Kucing yang Kelaparan dan Kesepian

Baru kali ini saya merasa sedih dengan seekor kucing tetangga yang kelaparan dan kesepian. Biasanya saya tak pernah mau peduli itu kucing apa sudah dikasih makan atau belum. Bahasanya kira-kira begini, “Lu mo makan ko, mo idup ko, terserah lu di situ.

Dan sore ini ketika saya sementara makan,  ia tiba-tiba muncul dan mengeong. Tak tega saja maka ia saya berikan sedikit daging ikan. Sedikit biar ia setidaknya mencicip. Selesai makan bagiannya pun, ia masih datang dan menunggu. Saya biarkan saja. Toh sudah saya bagikan sedikit. Sempat keluar ucapan, “Sebentar. Nanti selesai makan, baru kau saya beri lagi.”

Nyatanya selesai makan, masih ada sedikit ikan, tapi terus saya masukan semua ke mulut dan tak bersisa. Sementara saya beres-beres seabis makan, ia mengeong lagi. Baru saya sadar saya sudah berjanji padanya ikan yang berlebih akan saya berikan namun nyatanya semua malah sudah dimakan. Kepada kucing itu saya bilang, “Habis. Sudah tak ada lagi.”

Entah mengerti entah tidak, ia pun bergerak pelan-pelan membalikan badan lalu pergi meringkuk di kolong sepeda motor yang diparkir di luar. Melihat gerakannnya yang ‘sopan’ dan dengan tenang meringkuk, saya tiba-tiba menjadi sedih. Sebuah cerpen tentang kucing yang kehujanan pun serta merta hadir dan semakin menambah rasa bersalah dan kesedihan saya. Masakan seekor kucing yang tadi saya sudah berjanji memberikannya ikan tapi justru ikan itu saya memakannya semua dan tak menyisakan lagi sedikit untuknya. Betapa kejam dan serakah saya kalau begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s