Subur (The Good Earth) dari Pearl S Buck yang saya tangkap dan bisa saya tuliskan kembali sinopsisnya.

* Alasan saya merasa senang menemukan file ini adalah karena mengingatkan kembali  akan cerita yang pernah saya baca kurang lebih dua tahun lalu. Dengan membaca kembali sinopsis ini, saya bisa mengingat kembali isi ceritanya, sebab kalau tidak, sungguh kalau seseorang bertanya pada saya sekarang tentang isi ceritanya akan dengan jujur dan sedih saya akui bahwa saya agak lupa-lupa ingat, karena yang persis saya ingat hanya cerita ini berkisah tentang seorang petani dan tanah. Itu saja. Tapi dengan membaca kembali sinopsis ini, saya bahkan bisa merasakan kembali kesan-kesan dan perasaan saya sewaktu membaca buku ini.

Persisnya dua setengah tahun lalu. Kira-kira bulan Januari atau Februari 2014. Sementara musim hujan dan saya masih berada di tempat kos yang lama di lantai 2 sehingga sewaktu membaca adakalanya saya merasa ingin turun ke bawah dan meraba tanah basah dan ingin menciumnya.

Waktu itu perasaan saya akan tanah sungguh meluap-luap. Saya betul-betul merindukan yang namanya tanah. Saya mengenang kembali bagaimana kisah awal manusia dibentuk dari debu tanah, merasakan tentang daging di tubuh saya ini adalah tanah, dan nanti pada akhirnya tubuh saya pun akan menyatu dengan tanah. Saya juga mengenang bagaimana di masa-masa saya sekolah ketika saya ikut membantu orang tua saya menanam jagung atau palawija lainnya di kebun, ataupun menanam sayur-sayuran di pekarangan rumah, ataupun saya bersama kawan-kawan saya di bawah guyuran hujan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain demi meminta aneka bunga untuk ditanam di depan rumah kami masing-masing. Sungguh indah pengalaman tak terlupakan bersama tanah.

Boleh dibilang Pearl S Buck berhasil menyihir saya sebagai pembaca sehingga saya begitu merindunya dengan tanah. Saking merindu, di sekolah yang kebanyakan tanahnya sudah berlapis semen, adakalanya saya mencari-cari sedikit tanah di taman hanya untuk meraba dan memain-mainkannya sebentar. Bahkan ketika sampai liburan paskah saya pulang ke rumah saya di kampung yang banyak tanahnya, saya begitu rajin pagi-pagi dan sore hari bermain-main dengan tanah. Saya mencari bibit tanaman apa saja yang bisa saya tanam. Sayangnya ketika musim kemarau datang, dan mungkin juga karena jenis tanah di rumah saya tidak sesubur tanah olahan Wang Lung, orang-orang rumah yang saya titipkan pesan tak begitu mengindahkannya, ditambah lagi banyak ayam-ayam kampung yang berkeliaran di sekitar rumah, tanaman-tanaman itu tak ada lagi ketika saya pulang di liburan berikutnya. 😦 Syukurnya, di kebun yang berpagar, dari cukup banyak anakan pohon yang pernah saya tanam, ada beberapa yang tumbuh.

Tahunnya saya ingat persis karena waktu itu masih ada kawan saya yang seorang Chinese, masih bersama saya di Kupang sehingga di tengah-tengah membaca dan bila saya menemukan hal-hal berkesan dari tanah leluhurnya ini, lantas saya bilang padanya yang kemudian membuat kami tergelak karena ternyata di balik kemegahan atau kemajuan yang diperlihatkan tanah leluhurnya, ternyata pernah juga orang-orangnya di sana yang bahkan untuk makan nasi saja sudah terasa mewah, apalagi memakannya dengan campuran bawang putih sehingga mulutnya akan tercium sekali aroma bawang putih… 😀 😀 😉 :3 🙂

Rabu, 29/06/’16., pukul 20.48 wita

Iklan
Merayakan Keseharian

a-nice’s notes (random) 2

**##**

Minggu, 21 Agustus’16, pukul 12.42 wita

Ada dua hal yang membuat saya terharu dan jadi melankolis sekarang. Siang ini saya berniat mau menyelesaikan unit plan saya yang tertunggak karena dua minggu lalu saya mendadak mesti ke Bali. Di awal saya sudah semangat. Namun dua hal ini membuat saya jadi kurang konsentrasi. 1. Saya terkenang Bali. Kegiatan pembekalan IN GP Bahasa Indonesia di Bali membuat saya setidaknya jadi tahu kompetensi apa saja yang harus saya pelajari sebagai seorang guru Bahasa Indonesia. Selain itu, orang-orang baru yang saya temui baik di tempat kegiatan maupun di luar adalah orang-orang yang di mata saya ramah dan menyenangkan. Dimulai dari teman sekamar saya orang Mataram, hingga teman2 di kelas C juga di kelas lain, juga para pekerja hotelnya, hingga orang2 yang saya temui di jalan atau tempat2 yang sempat saya kunjungi. Selama berada di sana, tak ada yang mengecewakan selain ketika adik saya, mahasiswi Faperta Undana Kupang yang bertepatan magang di Bangli dan mengunjungi saya di hotel dengan kaosnya yang berlengan buntung. Itu saja. Selebihnya banyak hal manis dan berkesan selama di Bali. Bahkan di malam terakhir saja, masih sempat-sempatnya ada kejutan manis yang saya pikir saya sedang bermimpi. Sudah, itu saja dulu. Intinya, atmosfer Bali sudah menyentuh hati saya yang terdalam. 2. Kerangka Kurikulum Lentera-Dian Harapan. Tentang ‘Enduring Understanding’ atau pemahaman sepanjang hayat. Dengan ini entah KurNas mau berganti serupa apapun itu, ia hanyalah satu titik kecil di antara konsep enduring understanding. Saya tidak tahu harus bilang apa kepada Tuhan. Ia sudah membawa saya sejauh ini. Rasanya kata ‘terima kasih’saja tidak cukup. Ada sesuatu yang mesti lebih dari itu.

**##**

Minggu, 24 Jul’16, pukul 20.49 wita

Andaikata besok bukan hari sekolah, maka biarlah malam ini saya menginap lagi di Siloam. Saya masih mau bermain-main dengan si adik bayi yang tepat di hari anak nasional, ia muncul menghirup aroma bumi– walau harus lewat operasi. Adiknya cantik. Tangis, gerak bola mata, serta gerak-gerik tubuhnya menggemaskan. Serasa kalau ditinggal, kau bakal rugi. Kehilangan momen berharga. Lagi pula tempat ini aman, nyaman, hangat, dan…

Entah saja, dua hari berada di sini mengingatkan saya kepada bertahun-tahun silam sewaktu kami menjaga teman sekamar yang sakit dan dirawat di Siloam Lippo Karawaci. Di kepala saya ketika mendapat giliran jaga malam (sanak saudara si sakit di seberang lautan sehingga kami teman sekamar berbagi giliran jaga), “Saya bukan di rumah sakit. Ini justru hotel.”

Jelas kesimpulan saya bisa demikian karena yang saya tahu hanya model rumah sakit seperti yang biasa saya lihat di Kupang. Bahkan waktu itu sempat timbul harap mungkin suatu hari di masa-masa kuliah saya mau sakit biar bisa dirawat di Siloam (astagafirullahazim–buang jauh-jauh . Sebaik-baik rumah sakit, lebih baik dan paling baik adalah kau sehat).


##**##**

Rabu, 13 Jul’16, pukul 11.23 wita

Libur sudah mau berakhir. Nyaris tak berasa. Selama libur ini pula akun medsos (fb, line. btw ini saja sudah bikin pusing apalagi banyak2) di hp yang katanya smartphone ini saya hapus instalannya. Ini memang memenuhi janji sebelum libur biar libur bisa lebih dinikmati. Lagipula hp ini suka sekali ‘lola’. Daripada saya kalau pegang bawaannya buka akun medsos melulu tapi yang dibukapun lola sehingga saya harus lama menunggu dan jadi kesal sendiri, sehingga sudah bisa dipastikan saya akan sangat menyesal menyadari waktu sudah berlalu dan yang saya lakukan hanya sering buka-buka medsos tanpa memberi atau melakukan sesuatu yang setidaknya memuaskan setelah libur berakhir nanti.

Hasilnya sekarang setelah akun medsos dihapus dari hp dan hanya diakses kalau buka laptop, perasaan saya sekarang jauh lebih baik. Tak sering-sering membuka akun medsos dan sebagai gantinya melakukan sesuatu yang memang tak bisa dilakukan pada hari-hari kerja jauh lebih memuaskan batin. Ada perasaan lega dan puas sesudahnya.

###***###

Selasa, 05 Juli 2016, pukul 19. 37 wita

Terima Kasih tentunya kepada Tuhan saya boleh berkesempatan mengikuti kegiatan Youth Camp bersama Pemuda GMIT Agape kali ini di Biara Karmel San Juan Penfui.

Sesi-sesi dalam youth camp bertema Grow Deeper in God’s Grace dengan berlandasakan pada 2 Petrus 3:17-18 ini dibawakan seluruhnya oleh Bapak Ezra Soru.

Hari ini sudah hari ketiga sekaligus malam terakhir kami sejak Minggu siang, 3 Juli 2016. Sejauh ini sudah selesai sesi yang ke-6 yakni predestinasi. Sedikit yang kutahu, topik ini memang kontroversial di antara gereja Kristen sendiri. Sehingga untuk mendengar dan mengikuti penjelasan sang pembicara dibutuhkan perhatian ekstra. Topik ini dari sononya memang rumit. Apalagi ditambah dengan minimnya istirahat selama beberapa hari ini sehingga keadaan fisik saya agak sedikit lemah, ditambah pula angin yang bertiup kencang di sekitar area biara. Suhu badan saya agak panas, perut saya masih berasa kembung walau sudah dua sachet antangin saya habiskan hari ini, kepala saya rasanya mau terbelah. Tapi bagaimanapun saya usahakan kegiatan ini akan tetap saya ikuti sampai selesai besok sore. Sangat disayangkan kalau tidak.

Dari semua sesi yang sudah berjalan saya semangat mengikutinya. Saya menganggapnya sebagai salah satu bentuk ‘refreshing’, mengingat sudah kira-kira 5 tahun semenjak meninggalkan kampus dan hal-hal beginian nyaris tak lagi disinggung. Awal-awal sesi dimulai dengan sejarah penulisan Alkitab dan ini bagi saya menarik bahkan pula ketika berlanjut kepada Allah Tritunggal.

Namun kemudian ketika sampai di Providensi Allah, saya agak mulai bertanya-tanya kok jadi begini? Baiklah, ikuti saja. Materi tetap saya catat sambil saya sediakan sedikit kolom di bagian kanan buku untuk mencatat segala pertanyaan dan kebingungan dan keheranan dan segala yang lain. Belajarlah. Segala sesuatu memang disediakan Tuhan untuk dipelajari sambil mengagumi kemahakuasaan-Nya sekaligus menyadari diri ini memang kerdil, fana, dan terbatas. Tuhan memang sungguh unik dan kreativitas-Nya luar biasa. Kemisteriusan Tuhan patut dihargai. Bahkan setiap orang yang sudah memberikan dirinya untuk Dia pun masih tetap dengan keunikannya dan kekreativitasnya masing-masing. Tak pernah ada manusia yang serupa dan sepaham 100 persen bahkan yang mempelajari hal yang sama dengan guru yang sama sekalipun. Orang-orang di dunia bahkan yang mengkalim dirinya menganut aliran atau paham tertentu pun, tak semuanya mereka sealiran atau sepaham tanpa eror sekian persen.

Sekarang ini sementara persiapan dan pelaksanaan talent show. Saya sempat mengetik ini sebab saya kebagian tugas membawa laptop sebagai satu property untuk talent show kelompok kami. Jadi, sekalian sambil menunggu giliran, tentu juga sambil menonton pertunjukan dari kelompok-kelompok lain, ada baiknya saya membuka untuk mengetik sebentar sebelum semua-semua yang lagi berseliweran di kepala saya ini menguap dan tak berjejak.

###***###

Sabtu, 02 Juli’16, pukul 01 .17 wita

Ah, ini bukan lagi tanggal 2 namanya tapi sudah tanggal 03 Juli.

Saya baru saja sampai di rumah. Baru pulang dari rumah om, tepatnya sepupu bapak yang akan diberkati pernikahannya besok pagi di gereja dan bapak saya adalah saksi untuk mempelai perempuan. Terkait ini ketika saya tanyakan, katanya berhubung istri om masih terbilang kerabat dekat dari ibu saya sehingga pihak keluarga perempuan mempercayakan bapak saya sebagai saksi.

Di rumah om tadi, saya baru saja selesai berasap-asap di antara tungku, ikut menggoreng daging tepunh sambil mengobrol dan bercerita dengan sepupu-sepupu jauh dan ipar-ipar lain. Saya begitu menikmati kebersaman kami dan merasa waktu tadi cukup berkesan. Awalnya sebelum berangkat ke sana, saya berencana hanya mau dari setengah 9 sampai jam 11. Tapi jadinya daging belum selesai digoreng, dan pikir saya biar diselesaikan sekalian tugas ini, sebab saya tak lagi ikut berpartisipasi di acara selanjutnya besok.

Apalagi mengingat sebelumnya saya sore tadi jam 6 baru tiba dari Kupang. 2 jam lebih beristirahat dan bercengkrama dengan anggota keluarga, saya pun ikut ke rumah om guna membantu-bantu sebab besok pagi selesai pemberkatan saya mesti balik ke Kupang lagi karena ikut youth camp dari pemuda GMIT Agape. Camp yang akan saya ikuti kali ini adalah kedua kalinya setelah dulu pernah ikut dalam youth camp dari UPH di Wisma Kinasih Bogor. Saya sudah agak lupa-lupa tentang youth camp kala itu. Yang ada dalam bayangan saya sekarang tentang youth camp itu adalah airnya yang dingin, ada pertanyaan yang diajukan dan salah saya jawab… 😀 😀

Cukup sudah dulu. Sekarang saatnya membaca lanjut “Mata yang Enak Dipandang” dari Ahmad Tohari. Tadi sebelum ke tempat om, saya sudah membaca sebentar sebab berencana mau diselesaikan semua cerita ini mumpung sudah sampai di judul terakhir. Tapi karena semua orang di rumah sudah tak tahan pergi dan daripada saya yang ditinggal sendiri, maka lebih baiklah saya pun ikut sekalian. Sekarang saya mau membaca sementara yang lain tidur dan adik laki-laki saya memelototi kembali video Mario G Klau yang mengumandangkan Malaikat, To Love Somebody dll dari youtube.

###***###

Selasa, 28 Juni 2016, pukul 09.14
###Berhubung semalam jaringan internetnya bermasalah, maka baru sekarang saya bisa menerbitkan catatan ini –sekarang sudah hari Rabu###
(Sebelumnya sudah ada “a-nice’s notes (random)” –demikian maksud saya untuk yang edisi satu. Namun terpotong. Hanya bertahan di masa libur. Berharap kali ini lebih bertahan untuk seterusnya. 😀 🙂 Sebagai pembelaan diri ;), sebenarnya seusai liburan pun saya bisa tetap menulis di sana. Masalahnya ketika hp sering lola di-instal ulang, aplikasi wordpress pun terhapus sehingga saya kesulitan memang untuk rajin menengok blog ini)
Senin dan Selasa telah saya lewatkan tanpa sempat membaca banyak ataupun menulis. Dua hari ini saya lebih banyak sibuk di luar. Walau begitu, sebelum hari beranjak esok, izinkan saya menulis beberapa hal terkait yang berenang-renang di kepala saya sekarang.
Ada perasaan puas dan lega beberapa urusan boleh berjalan baik sekalipun memang diakui tidak selalu mulus berjalan. Yang membuat saya senang atau katakanlah bersyukur adalah masa libur ini bisa dimanfatkan dengan baik, sebab urusan-urusan semacam ini tak bisa kau lakukan di masa sekolah. Maka, mumpung libur, ada baiknya waktu ini dimanfaatkan untuk menyelesaikannya.
Btw, di awal tadi saya bilang saya tak membaca banyak. Ya, mungkin itu hanya semacam pembukaan. Pemantik biar saya bisa mulai menulis barangkali. Sebenarnya ada yang saya baca di sela-sela saya menunggu jadwal, menunggu panggilan, menunggu orang, dll. Buku ini cukup tipis. Sudah lama buku ini sebenarnya. Buku yang sudah saya beli 2 atau 3 tahun lalu. Saya lupa saya membelinya di Kupang atau di Jakarta. Buku karya Os Guinness. Buku ini tidak sengaja saya temukan di sela-sela mempersiapkan sesuatu. Walau sudah dibaca dulunya tapi tetap saya kantongi lagi, sehingga selain “Mata yang Enak Dipandang” dari Ahmad Tohari, buku ini yang menemani saya dua hari ini. Bukannya saya tak mau berbagi tentang buku ini. Tapi yang ada dalam pikiran saya sekarang adalah bagaimana saya sendiri harus bergumul untuk menghidupi apa yang saya baca sebelum saya cerewet bercuap-cuap. Bagaimana mungkin saya cerewet bercuap-cuap sementara saya sendiri tidak melakukan apa yang saya baca dan saya refleksikan.

Catatan Buku

Membaca “Elang” Wilson Nadeak

20170303_181444Cuaca Kupang hari ini menyenangkan. Sedikit mendung sehingga tidak begitu panas. Mungkin karena subuh tadi turun hujan. Saya baru saja menyelesaikan kumpulan cerpen Nilson Nadeak berjudul “Elang”. Buku ini sudah terbit lama sekali, tahun 1997, oleh Lembaga Literatur Baptis. Seminggu lalu saya menemukannya di Kalam Hidup, satu toko buku rohani di Kupang.

Walau cerpen-cerpen ini ditulis pada masa yang ‘lampau’, bahasa yang terbaca seolah ditulis masa kini. Sudah matang sekali penggarapan ceritanya malahan. Dari 10 cerpen dengan 157 halaman di dalamnya, idenya cukup beragam.

Cerpen yang dibuka dengan perburuan elang cukup menggelitik sekaligus menggambarkan keadaan desanya yang memperihatinkan. Dua pemuda yang niat awalnya mau menjerat ayam hutan. Hasil jeratan yang sudah ada di depan mata justru diterkam elang. Mulailah perburuan elang yang terbang mengangkasa itu hanya dengan berbekal ketapel dan batu-batu kali. Di tengah perburuan,  terbacalah keadaan kampungnya dulu dilanda kemarau bekepanjangan, wabah, dan malapetaka silih berganti sampai para penduduk satu per satu harus mati di rumah sendiri tanpa dikuburkan.  Berikutnya dua cerita terkait masalah penulisan – redakur surat kabar dan ghostwriter, satu cerita terkait pekerjaan, tiga cerpen terkait masalah pernikahan, satu cerita bernuansa gelap dan mistis, satu cerita lagi berlatar New York, serta satu cerita masalah rumah tangga berjudul “Kereta Api”.

Cerpen terakhir ini bagi saya juga sungguh berkesan. Kesan saya bukan pada tokoh utama, melainkan pada  seorang perempuan malam yang ada di stasiun kereta api. Ketulusannya membantu tokoh istri yang ingin minggat dari rumah sungguh menggugah. Sekalipun tokoh istri ingin tetap dan duduk menanti datangnya kereta api subuh, sang perempuan malam tetap mendesak agar ia segera meninggalkan tempat itu mengingat saat-saat sebelum subuh selalu rawan karena banyak laki-laki hidung belang yang berkeliaran di sekitar stasiun. Atas desakan dan cerita-cerita mengerikan dari perempuan malam itulah, tokoh istri mau dibawa ke gubuk kumuh sang perempuan malam. Di gubuk itulah ia aman beristirahat sampai terdengar bunyi peluit kereta api subuh.

Catatan Buku

Tanggapan Singkat Buku “Antusiasme” Fida Abbott

20170214_063627Berbeda dengan Art of Novel, kumpulan esai Milan Kundera, buku yang diterbitkan Yayasan Komunikasi Bina Kasih tahun 2011 ini tergolong ringan. Saya membacanya selama duduk di bangku antrian pengurusan kartu ATM (tak perlu sebut merek) saya yang bermasalah kemudian berlanjut ke urusan panjang pembaruan KTP di kantor Dispenduk Oelamasi, kab Kupang yang kerontang dan berangin kencang.

Salut dengan Mrs Abbott yang adalah seorang IRT, juga bekerja paruh waktu di pasar swalayan, memiliki seorang anak perempuan berumur lima tahun, serta juga menjadi redaktur pelaksana di website KabarIndonesia.

Ia seorang yang tak suka berleha-leha. Setiap waktu ia gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Selain menulis di website KI, di beberapa blog pribadinya, mengecek dan membalas email, mengirim kartu ucapan kepada kerabat dan kenalan, menjadi pekerja paruh waktu, mengurus anak dan suami sebagai prioritasnya, ia pun suka memasak dan berkebun. Kalau tentang membaca, menulis,  memasak, dan berkebun, saya mengingat seorang penulis perempuan Indonesia yang juga luar biasa dan sangat menginspirasi. Beliau adalah Bunda Naning Pranoto. Kalau di buku Antusiasme, terbaca Mrs Abbott meleburkan kegiatan memasak dan menulis sehingga menerbitkan sebuah buku memasak, maka Bunda Naning Pranoto, selain memasak dan berkebun yang sudah lama dilakoni, belakangan ini beliau banyak terlibat dalam penyelenggaraan lomba-lomba menulis baik cerpen atau puisi terkait seruan untuk menjaga dan merawat bumi dengan istilah Sastra Hijau.

Kembali ke Antusiasme. Memang dalam buku ini, kekurangan yang bagi saya sangat menonjol adalah selain menuturkan rutinitasnya sebagai IRT (walaupun ini mungkin dimaksudkan supaya, “Nih, lihat, seperti inilah pekerjaan seorang ibu rumah tangga yang seolah tak pernah ada habisnya, tapi saya masih bisa mengatasinya, dan bahkan masih sempat-sempatnya menyediakan waktu untuk menulis,”) terkadang dialognya mengulang apa yang sudah ia deskripsikan sebelumnya yang sebenarnya tak perlu.

Selebihnya, dari buku ini kita bisa berefleksi banyak tentang menjadi seorang perempuan yang menulis. Mengikuti ritme kerja dan hasratnya menulis, kesadaran pun terkuak dan bisa muncul kata-kata demikian, “Tolong, waktu bahkan 15 menit atau setengah jam itu penting dan berharga untuk kau pakai setidaknya untuk membaca atau menulis.”

Terima kasih untuk para perempuan hebat. :3 🙂

Catatan Buku

Catatan Pendek “Art of Novel” Milan Kundera

Saat manusia berpikir, Tuhan tertawa. Pepatah lama Yahudi yang disitir Milan Kundera dalam pidatonya ketika menerima Jerusalem Prize ini dikutip kembali Anton Kurnia dalam bagian pengantar kumpulan esai MK yang diberi judul Art of Novel.
Buku ini terbit di Indonesia sudah lama, tahun 2002. Dasarnya saya saja yang kudet.11118107_376424579209316_991198498_n

Awal mula ketika melihat buku ini di meja anak murid saya sewaktu sesi SSR di kelas, saya pikir ini buku sejenis tips menulis. Sebelumnya yang pernah ada di kepala saya tentang MK adalah segala sesuatu yang identik dengan tawa, lelucon, humor, atau sejenisnya. Maka itu saya pikir, Art of Novel pun adalah seni novel atau tips menulis novel yang berkaitan dengan tawa, lelucon, dan humor. Nyatanya tidak. Tapi ini justru kumpulan esai MK tentang persepsinya melihat kembali sejarah novel Eropa.

Saya sempat heran kenapa anak murid saya yang baru kelas 7 bisa membaca buku semacam ini. Tapi kemudian ia bilang ini buku pamannya yang adalah seorang pendeta. Tentang sang paman, kami pernah bertemu sewaktu SLC dan sewaktu ia ada keperluan di sekolah. Bersyukur ia seorang yang pengertian, dan tidak marah karena saya meminjam buku ini cukup lama. Sebenarnya awal-awal begitu melihat isinya, langsung mau saya kembalikan, tapi karena judulnya yang memikat inilah membuat saya untuk menyimpannya saja dulu sebelum benar-benar menyediakan waktu buat membacanya.

Buku ini dibagi dalam 7 bagian. Saya akan menulis sedikit tentangnya sekadar mengingatkan saya karena yang saya tahu tentang saya adalah saya tidak punya ingatan yang cukup kuat akan buku-buku yang dibaca (btw, jangan terlalu kayak begitu juga sih). Apalagi buku ini yang tergolong ‘berat’ bagi saya, sebab untuk mengerti isinya kau mestinya juga sudah akrab dengan buku-buku atau nama-nama orang yang disebut-sebut di sini. Itulah kenapa dalam tulisan ini saya menautkan link-link terkait. Biar supaya lebih mudah terhubung apabila kening berkerut sewaktu membaca. 🙂

Bagian pertama, Warisan Carventes yang Tak Dihargai

Carventes ini bernama lengkap Miguel de Cervantes Saavedra, seorang pengarang berkebangsaan Spanyol. Melalui esai ini, MK mulai memberikan pandangannya terhadap sejarah novel Eropa.

Dibuka dengan kilas balik pandangan Husserl mengenai keutamaan filsafat sebagai ilmu yang pertama kalinya dalam sejarah mempertanyaakan dunia bukan hanya untuk kepuasan atau kebutuhan praktis, melainkan karena gairah untuk mengetahui apa yang telah menyebabkan umat manusia tercekam—maaf bila pertanyaan klasik ini diulang lagi.

Menurut MK, penemu dunia modern tak hanya seperti Galileo dan Descartes, tapi juga Cervantes. Sayangnya, Cervantes dilupakan oleh dua fenomenolog itu, Husserl dan Heidegger, untuk dipertimbangkan dalam kesimpulan mereka mengenai dunia modern. Lewat Carvanteslah seni agung Eropa mengambil peran dalam investigasi eksistensi.

Ia juga prihatin atas kematian novel-–kata ‘novel’ di sini diperlakukan seolah-olah ia manusia. Kematiannya merupakan kesedihan tersendiri bagi MK. Bukan saja kesedihan, tetapi seperti ketakutan sehingga ia berpikir bahwa masa depan adalah hakim yang adil bagi karya dan perilaku manusia. Namun kemudian ia berefleksi, jika masa depan bukan suatu nilai baginya, lalu untuk apa ia bekerja yang kemudian dengan tulus diakuinya bahwa ia edan dengan jawaban ia bekerja bukan untuk apa-apa, melainkan buat warisan turunan Carventas. Wow

Bagian dua, Dialog tentang Seni Novel

Mengenai seni novel, menurutnya, setiap novel di setiap masa berpusat pada teka-teki diri. Sewaktu menjawab pertanyaan Christian Salmon tentang maksud ‘perangkap’ dalam novelnya, Unbearable Lightness of Being, MK mengatakan, hidup adalah perangkap. Kita lahir tanpa ditanyai, terkunci di dalam tubuh yang tak pernah kita pilih, dan ditakdirkan untuk mati.

Memikirkan keyakinan MK tentang hidup itu, saya teringat John Piper dalam kumpulan 33 renungannya, ia membuat judul bukunya sebagai, Life is a Vapor, hidup adalah uap. Sementara saya entah dari sumber mana, saya meyakini bahwa hidup itu persinggahan. Itulah kenapa sewaktu memikirkan judul untuk kemunculan seorang bocah indigo, saya menaruh judul persinggahan:). Entah mungkin lain lagi kata orang tentang hidup. Mungkin ada yang bilang ziarah, perjalanan, piknik, tamasya, liburan, kekosongan, kehampaan, permainan, lelucon, sandiwara, pertandingan, perlombaan, perjuangan, pengutusan, atau beribu kata lainnya.

Selanjutnya, di bagian kedua yang banyak juga disinggung tentang dunia Kafka (bukan judul novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore), menurut MK, sebuah novel bukan mempelajari realitas melainkan eksistensi. Dan eksistensi bukan apa yang terjadi, eksistensi adalah dunia kemungkinan-kemungkinan manusia, manusia bisa menjadi apa saja selama ia mampu melakukan apapun yang ia inginkan. Berbicara mengenai kemungkinan yang lebih baik dari realitas, MK berpendapat jika penulis memperhatikan situasi historis sebuah kemungkinan yang segar dan membuka pikiran umat manusia, dia akan menggambarkan hal tersebut apa adanya. Kesetiaan terhadap realitas sejarah adalah hal penting kedua sebagaimana penghargaan atas nilai novel. Seorang novelis bukanlah seorang ahli sejarah dan juga bukan nabi: dia adalah orang yang mengeksplorasi eksistensi.

Bagian tiga, Catatan-catatan yang Terinspirasi oleh ‘The Sleepwalkers’

The Sleepwalkers adalah novel trilogi karya Hermann Broch yang terdiri dari Pasenow (Romantisme) berlatar 1888, Esch (Anarki) 1903, Huguenau (Realisme) 1918. Berikut disajikan kemungkinan-kemungkinan manusia dalam menghadapi proses di dunia dalam hal ini diwakili dalam trilogi The Sleepwalkers.

Kemungkinan Pasenow, tentang perasaan sentimental berkaitan dengan saudara laki-lakinya yang meninggal dalam duel sampai kepada ketika di malam pernikahannya didapatinya istrinya tak mencintainya. Berikut kemungkinan Esch, nilai-nilai warisan dari masa ketika gereja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia telah mulai goyah dan perlahan menghilang. Namun bagi Pasenow (apa benar Pasenow atau Esch yang ia maksud), nilai-nilai tersebut masih jelas. Ia tahu kewarganeraannya, kepada siapa ia harus percaya, dan siapa Tuhannya. Bagi Esch, nilai-nilai itu topeng. [Saya suka kata topeng. Waktu kuliah dulu, saya pernah buat puisi –kalau mau dibilang puisi– tentang topeng. Saya taruh tulisan itu di blog. Beberapa bulan kemudian di perpustakaan kampus, The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya menemukan satu buku tebal seperti Alkitab model lama-kalau sekarang ya mirip KBBI. Itu buku literatur full bahasa Inggris yang judulnya saya lupa–akan saya coba mengingat-ingat kembali:). Di dalam buku itu ada puisi tentang topeng juga, judulnya We Wear The Mask oleh Paul Laurence Dunbar. Waktu itu saya senang sekali. Ternyata bukan saya seorang yang terkaing-kaing tentang topeng..:p] Ia menghargai apa yang disebut peraturan, loyalitas, dan pengorbanan, namun apa yang sebenarnya diwakili oleh kata-kata itu? Pengorbanan untuk apa? Tuntutan macam apakah peraturan itu? Esch sama sekali tidak tahu. Jika nilai telah kehilangan isi konkretnya, apa lagi yang tersisa? Yang tinggal hanya suatu bentuk kosong, suatu perintah yang tak lagi diindahkan.

Sedikit mengenai Esch, ia bukan orang yang disenangi di tempat kerjanya. Ia berselisih dengan rekan kerjanya sehingga dipecat. Menurut Esch, penyebab kekacauan hidupnya adalah Nentwig, seorang penjaga toko buku. Nentwig diadukan ke polisi sebagai bentuk pengabdiannya kepada hukum dan peraturan. Tapi yang terjadi kemudian Nentwig malah mengajak minum Esch dan keduanya berbaikan. Dia akhir cerita Bertrand, seorang homoseksual dan pembangkang perintah-perintahTuhan justru yang Esch laporkan ke polisi dengan alasan untuk menyelamatkan dunia.

Kemungkinan Huguenau, Esch dan Bertrand saling mengadu ke polisi. Esch melakukan tindak tersebut untuk menyelamatkan dunia, sementara Bertrand melakukannya untuk menyelamatkan karirnya. Huguenau, seorang arriviste yang tidak mengenal dosa—awih, siapa memang manusia yang tak mengenal dosa—merasa senang dan dikatakan kalau ialah yang membunuh Esch tanpa dibebani rasa bersalah sedikitpun.

Tanpa melupakan Broch, ada juga Doctor Faustus karya Thomas Mann. Novel yang mampu mewakili dan menghadirkan sejarah kehidupan musik Jerman selama beberapa abad, sekaligus melalui karakter tokoh, sang dokter magis yang mengadakan perjanjian dengan setan ini, penulis ingin menceritakan kekejaman negaranya, Jerman.

Selanjutnya masih dalam bagian ini dibahas mengenai di balik kausalitas, kebingungan-kebingungan karena sistem dan persepsi yang dicampuradukan, serta belantara simbol-simbol. (Sengaja saya taruh di sini untuk mengingatkan saja, terutama tentang sistem dan persepsi yang dicampuradukan. Saya masih bisa membayangkannya, hanya untuk membahasakannya yang agak susah)

Bagian empat, Dialog tentang Seni Komposisi

Berisi diskusi CS dan MK mengenai beberapa segi artistik novel The Book of Laughter and Forgetting, masalah-masalah kerajinan novel, terutama arsitekturnya. Di bab ini saya tercengang sebab perhitungan matematika Milan Kundera, kemudian berlanjut kepada halaman berikut tentang musik. Ia betul-betul tahu seluk beluk musik dan penjelasan proses kreatifnya berhubungan dengan persoalan tempo dalam musik. Harusnya tidak mengherankan, sebab sebelum tertarik kepada sastra, MK sudah menekuni musik hingga usianya yang ke-25. Pantaslah pengetahuannya tentang musik begitu detail. Btw, ada juga saya kenal orang Indonesia yang seperti beliau, keahliannya dalam musik, arsitek, bahasa, dll juga tak kalah keren dan memukau. Cari tahu saja, siapa Bapak Stephen Tong –pernah sekali di sela-sela mempersiapkan skripsi saat kulah saya menulis tentang beliau 😉 🙂

Ditanya mengenai novel-novel karyanya, MK mengaku kalau dalam hal tertentu, The Farewell Party adalah novel yang paling ia sayangi. Ia merasa lebih gembira dan lebih menikmati ketika menulis novel ini. Btw (btw lagi ;)), saat membaca buku ini, bertepatan juga di sekolah adalah masa-masa kami mengadakan farewell party baik dengan anak-anak murid yang sebentar lagi lulus, yang naik kelas, ataupun dengan guru-guru yang ingin menggarap di lain ladang.

Bagian lima, Tempat Tersembunyi

Dibuka dengan kutipan puisi Jan Skácel,

Penyair tak menciptakan puisi
Puisi ada di balik dunia
Ia ada di sana selama-lamanya
Penyair hanyalah menemukannya

Bagian ini lebih banyak membahas tentang karya Kafka yang secara keseluruhan adalah penglihatan tentang apa yang ada di tempat tersembunyi sebagaimana puisi yang kekal abadi dan sunyi tersimpan dalam kegelapan sehingga untuk menemukannya penyair harus ‘menembus dinding di balik sesuatu’.

Puisi sekaligus kesimpulan di atas membawa saya kepada sebuah renungan tentang imajinasi dari John Piper dalam bukunya Life is a Vapor (hal 55). Walau di sini terlihat yang lebih disoroti MK adalah penyair dengan puisinya, namun sebenarnya tak hanya mereka, tapi juga pelukis, pemahat, para ilmuwan, serta para pekerja kreatif lainnya. Mereka tidaklah menciptakan sesuatu yang baru ataupun semakin memperindah keindahan yang sudah ada dalam kekekalan abadi. Mereka hanya menjadikan keindahan itu lebih terlihat. Keistimewaan mereka adalah mereka mampu menembus kabut kusam dari persepsi kita yang fana, tidak sempurna, dan dicemari dosa, dan menolong kita melihat keindahan Allah sebagaimana adanya.

MK kemudian menanggapi para komentator Kafka yang menerangkan bahwa novel-novel Kafka sebagai parabel religius, ataupun yang menurut pandangan orang-orang bahwa karya-karya Kafka adalah gagasan sosiologis atau politis yang mengkritik kapitalisme. Menurut MK, Kafka tidak menulis alegori-alegori religius, tetapi fenomena kafkian tersebut memang tak bisa terpisahkan dari dimensi teologisnya atau lebih tepatnya pseudoteologis. Sementara mengenai ideologi, karya Kafka justru menyajikan satu kenyataan fundamental manusia dan dunianya. Mungkin inilah yang dinamakan disajikan sebagaimana adanya.

Dari cuplikan-cuplikan kisah di bagian lima ini, terkesan kalau MK ingin menunjukan bahwa ada semacam lelucon di balik kisah-kisah yang hampir mirip dengan (kalau dengan kacamata saya) cerita-cerita bocah yang polos, menyedihkan, memprihatinkan, penuh ironi, membuat gemas, geram, dan bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam, “Kok bisa, ya?” Contoh kisah itu seperti sang insinyur dari Praha, atau pengukur tanah K, atau penyair A, atau juga kisah seorang ibu bersama anaknya.

Jadi, seserius apapun kita mau memaknai hidup, mau banting tulang, peras keringat, kuras tenaga, terengah-engah mendaki gunung, tertatih-tatih merangkak, berasa putus ada dan mau depresi karena problem hidup tak kunjung selesai seperti labirin tak berujung, ada baiknya kita perlu berhenti sebentar. Berkacalah dan tertawalah. Tertawakan dirimu. Dirimu sendiri, bukan orang lain –biarkanlah orang lain menertawai dirinya sendiri. Tertawalah dan ingat, segala sesuatu adalah sia-sia, seperti kata Pengkhotbah. :p 😀 😀

Bagian enam, Enam Puluh Tiga

Bermula dari kekecewaan MK atas hasil terjemahan buku-bukunya terutama The Joke ke dalam bahasa dunia barat, oleh ajakan seorang kawannya, MK menulis kamusnya sendiri yang berjumlah 63 kata. Kamus untuk novel-novelnya. Kumpulan kata-kata kunci, kata-kata bermasalah, kata-kata yang ia cintai, dan jadilah kamus mini tersebut. Dimulai dari kata ada (being) dan berakhir dengan yang tiada (non being).

Bagian ketujuh, Pidato Jerusalem: Novel dan Eropa

Di sinilah terdapat kutipan pepatah lama Yahudi yang keren itu, Saat manusia berpikir, Tuhan tertawa. Pada bagian terakhir inilah adalah isi pidato MK saat dianugerahi Jerusalem Prize tahun 1985.

Di bagian ini, saya ingin mengulang apa yang dituliskan Anton Kurnia dalam pengantarnya tentang tiga iblis versi MK. Iblis pertama adalah agelaste, mereka yang tak bisa tertawa. Kaum ini mengancam seni novel karena tak mampu menerima kebenaran terbuka. Mereka menolak kebenaran sebagai pencarian dan mengharamkan pertanyaan. Iblis kedua adalah mereka yang menerima ide-ide tanpa berpikir. Ini semacam virus yang meracuni kebutuhan manusia akan pembebasan, berolah nalar, bertanya, dan berimajinasi. Sementara yang ketiga, kitsch alias minor art, yang menyalin kebodohan menerima ide tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan. Kitsch mendiktekan gaya hidup yang musti diikuti setiap orang agar menjadi normal dan tak ketinggalan zaman. Setiap orang musti ngepop dan gaul agar tidak aneh.

fingerpointing
Sumber: CJ Birch Files

Nah, coba renungkan tiga jenis iblis ini. Jangan dulu celingukkan mencari dan menuduh orang lain. Coba lihat pertama-tama ke dalam dirimu. Jangan-jangan kau penganut salah satu di antara ketiganya…:)

Demikian ringkasan saya atas buku Art of Novel. Sejujurnya saya menyadari, catatan ini belum sepenuhnya mewakili isi buku tersebut. Semoga seiring berjalannya waktu, wawasan saya makin bertambah sehingga bisa saya perbaiki bolong-bolong dalam catatan pendek ini… 🙂

Oh, ya, sebelum menutup. Ada yang mau saya tambahkan. Ini di luar isi buku. Selama membaca, saya cukup terganggu dengan penempatan kata ‘di’ pada teks-teks buku ini. Terdapat banyak sekali ketidaksesuaian. Padahal penerbit dan pencetaknya adalah Jalasutra. Itu saja. Sekian dan terima kasih. 🙂

Merayakan Keseharian

Thanks to Thee

big_thumb
Sumber: slideplayer.com

Banyak peristiwa sebenarnya yang menimpa dan saya tahu bahwa masih ada penyertaan Tuhan buat saya — setiap orang pun begitu tentunya. Namun pagi ini, saya merasa terdorong mencatat sesuatu sesegera mungkin. Saya punya waktu sebentar sebelum ke sekolah guna pembagian rapor.

Pagi ini saya merasa berbahagia masih memegang HP saya yang sekarang ada di tangan saya bahkan sementara saya mengetik ini pun di notes HP saya. HP saya ini walau sudah tergolong butut, setidaknya ia masih bersama saya sebab banyak kenangan bersamanya…:p

Ceritanya sepulang sekolah kemarin, malamnya saya bersama teman saya menghadiri acara ibadah syukur pernikahan kakak laki-laki seorang teman, tepatnya calon kepsek kami. Rumahnya di Airnona. Kami pergi kira-kira jam 8 lewat. Sesampainya di sana kami disambut langsung sang tuan pesta di tempat parkir malahan. Selesai saya memarkir motor, saya melepas kaos tangan dan kaos kaki. Selanjutnya saya melepas jaket panjang saya. Di dalam kantong jaket yang kata kawan saya jaket itu mirip jubah-jubah para suster sampai suatu kali pernah saya dikira suster oleh orang di taman budaya dulu, ada HP saya di sana. Karena jaket itu mesti saya masukan di bagasi motor, HP lantas pikir saya untuk sementara simpan saja di tempat duduk satu motor di sebelah saya dengan maksud nanti kalau sudah selesai memasukan jaket dan mengaitkan tali helm ke dalam bagasi baru saya ambil HP-nya. Nyatanya tidak.

Seusai menutup bagasi dan menekannya, saya dan teman saya langsung menyalami sang kakak tuan pesta sesuai  tradisi budaya lazimnya di Kupang. Setelah itu kami diantar bergabung dengan kawan-kawan lain yang sudah tiba lebih dahulu. Mereka sementara menikmati makanannya.

Di sana saya larut mendengarkan cerita mereka atau sesekali menanggapi cerita mereka atau saling mengobrol hal-hal lainnya. Tak lama kemudian muncul kawan kami yang adalah adik dari sang tuan pesta. Setelah kami disalami, ia bergabung sebentar dalam obrolan sebelum kemudian kami langsung disuruh mengambil makan. Kami lantas menuju tempat makan yang mungkin belasan meter jaraknya. Seusai mengambil makan kami kembali ke tempat duduk semula. Menikmati makan di antara teman-teman kami yang sudah menyelesaikan bagian mereka.

Seusai makan, sesuai rencana, kami akan melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu teman kami, seorang guru SD yang sementara berduka karena ibunya baru saja dipanggil pulang hari kemarinnya. Mencoba melihat HP karena saya tak mengenakan jam tangan, HP malah tak ada. Di kantong celana dan tas yang saya sandang pun demikian. Berpikir sebentar, untungnya saya tak sampai panik dan heboh seperti biasanya. Saya ingat kalau tadi HP saya simpan di tempat duduk satu motor tepat di samping motor saya. Segera saya melangkah cepat menuju tempat parkir yang tak jauh dari tempat kami duduk. Terpujilah Dia Sang Empunya Daulat, HP itu masih tergeletak manis seperti posisi semula yang saya simpan. Segera saya ambil dan kembali di tempat duduk tanpa saya bilang pada siapa-siapa kecuali kawan di samping saya yang lantas meresponsnya dengan, yah…itu satu bentuk penyertaan Tuhan. Kalau tidak kau bisa larut bermenung berhari-hari. Bermenung yang ia maksud adalah saya akan tampak murung berhari-hari dan itu bukan tampakan saya biasanya.

Kisah semalam itu nyaris mirip dengan kisah bulan November 2015. Waktu itu ketika menghadiri acara duka seorang kerabat di Batuplat, saya lupa mencabut kunci motor. Di bawah tenda duka saya boleh mengobrol ria dengan kawan sepupu saya tentang idola saya – ya, ampun, ini memang mengerikan dan menyedihkan. Tapi saya masih ingat betul, bahwa topik obrolan adalah orang itu memang. Sedih… Cukup sedih dan kaco memang. Syukurnya, demikian penyertaan Tuhan selalu ada untuk saya. Hampir sejam lebih di bawah tenda duka, kami pamit pulang. Di jalan menuju tempat parkir, baru saya mencari-cari di mana kunci motor saya. Satu hal yang saya takutkan adalah jangan-jangan kunci motor itu saya lupa cabut dan orang bisa membawa lari motor saya. Syukurnya, di tempat parkir, saya gembira sekali melihat motor saya masih ada. Sayangnya, dompet yang entah kenapa baru kali itu saya simpan di bagasi motor (sebab bukan kebiasaan saya dan saya pun tak pernah mau menyimpan barang berharga di bagasi motor) dibongkar orang. Semua uangnya diambil. Semua surat dan kartu-kartu penting di dalamnya ditinggalkan utuh tanpa diambil atau dibuang. Saya boleh bersedih karena uang yang baru sorenya saya ambil di ATM sejumlah ratusan ribu ludes. Tapi saya tetap bersyukur selain sebagai pembelajaran buat saya lebih berhati-hati lagi di tempat umum, orang itu hanya mengambil uangnya, dan masih menyisakan saya ‘nyawa’ untuk tetap hidup. Motor tetap ia tinggalkan buat saya. Demikian dompet dan isinya selain uang. Walau saya mengalami perenungan yang panjang sesudah tragedi itu, saya tetap berterima kasih kepada Tuhan atas penjagaan-Nya.

Demikian coretan singkat saya hari ini. Terlepas dari kecerobohan saya, saya menyaksikan Tuhan masih tetap menunjukkan kebaikan-Nya kepada saya. Thanks to Thee.

Kupang,

Selasa, 14 Jun’16; pukul 07.18 wita

Merayakan Keseharian

Blog

Kalau kemarin saya ‘beria-ria’ bersama bocah-bocah manis kelas 7.1 di lapangan sekolah,  serta dengan rekan-rekan kami jalan-jalan survei tempat di luar kota, maka hari ini hampir seharian waktu saya terpakai hanya untuk mengutak-atik internet dengan segala tetek-bengeknya. Masalahnya adalah satu blog yang kurang lebih 3 atau 4 tahun dikelola, selama satu tahun terakhir ini tak saya buka lagi, jadinya sekarang saya malah lupa sama sekali username, password, bahkan email ketika mendaftar untuk membuat blog tersebut. Tentang blognya, memang masih ada. Tapi alamatnya itulah yang entah sudah terkubur di mana atau sudah berpindah ke dimensi lain mungkin.

Sekarang saya sementara punya waktu menulis di jam sekolah karena kegiatan belajarnya sudah tak ada. Anak-anak manis itu sudah selesai EBAS, dan agendanya mengikuti agenda kegiatan ‘After EBAS’, begitu mereka menyebutnya yakni meliputi ujian susulan di hari pertama, magang  untuk permulaan hari kedua dan ketiga –anak-anak sudah belajar magang walau baru bermula di rumah untuk kelas 7 dan 8, sementara kemarin kelas 9-nya seusai UN mereka magang di SD, perpustakaan, kantor sekolah, hypermart, dan matahari dept store. Hari keempat dan seterusnya meliputi hari literasi, sport day, art day, seminar iman, nasionalisme, dan beberapa tema lainnya. Tentunya di hari-hari begini saya cukup punya waktu luang di jam sekolah.

Hari ini rencananya seusai art day dan bertepatan juga anak-anak sudah pada pulang, agendanya adalah rapat pembahasan pembagian jurusan untuk kelas 11. Karena rapat itu pesertanya hanya untuk pengajar SMA, kami yang SMP jadi punya free time…(horee…ikut ekspresi anak-anak kalau dibilang free time;)).  Jadi, mumpung masih jam sekolah, dan dapat free time, ada baiknya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sekolah. Maka itu saya putuskan, saya mau buka kembali blog lama itu. Sayang, karena sudah setahun tak saya tengok-tengok lagi, lupalah saya bagaimana harus kembali ke sana…

Kasihan jadinya. Blog itu memang awalnya tidak diinstruksikan siapa-siapa harus dibuat. Hanya memang waktu itu karena baru awal-awal datang – dari tempat rantau kembali ke kota karang tercinta – dan memang sedang giat-giatnya ingin mengenalkan kehadiran sekolah yang baru saja ada, jadilah dengan semangat 45 saya buat dan berlagak jurnalis andal, kegiatan-kegiatan sekolah sekecil apapun diliput dan dibawa ke sana.

Sekarang, beberapa orang – yang terdengar di telinga saya dan  yang  saya tahu– bertanya apa kabar blog itu? Waduh, ampun deh. Bagaimana ini saya harus jawab. Bagaimana ‘rumah’ – begitu yang  saya tahu orang-orang sering menyebut blog-blog pribadi mereka – yang sudah diusahakan ada kok sekarang malah tak terurus lagi…:( Memang secara stuktur/lembaga/organisasi, tak ada hukuman/sangsi semacam seorang siswa menghilangkan buku raportnya dan harus membayar denda berapa puluh ribu rupiah, atau tak menerima rapor/atau sangsi-sangsi semacam itulah, tapi masalahnya blog itu sudah terlanjur dikenal orang, khususnya yang mengikuti perkembangan sekolah. Contoh saja, sebulan lalu waktu akreditasi SMA, beberapa rekan mengaku cukup terbantu dengan adanya blog itu sehingga mereka bisa mengakses beberapa informasi ataupun dokumentasi yang dibutuhkan dalam akreditasi. Bukan hanya itu. Bahkan dari fakultas (teacher’s college) di UPH Karawaci sana pun, saya dikirimi email, mereka meminta izin mengambil beberapa dokumentasi karya para alumni dari blog itu dalam rangka perayaan 10 tahun berdirinya TC. Tuh, kan, setidaknya itu blog ada manfaatnya juga di kemudian hari yang walau hari ini mungkin kau bilang, ya, biasa saja, ya, sudahlah, intinya kau menikmati hari ini…:( Nah, sekarang, baru celingukkan…

{Apa ini yang sudah kau gaung-gaungkan ke anak-anak? Apa 3R sekarang hanya sekadar pajangan di dinding ruang kelas? }

Sedih sekali sesuatu sudah dibangun berpayah-payah lalu diabaikan? Astaga, sepertinya masalah blog ini kalau diaplikasikan ke masalah lain-lain, ia bisa jadi pelajaran hidup betul. Seandainya ia adalah anakan pohon, dia bisa saja bilang, kalau tahu saya bakal disia-siakan begini, lebih baik dari awal tak usah saya ditanam. Seandainya ia seorang anak, ia bisa saja berpikir tentang orang tuanya, kalau tahu saya bakal diabaikan begini, akan lebih baik tak usah kau buat saya muncul di bumi. Atau, semacam engkau buka usaha lalu orang lain yang melihat, waduh…daripada disia-siakan setelahnya, ya, lebih baik dari awal tak usah saja kau tabung berlama-lama, payah-payah kau berpikir cari ide, pontang-panting cari tempat, pontang-pantng hubungi orang, dan segala macam upaya demi sebuah usaha sekalipun mini ia bisa berdiri. Capek percuma…:p (tarik napas dan elus dada).

Entah ini coret-coret, entah ini sekadar membebaskan pikiran kalut, entah ini meluapkan penyesalan, entah ini apalagi mau orang namakan, pokoknya di sini saya mau membongkar tentang saya. Dari awal-awal saya selalu menyangkal ketika dibilang kawan-kawan saya terlalu plegma, mungkin ini ada benarnya juga. Ini plegma akut jangan-jangan. Bukan hanya masalah blog, tapi dalam hal-hal lain pun saya sudah seringkali ‘rugi’ dan bersusah hati gara-gara minus dari plegma ini demikian dominan.

Setiap penyesalan datang akibat terbawa santai/cuek/atau boleh saya dicerca telah terlena, saya selalu bilang, ok, lain kali lebih hati-hati lagi, lain kali lebih waspada, lain kali mikir dulu, lain kali jangan kelewat cuek, lain kali lebih tenang, lain kali, lain kali, dan lain kali…Ya *****, sudah berapa banyak ‘lain kali’ terucap dari mulut saya.

Mungkin sudah ini yang namanya pelajaran hidup tidak semudah pelajaran-pelajaran di sekolah bahkan matematika seperti yang umumnya dikeluhkan anak-anak. Jangan-jangan kalau di sekolah kehidupan, saya salah seorang yang tak kunjung naik kelas untuk yang di bidang ini, ‘tatahan terus di kelas bawah’ orang Kupang bilang.

Baiklah, sekarang, tolong, mikir. Mikir! Jang terlalu anggap remeh itu minus dari plegma. Soalnya itu juga penyakit yang kalau sonde diobati bisa berdampak lebih parah. Apa lu mau? Lu siap terima dan jalani konsekuensi? Oh, (BIG) NO, Thanks.

Sekarang, ini wordpress selama masih dalam keadaan baik dan dalam kendali kau, maka baik-baiklah kau merawatnya. Kasihan juga ia tak kau tengok-tengok. Padahal sewaktu awal membangunnya, kau sudah melalui yang namanya pencarian panjang. Mau berungkap tapi tak tahu mesti pada apa/siapa/di mana/seperti apa/bagaimana…:p

### Btw* (catatan ‘btw’ ini ada untuk mengingatkan saya kalau kembali abai).

Btw, tulisan ini agak tidak terstrukur memang, tapi ya demikianlan adanya. Saya hanya ingin menulis bebas, jadi saya mengetikkan saja apa yang mau dikeluarkan kepala saya)

*Saya punya solusi –katakanlah begitu– untuk masalah saya di atas. Solusinya ada jangka pendek dan jangka panjang –mungkin seumur hidup kali ya. Jangka pendeknya, libur kali ini kalau bisa salah satu agendanya saya mau belajar dasar-dasar IT. Jangka panjangnya berkaitan dengan minusnya plegma itu. Matikan sudah kebiasaan lama yang suka menunda yang akhirnya ketika sudah sibuk dengan kegiatan lain lalu rencana awal jadi dilupakan dan diabaikan. Plus, list-list itu jangan hanya dibuat untuk kemudian diabaikan.  Maksudnya adalah: Tengok dan Kerjakan!

Terima kasihku kepada Engkau… 🙂