a-nice’s notes (random) 2

**##**

Minggu, 21 Agustus’16, pukul 12.42 wita

Ada dua hal yang membuat saya terharu dan jadi melankolis sekarang. Siang ini saya berniat mau menyelesaikan unit plan saya yang tertunggak karena dua minggu lalu saya mendadak mesti ke Bali. Di awal saya sudah semangat. Namun dua hal ini membuat saya jadi kurang konsentrasi. 1. Saya terkenang Bali. Kegiatan pembekalan IN GP Bahasa Indonesia di Bali membuat saya setidaknya jadi tahu kompetensi apa saja yang harus saya pelajari sebagai seorang guru Bahasa Indonesia. Selain itu, orang-orang baru yang saya temui baik di tempat kegiatan maupun di luar adalah orang-orang yang di mata saya ramah dan menyenangkan. Dimulai dari teman sekamar saya orang Mataram, hingga teman2 di kelas C juga di kelas lain, juga para pekerja hotelnya, hingga orang2 yang saya temui di jalan atau tempat2 yang sempat saya kunjungi. Selama berada di sana, tak ada yang mengecewakan selain ketika adik saya, mahasiswi Faperta Undana Kupang yang bertepatan magang di Bangli dan mengunjungi saya di hotel dengan kaosnya yang berlengan buntung. Itu saja. Selebihnya banyak hal manis dan berkesan selama di Bali. Bahkan di malam terakhir saja, masih sempat-sempatnya ada kejutan manis yang saya pikir saya sedang bermimpi. Sudah, itu saja dulu. Intinya, atmosfer Bali sudah menyentuh hati saya yang terdalam. 2. Kerangka Kurikulum Lentera-Dian Harapan. Tentang ‘Enduring Understanding’ atau pemahaman sepanjang hayat. Dengan ini entah KurNas mau berganti serupa apapun itu, ia hanyalah satu titik kecil di antara konsep enduring understanding. Saya tidak tahu harus bilang apa kepada Tuhan. Ia sudah membawa saya sejauh ini. Rasanya kata ‘terima kasih’saja tidak cukup. Ada sesuatu yang mesti lebih dari itu.

**##**

Minggu, 24 Jul’16, pukul 20.49 wita

Andaikata besok bukan hari sekolah, maka biarlah malam ini saya menginap lagi di Siloam. Saya masih mau bermain-main dengan si adik bayi yang tepat di hari anak nasional, ia muncul menghirup aroma bumi– walau harus lewat operasi. Adiknya cantik. Tangis, gerak bola mata, serta gerak-gerik tubuhnya menggemaskan. Serasa kalau ditinggal, kau bakal rugi. Kehilangan momen berharga. Lagi pula tempat ini aman, nyaman, hangat, dan…

Entah saja, dua hari berada di sini mengingatkan saya kepada bertahun-tahun silam sewaktu kami menjaga teman sekamar yang sakit dan dirawat di Siloam Lippo Karawaci. Di kepala saya ketika mendapat giliran jaga malam (sanak saudara si sakit di seberang lautan sehingga kami teman sekamar berbagi giliran jaga), “Saya bukan di rumah sakit. Ini justru hotel.”

Jelas kesimpulan saya bisa demikian karena yang saya tahu hanya model rumah sakit seperti yang biasa saya lihat di Kupang. Bahkan waktu itu sempat timbul harap mungkin suatu hari di masa-masa kuliah saya mau sakit biar bisa dirawat di Siloam (astagafirullahazim–buang jauh-jauh . Sebaik-baik rumah sakit, lebih baik dan paling baik adalah kau sehat).


##**##**

Rabu, 13 Jul’16, pukul 11.23 wita

Libur sudah mau berakhir. Nyaris tak berasa. Selama libur ini pula akun medsos (fb, line. btw ini saja sudah bikin pusing apalagi banyak2) di hp yang katanya smartphone ini saya hapus instalannya. Ini memang memenuhi janji sebelum libur biar libur bisa lebih dinikmati. Lagipula hp ini suka sekali ‘lola’. Daripada saya kalau pegang bawaannya buka akun medsos melulu tapi yang dibukapun lola sehingga saya harus lama menunggu dan jadi kesal sendiri, sehingga sudah bisa dipastikan saya akan sangat menyesal menyadari waktu sudah berlalu dan yang saya lakukan hanya sering buka-buka medsos tanpa memberi atau melakukan sesuatu yang setidaknya memuaskan setelah libur berakhir nanti.

Hasilnya sekarang setelah akun medsos dihapus dari hp dan hanya diakses kalau buka laptop, perasaan saya sekarang jauh lebih baik. Tak sering-sering membuka akun medsos dan sebagai gantinya melakukan sesuatu yang memang tak bisa dilakukan pada hari-hari kerja jauh lebih memuaskan batin. Ada perasaan lega dan puas sesudahnya.

###***###

Selasa, 05 Juli 2016, pukul 19. 37 wita

Terima Kasih tentunya kepada Tuhan saya boleh berkesempatan mengikuti kegiatan Youth Camp bersama Pemuda GMIT Agape kali ini di Biara Karmel San Juan Penfui.

Sesi-sesi dalam youth camp bertema Grow Deeper in God’s Grace dengan berlandasakan pada 2 Petrus 3:17-18 ini dibawakan seluruhnya oleh Bapak Ezra Soru.

Hari ini sudah hari ketiga sekaligus malam terakhir kami sejak Minggu siang, 3 Juli 2016. Sejauh ini sudah selesai sesi yang ke-6 yakni predestinasi. Sedikit yang kutahu, topik ini memang kontroversial di antara gereja Kristen sendiri. Sehingga untuk mendengar dan mengikuti penjelasan sang pembicara dibutuhkan perhatian ekstra. Topik ini dari sononya memang rumit. Apalagi ditambah dengan minimnya istirahat selama beberapa hari ini sehingga keadaan fisik saya agak sedikit lemah, ditambah pula angin yang bertiup kencang di sekitar area biara. Suhu badan saya agak panas, perut saya masih berasa kembung walau sudah dua sachet antangin saya habiskan hari ini, kepala saya rasanya mau terbelah. Tapi bagaimanapun saya usahakan kegiatan ini akan tetap saya ikuti sampai selesai besok sore. Sangat disayangkan kalau tidak.

Dari semua sesi yang sudah berjalan saya semangat mengikutinya. Saya menganggapnya sebagai salah satu bentuk ‘refreshing’, mengingat sudah kira-kira 5 tahun semenjak meninggalkan kampus dan hal-hal beginian nyaris tak lagi disinggung. Awal-awal sesi dimulai dengan sejarah penulisan Alkitab dan ini bagi saya menarik bahkan pula ketika berlanjut kepada Allah Tritunggal.

Namun kemudian ketika sampai di Providensi Allah, saya agak mulai bertanya-tanya kok jadi begini? Baiklah, ikuti saja. Materi tetap saya catat sambil saya sediakan sedikit kolom di bagian kanan buku untuk mencatat segala pertanyaan dan kebingungan dan keheranan dan segala yang lain. Belajarlah. Segala sesuatu memang disediakan Tuhan untuk dipelajari sambil mengagumi kemahakuasaan-Nya sekaligus menyadari diri ini memang kerdil, fana, dan terbatas. Tuhan memang sungguh unik dan kreativitas-Nya luar biasa. Kemisteriusan Tuhan patut dihargai. Bahkan setiap orang yang sudah memberikan dirinya untuk Dia pun masih tetap dengan keunikannya dan kekreativitasnya masing-masing. Tak pernah ada manusia yang serupa dan sepaham 100 persen bahkan yang mempelajari hal yang sama dengan guru yang sama sekalipun. Orang-orang di dunia bahkan yang mengkalim dirinya menganut aliran atau paham tertentu pun, tak semuanya mereka sealiran atau sepaham tanpa eror sekian persen.

Sekarang ini sementara persiapan dan pelaksanaan talent show. Saya sempat mengetik ini sebab saya kebagian tugas membawa laptop sebagai satu property untuk talent show kelompok kami. Jadi, sekalian sambil menunggu giliran, tentu juga sambil menonton pertunjukan dari kelompok-kelompok lain, ada baiknya saya membuka untuk mengetik sebentar sebelum semua-semua yang lagi berseliweran di kepala saya ini menguap dan tak berjejak.

###***###

Sabtu, 02 Juli’16, pukul 01 .17 wita

Ah, ini bukan lagi tanggal 2 namanya tapi sudah tanggal 03 Juli.

Saya baru saja sampai di rumah. Baru pulang dari rumah om, tepatnya sepupu bapak yang akan diberkati pernikahannya besok pagi di gereja dan bapak saya adalah saksi untuk mempelai perempuan. Terkait ini ketika saya tanyakan, katanya berhubung istri om masih terbilang kerabat dekat dari ibu saya sehingga pihak keluarga perempuan mempercayakan bapak saya sebagai saksi.

Di rumah om tadi, saya baru saja selesai berasap-asap di antara tungku, ikut menggoreng daging tepunh sambil mengobrol dan bercerita dengan sepupu-sepupu jauh dan ipar-ipar lain. Saya begitu menikmati kebersaman kami dan merasa waktu tadi cukup berkesan. Awalnya sebelum berangkat ke sana, saya berencana hanya mau dari setengah 9 sampai jam 11. Tapi jadinya daging belum selesai digoreng, dan pikir saya biar diselesaikan sekalian tugas ini, sebab saya tak lagi ikut berpartisipasi di acara selanjutnya besok.

Apalagi mengingat sebelumnya saya sore tadi jam 6 baru tiba dari Kupang. 2 jam lebih beristirahat dan bercengkrama dengan anggota keluarga, saya pun ikut ke rumah om guna membantu-bantu sebab besok pagi selesai pemberkatan saya mesti balik ke Kupang lagi karena ikut youth camp dari pemuda GMIT Agape. Camp yang akan saya ikuti kali ini adalah kedua kalinya setelah dulu pernah ikut dalam youth camp dari UPH di Wisma Kinasih Bogor. Saya sudah agak lupa-lupa tentang youth camp kala itu. Yang ada dalam bayangan saya sekarang tentang youth camp itu adalah airnya yang dingin, ada pertanyaan yang diajukan dan salah saya jawab… 😀 😀

Cukup sudah dulu. Sekarang saatnya membaca lanjut “Mata yang Enak Dipandang” dari Ahmad Tohari. Tadi sebelum ke tempat om, saya sudah membaca sebentar sebab berencana mau diselesaikan semua cerita ini mumpung sudah sampai di judul terakhir. Tapi karena semua orang di rumah sudah tak tahan pergi dan daripada saya yang ditinggal sendiri, maka lebih baiklah saya pun ikut sekalian. Sekarang saya mau membaca sementara yang lain tidur dan adik laki-laki saya memelototi kembali video Mario G Klau yang mengumandangkan Malaikat, To Love Somebody dll dari youtube.

###***###

Selasa, 28 Juni 2016, pukul 09.14
###Berhubung semalam jaringan internetnya bermasalah, maka baru sekarang saya bisa menerbitkan catatan ini –sekarang sudah hari Rabu###
(Sebelumnya sudah ada “a-nice’s notes (random)” –demikian maksud saya untuk yang edisi satu. Namun terpotong. Hanya bertahan di masa libur. Berharap kali ini lebih bertahan untuk seterusnya. 😀 🙂 Sebagai pembelaan diri ;), sebenarnya seusai liburan pun saya bisa tetap menulis di sana. Masalahnya ketika hp sering lola di-instal ulang, aplikasi wordpress pun terhapus sehingga saya kesulitan memang untuk rajin menengok blog ini)
Senin dan Selasa telah saya lewatkan tanpa sempat membaca banyak ataupun menulis. Dua hari ini saya lebih banyak sibuk di luar. Walau begitu, sebelum hari beranjak esok, izinkan saya menulis beberapa hal terkait yang berenang-renang di kepala saya sekarang.
Ada perasaan puas dan lega beberapa urusan boleh berjalan baik sekalipun memang diakui tidak selalu mulus berjalan. Yang membuat saya senang atau katakanlah bersyukur adalah masa libur ini bisa dimanfatkan dengan baik, sebab urusan-urusan semacam ini tak bisa kau lakukan di masa sekolah. Maka, mumpung libur, ada baiknya waktu ini dimanfaatkan untuk menyelesaikannya.
Btw, di awal tadi saya bilang saya tak membaca banyak. Ya, mungkin itu hanya semacam pembukaan. Pemantik biar saya bisa mulai menulis barangkali. Sebenarnya ada yang saya baca di sela-sela saya menunggu jadwal, menunggu panggilan, menunggu orang, dll. Buku ini cukup tipis. Sudah lama buku ini sebenarnya. Buku yang sudah saya beli 2 atau 3 tahun lalu. Saya lupa saya membelinya di Kupang atau di Jakarta. Buku karya Os Guinness. Buku ini tidak sengaja saya temukan di sela-sela mempersiapkan sesuatu. Walau sudah dibaca dulunya tapi tetap saya kantongi lagi, sehingga selain “Mata yang Enak Dipandang” dari Ahmad Tohari, buku ini yang menemani saya dua hari ini. Bukannya saya tak mau berbagi tentang buku ini. Tapi yang ada dalam pikiran saya sekarang adalah bagaimana saya sendiri harus bergumul untuk menghidupi apa yang saya baca sebelum saya cerewet bercuap-cuap. Bagaimana mungkin saya cerewet bercuap-cuap sementara saya sendiri tidak melakukan apa yang saya baca dan saya refleksikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s