Sinopsis “Bumi yang Subur” dari Pearl S Buck

Hari ini ## Semalam karena jaringan internet bermasalah, saya sekalian buka file lama untuk benah-benah. Tiba-tiba ketemulah file ini, yang membuat saya senang tak terkira.*  😀

Judul    : “The Good Earth (Bumi yang Subur)
Penulis  : Pearl S Buck
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun    : 2003
ISBN     : 9794034487               
THE GOOD EARTH

Sumber: GPU

Wang Lung, mulanya seorang petani  yang belum menikah. Ia begitu miskin. Bahkan untuk minum teh saja, ayahnya berkata, “Kau minum teh seperti membuang perak.” Makan nasi saja pun dirasanya terlalu mewah. Nasi hanya untuk pesta. Maka ia dan bapaknya biasanya menikmati bubur untuk sarapan.

Cerita awal dikisahkan pada hari pertama pernikahan Wang Lung dengan seorang budak perempuan dari sebuah keluarga tuan tanah, keluarga Hwang. Wang Lung yang biasanya jarang mandi, hari itu untuk pertama kalinya sejak setahun lalu ia mandi pagi-pagi hari benar. Bersama dengan bapaknya yang sudah batuk-batuk.

Di hari ia pergi menjemput istrinya di rumah besar Hwang, ia begitu terpukau dengan halaman dan gedung rumah itu. Rumah yang serupa istana. Belum lagi ketika ia melihat para pelayan yang berlarian melayani sang nyonya rumah yang hanya duduk dan menghisap candu.

Pertama kali berjumpa dengan  istrinya, ia merasa perempuan itu tidak cantik memang. Digambarkannya ia serupa gajah yang sangat tidak ada tampak menariknya. Tapi apa daya. Di masa-masa demikian, seseorang petani sepertinya tidak dapat meminang istri. Sebab masa-masa itu, betapa mahalnya ongkos nikah, dan apalagi bila perempuannya menuntut cincin emas dan baju dari sutera sebelum dikawini, maka rasanya, “Hanya tinggal budak saja buat orang miskin,” demikian bapaknya menjawab ketika Wang Lung mengutarakan keinginannya untuk menikah.

Perkawinan dengan sang budak yang digambarkan memiliki kaki gajah dan sangat tidak menarik itu, memberinya 3 anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.

O-lan, istri sang petani itu begitu kuat. Sejak ia kawin dengan Wang Lung, tak pernah sekalipun ia mengeluh kepada petani itu. O-lan adalah sosok perempuan yang kuat, rajin, pekerja keras, dan tidak banyak berbicara. Bisa dikatakan jarang berbicara. Hal ini membuat Wang Lung sendiri heran dengan istrinya.

Apalagi ketika O-lan mengandung anak pertamanya, sekalipun hamil tua, ia tetap ikut bekerja di ladang membantu Wang Lung. Hari itu, ketika ia merasa akan melahirkan, ia hanya memberitahukan kepada suaminya bahwa ia akan pulang ke rumah, dan sore nanti bila sang suami pulang, jangan segera ia membuka pintu kamar bila O-lan tak menyuruhnya.

Sore ketika Wang Lung tiba di rumah, dilihatnya perut istrinya sudah tak kembung lagi. O-lan tampak bekerja seperti biasa, mengambil rumput kering dan memasak, serta memberitahukan kepada petani itu, “Laki-laki”.

Betapa senang hati Wang Lung mendengar kabar itu lantas mengguncang-guncang bahu ayahnya yang sudah renta. Ia bangga anak pertamanya laki-laki sebab itu merupakan sebuah kebanggaan keluarga, sementara bila perempuan maka jalan satu-satunya anak tersebut akan menjadi budak lagi di rumah keluarga orang kaya.

Kehadiran O-lan, budak yang kini menjadi istri Wang Lung rupanya menjadi salah satu keberuntungan juga buat sang petani itu. Bagaimana tidak, O-lan yang sudah terbiasa bekerja keras di rumah keluarga Hwang itu bahkan setelah menjadi istri pun tak pernah mau tinggal diam. Ia memberi sumbangsih tenaga yang tidak kecil untuk pertanian Wang Lung. Dengan demikian, lamat-lamat simpanan Wang Lung semakin bertambah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya Wang Lung mencicipi makanan enak, dan kehidupan yang sedikit mendekati kehidupan kaum-kaum tuan tanah di kota.

Akan tetapi, rupanya dunia terus berputar. Suatu ketika, dewa bumi dan langit tak lagi berpihak padanya. Kekeringan melanda negeri mereka. Hujan yang dinanti-nantikan pun tak kunjung turun. Rumput-rumput yang andai bisa dimakan pun telah habis. Bahkan untuk menahan lapar, tanah kering pun dimakan sebagai pengganjal perut. Tubuh mereka nyaris menyerupai kerangka saja. Keadaan ini akhirnya memaksa Wang Lung dan keluarga kecilnya mengungsi ke selatan.

Kehidupan di selatan memang butuh perjuangan. Tak ada kata malu untk bisa mendapat makan. Wang Lung menarik kereta, O-lan dan anak-anaknya mengemis. Hingga suatu hari ketika terjadi penjarahan besar-besaran sekelompok orang ke rumah-rumah tuan tanah yang kaya, Wang Lung tanpa ia sadari ikut tersert arus orang banyak itu hingga masuk ke ruang inti istana. Di dalam ruang tersebut ada seraong lelaki gendut yang dalam keadaan bugil, didampingi seorang wanita cantik di sebelahnya. Dalam keadaan takut dan panik lelaki gendut menyerahkan begitu saja segenggam penuh emas dari kantong jubah satin ungu yang sedang digenggamnya kepada Wang Lung.

Berbekal segenggam emas, ditambah pula hati Wang Lung yang sudah demikian rindu pada kampung halamannya, Wang Lung memutuskan pulang ke kampung halamannya. Mereka sekeluarga pun pulang.

Dalam perjalanan itu, Wang Lung merasa diri kaya sekarang. Ia pun membeli lembu yang nantinya akan membantunya  membajak sawah. Tak peduli berapa harga lembu itu, sebab di kantongnya terdapat banyak emas untuk mencukupi kebutuhan keluarga nanti sebelum masa panen tiba.

Tak disangka, rupanya sewaktu sedang terjadi penjarahan yang besaran-besar, saat Wang Lung mendapat segenggam emas, pada saat yang sama O-lan pun serta merta terlibat bersama orang banyak, di saat itu pula ia  melihat rencengan permata yang sedang disembunyikan di balik tembok istana. Disimpannya diam-diam tanpa memberitahukan kepada siapapun hingga ketika mereka tiba di kampung. Bermodalkan rencengan permata itu, Wang Lung menggunakannya untuk membeli tanah dari tuan besar rumah keluarga Hwang.

Tanah Wang Lung menjadi banyak sekarang. Dan karena ia adalah seorang petani yang rajin bekerja, juga sangat mencintai tanahnya, maka hasil yang diperolehnya pun tidak sedikit. Ia sampai kewalahan ketika masa panen. Hasilnya lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka sekeluarga. Sehingga dipanggilnya sahabatnya, Chung untuk membantunya bekerja di ladang. Sebagai imbalan, Chung mendapat makan dan tempat menginap gratis di rumahnya.

Tahun-tahun berikutnya pun demikian. Wang Lung menanami sawahnya bibit-bibit yang lebih baru dan lebih banyak dari tahun sebelumnya. Ia lebih rajin mengolah dan mengerjakan sawah dan ladangnya. Hingga setiap tahun panennya semakin banyak menghasilkan.

Wang Lung berangsur-angsur menjadi orang kaya. O-lan kini tak lagi diperbolehkan untuk bekerja  di sawah. Ia sudah punya banyak pekerja. Pekerjaan O-lan adalah segala sesuatu yang berkisar dalam rumah tangga. Menjahit sepatu dan baju-baju baru untuk untuk setiap anggota keluarga, membuat penutup tempat tidur dari kain yang bercorak kembang-kembang yang diisinya dengan kapas baru, kemudian ia akan berbaring untuk melahirkan anaknya yang kembar untuk Wang Lung.

Dengan kekayaan yang melimpah itu, Wang Lung pun membuat rumah baru yang lebih besar. Ia menambah ruang-ruangan untuk menyimpan hasil panen, juga untuk tempat tinggalnya yang baru. Sedangkan rumah lamanya yang sudah tua, diizinkannya kepada para pekerja sewaannya untuk tinggal di sana, dengan Ching adalah ketua atau kepala pengawasnya.

Akan tetapi, sebagaimana orang-orang kaya lainnya, uang pun kemudian membutakan mata hati nurani manusia. Wang Lung berpikir, uangnya sudah banyak, keluarganya sudah cukup makan minum, demikian juga kebutuhan sehari telah terpenuhi. Kedua anaknya pun bahkan sudah disekolahkan di kota. Kini saatnya ia menikmati hidup sebagaimana tuan-tuan tanah lainnya.

Suatu hari ia pun mencoba memasuki sebuah kedai minum di kota. Awalnya ia masih takut-takut, dimulai dengan hanya berani mencicipi teh, kemudian sedikit-sedikit mencuri pandang kepada dinding yang di sana tergantung lukisan-lukisan wanita cantik dari kain sutra putih. Demikian itu pada mulanya. Akan tetapi, suatu hari ia memenuhi juga ajakan Cuckoo yang mengatakan padanya, benar mereka para perempuan yang suka diimpikan, tetapi bila ada keping perak saja, maka impian-impian seperti itu akan menjadi kenyataan. Maka,  untuk naik ke atas loteng untuk melihat bahwa gambar-gambar tersebut bukan hanya di mimpi saja, tapi mereka adalah nyata yang tinggal di atas loteng. Ia diminta memilih salah satu di antara gambar-gambar itu. “Ia seperti bunga melati,” katanya menggambarkan sosok wanita yang dipilihnya.

Terperosoklah Wang Lung ke dalam jebakan Cuckoo.

Setelah mengenal wanita cantik di kedai minum, Wang Lung pun kemudian acapkali membandingkan dengan istrinya yang berkaki besar. Dikatakan demikian, perempuan itu hanya memandang diam dengan lugu, namun dengan sorotan mata yang pedih.

Lama kelamaan, Wang Lung berpikir bahwa sebaiknya ia mengambil Lotus menjadi istrinya sehingga Lotus khusus ada untuk dirinya seorang. Dua mutiara O-lan pun diambil Wang Lung untuk diberikan pada Lotus demi menyenangkan hatinya.

Kemudian dibopongnya Lotus ke rumahnya yang lebih baru, lebih bagus, mewah, dan megah. Tinggalah Lotus di dalam sebuah rumah khusus yang hanya boleh didatangi Wang Lung. Lotus pun tidak diperbolehkan keluar menunjukan dirinya kepada orang-orang. Ia ada hanya khusus untuk melayani Wang Lung.

Masa tua Wang Lung terbilang makmur. Ia memperoleh dan dapat mencicipi apa yang dahulunya hanya mengambang di angan, tentang bagaimana ia benar-benar menjadi seorang tuan tanah yang makmur, kecuali mendapat seorang anak perempuannya yang buta, ia punya istri yang melahirkan untuknya anak laki-laki dan perempuan, punya putra-putra yang terpelajar, anak perempuan yang menikah baik-baik, juga punya seorang perempuan cantik, si Lotus yang melayani malam-malamnya, tinggal di dalam istana dengan banyak budak yang melayani kebutuhannya, istana yang dulu adalah milik keluarga besar Hwang yang kini sudah bangkrut oleh karena pemborosan dan kemalasan tuan-tuan muda keluarga Hwang sendiri.

Masa-masa itu bolah dibilang adalah masa kejayaannya. Namun hidup di bumi tidak selamanya kejayaan itu mengabadi. Alangkan sedih dan marah Wang Lung ketika suatu hari di akhir masa tuanya, saat-saat ia sedang menikma senja, tak sengaja didengarnya percakapan dua orang putranya yang berencana menjual begitu saja tanah yang telah diperolehnya dengan susah payah.

Sebuah keluarga akan habis riwayatnya kalau mereka sudah mulai menjual tanah-tanahnya,” ujar Wang Lung. “Kita berasal dari tanah, dan mesti kembali lagi ke situ. Kalau kalian masih mempertahankan tanah itu, kalian bisa hidup terus. Tak ada orang yang bisa merampas tanah begitu saja,” katanya. “Kalau kalian menjual tanah-tanah itu, maka tamatlah sudah riwayat kita.”

Kedua putranya berencana demikian, sebab mereka tak mengikuti jejak ayahnya yang begitu mencintai tanah-tanahnya. Putra yang sulung sudah  menjadi pejabat di kota, sedang yang kedua sedang mempersiapkan diri membuka toko beras. Sementara yang bungsu justru mengikuti panggilan hatinya menjadi tentara. Maka, demikianlah generasi mereka tak ada yang meneruskan perjuangan bapaknya, dan juga ibu mereka mestinya. Sebuah kesia-siaan bagi Wang Lung yang selama hidupnya telah bersusah payah mendapatkan tanah-tanah itu. Ia yang dulu hanya mempunyai satu petak kecil sawah, dengan sekarang yang adalah seorang tuan tanah yang makmur.

Dalam perenungannya, ia merasa di dalam alamlah ia merasa satu. Ia tahu hati dan jiwanya ada di alam, di tanah. Bagi Wang Lung, tanah adalah hidupnya. Maka betapa kecewanya ia ketika mendengar rencana kedua putranya itu. Sungguh suatu pengkhianatan untuk orang tua yang sudah berusia senja sepertinya.

Demikian cerita Bumi yang Subur (The Good Earth) dari Pearl S Buck yang saya tangkap dan bisa saya tuliskan kembali sinopsisnya.

* Alasan saya merasa senang menemukan file ini adalah karena mengingatkan kembali  akan cerita yang pernah saya baca kurang lebih dua tahun lalu. Dengan membaca kembali sinopsis ini, saya bisa mengingat kembali isi ceritanya, sebab kalau tidak, sungguh kalau seseorang bertanya pada saya sekarang tentang isi ceritanya akan dengan jujur dan sedih saya akui bahwa saya agak lupa-lupa ingat, karena yang persis saya ingat hanya cerita ini berkisah tentang seorang petani dan tanah. Itu saja. Tapi dengan membaca kembali sinopsis ini, saya bahkan bisa merasakan kembali kesan-kesan dan perasaan saya sewaktu membaca buku ini.

Persisnya dua setengah tahun lalu. Kira-kira bulan Januari atau Februari 2014. Sementara musim hujan dan saya masih berada di tempat kos yang lama di lantai 2 sehingga sewaktu membaca adakalanya saya merasa ingin turun ke bawah dan meraba tanah basah dan ingin menciumnya.

Waktu itu perasaan saya akan tanah sungguh meluap-luap. Saya betul-betul merindukan yang namanya tanah. Saya mengenang kembali bagaimana kisah awal manusia dibentuk dari debu tanah, merasakan tentang daging di tubuh saya ini adalah tanah, dan nanti pada akhirnya tubuh saya pun akan menyatu dengan tanah. Saya juga mengenang bagaimana di masa-masa saya sekolah ketika saya ikut membantu orang tua saya menanam jagung atau palawija lainnya di kebun, ataupun menanam sayur-sayuran di pekarangan rumah, ataupun saya bersama kawan-kawan saya di bawah guyuran hujan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain demi meminta aneka bunga untuk ditanam di depan rumah kami masing-masing. Sungguh indah pengalaman tak terlupakan bersama tanah.

Boleh dibilang Pearl S Buck berhasil menyihir saya sebagai pembaca sehingga saya begitu merindunya dengan tanah. Saking merindu, di sekolah yang kebanyakan tanahnya sudah berlapis semen, adakalanya saya mencari-cari sedikit tanah di taman hanya untuk meraba dan memain-mainkannya sebentar. Bahkan ketika sampai liburan paskah saya pulang ke rumah saya di kampung yang banyak tanahnya, saya begitu rajin pagi-pagi dan sore hari bermain-main dengan tanah. Saya mencari bibit tanaman apa saja yang bisa saya tanam. Sayangnya ketika musim kemarau datang, dan mungkin juga karena jenis tanah di rumah saya tidak sesubur tanah olahan Wang Lung, orang-orang rumah yang saya titipkan pesan tak begitu mengindahkannya, ditambah lagi banyak ayam-ayam kampung yang berkeliaran di sekitar rumah, tanaman-tanaman itu tak ada lagi ketika saya pulang di liburan berikutnya. 😦 Syukurnya, di kebun yang berpagar, dari cukup banyak anakan pohon yang pernah saya tanam, ada beberapa yang tumbuh.

Tahunnya saya ingat persis karena waktu itu masih ada kawan saya yang seorang Chinese, masih bersama saya di Kupang sehingga di tengah-tengah membaca dan bila saya menemukan hal-hal berkesan dari tanah leluhurnya ini, lantas saya bilang padanya yang kemudian membuat kami tergelak karena ternyata di balik kemegahan atau kemajuan yang diperlihatkan tanah leluhurnya, ternyata pernah juga orang-orangnya di sana yang bahkan untuk makan nasi saja sudah terasa mewah, apalagi memakannya dengan campuran bawang putih sehingga mulutnya akan tercium sekali aroma bawang putih… 😀 😀 😉 :3 🙂

Rabu, 29/06/’16., pukul 20.48 wita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s