Blog

Kalau kemarin saya ‘beria-ria’ bersama bocah-bocah manis kelas 7.1 di lapangan sekolah,  serta dengan rekan-rekan kami jalan-jalan survei tempat di luar kota, maka hari ini hampir seharian waktu saya terpakai hanya untuk mengutak-atik internet dengan segala tetek-bengeknya. Masalahnya adalah satu blog yang kurang lebih 3 atau 4 tahun dikelola, selama satu tahun terakhir ini tak saya buka lagi, jadinya sekarang saya malah lupa sama sekali username, password, bahkan email ketika mendaftar untuk membuat blog tersebut. Tentang blognya, memang masih ada. Tapi alamatnya itulah yang entah sudah terkubur di mana atau sudah berpindah ke dimensi lain mungkin.

Sekarang saya sementara punya waktu menulis di jam sekolah karena kegiatan belajarnya sudah tak ada. Anak-anak manis itu sudah selesai EBAS, dan agendanya mengikuti agenda kegiatan ‘After EBAS’, begitu mereka menyebutnya yakni meliputi ujian susulan di hari pertama, magang  untuk permulaan hari kedua dan ketiga –anak-anak sudah belajar magang walau baru bermula di rumah untuk kelas 7 dan 8, sementara kemarin kelas 9-nya seusai UN mereka magang di SD, perpustakaan, kantor sekolah, hypermart, dan matahari dept store. Hari keempat dan seterusnya meliputi hari literasi, sport day, art day, seminar iman, nasionalisme, dan beberapa tema lainnya. Tentunya di hari-hari begini saya cukup punya waktu luang di jam sekolah.

Hari ini rencananya seusai art day dan bertepatan juga anak-anak sudah pada pulang, agendanya adalah rapat pembahasan pembagian jurusan untuk kelas 11. Karena rapat itu pesertanya hanya untuk pengajar SMA, kami yang SMP jadi punya free time…(horee…ikut ekspresi anak-anak kalau dibilang free time;)).  Jadi, mumpung masih jam sekolah, dan dapat free time, ada baiknya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sekolah. Maka itu saya putuskan, saya mau buka kembali blog lama itu. Sayang, karena sudah setahun tak saya tengok-tengok lagi, lupalah saya bagaimana harus kembali ke sana…

Kasihan jadinya. Blog itu memang awalnya tidak diinstruksikan siapa-siapa harus dibuat. Hanya memang waktu itu karena baru awal-awal datang – dari tempat rantau kembali ke kota karang tercinta – dan memang sedang giat-giatnya ingin mengenalkan kehadiran sekolah yang baru saja ada, jadilah dengan semangat 45 saya buat dan berlagak jurnalis andal, kegiatan-kegiatan sekolah sekecil apapun diliput dan dibawa ke sana.

Sekarang, beberapa orang – yang terdengar di telinga saya dan  yang  saya tahu– bertanya apa kabar blog itu? Waduh, ampun deh. Bagaimana ini saya harus jawab. Bagaimana ‘rumah’ – begitu yang  saya tahu orang-orang sering menyebut blog-blog pribadi mereka – yang sudah diusahakan ada kok sekarang malah tak terurus lagi…:( Memang secara stuktur/lembaga/organisasi, tak ada hukuman/sangsi semacam seorang siswa menghilangkan buku raportnya dan harus membayar denda berapa puluh ribu rupiah, atau tak menerima rapor/atau sangsi-sangsi semacam itulah, tapi masalahnya blog itu sudah terlanjur dikenal orang, khususnya yang mengikuti perkembangan sekolah. Contoh saja, sebulan lalu waktu akreditasi SMA, beberapa rekan mengaku cukup terbantu dengan adanya blog itu sehingga mereka bisa mengakses beberapa informasi ataupun dokumentasi yang dibutuhkan dalam akreditasi. Bukan hanya itu. Bahkan dari fakultas (teacher’s college) di UPH Karawaci sana pun, saya dikirimi email, mereka meminta izin mengambil beberapa dokumentasi karya para alumni dari blog itu dalam rangka perayaan 10 tahun berdirinya TC. Tuh, kan, setidaknya itu blog ada manfaatnya juga di kemudian hari yang walau hari ini mungkin kau bilang, ya, biasa saja, ya, sudahlah, intinya kau menikmati hari ini…:( Nah, sekarang, baru celingukkan…

{Apa ini yang sudah kau gaung-gaungkan ke anak-anak? Apa 3R sekarang hanya sekadar pajangan di dinding ruang kelas? }

Sedih sekali sesuatu sudah dibangun berpayah-payah lalu diabaikan? Astaga, sepertinya masalah blog ini kalau diaplikasikan ke masalah lain-lain, ia bisa jadi pelajaran hidup betul. Seandainya ia adalah anakan pohon, dia bisa saja bilang, kalau tahu saya bakal disia-siakan begini, lebih baik dari awal tak usah saya ditanam. Seandainya ia seorang anak, ia bisa saja berpikir tentang orang tuanya, kalau tahu saya bakal diabaikan begini, akan lebih baik tak usah kau buat saya muncul di bumi. Atau, semacam engkau buka usaha lalu orang lain yang melihat, waduh…daripada disia-siakan setelahnya, ya, lebih baik dari awal tak usah saja kau tabung berlama-lama, payah-payah kau berpikir cari ide, pontang-panting cari tempat, pontang-pantng hubungi orang, dan segala macam upaya demi sebuah usaha sekalipun mini ia bisa berdiri. Capek percuma…:p (tarik napas dan elus dada).

Entah ini coret-coret, entah ini sekadar membebaskan pikiran kalut, entah ini meluapkan penyesalan, entah ini apalagi mau orang namakan, pokoknya di sini saya mau membongkar tentang saya. Dari awal-awal saya selalu menyangkal ketika dibilang kawan-kawan saya terlalu plegma, mungkin ini ada benarnya juga. Ini plegma akut jangan-jangan. Bukan hanya masalah blog, tapi dalam hal-hal lain pun saya sudah seringkali ‘rugi’ dan bersusah hati gara-gara minus dari plegma ini demikian dominan.

Setiap penyesalan datang akibat terbawa santai/cuek/atau boleh saya dicerca telah terlena, saya selalu bilang, ok, lain kali lebih hati-hati lagi, lain kali lebih waspada, lain kali mikir dulu, lain kali jangan kelewat cuek, lain kali lebih tenang, lain kali, lain kali, dan lain kali…Ya *****, sudah berapa banyak ‘lain kali’ terucap dari mulut saya.

Mungkin sudah ini yang namanya pelajaran hidup tidak semudah pelajaran-pelajaran di sekolah bahkan matematika seperti yang umumnya dikeluhkan anak-anak. Jangan-jangan kalau di sekolah kehidupan, saya salah seorang yang tak kunjung naik kelas untuk yang di bidang ini, ‘tatahan terus di kelas bawah’ orang Kupang bilang.

Baiklah, sekarang, tolong, mikir. Mikir! Jang terlalu anggap remeh itu minus dari plegma. Soalnya itu juga penyakit yang kalau sonde diobati bisa berdampak lebih parah. Apa lu mau? Lu siap terima dan jalani konsekuensi? Oh, (BIG) NO, Thanks.

Sekarang, ini wordpress selama masih dalam keadaan baik dan dalam kendali kau, maka baik-baiklah kau merawatnya. Kasihan juga ia tak kau tengok-tengok. Padahal sewaktu awal membangunnya, kau sudah melalui yang namanya pencarian panjang. Mau berungkap tapi tak tahu mesti pada apa/siapa/di mana/seperti apa/bagaimana…:p

### Btw* (catatan ‘btw’ ini ada untuk mengingatkan saya kalau kembali abai).

Btw, tulisan ini agak tidak terstrukur memang, tapi ya demikianlan adanya. Saya hanya ingin menulis bebas, jadi saya mengetikkan saja apa yang mau dikeluarkan kepala saya)

*Saya punya solusi –katakanlah begitu– untuk masalah saya di atas. Solusinya ada jangka pendek dan jangka panjang –mungkin seumur hidup kali ya. Jangka pendeknya, libur kali ini kalau bisa salah satu agendanya saya mau belajar dasar-dasar IT. Jangka panjangnya berkaitan dengan minusnya plegma itu. Matikan sudah kebiasaan lama yang suka menunda yang akhirnya ketika sudah sibuk dengan kegiatan lain lalu rencana awal jadi dilupakan dan diabaikan. Plus, list-list itu jangan hanya dibuat untuk kemudian diabaikan.  Maksudnya adalah: Tengok dan Kerjakan!

Terima kasihku kepada Engkau… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s