Perdebatan Menulis

“Apakah kau pikir ini adalah inginku agar aku berhenti menulis?”

“Ya, itu keinginanmu sendiri untuk berhenti menulis,” tampak tenang kawannya menyahuti.

“Aku tak pernah tak ingin menulis. Kau tahu itu.”

“Kau yang memutuskannya sendiri. Kau yang menarik diri untuk tidak menulis. Jujur sajalah.”

“Aku sudah jujur. Jelas ini bukan inginku untuk berhenti menulis.”

“Kau sudah lama sekali terlena dan terbuai dengan kenyamanan hidup yang ditawarkan dunia,” sinis sang kawan menyahut.

“Jangan salah. Bahkan aku sendiri tersiksa. Kau dengar itu, aku tersiksa. Sebab sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis.”

“Oh, kau merasa juga rupanya,” tersenyum sang kawan mengejek. “Betul-betul tak kusangka kau bisa tersiksa karena tak menulis,” lanjutnya seraya melempar pandang ke arah lain. “Lantas kenapa kau tidak menulis untuk menghentikan penderitaan itu?”

“Aku tak punya waktu untuk menulis.”

“Hah, tak punya waktu? Klasik betul alasannya.”

“Ya, terserah apa pendapatmu. Memangnya kenapa?”

“Apa kau tahu? Dengar, itu karena kau saja yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Apa? Tak meluangkan waktu? Coba kau ulangi kata-katamu,” ia mulai terlihat marah.

“Kau yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Hah? Dengar baik-baik. Kau tahu apa tentangku? Kau tahu apa tentang waktuku? Kau tahu apa tentang tuntutan pekerjaanku? Kau tahu apa tentang maunya teman-temanku? Kau tahu apa tentang harapan keluarga dan tetangga-tetanggaku di rumah? Kau tahu apa tentang keletihanku sehabis bekerja? Kau tahu apa tentang penyakit dalam tubuhku? Hah, kau tahu apa?” ia sudah memasuki tahap nyaris kerasukan sebab teriakannya kali ini sudah nyaris berupa lolongan.

“Aku tahu,” suara sang kawan yang masih terdengar tenang. “Maka itu aku bilang, kau sendiri yang tak mau meluangkan waktu buat menulis.”

“Aih… Sungguh membuat gusar,” kini suaranya merendah. Bernada menggerutu.

“Ok, baiklah. Menurutmu, kenapa kau tak menulis selain alasan tak punya waktu?”

“Aku… Aku sudah seperti tak bisa berpikir lagi. Aha, Apa kau pikir orang yang menulis hanya perlu mengambil pena dan kertas lalu menulis, atau menghidupkan komputer atau laptop kemudian mengetik?”

“Ya.”

“Bodoh.”

“Aku tidak bodoh. Menulis itu tidak susah. Kau hanya perlu melakukannya tiap hari.”

“Lalu yang kau tulis, aku bangun pagi-pagi lalu ke kantor. Pulang-pulang sudah capek. Remuk rasanya raga ini. Otakku tak lagi mampu berpikir. Jadi aku memulih langsung tidur saja. Besok pagi aku akan ke kantor lagi. Di sana pekerjaannya menumpuk. Aku bekerja sampai letih lalu aku pulang dan karena merasa capek aku langsung tidur. Besoknya aku bangun lagi dengan malas pergi ke kantor lalu bekerja. Apa hanya itu-itu saja yang akan kau tulis?”

“Nah, apa susahnya. Kau sudah membuat kurang lebih satu paragraf,” kembali sang kawan menanggapi.  “Ya sudah, kalau begitu teruskan paragraf selanjutnya.”

“Paragraf selanjutnya? Apa maumu kutulis lagi mengulang paragraf sebelumnya?”

“Kalau yang kau lakukan dan kau mengerti setiap harinya seperti itu, ya berarti kau tak lebih dari sesosok mayat hidup. Kau tahu Zombie? Nah, itu kau,” kata sang kawan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling.

“Enak saja kau bilang aku Zombie?” ia melotot. Dua bola bulat itu seperti mau meloncat keluar.

“Nah, kalau kau bukan Zombie, lalu apa?”

“Aku manusia. Yang ingin dalam setiap apa yang dikerjakan benar-benar punya arti dan memberi manfaat. Bukan hanya sekadar bekerja. ”

“Kau menanam arti begitu?”

“Apa pula bahasamu itu? Aku tak mengerti.”

“Kau mau memberi arti dalam pekerjaanmu. Maksudku supaya yang kau kerjakan itu ada maknanya, dan setidaknya meninggalkan kesan bagi orang lain. Memberi manfaat atau menginspirasi orang di sekitarmu.”

“Kau tahu sekali,” kini ia mengembangkan senyumnya dengan lebar.

“Maka tulislah yang kau harapkan, atau setidaknya buat refleksilah terhadap yang kau kerjakan.”

“Boleh tidak kau yang tuliskan?” tersenyum nyengir.

Lho, kok malah aku yang kau suruh tulis? Sudah terbalikah dunia?”  kawannya kaget disodorkan tugas serupa itu tanpa rasa bersalah dari sang pemberi.  “Kenapa tak kau saja. Tadi sudah kau buat satu paragraf itu. Kan kau yang memulainya. Harus pula kau menyelesaikannya.”

“Aku sudah tak bisa.”

“Aku bilang, lanjutkan!”

“Aku tak bisa.”

“Coba dilanjutkan!”

“Lanjutkan dengkulmu. Aku tak punya kata lagi.”

“Coba dilanjutkan!”

“Ya, dan begitu orang membacanya, baru satu kalimat dibaca langsung meremukannya dan pergi dengan mengumpat kesal, ‘tulisan sampah’, “apaan ini, unek-unek tak berbobot’.”

“Coba saja kau lanjutkan.”

“Aku tak paham maksudmu, kawan. Terima kasih.”

“Lalu kenapa kau kelihatan tertekan begini?”

“Sudah kukatakan, tidak menulis membuatku sakit.”

“Baiklah. Mungkin aku cukup mengerti. Hmm, sekarang coba jawab pertanyaanku. Apakah kau membaca?”

“Aku suka sekali membaca. Hanya seperti yang kubilang, aku tak punya cukup waktu buat membaca.”

“Nah, itu dia. Di situ letak kesedihannya. “

“Kenapa memang?”
“Ya, jelas kau tak bisa menulis lancar kalau kau tak membaca.”

“Hubungannya?”

“Waduh, dari mana kau tahu susunan kata lalu kalimat lalu paragraf yang baik kalau bukan dari hasil membaca?” nyaris meringis ia menerangkan. “Orang menulis bukan karena ia sekadar ingin menulis. Tapi karena ia suka membaca, banyak membaca, plus segala indranya ia pertajam untuk menangkap semua kejadian di sekitarnya. Lalu karena di dalam kepala dan hatinya banyak sudah terisi apa yang diresapinya, maka mau tak mau agar kepalanya jangan meledak, ya ia mesti meluapkannya, ia mesti belajar berbagi kepada orang lain, ya.. dalam bentuk tulisan. Ia menulis. Dan jadilah ia penulis yang baik.”

“Ceramah yang panjang.”

“Ya, sudah bisa jadi satu paragraf.”

“Ya, aku tangkap maksudmu. Aku memang jarang membaca.”

“Maka itu yang menyedihkan. Memprihatinkan betul.”

“Demikian membaca dan menulis itu harus berjalan beriringan setiap hari,” ia bergumam.

“Sudah harus. Walau hanya sebentar,” gumamannya disahuti.

Momen selanjutnya, hanya keheningan yang melingkupi keduanya. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya.

“Ehm, tapi apakah sempat kau pikirkan apa yang kau baca?” keheningan pun sirna seketika.

“Aha, mungkin itu yang tidak. Aku hanya membaca lewat dan selesai. Sekalipun aku menikmati bacaannya.”

“Apa yang kau baca?”

“Ya, apa yang menarik dan ingin kubaca, ya, kubaca.”

“Berarti kau membaca. Bagus, setidaknya kau masih membaca,” suara sang kawan lebih tepat sebagai gumaman. “Hanya kau tak bisa lagi menulis katamu. Berarti kau tidak menyatu, atau kurang menyatu dengan yang kau baca. Kau hanya membaca asal membaca. Dan kau juga tak mau membiarkan diri tenggelam dalam perenungan akan apa yang kau baca.”

“Ya, aku memang kurang merenung,” jawaban yang diiringi anggukan kepala.

Yup. Benar. Maka dapatlah itu penyebabnya. Kau kurang merenung.”

“Memangnya ada pengaruhnya menulis dengan merenung?”

“Apakah kau tak sadar bahwa pertanyaanmu itu membuatku gusar?”

“Eehh…hmm…ya?”

“Ya, mestinya kau sadar. Berkontemplasi, kau tahu itu membuat tulisanmu sedikit lebih berisi. Tidak berkontemplasi membuatmu tulisanmu kering garing seperti kerupuk.”

“Kurasa bukan hanya karena itu,” ia berkata pelan sembari menekuri lantai.

“Lalu apa?”

“Karena seseorang tak tahu atau tak menghayati motivasinya, kenapa dan untuk apa ia menulis.”

“Lalu sebaiknya?” tersenyum kecil.

“Kenalilah motif kenapa dan untuk apa kau menulis.”

“Nah, itu. Kau saja tahu. Ya, betul katamu, kenali motivasimu. Sama seperti kau merenungkan kenapa dan untuk apa kau kepalang nongol di muka bumi.”

“Oh, kau pernah tak menerima kau nongol di muka bumi?” dengan wajah terenyak ia bertanya.

“Ya. Dulu.”

“Tapi sekarang tak terbayang sudah berapa banyak buku karya penulis-penulis andal dipoles di tanganmu, bukan?”

“Maka itu, menulislah kembali. Yakin, pasti akan kubantu poles.”

Tawa lepas keduanya dibebaskan ke udara.

Kupang, Januari 2016,

Di tengah-tengah membaca “Sanctuary of the Soul” oleh Richard J Foster

*  Tentang kepala saya yang gaduh. Mungkin seperti halnya salah satu judul buku Aan Mansyur, ‘Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia  🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s