Catatan Pendek “Art of Novel” Milan Kundera

Saat manusia berpikir, Tuhan tertawa. Pepatah lama Yahudi yang disitir Milan Kundera dalam pidatonya ketika menerima Jerusalem Prize ini dikutip kembali Anton Kurnia dalam bagian pengantar kumpulan esai MK yang diberi judul Art of Novel.
Buku ini terbit di Indonesia sudah lama, tahun 2002. Dasarnya saya saja yang kudet.11118107_376424579209316_991198498_n

Awal mula ketika melihat buku ini di meja anak murid saya sewaktu sesi SSR di kelas, saya pikir ini buku sejenis tips menulis. Sebelumnya yang pernah ada di kepala saya tentang MK adalah segala sesuatu yang identik dengan tawa, lelucon, humor, atau sejenisnya. Maka itu saya pikir, Art of Novel pun adalah seni novel atau tips menulis novel yang berkaitan dengan tawa, lelucon, dan humor. Nyatanya tidak. Tapi ini justru kumpulan esai MK tentang persepsinya melihat kembali sejarah novel Eropa.

Saya sempat heran kenapa anak murid saya yang baru kelas 7 bisa membaca buku semacam ini. Tapi kemudian ia bilang ini buku pamannya yang adalah seorang pendeta. Tentang sang paman, kami pernah bertemu sewaktu SLC dan sewaktu ia ada keperluan di sekolah. Bersyukur ia seorang yang pengertian, dan tidak marah karena saya meminjam buku ini cukup lama. Sebenarnya awal-awal begitu melihat isinya, langsung mau saya kembalikan, tapi karena judulnya yang memikat inilah membuat saya untuk menyimpannya saja dulu sebelum benar-benar menyediakan waktu buat membacanya.

Buku ini dibagi dalam 7 bagian. Saya akan menulis sedikit tentangnya sekadar mengingatkan saya karena yang saya tahu tentang saya adalah saya tidak punya ingatan yang cukup kuat akan buku-buku yang dibaca (btw, jangan terlalu kayak begitu juga sih). Apalagi buku ini yang tergolong ‘berat’ bagi saya, sebab untuk mengerti isinya kau mestinya juga sudah akrab dengan buku-buku atau nama-nama orang yang disebut-sebut di sini. Itulah kenapa dalam tulisan ini saya menautkan link-link terkait. Biar supaya lebih mudah terhubung apabila kening berkerut sewaktu membaca. 🙂

Bagian pertama, Warisan Carventes yang Tak Dihargai

Carventes ini bernama lengkap Miguel de Cervantes Saavedra, seorang pengarang berkebangsaan Spanyol. Melalui esai ini, MK mulai memberikan pandangannya terhadap sejarah novel Eropa.

Dibuka dengan kilas balik pandangan Husserl mengenai keutamaan filsafat sebagai ilmu yang pertama kalinya dalam sejarah mempertanyaakan dunia bukan hanya untuk kepuasan atau kebutuhan praktis, melainkan karena gairah untuk mengetahui apa yang telah menyebabkan umat manusia tercekam—maaf bila pertanyaan klasik ini diulang lagi.

Menurut MK, penemu dunia modern tak hanya seperti Galileo dan Descartes, tapi juga Cervantes. Sayangnya, Cervantes dilupakan oleh dua fenomenolog itu, Husserl dan Heidegger, untuk dipertimbangkan dalam kesimpulan mereka mengenai dunia modern. Lewat Carvanteslah seni agung Eropa mengambil peran dalam investigasi eksistensi.

Ia juga prihatin atas kematian novel-–kata ‘novel’ di sini diperlakukan seolah-olah ia manusia. Kematiannya merupakan kesedihan tersendiri bagi MK. Bukan saja kesedihan, tetapi seperti ketakutan sehingga ia berpikir bahwa masa depan adalah hakim yang adil bagi karya dan perilaku manusia. Namun kemudian ia berefleksi, jika masa depan bukan suatu nilai baginya, lalu untuk apa ia bekerja yang kemudian dengan tulus diakuinya bahwa ia edan dengan jawaban ia bekerja bukan untuk apa-apa, melainkan buat warisan turunan Carventas. Wow

Bagain dua, Dialog tentang Seni Novel

Mengenai seni novel, menurutnya, setiap novel di setiap masa berpusat pada teka-teki diri. Sewaktu menjawab pertanyaan Christian Salmon tentang maksud ‘perangkap’ dalam novelnya, Unbearable Lightness of Being, MK mengatakan, hidup adalah perangkap. Kita lahir tanpa ditanyai, terkunci di dalam tubuh yang tak pernah kita pilih, dan ditakdirkan untuk mati.

Memikirkan keyakinan MK tentang hidup itu, saya teringat John Piper dalam kumpulan 33 renungannya, ia membuat judul bukunya sebagai, Life is a Vapor, hidup adalah uap. Sementara saya entah dari sumber mana, saya meyakini bahwa hidup itu persinggahan. Itulah kenapa sewaktu memikirkan judul untuk kemunculan seorang bocah indigo, saya menaruh judul persinggahan:). Entah mungkin lain lagi kata orang tentang hidup. Mungkin ada yang bilang ziarah, perjalanan, piknik, tamasya, liburan, kekosongan, kehampaan, permainan, lelucon, sandiwara, pertandingan, perlombaan, perjuangan, pengutusan, atau beribu kata lainnya.

Selanjutnya, di bagian kedua yang banyak juga disinggung tentang dunia Kafka (bukan judul novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore), menurut MK, sebuah novel bukan mempelajari realitas melainkan eksistensi. Dan eksistensi bukan apa yang terjadi, eksistensi adalah dunia kemungkinan-kemungkinan manusia, manusia bisa menjadi apa saja selama ia mampu melakukan apapun yang ia inginkan. Berbicara mengenai kemungkinan yang lebih baik dari realitas, MK berpendapat jika penulis memperhatikan situasi historis sebuah kemungkinan yang segar dan membuka pikiran umat manusia, dia akan menggambarkan hal tersebut apa adanya. Kesetiaan terhadap realitas sejarah adalah hal penting kedua sebagaimana penghargaan atas nilai novel. Seorang novelis bukanlah seorang ahli sejarah dan juga bukan nabi: dia adalah orang yang mengeksplorasi eksistensi.

Bagian tiga, Catatan-catatan yang Terinspirasi oleh ‘The Sleepwalkers’

The Sleepwalkers adalah novel trilogi karya Hermann Broch yang terdiri dari Pasenow (Romantisme) berlatar 1888, Esch (Anarki) 1903, Huguenau (Realisme) 1918. Berikut disajikan kemungkinan-kemungkinan manusia dalam menghadapi proses di dunia dalam hal ini diwakili dalam trilogi The Sleepwalkers.

Kemungkinan Pasenow, tentang perasaan sentimental berkaitan dengan saudara laki-lakinya yang meninggal dalam duel sampai kepada ketika di malam pernikahannya didapatinya istrinya tak mencintainya. Berikut kemungkinan Esch, nilai-nilai warisan dari masa ketika gereja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia telah mulai goyah dan perlahan menghilang. Namun bagi Pasenow (apa benar Pasenow atau Esch yang ia maksud), nilai-nilai tersebut masih jelas. Ia tahu kewarganeraannya, kepada siapa ia harus percaya, dan siapa Tuhannya. Bagi Esch, nilai-nilai itu topeng. [Saya suka kata topeng. Waktu kuliah dulu, saya pernah buat puisi –kalau mau dibilang puisi– tentang topeng. Saya taruh tulisan itu di blog. Beberapa bulan kemudian di perpustakaan kampus, The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya menemukan satu buku tebal seperti Alkitab model lama-kalau sekarang ya mirip KBBI. Itu buku literatur full bahasa Inggris yang judulnya saya lupa–akan saya coba mengingat-ingat kembali:). Di dalam buku itu ada puisi tentang topeng juga, judulnya We Wear The Mask oleh Paul Laurence Dunbar. Waktu itu saya senang sekali. Ternyata bukan saya seorang yang terkaing-kaing tentang topeng..:p] Ia menghargai apa yang disebut peraturan, loyalitas, dan pengorbanan, namun apa yang sebenarnya diwakili oleh kata-kata itu? Pengorbanan untuk apa? Tuntutan macam apakah peraturan itu? Esch sama sekali tidak tahu. Jika nilai telah kehilangan isi konkretnya, apa lagi yang tersisa? Yang tinggal hanya suatu bentuk kosong, suatu perintah yang tak lagi diindahkan.

Sedikit mengenai Esch, ia bukan orang yang disenangi di tempat kerjanya. Ia berselisih dengan rekan kerjanya sehingga dipecat. Menurut Esch, penyebab kekacauan hidupnya adalah Nentwig, seorang penjaga toko buku. Nentwig diadukan ke polisi sebagai bentuk pengabdiannya kepada hukum dan peraturan. Tapi yang terjadi kemudian Nentwig malah mengajak minum Esch dan keduanya berbaikan. Dia akhir cerita Bertrand, seorang homoseksual dan pembangkang perintah-perintahTuhan justru yang Esch laporkan ke polisi dengan alasan untuk menyelamatkan dunia.

Kemungkinan Huguenau, Esch dan Bertrand saling mengadu ke polisi. Esch melakukan tindak tersebut untuk menyelamatkan dunia, sementara Bertrand melakukannya untuk menyelamatkan karirnya. Huguenau, seorang arriviste yang tidak mengenal dosa—awih, siapa memang manusia yang tak mengenal dosa—merasa senang dan dikatakan kalau ialah yang membunuh Esch tanpa dibebani rasa bersalah sedikitpun.

Tanpa melupakan Broch, ada juga Doctor Faustus karya Thomas Mann. Novel yang mampu mewakili dan menghadirkan sejarah kehidupan musik Jerman selama beberapa abad, sekaligus melalui karakter tokoh, sang dokter magis yang mengadakan perjanjian dengan setan ini, penulis ingin menceritakan kekejaman negaranya, Jerman.

Selanjutnya masih dalam bagian ini dibahas mengenai di balik kausalitas, kebingungan-kebingungan karena sistem dan persepsi yang dicampuradukan, serta belantara simbol-simbol. (Sengaja saya taruh di sini untuk mengingatkan saja, terutama tentang sistem dan persepsi yang dicampuradukan. Saya masih bisa membayangkannya, hanya untuk membahasakannya yang agak susah)

Bagian empat, Dialog tentang Seni Komposisi

Berisi diskusi CS dan MK mengenai beberapa segi artistik novel The Book of Laughter and Forgetting, masalah-masalah kerajinan novel, terutama arsitekturnya. Di bab ini saya tercengang sebab perhitungan matematika Milan Kundera, kemudian berlanjut kepada halaman berikut tentang musik. Ia betul-betul tahu seluk beluk musik dan penjelasan proses kreatifnya berhubungan dengan persoalan tempo dalam musik. Harusnya tidak mengherankan, sebab sebelum tertarik kepada sastra, MK sudah menekuni musik hingga usianya yang ke-25. Pantaslah pengetahuannya tentang musik begitu detail. Btw, ada juga saya kenal orang Indonesia yang seperti beliau, keahliannya dalam musik, arsitek, bahasa, dll juga tak kalah keren dan memukau. Cari tahu saja, siapa Bapak Stephen Tong –pernah sekali di sela-sela mempersiapkan skripsi saat kulah saya menulis tentang beliau 😉 🙂

Ditanya mengenai novel-novel karyanya, MK mengaku kalau dalam hal tertentu, The Farewell Party adalah novel yang paling ia sayangi. Ia merasa lebih gembira dan lebih menikmati ketika menulis novel ini. Btw (btw lagi ;)), saat membaca buku ini, bertepatan juga di sekolah adalah masa-masa kami mengadakan farewell party baik dengan anak-anak murid yang sebentar lagi lulus, yang naik kelas, ataupun dengan guru-guru yang ingin menggarap di lain ladang.

Bagian lima, Tempat Tersembunyi

Dibuka dengan kutipan puisi Jan Skácel,

Penyair tak menciptakan puisi
Puisi ada di balik dunia
Ia ada di sana selama-lamanya
Penyair hanyalah menemukannya

Bagian ini lebih banyak membahas tentang karya Kafka yang secara keseluruhan adalah penglihatan tentang apa yang ada di tempat tersembunyi sebagaimana puisi yang kekal abadi dan sunyi tersimpan dalam kegelapan sehingga untuk menemukannya penyair harus ‘menembus dinding di balik sesuatu’.

Puisi sekaligus kesimpulan di atas membawa saya kepada sebuah renungan tentang imajinasi dari John Piper dalam bukunya Life is a Vapor (hal 55). Walau di sini terlihat yang lebih disoroti MK adalah penyair dengan puisinya, namun sebenarnya tak hanya mereka, tapi juga pelukis, pemahat, para ilmuwan, serta para pekerja kreatif lainnya. Mereka tidaklah menciptakan sesuatu yang baru ataupun semakin memperindah keindahan yang sudah ada dalam kekekalan abadi. Mereka hanya menjadikan keindahan itu lebih terlihat. Keistimewaan mereka adalah mereka mampu menembus kabut kusam dari persepsi kita yang fana, tidak sempurna, dan dicemari dosa, dan menolong kita melihat keindahan Allah sebagaimana adanya.

MK kemudian menanggapi para komentator Kafka yang menerangkan bahwa novel-novel Kafka sebagai parabel religius, ataupun yang menurut pandangan orang-orang bahwa karya-karya Kafka adalah gagasan sosiologis atau politis yang mengkritik kapitalisme. Menurut MK, Kafka tidak menulis alegori-alegori religius, tetapi fenomena kafkian tersebut memang tak bisa terpisahkan dari dimensi teologisnya atau lebih tepatnya pseudoteologis. Sementara mengenai ideologi, karya Kafka justru menyajikan satu kenyataan fundamental manusia dan dunianya. Mungkin inilah yang dinamakan disajikan sebagaimana adanya.

Dari cuplikan-cuplikan kisah di bagian lima ini, terkesan kalau MK ingin menunjukan bahwa ada semacam lelucon di balik kisah-kisah yang hampir mirip dengan (kalau dengan kacamata saya) cerita-cerita bocah yang polos, menyedihkan, memprihatinkan, penuh ironi, membuat gemas, geram, dan bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam, “Kok bisa, ya?” Contoh kisah itu seperti sang insinyur dari Praha, atau pengukur tanah K, atau penyair A, atau juga kisah seorang ibu bersama anaknya.

Jadi, seserius apapun kita mau memaknai hidup, mau banting tulang, peras keringat, kuras tenaga, terengah-engah mendaki gunung, tertatih-tatih merangkak, berasa putus ada dan mau depresi karena problem hidup tak kunjung selesai seperti labirin tak berujung, ada baiknya kita perlu berhenti sebentar. Berkacalah dan tertawalah. Tertawakan dirimu. Dirimu sendiri, bukan orang lain –biarkanlah orang lain menertawai dirinya sendiri. Tertawalah dan ingat, segala sesuatu adalah sia-sia, seperti kata Pengkhotbah. :p 😀 😀

Bagian enam, Enam Puluh Tiga

Bermula dari kekecewaan MK atas hasil terjemahan buku-bukunya terutama The Joke ke dalam bahasa dunia barat, oleh ajakan seorang kawannya, MK menulis kamusnya sendiri yang berjumlah 63 kata. Kamus untuk novel-novelnya. Kumpulan kata-kata kunci, kata-kata bermasalah, kata-kata yang ia cintai, dan jadilah kamus mini tersebut. Dimulai dari kata ada (being) dan berakhir dengan yang tiada (non being).

Bagian ketujuh, Pidato Jerusalem: Novel dan Eropa

Di sinilah terdapat kutipan pepatah lama Yahudi yang keren itu, Saat manusia berpikir, Tuhan tertawa. Pada bagian terakhir inilah adalah isi pidato MK saat dianugerahi Jerusalem Prize tahun 1985.

Di bagian ini, saya ingin mengulang apa yang dituliskan Anton Kurnia dalam pengantarnya tentang tiga iblis versi MK. Iblis pertama adalah agelaste, mereka yang tak bisa tertawa. Kaum ini mengancam seni novel karena tak mampu menerima kebenaran terbuka. Mereka menolak kebenaran sebagai pencarian dan mengharamkan pertanyaan. Iblis kedua adalah mereka yang menerima ide-ide tanpa berpikir. Ini semacam virus yang meracuni kebutuhan manusia akan pembebasan, berolah nalar, bertanya, dan berimajinasi. Sementara yang ketiga, kitsch alias minor art, yang menyalin kebodohan menerima ide tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan. Kitsch mendiktekan gaya hidup yang musti diikuti setiap orang agar menjadi normal dan tak ketinggalan zaman. Setiap orang musti ngepop dan gaul agar tidak aneh.

Nah, coba renungkan tiga jenis iblis ini. Jangan dulu celingukkan mencari dan menuduh orang lain. Coba lihat pertama-tama ke dalam dirimu. Jangan-jangan kau penganut salah satu di antara ketiganya…:)

Demikian ringkasan saya atas buku Art of Novel. Sejujurnya saya menyadari, catatan ini belum sepenuhnya mewakili isi buku tersebut. Semoga seiring berjalannya waktu, wawasan saya makin bertambah sehingga bisa saya perbaiki bolong-bolong dalam catatan pendek ini… 🙂

Oh, ya, sebelum menutup. Ada yang mau saya tambahkan. Ini di luar isi buku. Selama membaca, saya cukup terganggu dengan penempatan kata ‘di’ pada teks-teks buku ini. Terdapat banyak sekali ketidaksesuaian. Padahal penerbit dan pencetaknya adalah Jalasutra. Itu saja. Sekian dan terima kasih. 🙂

Iklan

One comment on “Catatan Pendek “Art of Novel” Milan Kundera

  1. […] dengan Art of Novel kumpulan esai Milan Kundera, buku yang diterbitkan Yayasan Komunikasi Bina Kasih tahun 2011 ini […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s