Thanks to Thee

Banyak peristiwa sebenarnya yang menimpa dan saya tahu bahwa masih ada penyertaan Tuhan buat saya — setiap orang pun begitu tentunya. Namun pagi ini, saya merasa terdorong mencatat sesuatu sesegera mungkin. Saya punya waktu sebentar sebelum ke sekolah guna pembagian rapor.

Pagi ini saya merasa berbahagia masih memegang HP saya yang sekarang ada di tangan saya bahkan sementara saya mengetik ini pun di notes HP saya. HP saya ini walau sudah tergolong butut, setidaknya ia masih bersama saya sebab banyak kenangan bersamanya…:p

Ceritanya sepulang sekolah kemarin, malamnya saya bersama teman saya menghadiri acara ibadah syukur pernikahan kakak laki-laki seorang teman, tepatnya calon kepsek kami. Rumahnya di Airnona. Kami pergi kira-kira jam 8 lewat. Sesampainya di sana kami disambut langsung sang tuan pesta di tempat parkir malahan. Selesai saya memarkir motor, saya melepas kaos tangan dan kaos kaki. Selanjutnya saya melepas jaket panjang saya. Di dalam kantong jaket yang kata kawan saya jaket itu mirip jubah-jubah para suster sampai suatu kali pernah saya dikira suster oleh orang di taman budaya dulu, ada HP saya di sana. Karena jaket itu mesti saya masukan di bagasi motor, HP lantas pikir saya untuk sementara simpan saja di tempat duduk satu motor di sebelah saya dengan maksud nanti kalau sudah selesai memasukan jaket dan mengaitkan tali helm ke dalam bagasi baru saya ambil HP-nya. Nyatanya tidak.

Seusai menutup bagasi dan menekannya, saya dan teman saya langsung menyalami sang kakak tuan pesta sesuai  tradisi budaya lazimnya di Kupang. Setelah itu kami diantar bergabung dengan kawan-kawan lain yang sudah tiba lebih dahulu. Mereka sementara menikmati makanannya.

Di sana saya larut mendengarkan cerita mereka atau sesekali menanggapi cerita mereka atau saling mengobrol hal-hal lainnya. Tak lama kemudian muncul kawan kami yang adalah adik dari sang tuan pesta. Setelah kami disalami, ia bergabung sebentar dalam obrolan sebelum kemudian kami langsung disuruh mengambil makan. Kami lantas menuju tempat makan yang mungkin belasan meter jaraknya. Seusai mengambil makan kami kembali ke tempat duduk semula. Menikmati makan di antara teman-teman kami yang sudah menyelesaikan bagian mereka.

Seusai makan, sesuai rencana, kami akan melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu teman kami, seorang guru SD yang sementara berduka karena ibunya baru saja dipanggil pulang hari kemarinnya. Mencoba melihat HP karena saya tak mengenakan jam tangan, HP malah tak ada. Di kantong celana dan tas yang saya sandang pun demikian. Berpikir sebentar, untungnya saya tak sampai panik dan heboh seperti biasanya. Saya ingat kalau tadi HP saya simpan di tempat duduk satu motor tepat di samping motor saya. Segera saya melangkah cepat menuju tempat parkir yang tak jauh dari tempat kami duduk. Terpujilah Dia Sang Empunya Daulat, HP itu masih tergeletak manis seperti posisi semula yang saya simpan. Segera saya ambil dan kembali di tempat duduk tanpa saya bilang pada siapa-siapa kecuali kawan di samping saya yang lantas meresponsnya dengan, yah…itu satu bentuk penyertaan Tuhan. Kalau tidak kau bisa larut bermenung berhari-hari. Bermenung yang ia maksud adalah saya akan tampak murung berhari-hari dan itu bukan tampakan saya biasanya.

Kisah semalam itu nyaris mirip dengan kisah bulan November 2015. Waktu itu ketika menghadiri acara duka seorang kerabat di Batuplat, saya lupa mencabut kunci motor. Di bawah tenda duka saya boleh mengobrol ria dengan kawan sepupu saya tentang idola saya – ya, ampun, ini memang mengerikan dan menyedihkan. Tapi saya masih ingat betul, bahwa topik obrolan adalah orang itu memang. Sedih… Cukup sedih dan kaco memang. Syukurnya, demikian penyertaan Tuhan selalu ada untuk saya. Hampir sejam lebih di bawah tenda duka, kami pamit pulang. Di jalan menuju tempat parkir, baru saya mencari-cari di mana kunci motor saya. Satu hal yang saya takutkan adalah jangan-jangan kunci motor itu saya lupa cabut dan orang bisa membawa lari motor saya. Syukurnya, di tempat parkir, saya gembira sekali melihat motor saya masih ada. Sayangnya, dompet yang entah kenapa baru kali itu saya simpan di bagasi motor (sebab bukan kebiasaan saya dan saya pun tak pernah mau menyimpan barang berharga di bagasi motor) dibongkar orang. Semua uangnya diambil. Semua surat dan kartu-kartu penting di dalamnya ditinggalkan utuh tanpa diambil atau dibuang. Saya boleh bersedih karena uang yang baru sorenya saya ambil di ATM sejumlah ratusan ribu ludes. Tapi saya tetap bersyukur selain sebagai pembelajaran buat saya lebih berhati-hati lagi di tempat umum, orang itu hanya mengambil uangnya, dan masih menyisakan saya ‘nyawa’ untuk tetap hidup. Motor tetap ia tinggalkan buat saya. Demikian dompet dan isinya selain uang. Walau saya mengalami perenungan yang panjang sesudah tragedi itu, saya tetap berterima kasih kepada Tuhan atas penjagaan-Nya.

Demikian coretan singkat saya hari ini. Terlepas dari kecerobohan saya, saya menyaksikan Tuhan masih tetap menunjukkan kebaikan-Nya kepada saya. Thanks to Thee.

Kupang,

Selasa, 14 Jun’16; pukul 07.18 wita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s