Gempa Tengah Malam

Tahun pertama kuliah. Tahun 2007. Asrama yang sedianya akan ditempati para mahasiswa belum jadi. Jadi kami masih menumpang di apartemen Menara Matahari.

clock_spring_forward_animated

Sumber: RayFowler

Saat itu setahuku sudah lewat tengah malam. Mungkin antara pukul satu. Sebab seingatku aku pulang dari lantai atas di lantai cowok seusai mengerjakan tugas fisika setengah 12 malam.

Sesampainya di kamar, aku hanya sempat membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan kampus sebentar sebelum kemudian jatuh tertidur, dan rasanya kesadaranku masih antara baru mau pulas dan belum ketika kudengar suara ribut-ribut begitu kencang di telinga ditambah kakiku ditarik-tarik seseorang dengan cemas. Terkejut bangun aku mengangkat kepala dan menengok.

Seseorang sedang berada di kaki tempat tidurku.

“Gempa, Anice,” suaranya terdengar panik dan cemas. “Ayo, keluar. Turun ke bawah.” Sementara ia mengeluarkan kata-kata itu, ia sudah meraup jaketnya dan segera berlari keluar kamar.

Di luar suara teriakan begitu riuh. Segera kuduga pintu depan sedang dibuka. Ribut sekali suara  di lorong-lorong kamar.

Tak berpikir panjang lagi apa yang mesti kubawa, segera aku melompat turun dari tempat tidur. Aku tak ingat lagi aku melompat turun dari tempat tidur setinggi dua meter ke lantai. Tak sempat meraih apa-apa lagi untuk dibawa, aku berlari ke luar kamar. Sempat aku menengok ke kamar berenam, sudah tak ada lagi orang di sana. Di ruang tamu dan dapur pun demikian. Semua sudah keluar. Berarti aku orang terkahir di kamar 3805. Aku segera menuju pintu keluar. Tak sempat lagi aku mengenakan sandal. Pintu tetap kubiarkan terbuka. Bergerak ke arah lobi mengikuti arus. Riuh aba-aba menginfokan, “Lift mati. Tak bisa dipakai. Semua harus lewat tangga darurat.”

tangga-darurat-dalam

Sumber: bestananda

Terseret arus, kami pun berdesakan di tangga darurat. Perempuan dan laki-laki. Tak ada pikiran lain di kepalaku yang baru kaget bangun selain rasa takut yang mencekam bahwa gedung tinggi ini akan runtuh dan kami calon pendidik negeri yang datang dari ujung Sumatera hingga Papua akan tertimbun mati di antara puing-puing reruntuhannya. Seingatku kalau di rumah dulu, setiap kali gempa bumi, seisi penduduk kampung akan berteriak dan bising tiang listrik dipkul bertalu-talu tak beraturan.

Malam itu kami berdesakan di tangga darurat. Dari batas pagar tangga, aku sempat melongok ke bawah, sekadar ingin tahu masih sejauh apa untuk mencapai lantai dasar. Masih jauh ternyata. Tampakan kami seperti gelungan ular yang sedang melengser menyusuri tangga darurat yang tak kunjung berujung. Di bawah sana, memang sudah banyak orang yang juga juga tergesa-gesa.  Dengung suara manusia memenuhi lorong tangga darurat. Gumam doa terdengar dengan berbagai nada. Seiring doa digulirkan, gerakan kaki pun dipercepat. Saat-saat seperti itu, kami tak kenal lagi mana kawan mana lawan mana kawan kamar mana orang lain mana perempuan mana laki-laki. Semua orang berusaha mencapai lantai dasar demi bisa keluar dari gedung ini. Dan rasanya tangga darurat gedung ini seperti begitu panjang.

*Lanjutan cuplikan cerita Gempa Tengah Malam 2

Iklan

One comment on “Gempa Tengah Malam

  1. […] *Lanjutan dari Gempa Tengah Malam (1) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s