Membaca “Elang” Wilson Nadeak

20170303_181444Cuaca Kupang hari ini menyenangkan. Sedikit mendung sehingga tidak begitu panas. Mungkin karena subuh tadi turun hujan. Saya baru saja menyelesaikan kumpulan cerpen Nilson Nadeak berjudul “Elang”. Buku ini sudah terbit lama sekali, tahun 1997, oleh Lembaga Literatur Baptis. Seminggu lalu saya menemukannya di Kalam Hidup, satu toko buku rohani di Kupang.

Walau cerpen-cerpen ini ditulis pada masa yang ‘lampau’, bahasa yang terbaca seolah ditulis masa kini. Sudah matang sekali penggarapan ceritanya malahan. Dari 10 cerpen dengan 157 halaman di dalamnya, idenya cukup beragam.

Cerpen yang dibuka dengan perburuan elang cukup menggelitik sekaligus menggambarkan keadaan desanya yang memperihatinkan. Dua pemuda yang niat awalnya mau menjerat ayam hutan. Hasil jeratan yang sudah ada di depan mata justru diterkam elang. Mulailah perburuan elang yang terbang mengangkasa itu hanya dengan berbekal ketapel dan batu-batu kali. Di tengah perburuan,  terbacalah keadaan kampungnya dulu dilanda kemarau bekepanjangan, wabah, dan malapetaka silih berganti sampai para penduduk satu per satu harus mati di rumah sendiri tanpa dikuburkan.  Berikutnya dua cerita terkait masalah penulisan – redakur surat kabar dan ghostwriter, satu cerita terkait pekerjaan, tiga cerpen terkait masalah pernikahan, satu cerita bernuansa gelap dan mistis, satu cerita lagi berlatar New York, serta satu cerita masalah rumah tangga berjudul “Kereta Api”.

Cerpen terakhir ini bagi saya juga sungguh berkesan. Kesan saya bukan pada tokoh utama, melainkan pada  seorang perempuan malam yang ada di stasiun kereta api. Ketulusannya membantu tokoh istri yang ingin minggat dari rumah sungguh menggugah. Sekalipun tokoh istri ingin tetap dan duduk menanti datangnya kereta api subuh, sang perempuan malam tetap mendesak agar ia segera meninggalkan tempat itu mengingat saat-saat sebelum subuh selalu rawan karena banyak laki-laki hidung belang yang berkeliaran di sekitar stasiun. Atas desakan dan cerita-cerita mengerikan dari perempuan malam itulah, tokoh istri mau dibawa ke gubuk kumuh sang perempuan malam. Di gubuk itulah ia aman beristirahat sampai terdengar bunyi peluit kereta api subuh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s