Kabar diterima di UPH Teachers College

Siang itu, 11 April 2007. Aku sementara berjalan menyusuri aspal sepulang sekolah. Bersama beberapa kawan sekampung menuju tempat kami biasanya menunggu bemo. Kami tak langsung menunggu bemo di jalan cabang masuk sekolah. Kami justru lebih suka menjemput ke arah utara, ke arah datangnya bemo. Tempat itu adalah bekas poskamling dulu. Di sampingnya tumbuh sebatang pohon asam yang besar dan berdaun rimbun. Pada musimnya berbuah, kami biasanya membawa gula pasir atau membeli gula lempeng untuk membuat manisan sambil menunggu datangnya bemo.

Pada rambut dan sekujur tubuhku masih menempel sisa-sisa terigu bercampur telur busuk dan air comberan. Baunya sungguh menjijikkan. Andai saja aku dapat mandi lebih dahulu dan berganti pakaian sebelum keluar menunggu bemo untuk pulang ke rumah. Ada seorang kawan baik yang sudah menawariku mandi di rumahnya dan katanya boleh mengenakan pakaiannya. Aku mau sebenarnya. Tapi kalau begitu kapan aku selesai mandi dan berganti pakaian sementara teman-teman sekampungku sudah lebih dahulu ke jalan raya menunggu bemo. Aku tak mau ditinggal sendiri. Mungkin kawanku bisa menemani menunggu bemo berikutnya. Masalahanya bisa-bisa sudah maghrib baru aku tiba di rumah.

Maka itulah, sambil menuju ‘halte’ kami, aku mengais-ngais sisa-sisa campuran terigu dan telur busuk dari rambut dan badanku.

Sebelumnya di sekolah, aku sudah mengumpat teman-temanku habis-habisan. Aku sudah mewanti-wanti mereka sejak jauh-jauh hari. Tak boleh aku diperlakukan sebagaimana mereka biasanya memperlakukan setiap anak yang berulangtahun. Aku protes keras ketika mendengar ada desas-desus bahwa akupun akan diperlakukan sama seperti teman-teman lain. Kuingatkan mereka, selama ini pun aku tak pernah setuju dan tak pernah bergabung dengan mereka tatkala mereka berembuk dan menyiram kawan yang berlang tahun dengan campuran terigu, telur busuk, ditambah air comberan.

Menanggapi peringatanku, mereka manggut-manggut. Aku sempat melihat mereka saling melirik dan tertawa cekikan. Mereka pasti sudah bersekongkol. Kubiarkan mereka. Seusai apel siang, aku berniat cepat-cepat keluar dari barisan. Tak kusangka aku kalah cepat dari komplotan mereka. Segera saja aku disiram di tengah lapangan. Anak-anak yang baru bubar dari barisan tentu saja segera tahu aku berulang tahun. Beberapa di antaranya segera datang menyalami. Walau dongkol, tetap saja aku mesti meladeni mereka. Kawan-kawanku yang bersekongkol itu bersorak senang penuh kemenangan.

Katanya, itu hadiah dan kenangan dari mereka. Ini sudah kelas akhir SMA. Sebentar lagi pisah. Kenangan apalagi yang bisa diciptakan untuk saling mengingat satu sama lain. Tak peduli AKU pernah terlibat atau tidak dalam aksi siram-siraman terigu dan telur busuk kepada teman lain. Mendengar ungkapan mereka, aku tak menanggapi lagi. Toh, semua sudah terjadi.

  1. Di jalan sambil menarik-narik sisa-sisa gumpalan terigu di rambut itulah terdengar ponsel yang kusimpan di dalam tas berdering. Sebuah telepon masuk dari nomor baru. Bukan nomor area Kupang.

“Selamat siang. Apa betul ini dengan Anice?” Nada suara itu terdengar bukan seperti orang Kupang.

Aku pun mengiyakan setelah kupastikan diriku tenang ketika menjawab.

“Baiklah, Anice. Ini kami dari UPH Teachers College. Kami sudah memeriksa berkas-berkasmu. Hasil wawancaramu juga sudah kami pelajari,” jelas suara di seberang. “Keputusannya,” suara itu terhenti sebentar. “Selamat, Anice. Kau diterima bergabung di UPH Teachers College.”

Segala kedongkolan dan umpatan tak terucap hari itu karena siraman terigu campur telur busuk dengan air comberan sekejap sirna. Telah tergantikan oleh kabar yang telah lama dinanti-nantikan. Mulutku sampai bergetar mengucapkan terima kasih sebelum telepon di seberang sana ditutup. Aku tak dapat menahan diri. Mataku berasa panas. Bergulir air mataku menuruni pipi. Setelah hampir lima bulan statusku berada dalam daftar tunggu atau yang mereka istilahkan dengan waiting list akhirnya di hari istimewaku diberi kepastian. Mimpiku beberapa malam lalu berada satu pesawat dengan Ibu Ani Yudhoyono, istri presiden RI kala itu, pelan-pelan mulai tersingkap. 😀 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s