Gempa Tengah Malam 2

*Lanjutan dari Gempa Tengah Malam (1)

Setelah berdesak-desakan tangga darurat yang rasanya lama sekali itu, kami tiba di lantai dasar dan segera berlari menuju pintu keluar.

lippo-karawaci

Gedung tertinggi itulah Apartemen Menara Matahari di Lippo Karawaci. Sumber gambar: tempatwisataunik.com

Di pelataran itulah baru aku sadar kedua lututku gemetar. Kubayangkan kembali betapa berapa banyak anak tangga yang kami tapaki dalam keadaan setengah sadar setengah tidur. Dari lantai 38 smpai lantai dasar di lantai satu. Berapa kilokah itu kalau diukur seperti jarak jalan mendatar. Napasku ngos-ngosan. Aku tak mampu berbicara dengan siapa-siapa. Hanya terduduk menselonjorkan kaki dan memperhatikan gedung di depan kami menunggu-nunggu apakah betul ia akan runtuh, dan kalau misalnya runtuh, kira-kira butuh berapa detik mesti kami pakai untuk berlari jauh menghindarinya.

Sambil berpikir-pikir ke gedung itulah aku mengamati keadaan sekelilingku.  Rupanya sudah banyak sekali orang yang ada di sana. Hampir semua mereka membicarakan kejadian gempa bumi. Ada yang menceritakannya dengan suara gemetar, ada pula yang bercerita dengan antusias, ada pula yang di wajahnya masih menampakan raut cemas dan mencekam, ada pula yang hanya berdiam dan menatap orang-orang di sekelilingnya seperti kebingungan.

Aku sendiri karena tak melihat kawan kamar, hanya mengedarkan pandangan ke orang-orang sekitar melihat reaksi mereka. Ingin mengajak orang lain berbagi ekspresi tapi semua wajah mereka tak begitu kukenal dekat.

Di antara riuh percakapan itu, ada yang saling bersikut dan berbisik-bisik. Rupanya karena kejadian yang mendadak di malam buta membuat sebagian besar orang terburu-buru sehingga lupa pakaian seperti apa yang sedang mereka kenakan atau barang apa yang harusnya dibawa.

Di antara banyak orang yang bertebaran di pelataran itu tak jarang yang hanya berpakaian pendek, hanya memakai short dan baju dalam, ada yang tak sempat bersandal, ada yang berkaos kaki karena tak cocok denga ruang ber-AC,  ada yang masih sempat-sempatnya membawa diktat-diktat kuliah karena ketika gempa ia sementara belajar, ada yang membawa remote TV dan dikiranya itu adalah membawa HP, ada yang terbungkus selimut, ada yang memeluk bantal atau guling, ada pula yang membawa boneka, dan beragam penampakan lainnya. Penampakan-penampaan saat itu kemudian menghilangkan ketegangan. Bahkan ada beberapa anak laki-laki yang hanya bercelana kolor. Ketika mereka dikomentari, justru respons mereka tampak dibawa santai. Mereka saling bersikut dan menggoda satu sama lain kemudian tertawa. Inilah yang kemudian yang paling banyak membuat tawa dan cukup mencairkan suasana dan membuat wajah-wajah mencekam jadi lunak kembali.

Aku sendiri untungnya bercelana pendek walau agak tipis dengan kaos yang agak besar dan panjang sehingga cukup menutupi bagian bawahku. Sandal untung sempat kuraih ketika mau keluar dari pintu kamar.

Aku berkeliling mencari kawan-kawan kamarku yang lain. Ketika melihat ada yang sementara memegang HP dan menelpon keluarganya mengabari, bahkan ada yang sampai menelpon sambil menangis-nangis, aku baru ingat aku sendiri tak sempat membawa HP. Ketinggalan di atas.

Di dekat pagar kampus, kutemukan beberapa anggota kamarku sedang bersandar. Mereka saling bertanya mana anggota-anggota yang lain. Aku bergabung dengan mereka. Kami menunggu informasi selanjutnya. Apakah kami bisa kembali naik ke kamar, ataukah masih harus menunggu sampai berapa lama.

Kuedarkan pandang, terlihat beberapa sudah mulai bergerombol dengan anggota kamarnya masing-masing. Ada yang meminta izin securuty pergi duduk-duduk di bangku taman. Ada yang keluar jalanan melihat satu dua kendaraan yang masih berlalu lalang di sekitaran benton Junction.

“Kalian semua lengkap anggota kamarnya?” kudengar seseorang bertanya di dekat kami. Menoleh, ternyata ia seorang kakak kami dari daerah yang sama. Ia kakak yang sedang mengambil studi masternya. Di kampus ini, ia serupa menjadi kakak laki-laki dan pelindung bagi kami.

Beberapa kami menyahut, ya.

“Mana Merthin, Ice, Novi, dkk?”

“Mungkin ada di tempat lain.”

“Saya belum ketemu. Dari semua kumpulan yang saya tengok, hanya mereka sekamar yang tak tampak seorang pun,” walau kalimatnya demikian, tak tampak ada kepanikan pada wajah ataupun suaranya. Ia tetap terlihat tenang.

Baru kami saling pandang. Rupanya, tak ada satu orang pun yang tampak dari kamar 3806, kamar tetangga kami.

Iklan

One comment on “Gempa Tengah Malam 2

  1. […] *Lanjutan cuplikan cerita Gempa Tengah Malam 2 […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s